Sinar matahari pagi yang menembus jendela safe house di Kebayoran terasa jauh lebih hangat dibandingkan fajar-fajar sebelumnya. Meski hanya sempat terlelap selama dua jam, Aira terbangun dengan perasaan lega yang asing. Tidak ada lagi beban rahasia di dadanya, tidak ada lagi bayangan Pak Haris yang mengintai di balik setiap memo kantor. Ia turun ke lantai bawah dan menemukan Reyhan sedang berdiri di meja makan kayu panjang, dikelilingi oleh tiga buah laptop dan tumpukan berkas yang baru saja diantarkan oleh kurir internal. Pria itu masih mengenakan kemeja putih yang sama dengan semalam, namun lengannya sudah digulung hingga siku, dan wajahnya tampak segar setelah membasuh muka. "Pagi," sapa Reyhan tanpa menoleh, seolah ia memiliki indra keenam yang tahu persis langkah kaki Aira. "Pag

