Beno menuntun motornya dengan cepat, agak sedikit berlari untuk menyusul Adis yang lebih dulu berjalan dengan muka yang cemberut. Semalam memang dia merasa bersalah, tetapi kali ini kekesalannya seakan kembali memuncak. Bagaimana tidak, hari ini dia ada kuis dan rencananya dia mau buka-buka buku dulu sebelum kuis dimulai supaya ya ingat tanya kembali fresh. Namun, semua diluar ekspektasinya gara-gara motor yang kehabisan bensin.
"Dis, tungguin gue."
Adis tak menggubris, dia terus berjalan dan tidak menoleh sedikit pun. Beberapa menit kemudian, Beno berhasil berjalan mensejajari Adis.
"Dis, maafin gue. Nggak apa-apa kan kita sesekali berjalan seperti ini. Sehat juga untuk kita."
'Sesekali gundulmu itu. Gue nggak amnesia ya Ben, ini yang ke 38 kali Lo kehabisan bensin saat sama gue,' ucap Adis dalam hati. Dia terus berjalan dan tetap tidak menoleh ke arah Bino sedikitpun, pun dia tak menjawab apa-apa. Hatinya masih diliputi kekesalan, tak ada hasrat untuk menjawab ucapan Beno.
"Iya, iya. Ini nggak sesekali, tapi sering kali. Maafin gue. Gue janji deh, ini yang terakhir gue kehabisan bensin. Besok-besok gue bakalan ngecek sebelum pergi, kalau perlu gue bakalan bawa bensin cadangan supaya kita nggak kehabisan bensin lagi."
'Lo udah sering kali bilang begitu, Ben. Lo benar-benar amnesia?'
"Dis, ngomong dong. Maafin gue. Situ di depan ada penjual bensin kok. Nggak ada 1 km lagi kita jalan, udah dong jangan cemberut gitu?"
"Hey, Adis, Beno … ngapain kalian? Kehabisan bensin ya?"
Elena, salah seorang mahasiswi populer di kampus karena terkenal cantik dan kaya, sengaja menghentikan mobilnya saat melihat Beno dan Adis berjalan. Dia bertanya dengan nada mengejek, disambut dengan cekikikan sahabat-sahabatnya. Mereka berdua segera menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah cewek-cewek yang sangat menyebalkan di mata Adis.
"Iya, kenapa? Mau ngetawain gue?" tanya Adis nyolot dengan muka cemberut dan mata melotot.
"Idiiih … nyolot banget ibuk. Jangan marah-marah dong. Ya udah, sini bareng kita aja. Enak, dingin, ada AC-nya," tawar elena.
"Dis, mungkin memang lebih baik Lo bareng aja sama Elena. Biar gue aja yang menuntun motornya," bujuk Beno. dia mulai tidak tega melihat wajah adis yang memerah karena kecapean.
"Nggak." dengan tegas Adis menolaknya. Bagaimana mungkin dia bisa bareng sama musuh bebuyutannya itu. No Way.
"Dis, dengerin gue. Turunin ego Lo sebentar. Lo memang lebih baik bareng mereka daripada nanti telat. Sekali ini aja. Lagian kalau lu terlalu capek, nanti nggak bisa konsentrasi ngerjain kuisnya." Beno terus membujuk berharap Adis bisa luluh.
"Nah, bener tuh kata cowok koret Lo. Sini bareng gue, nggak usah gengsi." Elena kembali Nyamber.
"Iya, Dis. Ayo naik!" Reta, salah satu sahabat Elena ikut nyeletuk.
"Nggak mau," ucap Adis lagi.
"Kepiting rebus gue, please! Sekali ini aja. Dari pada Lo jalan kaki jauh. Gue janji, gue nggak bakalan kayak gini lagi. Lagian sayang kuis lo Dis."
Sebenarnya Adis males banget ikut mobil Elena, cewek tajir yang sombong dan hobi mencela. Apalagi gadis itu sangat membenci Adis karena Adis dengan Jordan. Ya, Elena suka sama Jordan dan tidak pernah digubris dan lebih menggubris Adis. Itulah kenapa Elena sangat benci sama Adis.
Huft ... Asli Adis males parah, Tapi bener Apa kata Beno. Dia ada kuis hari ini, dan dia tidak mau terlambat.
"Ya udah, gue bareng dia ya? Nggak apa-apa kan Lo gue tinggal sendiri?"
"Nggak apa-apa, kepiting Sayang. Lo duluan aja."
"Ya udah, Bye."
"Nah … gitu dong … ayo sini," ucap Elena sok baik.
Adis memaksakan senyumnya lalu berjalan menuju ke mobil Elena. Adis sudah bersiap untuk membuka pintu mobil, tetapi langsung berhenti ketika mendengar kata-kata Elena.
"Eh, tapi kayaknya mobilnya udah nggak muat deh. Ini kan cuma cukup buat 4 orang aja. Udah sesek juga deh kayaknya. Maaf ya Dis, nggak jadi bisa nebengin lo. Byeee … duluan ya?" ucap Elena yang diiringi dengan gelak tawa diikuti oleh ketiga sahabatnya. Lalu gadis itu segera melajukan mobilnya kencang.
Saat itu, Adis langsung mengepalkan kedua tangannya dengan muka dan mata yang memerah.
"Elenaaaaaa … " Adis berteriak marah. Elena memang benar-benar sudah kelewatan karena sudah mempermainkan Adis. Marah, malu, kesal, semua campur aduk menjadi satu. Ini semua salah Beno. Ini semua karena beno yang terlalu pelit, yang belum mau membeli bensin sebelum mepet mau habis. Ya, ini semua gara-gara Beno.
Melihat itu, terus terang aja hati Beno ikut merasakan sakit. Dia ikut merasa nelangsa ketika kekasihnya diperlakukan seperti itu. Ya, sepelit apapun dia masih punya hati. Rasanya dia ingin melempar Elena dengan batu yang ada di sampingnya.
Beno menstandarkan motornya, lalu menghampiri Adis yang masih menunduk dengan muka merah padam. Lalu, Adis terlihat meneteskan air matanya. Ingin rasanya dia bersyukur memiliki kekasih seperti Beno, tetapi kalau seperti ini keadaannya, rasanya susah untuk tidak mengeluh.
"Maafin gue ya?" Beno mencoba untuk meraih tangan Adis, tetapi adis segera mengibaskan tangan Beno.
"Maaf, maaf, maaf terus yang Lo ucapkan. Lo suka ya gue diginiin sama Mak Lampir itu. Gue malu, Ben. MALU! Lo kenapa sih kayak gini banget. Kalo emang Lo sayang uang ketika mau beli bensin, lebih baik nggak usah jemput gue. Gue bisa naik ojol." Adis teriak-teriak dengan air mata yang menetes. Sungguh, dia sangat kesal dan malu. Bertemu dengan Elena adalah sebuah keapesan, apalagi di waktu yang tidak tepat seperti ini.
"Iya, gue salah. Gue belum bisa bahagiain lo. Maafin gue, tapi gue janji Gue bakal terus berusaha untuk bikin Lo bahagia."
"Gue nggak pernah minta yang muluk-muluk, Ben. Gue nggak pernah minta yang macem-macem. Gue cuma nggak pengen Lo keterlaluan aja. Gue pengen Lo bersikap wajar kayak cowok-cowok yang lain. Just it. Tapi Lo nggak pernah bisa."
"Dis, gue … "
"Adis, Beno … kalian ngapain bertengkar di tengah jalan?"
Belum sempat Beno meneruskan kata-katanya, terdengar suara Jordan yang saat itu sengaja menghentikan mobilnya karena melihat Beno dan Adis yang sedang bertengkar di tengah jalan menuju ke kampus. Dia masih duduk di mobilnya.
Ya, saat ini mereka sudah tidak jauh lagi dari kampus. Kira-kira sekitar 4 km. Tidak heran jika banyak teman-teman kampusnya yang melewati jalan tersebut.
Adis menoleh ke arah sumber suara.
"Jordan … "
"Iya, ada yang bisa gue bantu?"
Adis segera menghadap ke Beno, lalu menghapus air matanya dengan tangan kanannya.
"Gue ikut Jordan. Terserah lo mau menganggap gue apa."
Adis segera melangkahkan kakinya menuju ke mobil Jordan dan meninggalkan Beno yang masih menatap Adis dengan rasa bersalah yang amat dalam. Ada rasa bersalah dan rasa nelangsa yang dialami saat ini. Ya, hanya dia yang tahu perasaannya.
Adis tidak tahu Kenapa Beno bisa sepelit itu. Adis tidak tahu kenapa Beno kerja mati-matian dan berusaha untuk mengatur keuangan sedemikian rupa. Yang Adis tahu, Beno adalah laki-laki Koret yang selalu berusaha menekan pengeluaran sekecil mungkin tanpa memikirkan perasaan Adis.
"Bukain pintunya, gue ikut Lo," ucap Adis
"Eh tapi Beno? Masa Lo tinggalin." Terus terang saja Jordan merasa tidak enak sama Beno, meskipun separuh hatinya beteriak bahagia.
"Boleh nggak gue ikut Lo? Kalau nggak ya nggak apa-apa," ucap Adis nyolot. Karena dia masih diliputi oleh emosi.
"Ya udah iya, ayo masuk!"
Jordan segera membukakan pintu mobilnya untuk adis, dan gadis yang sedang kesal itu segera duduk di samping Jordan dengan muka yang cemberut. Biar, biarkan saja Beno menuntun motornya sendirian. Biarkan saja Beno berpikir yang macam-macam atau berpikir negatif tentang dirinya. Dia sudah tidak peduli lagi. Yang penting Sekarang, dia sudah tidak berada di samping Beno karena itu hanya membuat Dia kesal dan sakit hati.
"Ben, gue duluan ya?" ucap Jordan sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. Sebenarnya Jordan merasa tidak enak sama Beno, tetapi apa boleh buat. Sepertinya Adis memang dengan membutuhkan bantuannya.
Beno tersenyum kepaksa. Lalu Jordan segera melajukan mobilnya menuju ke kampus.