Pertentangan Hati

1200 Words
Tidak pernah puas, itulah manusia. Kadang Allah sudah memberi sesuatu yang baik, tetapi dia ingin lebih dan lebih lagi. Dia masih merasa ingin mencari yang lebih baik, dan lebih baik lagi. Kita sibuk mencari orang yang lebih sempurna sampai melupakan yang sudah ada. Kita terus berjalan, ingin menemukan apa yang kita inginkan. Hingga suatu saat nanti kita akan sadar bahwa yang terbaik adalah dia yang ada di samping kita. Namun, Siapa yang bisa menjamin bahwa orang yang ada disamping kita akan terus ada? Bisa jadi dia kecewa karena tak kita hargai. Kemudian dia pergi, dan saat itu kita baru sadar bahwa dia lah yang terbaik selama ini. Ya, itulah yang adis fikirkan. Ucapan-ucapan Santi semalam membuat dia banyak berfikir, Bagaimana kalau Beno memang yang terbaik untuk dirinya? Mungkin saat ini dia masih mengharapkan, Allah mengirimkan orang yang lebih baik dari Beno. Lalu, jika Beno juga ikut mencari orang yang lebih baik dari dia, Apakah dia rela?" "Nih, makan! Gue berangkat duluan. Nanti Lo dijemput sama Beno!" Adis yang saat itu duduk di depan meja riasnya menoleh. Santi menyodorkan 2 roti Bluder padanya yang mungkin harganya 5 rebuan. "Dari Beno?" tanya Adis sambil menatap roti Bluder itu dengan kening berkerut. "Iyalah, yakali gue mau beliin makanan buat Lo. Ogah amat. Makan ini dulu, biar perut Lo ada isinya. Kalau gue mah bodo amat lo kelaparan atau enggak. Gue duluan ya, udah dijemput ojol di depan," ucap Santi dengan tangan yang masih mengulur. Dia sudah rapi dengan celana jeans panjang dan kemeja kotak-kotak panjang serta rambut yang dikuncir begitu rapi. "Hmmm … thanks ya," ucap Adis sambil mengambil roti bluder itu dari tangan Santi. Santi sudah pergi dari kamarnya, dan saat ini Adis masih duduk di depan meja rias sambil mengamati roti Bluder pemberian sang kekasih. "Mungkin cuma Lo di dunia ini yang kayak gini, Ben. Lo pengen perhatiin gue, dari hal-hal kecil begini. Tapi Lo tahu nggak sih, ini terkesan nggak niat. Gue masih bisa beli makanan sendiri, Beno. Apaan roti Bluder yang nggak ada isinya apa-apa kek gini," ucap Adis dengan nada kesal. Dia selalu menaik turunkan emosinya. Terkadang dia merasa bersalah, tetapi ketika dalam keadaan seperti ini, mau tak mau dia kesal juga. Dia menggeletakkan roti itu di atas meja riasnya, sama sekali tak bernafsu untuk mencicipi sedikit pun. Apalagi bagian bawahnya yang agak gosong, menambah ketidak nafsuan Adis atas roti itu. Beberapa menit kemudian handphonenya berdering. "Gue di depan." Ya, itu suara Beno. Singkat dan padat, lalu sambungan telfon segera dimatikan. Sepertinya masih ada sisa-sisa kekesalan semalam. Adis menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Di sambarnya tas yang ada di di atas nakas, lalu di segera melesat keluar. "Udah sarapan?" tanya Beno dingin, tanpa senyum. Adis menggeleng. "Bukannya Santi udah ngasih lo roti," ucapnya lagi. "Lagi nggak nafsu makan roti, Ben." "Semalam baru makan enak sih, jadi wajar aja Lo nggak suka roti pemberian gue." Adis membulatkan matanya segera. Lalu diliriknya sang kekasih yang sedang duduk manis di atas motor butut kesayangannya. Wajahnya murung, sama sekali tak ceria dan penuh senyum seperti biasanya. "Bukan begitu, Ben. Gue emang lagi nggak pengen makan roti aja. Nggak ada hubungannya sama semalem." Beno berusaha untuk tersenyum, meskipun dia masih kecewa. Kecewa karena pemberian darinya tidak dimakan oleh Adis. Ya kali … pagi-pagi sarapan roti Bluder tanpa isi doang. Baru sekali liat aja udah nggak nafsu meskipun hanya sekedar untuk menyentuhnya. "Sini, dipake dulu helmnya." Beno menyodorkan helm pink yang ada stiker hello Kittynya pada Adis, isyarat agar kekasihnya itu mendekatkan kepalanya. Ya, adis sedikit maju dan Beno segera memakaikan helm itu kepala Adis. Memang selalu begitu. Beno selalu bertugas untuk melepas dan dan memakaikan helm kepada kekasihnya. "Makasih, Ben." "Hmmm … ya udah lo naik." "Em … Lo masih marah sama gue?" "Masih kecewa, tapi nggak apa-apa, lama-lama kekecewaan ini pudar juga kok." "Maafin gue ya?" "Gue yang salah, karena gue belum bisa bahagiain lo. Tapi tenang saja, Gue bakal berusaha untuk bikin Lo bahagia. Gue cuma perlu waktu, Dis. Lo masih mau Kan menemani perjuangan gue? Lo masih sabar kan untuk menunggu gue?" Beno menatap Adis. Dia tidak pernah bilang seperti ini sebelumnya. Pasti, ini karena dia mulai ragu pada Adis. Dia ragu kalau Adis mau membersamai dia saat dia masih dalam keadaan seperti ini. Kejadian semalam benar-benar membuat Beno sedikit khawatir akan hubungannya bersama sang kekasih yang sudah berjalan 1 tahun lebih. Adis terdiam sejenak. Menemani Beno? Tapi sampai kapan? Menunggu? Menunggu untuk apa dan berapa lama? "Dis?" "Em … iya. Apa Ben?" Adis pura-pura tak dengar. Rasanya enggan enak sekali menjawab pertanyaan itu. Sudah 1 tahun lebih mereka dekat, tentu saja Beno tahu kalau adis hanya pura-pura tak dengar. Saat ini di hanya bisa menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Lalu, dia mengukir sebuah senyuman manis untuk sang kekasih. Lebih tepatnya berusaha untuk memberikan senyuman itu walaupun sebenarnya hatinya masih diliputi oleh kekecewaan. "Ya udah, kita bicarain nanti aja. Sekarang kamu naik dulu, nanti keburu terlambat." Adis mengangguk sambil tersenyum, lega. Karena akhirnya dia tidak harus menjawab pertanyaan Beno yang memang tidak bisa dia jawab. Karena dalam hati, dia masih berharap bahwa dia bisa bersama dengan laki-laki yang perfect. Entah itu orang lain, atau Beno yang sudah berubah menjadi versi terbaik dirinya. Motor Hijau mentereng Beno melaju perlahan menuju ke kampus. Karena motornya hanya sebuah motor tua, jadi memang tidak bisa diajak ngebut. Meskipun motor tua, tetapi penampilannya masih keren dan catnya mentereng, karena sebagai orang yang kerja di perbengkelan, mudah bagi Beno untuk memodif motornya, dan yang paling penting tidak perlu banyak biaya juga karena dia bisa mengerjakannya sendiri. "Tumben banget Lo nggak pegangan? Kenapa?" tanya Beno. Bukankah seharusnya Beno yang kecewa, kenapa sekarang malah Adis Yang sepertinya jaga jarak? "Oh … ini masih wa Santi. Bentar ya?" Ya, jurus ngeles seribu bayangan. Beberapa menit kemudian, Adis segera melingkarkan tangannya di pinggang Beno seperti apa yang selalu dia lakukan. Dia memejamkan matanya. Sejenak, dia memang merasakan kenyamanan, bisa memeluk orang yang sangat menyayanginya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa Beno adalah orang yang sangat care dan tidak pernah membiarkan adis sedih. Tentu saja Adis bangga dan bahagia bisa disayangi sedemikian besarnya. Namun, momok berumah tangga dengan orang yang pelit terus berputar-putar di otaknya seolah mengajak Adis untuk pergi. Pergi meninggalkan Beno dan mencari sosok yang sempurna yang dia inginkan. Blebek blebek blebek … saat adis sedang asyik melamun, Motor Beno tiba-tiba berhenti. Adis langsung membuang nafas kasar lalu melepaskan ikatan tangannya pada pinggang Beno dengan kesal. "Ting, turun dulu ya?" Adis langsung turun dari motor dengan kesal. Mukanya langsung merah padam saat itu. Kebiasaan kehabisan bensin seperti ini. Sejak mereka pacaran 1 tahun yang lalu, ini sudah ke-38 mereka kehabisan bensin. "Kebiasaan banget sih, Ben. Lo kalo mau jemput gue pastiin dulu bensinnya masih cukup. Udah puluhan kali lo kayak gini. Kalau memang nggak ada duit, lo bisa ngomong sama gue. Gue masih sanggup kok beli bensin. Atau Lo nggak usah jemput gue sekalian. Gue masih sanggup bayar tukang ojek," ucap Adis dengan suara yang agak meninggi. dia benar-benar kesal. Beno hanya diam dan menunduk, karena dia tahu dia memang salah. "Gue udah hafal tabiat Lo ini, nggak usah sok merasa bersalah," tambahnya dengan raut muka kesal, lalu gadis itu berjalan begitu saja meninggalkan Beno yang mulai menuntun motornya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD