Bab 39: Cahaya yang Kini Menjadi Milikmu

594 Words

​Di sebuah taman yang tenang di tepi Jakarta yang sudah jauh lebih hijau, tahun 2180, seorang pria tua sedang duduk bersama cicitnya. Menara Lumière masih terlihat di cakrawala, namun kini ia dikelilingi oleh ribuan menara lain yang memiliki filosofi serupa. Dunia telah belajar. Pahitnya masa lalu telah menjadi pupuk bagi peradaban yang lebih beretika. ​"Kakek," tanya anak kecil itu sambil memegang sebuah replika kecil lencana perak, "apakah Aira dan Reyhan itu nyata? Ataukah mereka hanya dongeng agar kita jadi anak baik?" ​Pria tua itu tersenyum, matanya mencerminkan kebijaksanaan yang telah teruji waktu. "Nyata atau tidaknya mereka, bukan terletak pada tulang-belulang yang terkubur di tanah, Nak. Mereka nyata setiap kali kamu merasa ragu untuk berbohong. Mereka nyata setiap kali kamu m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD