Ngedate?

1235 Words
"Jijay banget suka cewek cengeng macem Lo," ucap Jordan. Tentu saja hanya ada di mulut saja, bukan dari hati. Dia tampak mengambil ponselnya, mengetikkan sesuatu. Sekaligus untuk menutupi rasa groginya. Adis hanya mencebik, lalu tertawa kecil. Gadis itu menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Membuang semua kekesalan. Tak ada gunanya terus larut dalam kekesalan yang tiada habis. Ya, sejenak saja dia tidak ingin memikirkan Beno. Hanya sejenak saja, dan tak akan lama. Karena Adis tahu dirinya sendiri. Perasaannya sering naik turun. Bisa jadi sekarang sangat kecewa dan kesal sama Beno, tetapi beberapa jam kemudian atau bahkan beberapa menit kemudian perasaannya sudah berubah. Dia mudah iba dan mudah merasa bersalah. Tetapi ketika sesaat setelah Dia kesel, Pasti akan sangat beringas. Setelah Jordan selesai mengetikkan sesuatu, Dia segera meluncur menuju ke tempat yang sudah dia rencanakan. Kira-kira 30 menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat yang memang dituju oleh Jordan. "Ke Danau? Kita ke Danau?" ucap Adis dengan raut muka bahagia. "Iya, gue ngerti lo kayak bocah 2 tahun yang suka mainan air. Lo kan kayak ikan, ketemu air langsung lincah." "Cie … lo kenapa perhatian banget sih sama gue. Tahu aja gitu kesukaan gue. Gue mau turun ah … " Dengan ceria, Adis membuka pintu mobil dan segera berlari kecil menuju ke pinggir danau dengan tangan direntangkan. "Danau … I am coming!" teriak Adis masih dengan posisi tangan yang merentang. Air, selalu berhasil mengembalikan keceriaannya. Itulah Kenapa Jordan lebih memilih untuk membawa Adis ke tempat ini. Jordan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia bahagia melihat Adis yang tampak ceria. Rasanya tidak sia-sia membawa dia bolos kuliah. Setelah itu, Jordan segera menyusul Adis yang lebih dulu berada di pinggir danau. Dia berdiri tepat 2 meter dari danau. Direntangkan kedua tangannya dengan posisi kepala sedikit mendongak. Matanya ia pejamkan. Dia terlihat menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dilakukannya berkali-kali. Ah … suasana begitu sejuk dan menyegarkan. "Suka?" tanya Jordan yang tanpa disadari oleh Adis sudah berada di sampingnya. Adis membuka matanya, lalu menurunkan kedua tangannya. "Suka, suka banget. Adem, semilir anginnya, apalagi cuaca lagi mendung begini. Pasti sebentar lagi turun hujan," ucap Adis. Keceriaannya kembali muncul seolah dia lupa dengan kesedihannya beberapa menit yang lalu. "Cuma gini doang aja lu udah suka, apalagi kalau Lo tahu yang satu ini," ucap Jordan sambil tersenyum. "Apaan?" "Ikut iku!" Jordan mengulurkan tangannya. "Cie … pengen pegang-pegang tangan gue?" ucap Adis dengan nada meledek. Jordan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tak gatal. Gemas sekali dia sama gadis satu itu, karena dari tadi dia berhasil membuat Jordan salah tingkah dan ketebak terus. "Lo bisa nggak sih nggak cerewet. Siniin tangan lo, daripada gue berubah pikiran dan nggak jadi ke tempat yang spesial." "Iya, iya. Bawel!" Adis segera mendekat dan meraih tangan Jodan, dan menggenggamnya. "Udah seneng?" "Pegang tangan kasar gini mana bisa seneng. Biasa aja. Kayak pegang tangan tukang batu. Ayok ikut gue." "Tukang batu mana ada ya gemoy kayak gue." "Banyak, yang nggak ada tuh yang cerewetnya melebihi emak gue." Adis hanya nyengir. Jordan segera menggelandang tangan Adis, dan mereka menuju ke pinggir Danau yang kira-kira berjarak 10 meter dari tempat semula. Di pinggir Danau tersebut, terdapat sebuah perahu berwarna pink yang di diami oleh Bapak-bapak yang kira-kira berumur 40 tahunan. Diatas perahu tersebut, terdapat meja kecil. Lalu, Di atas meja pink lucu dan mungil itu, terdapat pizza dan 2 botol minuman kemasan rasa jeruk. Tak lupa ada 1 toples lolipop rasa coklat kesukaan Adis. "Dan, ini apaan? Lo ngajak gue ngedate?" tanya Adis dengan senyum lebar. Dis benar-benar seperti Dora yang berhasil menemukan sesuatu berkat petanya. Ah, Adis memang becanda, tapi Jordan langsung terbatuk-batuk. Karena lagi dan lagi, tebakan dari gadis yang ceplas ceplos itu benar. "Eh Lo kenapa? Sini sini minum dulu." Adis langsung menghampiri Jordan, lalu membuka botol minum yang ada di tangannya dan segera meminumkannya pada Jordan dengan lembut. Saat seperti ini, sifat keibuan gadis pecicilan itu keluar. Ini yang membuat Jordan semakin klepek-klepek tak karuan. "Dari tadi lo ke gr-an, makanya gue keselek," ucap Jordan setelah dia tenang. "Abisnya Lo sweet banget. Gue kan jadi meleleh. Eh, Ini udah boleh naik?" Adis menutup botol air mineral sambil berjalan perlahan menuju ke perahu pink yang memang disiapkan untuknya. Dia masih dalam keadaan tersenyum lebar. "Naik aja! Hati-hati jangan bar-bar. Keluarin sisi wanita Lo." "Enak aja, emang biasanya gue ngeluarin sisi apa?" "Bar-bar." Jordan menjulurkan lidahnya. Adis hanya nyengir tanpa menoleh. Jordan mengambil gitar yang bersandar di pohon yang ada di sampingnya. Ya, tadi dia menelepon 2 sahabatnya. Ari dan Doni. Dia minta mereka berdua menyiapkan ini semua. Mereka berdua memang tidak pernah gagal untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Jordan. Ya ... Meskipun harus mengeluarkan budget yang lumayan untuk mereka berdua. "Permisi, Bapak. Saya naik ya?" ucap Adis sopan sambil melangkahkan kakinya ke perahu kecil itu. "Mangga, Neng," ucap pak Yusuf sambil mengangguk. Ya, Pak Yusuf tinggal tidak jauh dari danau itu. Dia memang sering mendampingi pasangan muda-mudi yang ingin menghabiskan waktunya di danau. Entah sudah berapa pasangan yang sudah Beliau temani mengarungi Danau ini. Perahu itu memang kecil, tetapi lebih dari cukup untuk ditumpangi 3 orang. Jordan memang sengaja menyewa perahu sekaligus pendayung, supaya mereka bisa menikmati makanan berdua tanpa harus sibuk mendayung sendiri. Mungkin ini memang tidak terlalu mewah, tetapi butuh banyak budget untuk merealisasikan ini. Apalagi dua bocah suruhannya itu. Pasti tidak serta merta mau melakukan suruhan Jordan tanpa iming-iming traktiran di sebuah Resto ternama. Yah, tapi ini sama sekali tidak ada artinya dibanding dengan senyuman lebar Adis. Senyum dan keceriaan adis lebih penting bagi Jordan. Laki-laki itu segera mengikuti Adis, naik ke dalam perahu tersebut. Sekarang mereka berdua sedang duduk berhadapan yang terhalang meja kecil yang berisi makanan dan juga minuman. "Jalan, Pak," ucap Jordan. "Siap, Den." Adis masih tersenyum. Terlihat sekali Dia sedang bahagia. Dia kembali memejamkan matanya, dan merentangkan kedua tangannya. Dibiarkannya rambut hitam panjangnya terurai. Beberapa tampak menyentuh lengan atasnya, karena saat itu adis sedang memakai kemeja lengan pendek warna pink. Ah, dia tampak sangat mempesona saat rambutnya terombang-ambing terbawa angin seperti itu. Pejamkan matamu, Adis. Nikmatilah suasana alam ini. Biarkan Jordan leluasa menikmati keindahan wajahmu tanpa takut kepergok. Bagi Jordan, Adis tampak sangat cantik saat tersenyum sambil memejamkan mata. "Dan, Lo tahu banget sih kalau gue pengen berada di suasana air-air begini. Pasti abis ini fresh banget otak gue," ucap Adis yang masih pada posisi semula. Jordan tersenyum. Dia tidak menjawab apa-apa. Diambilnya gitar yang ada di sampingnya, lalu dipetiknya perlahan, dan dia menyanyikan sebuah lagu. Dia ingin, apa yang sudah dia persiapkan kali ini berkesan baginya. ~Hai gadis manis Yang teramat manis Yang membuatku gugup saat mencoba ucapkan selamat pagi manis~ Mendengar suara yang diiringi oleh gitar yang mengalun indah, membuat Adis membuka matanya. Dia takjub mendengar suara Jordan yang ternyata begitu merdu. Baru kali ini dia mendengar Jordan menyanyi, dan ternyata suaranya sungguh luar biasa. ~Jangan terlalu manis Tak selamanya kubisa tenang tanpa ingin coba … Menggenggam tanganmu, selalu … Tuk melindungimu … ~ Mata Jordan menatap Adis, seolah Adis adalah lawan duetnya. Deg deg deg deg Jantung Adis berdetak dengan begitu kencang saat Jordan menyanyi sambil menatap matanya. Ya Tuhan, Ini pertama kalinya Adis dinyanyikan oleh seseorang yang suaranya bagus tepat di depan matanya seperti ini. Apalagi di atas Perahu di danau. Ini seperti mimpi. Adis tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Kedua pipinya bersemu merah, seperti saat Beno memujinya. Ah, kenapa ini? Kenapa Adis bisa deg-degan seperti ini? Apakah lagu ini benar-benar dinyanyikan Jordan Dari Hati Untuk Adis?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD