Bab 23: Di Luar Cahaya Lumière

852 Words

Enam bulan setelah malam di puncak Lumière, rutinitas pagi di kediaman baru Reyhan dan Aira—sebuah rumah kaca modern yang asri di pinggiran Jakarta, jauh dari kebisingan pusat kota—tidak lagi diawali dengan pembicaraan jadwal rapat. ​Aira terbangun oleh aroma kopi yang kuat. Namun, kali ini bukan dia yang menyiapkannya. Ia menuruni tangga melingkar dan menemukan Reyhan sedang berdiri di dapur dengan apron abu-abu, menatap serius ke arah mesin espresso. ​"Kamu memasukkan terlalu banyak biji kopi," tegur Aira lembut sambil memeluk pinggang suaminya dari belakang. ​Reyhan terkekeh, meletakkan cangkir dan berbalik. "Aku mencoba meniru takaranmu saat kita masih di kantor lama. Tapi sepertinya bakatku memang hanya di depan laporan keuangan, bukan di depan mesin ini." ​Mereka kini telah resmi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD