Bab 3: Bos Galak Memberi Peringatan

1207 Words
Hari kedua di kantor terasa lebih berat daripada yang Aira bayangkan. Malam sebelumnya ia hampir tak tidur nyenyak, terus memutar ulang kata-kata Reyhan Arvendra di meeting kemarin: “Kesalahan pagi kemarin tidak terulang di dunia kerja, saya harap.” Semua orang mendengarnya. Semua orang tahu Aira adalah “gadis kopi tumpah” itu. Pagi ini ia bangun jam lima, mandi air dingin supaya melek, dan memilih pakaian yang paling formal yang ia punya: kemeja putih lengan panjang, blazer hitam, dan celana bahan tinggi yang membuatnya terlihat lebih tinggi dan percaya diri. Hari ini aku harus membuktikan bahwa aku bukan karyawan ceroboh, tekadnya sambil menatap pantulan di cermin. Sampai di kantor pukul 07.30, Aira langsung menuju meja kerjanya di lantai 15. Lila sudah ada di sana, menyambut dengan senyum lebar yang sedikit jail. "Pagi, seleb dadakan! Masih hidup setelah kemarin?" goda Lila sambil menyodorkan segelas teh hangat. "Hidup, tapi malu-malu kucing," jawab Aira sambil tertawa kecil. "Semua orang ngeliatin aku kemarin kayak aku bakal dipecat besok." "Tenang aja. Pak Reyhan emang suka bikin orang takut, tapi dia adil kok. Kalau kerjaan bagus, dia nggak bakal ganggu. Eh, tugas hari ini apa?" Mbak Rina muncul dari belakang kubikel, membawa setumpuk map. "Pagi, girls. Aira, hari ini kamu bantu aku susun laporan ringkas untuk Pak Reyhan. Deadline sore ini jam 16.00. Formatnya harus sesuai template perusahaan—aku kirim via email ya. Langsung antar ke ruangannya kalau sudah selesai." Aira mengangguk cepat. "Siap, Mbak!" Dalam hati ia sudah deg-degan. Langsung antar ke ruangannya? Berarti ketemu dia lagi? Sepanjang pagi, Aira bekerja mati-matian. Ia membaca ulang data riset pasar, menyusun grafik sederhana di Excel, dan menulis narasi pendukung dengan bahasa yang formal tapi mudah dipahami. Ia bahkan membandingkan dengan laporan tahun lalu supaya ada insight tambahan. Lila sesekali lewat, memberi semangat. "Keren banget sih kamu, Ra. Baru masuk langsung kerja kayak senior." Pukul 15.30, laporan selesai. Aira print dua salinan, jilid rapi, dan cek ulang berkali-kali. Nggak boleh ada typo. Nggak boleh ada kesalahan format. Ia bahkan minta Mbak Rina review sebentar. "Bagus ini, Ra. Rapi, insight-nya juga oke. Langsung antar aja ke lantai 22 ya. Pak Reyhan lagi di ruangan." Aira menarik napas panjang. Oke, Aira. Santai. Ini cuma nganter laporan. Ia naik lift eksekutif yang sepi, memeluk map di d**a seperti perisai. Lantai 22 terasa lebih sunyi, lebih mewah—karpet tebal, lampu temaram, dan aroma kopi mahal yang samar. Ruang Reyhan ada di ujung koridor. Pintu besar dengan plakat emas. Aira mengetuk pelan dua kali. "Masuk," suara tegas dari dalam. Aira membuka pintu, melangkah masuk, dan langsung merasa ruangan itu terlalu besar untuk dua orang saja. Reyhan duduk di belakang meja kayu jati yang mengkilap, sedang menelepon dengan bahasa Inggris lancar. Ia melirik Aira sekilas, memberi isyarat supaya duduk di kursi tamu. Aira duduk tegak, tangan memegang map di pangkuan. Ia mencuri pandang: Reyhan hari ini memakai kemeja biru tua yang pas di badan, lengan digulung hingga siku, memperlihatkan urat tangan yang tegas saat ia menulis catatan. Rambutnya sedikit acak-acakan—mungkin karena hari yang panjang—tapi tetap terlihat rapi. Telepon selesai. Reyhan meletakkan gagang, lalu menatap Aira langsung. Tatapan itu lagi. Dingin, menusuk, tapi kali ini ada sedikit kerutan di dahi—seperti sedang menilai. "Laporan dari Mbak Rina?" tanyanya datar. "Iya, Pak. Ini salinannya." Aira berdiri, mendekat, dan meletakkan map di meja dengan hati-hati. Reyhan membuka map, membalik halaman satu per satu. Aira berdiri di tempat, tak berani duduk lagi. Ruangan hening, hanya suara halaman yang dibalik dan detik jam dinding yang berdetak pelan. Setelah lima menit yang terasa seperti setengah jam, Reyhan akhirnya angkat bicara. "Formatnya kurang rapi." Aira langsung ciut. "Maaf, Pak. Bagian mana yang—" "Header halaman kedua tidak sejajar. Grafik di halaman empat terlalu ramai—harusnya pakai warna perusahaan, bukan default Excel. Dan narasi di bagian insight terlalu panjang. Direktur tidak punya waktu baca novel." Nada suaranya tetap datar, tapi setiap kata terasa seperti cambuk kecil. Aira merasa wajahnya panas. Ia sudah cek berkali-kali, tapi ternyata masih ada kesalahan. "Ini format standar tim marketing, Pak," bela Aira pelan, suaranya hampir hilang. "Mbak Rina bilang—" Reyhan memotong, matanya menyipit. "Di sini, standar saya yang berlaku. Bukan standar tim." Hening lagi. Aira menunduk, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia ingin menangis, tapi ia tahan. Ini baru hari kedua. Jangan nangis di depan bos. Reyhan menutup map, mendorongnya kembali ke arah Aira. "Revisi. Besok pagi jam 08.00 sudah ada di meja saya. Versi digital dan print." "Baik, Pak." Aira mengambil map, suaranya berusaha tegas meski bergetar sedikit. Tapi saat ia hendak berbalik, Reyhan menambahkan satu kalimat lagi—nada yang sama dinginnya, tapi kali ini lebih tajam. "Satu kesalahan lagi seperti ini, dan kamu bisa pulang kampung minggu depan. Saya tidak suka buang waktu melatih orang yang tidak serius." Aira membeku di tempat. Kata-kata itu menusuk tepat di hatinya. Ia mengangguk cepat, "Saya mengerti, Pak," lalu keluar ruangan secepat mungkin tanpa lari. Begitu pintu tertutup, ia bersandar di dinding koridor, napasnya tersengal. Matanya berkaca-kaca, tapi ia lap cepat dengan punggung tangan. Nggak boleh nangis di kantor. Ia turun lift ke lantai 15, wajahnya berusaha netral. Lila langsung menyergap. "Gimana, Ra? Aman?" Aira tersenyum paksa. "Harus revisi total. Besok pagi harus selesai." Mbak Rina ikut mendekat, membaca ekspresi Aira. "Pak Reyhan kritik ya? Biasa kok. Dia emang perfeksionis. Tapi percaya deh, kalau dia nggak kritik, berarti dia nggak peduli." Aira mengangguk, tapi dalam hati ia bertanya-tanya: Kenapa rasanya aku yang selalu jadi sasaran? Malam itu, Aira lembur sendirian di kantor sampai jam 22.00. Ia revisi laporan sesuai arahan Reyhan: header diperbaiki, grafik diganti warna biru dan abu-abu perusahaan, narasi dipadatkan jadi poin-poin tajam. Ia bahkan tambah satu slide analisis kompetitor yang ia buat sendiri dari data publik. Saat akhirnya pulang, hujan deras mengguyur Jakarta. Aira berdiri di lobby, menunggu taksi online yang susah datang. Tiba-tiba sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan pintu lobby. Kaca turun sedikit, dan wajah Reyhan muncul. "Naik," katanya singkat. Aira terkejut. "Eh… nggak usah, Pak. Saya pesan taksi—" "Hujan deras. Jalanan macet. Naik." Nada perintah, tapi kali ini tidak sekasar sore tadi. Aira ragu sebentar, lalu masuk ke kursi belakang. Mobil Reyhan wangi kulit baru dan kopi. Sopirnya langsung jalan tanpa banyak bicara. Sepanjang perjalanan, mereka diam. Aira duduk kaku, tangan memegang tas di pangkuan. Reyhan di kursi depan sebelah sopir, sesekali cek ponsel. Saat mobil berhenti di lampu merah, Reyhan tiba-tiba bertanya tanpa menoleh. "Revisi sudah selesai?" "Sudah, Pak. Besok pagi saya taruh di meja Bapak." "Bagus." Hening lagi. Lalu, pelan sekali, ia tambah, "Jangan lembur terlalu malam. Besok masih ada meeting pagi." Aira terkejut. Itu… perhatian? Atau cuma supaya aku nggak capek dan kerjaan besok kacau? Sampai di depan apartemennya, Aira turun dengan cepat. "Terima kasih banyak, Pak. Selamat malam." Reyhan hanya mengangguk kecil. Mobil melaju pergi, meninggalkan Aira yang berdiri di trotoar basah oleh hujan. Malam itu, sebelum tidur, Aira menatap laporan revisi di laptopnya. Kata-kata Reyhan sore tadi masih terngiang: satu kesalahan lagi, pulang kampung. Tapi anehnya, di balik rasa takut, ada api kecil yang menyala di dadanya. "Aku nggak akan menyerah," gumamnya pada diri sendiri. "Besok aku buktikan." Dan tanpa ia sadari, pertemuan-pertemuan kecil seperti ini—kritik pedas diikuti perhatian samar—sedang perlahan mengubah segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD