Sahabat Rasa Pacar

1100 Words
Adis tidak pernah salah tingkah di hadapan Jordan. Baru kali ini. Baru kali ini dia merasa ada yang berbeda. Ah, tapi mungkin ini efek dari lagu yang dinyanyikan oleh Jordan yang berhasil membuat Adis merasa baper. Ya, pasti hanya karena itu. ~Lama-lama ku kan ungkapkan Pergilah denganku Biar ku yang menjemputmu Bicara denganku Ku kan selalu mendengarmu Berjalan denganku Biar ku yang menuntunmu Tetap bersamaku Biar ku yang jadi pemimpinmu~ Adis kembali mengangkat kepalanya. Menatap Jordan yang benar-benar menghayati lagu yang sedang dinyanyikan. Lagu pemimpinmu yang dipopulerkan oleh Rizky billar itu benar-benar membuat Adis hanyut. Setiap liriknya benar-benar menancap ke hatinya seolah isi dari lagu itu adalah ungkapan hati Jordan. Jantung Adis masih berpacu dengan begitu cepat. Rasanya, dia merasakan sesuatu yang berbeda saat ini. Ah ... Sungguh, dia baper sebaper-bapernya. "Kenapa lo? Takjub dengan suara gue?" Jordan menghentikan jarinya. Jujur, dia juga deg-degan di pandang Adis seperti itu. Adis tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, lalu dia bertepuk tangan riang seolah Dia baru saja menonton sebuah private concert. "Hampir setahun gue kenal sama lo, Bagaimana bisa gue baru tahu kalau suara lo keren banget." Itulah Adis. Dia suka ceplas-ceplos mengatakan apa yang ingin dia katakan, tetapi, bagusnya Adis, dia masih ada rem. Ketika sesuatu tidak pantas diucapkan, kadang dia juga masih memilih untuk diam. "Ke mana aja Lo selama ini, sampai baru menyadari kalau gue emang keren. Eh, lo sibuk pacaran dan sibuk belajar sih, sampai nggak tahu dunia luar. Makanya, sekali-kali keluar kayak gini dong." "Siapa yang sibuk pacaran sih. Gue sibuk belajar." "Sambil pacaran kan?" "Nggak juga." Adis merenung. Pacaran? Yang dimaksud pacaran itu yang seperti apa? Selama ini setiap bersama Beno, yang dia lakukan hanya belajar bersama dan makan bersama. Itu saja. Kadang juga diikuti oleh curhat-curhatan kecil. Mereka tidak pernah melakukan hal yang romantis seperti orang-orang. Hal yang paling romantis selama ini bagi Adis adalah, Beno selalu ada untuknya saat dia butuh. Lebih tepatnya, Beno seperti sosok kakak buat Adis. Namun, saat ini, saat bersama Jordan, Adis merasakan hal yang berbeda. Dia benar-benar merasakan seperti orang yang yang sedang menjalin hubungan. Duduk di atas perahu sambil dinyanyikan, Mereka nonton di bioskop bersama, mereka main di game Zone. Mereka ketawa-ketiwi karena hal-hal receh, Ya, seperti umumnya orang pacaran meskipun sebenarnya mereka hanya bersahabat. Sangat jauh berbeda dengan saat dia bersama Beno. Ah, kenapa Sekarang Adis merasa bahwa Jordan adalah sahabat rasa pacar? "Dasar labil. Sebentar bahagia, sebentar muram," celetuk Jordan. Dia mencomot pizza yang ada di hadapannya. Sepertinya dia memang harus mengunyah agar tidak terlalu grogi. Adis kembali tersenyum, lalu dia memaksakan diri untuk menatap sahabatnya meskipun jantungnya masih berpacu dengan begitu cepat. Ah, begitu dahsyat dampak lagu yang dinyanyikan oleh Jordan. Lagu itu benar-benar bisa menggetarkan hati Adis sehingga Adis baper seperti ini. "Sebenarnya gue masih heran, Dan. Kok bisa-bisanya Lo mau melakukan ini buat gue. Gue kan bukan siapa-siapa lo. Cuma sahabat lo yang jika dibandingkan sama cewek-cewek yang selalu ngejar-ngejar lo itu nggak ada apa-apanya. Boleh nggak sih gue ke-GR-an? Lo suka ya sama gue?" Malu tak malu, Adis langsung menanyakan itu. Dia tidak mau sampai gelisah dan tidak bisa tidur hanya karena memikirkan ini. Lagu itu benar-benar membuat Adis berpikir bahwa Jordan Memang mencintai dia seperti apa yang selalu dikatakan oleh Beno. "Ribet banget sih hidup lo. Nggak usah mikir yang macem-macem dan nggak usah ke gr-an, Cengeng! Gue lagi gabut dan males masuk kuliah. Jadi Lo cuman objek buat melampiaskan kegabutan gue aja. Just it. Nggak usah ke pedean." Terlihat sekali bahwa Jordan gugup saat ngeles tuduhan Adis. Adis menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ditatapnya mata Jordan lekat-lekat. Dia ingin mencari kejujuran dalam sorot mata sahabatnya. "Dan, gue serius dan nggak becanda. Jawab pertanyaan gue dengan jujur. Lo suka sama gue?" Jordan mengalihkan pandangan. Tidak mau menatap mata Adis. Tidak, dia belum mau jujur saat ini. Waktunya belum tepat. Dia yakin Adis akan illfeel jika sampai dia tahu perasaan Jordan yang sebenarnya. Adis bisa menjauh dan tidak mau bertemu dengannya lagi. Lebih baik sekarang dia bersembunyi dalam kedok persahabatan. Supaya mereka bisa terus bersama meskipun statusnya hanya sebagai sahabat. "Ngarep banget ya dicintain sama gue?" Jordan kembali mengambil gitarnya. Sengaja memalingkan muka dan mengalihkan perhatian. Adis menghela nafas panjang Untuk yang kesekian kalinya. Ah, Jordan benar-benar tidak kooperatif. Tidak bisa apa dia menjawab Yang sejujurnya? Terus terang saja Adis benar-benar kepo. Ketika dia sudah mendapatkan jawaban, paling tidak dia bisa lega. Jawaban yang baru saja diutarakan oleh Jordan sama sekali tidak masuk akal bagi Adis. Hanya menghilangkan kegabutan? Orang yang gabut tidak akan seniat ini memberikan kejutan untuk sahabatnya. "Au ah, Lo nggak asik. Ditanyain serius juga jawabannya gitu." Adis mencomot sepotong pizza yang ada di atas meja kecil tersebut, menggigit ujungnya, dan terasa lelehan Mozarella yang lumer di mulutnya. Ah, pizza selalu berhasil membuat Adis tersenyum. Mengingat, pizza yang selalu dibawakan oleh Jordan bukanlah pizza abal-abal. Selalu pizza terbaik dengan kualitas tinggi. Jordan tertawa kecil. Dia tahu Adis kesal dengan jawabannya. "Ya udah, gue jawab yang serius. Hadap sini!" Adis segera memasukkan sisa potongan pizza yang belum di lahap, hingga mulutnya penuh. "Apha?" tanya Adis yang masih dalam keadaan mengunyah. Mulutnya masih penuh dengan pizza favoritnya. "Adis, lo sahabat gue. Bagi gue, Lo adalah orang yang berbeda dari kebanyakan perempuan-perempuan luar sana. Kalau mereka selalu agresif dan genit saat menatap gue, tapi lo nggak. Mereka selalu mencari perhatian, mereka jaim, mereka selalu menunjukkan seolah mereka sempurna di hadapan gue, tapi lo nggak. Adis Adena, tetap menampakkan apa adanya dirinya meskipun di hadapan cowok paling populer di kampus kayak gue." Jordan berbicara dengan serius meskipun Di akhirnya berhasil membuat Adis mencebik. "Idih … PD boross." "Jangan menyela dulu, gue belum selesai. Lo tahu nggak, lo nggak pernah sengaja membangun citra baik lo sendiri di hadapan orang-orang di sekeliling lo. Lo tetap Adis yang ceroboh, adis yang pelor, Adis yang banyak makan, dan Adis yang jorok. Dihadapan siapapun perlakuan lo sama. Itu yang membuat Lo istimewa dan membuat gue nyaman bersahabat sama lo. Karena gue terlalu jengah dengan kepura-puraan yang sering gue temui. Lo istimewa bagi gue, jadi nggak salah kan kalau gue menyiapkan semua ini buat lo? Lo istimewa, SAHABAT yang istimewa." Jordan sengaja menekankan kata sahabat. Meskipun suaranya agak sedikit serak. Supaya Adis tidak berpikir yang macam-macam. Dia tahu kalau adis mulai curiga dengan perasaannya. Namun, dia harus pandai memutar kata dan mencari-cari alasan yang logis. Karena dia tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya. Karena saat ini adis masih menjadi milik orang lain. Meskipun tidak bisa dia pungkiri, dia ingin Adis mengakhiri hubungannya dengan seseorang yang dia anggap tidak bisa membahagiakan perempuan yang sangat dia cintai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD