Bab 24: Gema di Oxford High

1010 Words

London menyambut mereka dengan kabut tipis dan udara musim dingin yang menusuk tulang, namun di dalam mobil yang membawa mereka menuju Oxford, suasana terasa hangat. Reyhan menggenggam tangan Aira sepanjang perjalanan, sesekali mengusap punggung tangannya dengan ibu jari—sebuah gestur yang kini menjadi bahasa cinta tanpa kata di antara mereka. ​Bagi Aira, perjalanan ini bukan sekadar tugas profesional. Ini adalah pembuktian atas segala air mata yang jatuh di meja asisten lantai 22. Saat gedung-gedung batu tua Oxford mulai terlihat di cakrawala, ia merasakan debar yang berbeda. Bukan debar ketakutan saat menghadapi Pak Haris, melainkan debar seorang pejuang yang pulang membawa kemenangan. ​Di Balik Podium ​Aula besar di Oxford Union dipenuhi oleh ratusan mahasiswa pascasarjana, profesor,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD