Pagi kedua, alarm ponsel Aira berdering pukul 05.30. Ia langsung bangun, tak mau telat lagi. Semalam ia hampir tak bisa tidur karena terus mengingat tatapan Reyhan Arvendra di lift. Kenapa sih orang seganteng itu harus segalakan itu? pikirnya sambil menggelengkan kepala di depan cermin kamar mandi.
Hari ini ia memilih outfit yang lebih aman: blazer krem, kemeja putih rapi, dan rok span hitam yang pas di badan. Rambutnya dibiarkan tergerai sedikit agar terlihat lebih dewasa. No more kopi di tangan saat naik lift, janjinya pada diri sendiri. Ia bahkan membeli tumbler stainless steel supaya tak ada lagi insiden tumpah-menumpah.
Sampai di kantor pukul 07.45, Aira sudah merasa lebih tenang. Mbak Rina menyapanya di pantry.
"Pagi, Ra! Wah, datang pagi banget. Takut telat ya?" goda supervisornya sambil menuang kopi.
"Iya, Mbak. Kemarin grogi banget," Aira tertawa kecil. "Eh, Mbak, Pak Reyhan sering ke lantai kita nggak sih?"
Mbak Rina mengangkat alis. "Jarang banget. Biasanya cuma kalau ada meeting besar atau inspeksi mendadak. Kenapa?"
Aira ragu sebentar, lalu cerita singkat soal kopi tumpah kemarin. Mbak Rina langsung melotot.
"Ya ampun, Aira! Itu beneran Pak Reyhan? Kamu beruntung cuma ditatap doang. Orang lain bisa langsung kena omelan panjang."
"Serius? Omelan apa?"
"Apa aja bisa. Dari 'kenapa sepatu kotor' sampai 'ini mencerminkan kedisiplinan perusahaan'. Dia perfeksionis level dewa." Mbak Rina menggeleng. "Tapi tenang, dia nggak dendam kok. Asal kerja kamu bagus, aman."
Aira mengangguk, tapi dalam hati ia tetap was-was. Semoga dia benar-benar lupa wajahku.
Pukul 09.00, seluruh tim marketing dikumpulkan di ruang meeting besar. Agenda hari ini: orientasi lanjutan untuk karyawan baru plus pengumuman proyek kwartal baru. Aira duduk di baris tengah, notes di pangkuan, siap mencatat. Ruangan mulai penuh. Tiba-tiba suasana berubah—semua orang langsung diam dan duduk tegak.
Pintu terbuka. Reyhan Arvendra masuk, diikuti dua asisten yang membawa laptop dan map tebal. Ia mengenakan setelan abu-abu gelap hari ini, kemeja biru muda tanpa dasi, lengan baju digulung sedikit hingga memperlihatkan jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Wajahnya tetap datar, tak ada senyum sedikit pun.
Ia langsung berdiri di depan, tangan di saku celana.
"Selamat pagi. Saya akan singkat," suaranya dalam, tegas, mengisi seluruh ruangan tanpa perlu mikrofon. "Kuartal ini kita punya tiga klien besar. Saya tidak mentolerir keterlambatan, kesalahan data, atau ide setengah matang. Kalian tahu standar saya."
Semua orang mengangguk serentak. Aira ikut-ikutan, tapi jantungnya kembali berdegup kencang saat mata Reyhan menyapu ruangan—dan berhenti sebentar tepat di arahnya. Hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat Aira menahan napas. Dia ingat? Atau cuma kebetulan?
Reyhan melanjutkan presentasi. Slide demi slide muncul: target revenue, kompetitor, dan brief klien. Suaranya stabil, tak ada kata umpan atau filler. Saat ia menjelaskan proyek utama—kampanye untuk brand kosmetik internasional—ia tiba-tiba berkata, "Karyawan baru, perkenalkan diri satu per satu. Mulai dari kiri."
Aira duduk di urutan ketiga. Saat gilirannya, ia berdiri dengan tangan sedikit gemetar.
"Selamat pagi, Pak. Nama saya Aira Prameswari, posisi junior marketing. Saya lulusan UI, dan saya sangat antusias bisa bergabung di tim ini." Ia berusaha tersenyum profesional.
Reyhan hanya mengangguk kecil. Tapi saat Aira hendak duduk, ia mendengar suara dingin itu lagi.
"Kesalahan pagi kemarin tidak terulang di dunia kerja, saya harap."
Ruangan langsung sunyi senyap. Semua mata tertuju pada Aira yang wajahnya langsung memerah. Beberapa orang menahan tawa kecil, Mbak Rina meliriknya dengan ekspresi kasihan banget. Aira hanya bisa mengangguk cepat dan duduk, rasa malu membakar telinganya.
Setelah meeting selesai, orang-orang berbisik-bisik. Lila mendekat sambil nyengir.
"Wah, kamu langsung jadi bahan omongan nih. Pak Reyhan jarang banget nyebut kesalahan pribadi di depan umum."
"Aku mau mati aja rasanya," gumam Aira sambil menutup wajah dengan notes.
Tapi di balik rasa malu itu, ada sesuatu yang aneh. Kenapa dia ingat? Dan kenapa nada suaranya tidak sepenuhnya marah—lebih seperti... peringatan yang disengaja?
Sisa hari itu, Aira berusaha fokus pada tugas. Ia menyelesaikan riset yang diminta Mbak Rina dengan teliti, bahkan menambahkan insight kecil dari thesis kuliahnya. Saat mengumpulkan, Mbak Rina membaca sekilas dan langsung tersenyum lebar.
"Bagus banget ini, Ra! Besok kamu presentasikan di meeting tim kecil ya. Siapa tahu bisa langsung dipakai."
Aira senang bukan main. Setidaknya ada yang menghargai kerja kerasku.
Sore hari, saat ia hendak ke pantry ambil air, ia tak sengaja bertemu Reyhan di koridor. Bos itu baru keluar dari ruangannya, berjalan cepat sambil baca tablet. Aira langsung minggir memberi jalan, kepala menunduk. Tapi saat mereka bersimpangan, Reyhan berhenti sejenak.
"Data riset untuk proyek kosmetik sudah kamu kirim ke Mbak Rina?" tanyanya tiba-tiba.
Aira terkejut. Kok dia tahu tugas aku?
"S-sudah, Pak. Tadi siang."
Reyhan mengangguk. "Bagus." Lalu ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan Aira yang berdiri bengong di tempat.
Saat pulang naik commuter line malam itu, Aira memandang pantulan dirinya di jendela kereta. Hari kedua masih berantakan, pikirnya. Tapi entah kenapa, di balik rasa takut dan malu, ada sedikit rasa penasaran yang semakin besar.
Reyhan Arvendra.
Nama itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa berhenti diputar.