Beno tersenyum, menatap mobil hitam metalik yang baru saja dia beli beberapa jam yang lalu. Hatinya berdebar, dia sudah tidak sabar untuk memberikan mobil ini untuk Adis. Dia mengambil kotak biru yang baru saja dia beli di toko aksesoris. Dia mengisi kotak itu dengan dua kunci. Kunci mobil, dan juga kunci rumah.
"Ini hadiah buat Lo, kepiting rebus gue. Ini untuk masa depan kita, Sayang. Terima kasih karena selama ini sudah begitu sabar menghadapi gue. Terima kasih karena udah nerima gue apa adanya meskipun sering ngambek dan marah marah, tapi gue tahu kalau lu sayang banget sama gue."
Beno kembali tersenyum. Saat itu dia memakai celana jeans bellel baru warna biru, kaos hitam polos yang juga masih baru, dan sandal baru juga. Dia benar-benar ingin membuat Adis terkesan. Karena yang Adis tahu 1 tahun belakangan ini Beno tidak beli apa-apa. Bajunya itu-itu aja, celananya itu itu aja, dan sandalnya cuma satu doang warna hitam yang udah buluk.
Kali ini, dia akan memberikan hadiah istimewa untuk seseorang yang sudah dianggap sabar dan mencintai dia dengan tulus. Beno bersiul dengan girang, lalu dia menghampiri mobilnya yang parkir di depan kosannya, dan dia segera melajukan mobil itu ke kost Adis.
Ya, dia sengaja berbohong kalau dirinya ada acara di luar kota bersama bosnya. Padahal dia sedang menyiapkan kejutan ini untuk Adis. Kejutan yang dia pikir, tidak akan dilupakan seumur hidup Adis. Hatinya terus berdebar, senyum terus menghiasi wajahnya. Dia benar-benar tidak sabar untuk melihat wajah bahagia adia saat menerima 2 kunci yang dia bawa.
Mobil dan rumah. Dua hal yang dia impikan sejak lama. Beno sengaja menekan pengeluaran sekecil mungkin, dan bekerja keras banting tulang tanpa kenal lelah hanya untuk ini. Untuk memberikan sesuatu yang berharga untuk calon istrinya.
Ya, dia memang sudah mengikat Adis dengan sebuah cincin. Hanya sebuah pengikat, dan hari ini dia berencana untuk benar-benar mengatakan bahwa dia akan datang kepada orang tua Adis. Dia ingin melamar secara resmi secepatnya, dan akan segera melangsungkan pernikahan. Karena dia ingin menjadi sosok yang selalu ada untuk adis, apalagi akhir-akhir ini dia tahu, bahwa penyakit Adis sering kali kambuh.
Beberapa menit kemudian, Beno sudah hampir sampai di depan gerbang kos Adis. Namun, dari jarak beberapa meter, dia melihat ada sebuah mobil Ferrari California kuning terparkir di depan gerbang. Saat itu, darah Beno berdesir. Pikiran-pikiran buruk sudah melintasi kepalanya. Dia menghentikan mobilnya beberapa meter sebelum mendekati gerbang.
Dia segera turun dari sana, berjalan perlahan mendekati mobil itu, dan benar dugaannya. Ferrari California kuning itu adalah milik Jordan. Dia hafal betul dengan mobil Jordan. Dengan jantung yang berpacu dengan cepat, dengan kaki yang mulai lemas, dengan darah yang mulai naik ke tengkuk, Beno berjalan pelan menuju gerbang. Namun, jantungnya seakan melompat saat dia melihat Jordan memakaikan kalung ke leher Adis. Dia dapat melihat rona kebahagiaan yang terpancar di muka Adis. Gadis itu tersenyum dan bahkan tertawa.
Beno mengepalkan tangannya. Ingin rasanya Dia menghampiri mereka dan segera menghantam Jordan dengan kepalan tangannya, tetapi dia masih menahannya.
'Tahan … Tahan dulu Ben, sabar,' ucap Jordan sambil mengelus dadanya dengan tangan kiri.
Dia sengaja berdiri di samping pohon mangga, dia ingin mengamati mereka sejenak. Meskipun tidak tahu itu sangat menyakitkan.
Beberapa menit kemudian, dia melihat Jordan mencium kening Adis dengan begitu lama sambil memejamkan matanya. Saat itu, rahangnya mengeras. Darahnya benar-benar naik ke ubun-ubun. Dia benar-benar tidak bisa lagi menahan emosinya. Akhirnya laki-laki itu segera lari, dan menggebrak meja yang terletak tidak jauh dari tempat Jordan dan Adis berdiri.
"Beno," ucap Adis lirih dengan jantung yang rasanya mau loncat dari tubuhnya.
Beno benar-benar tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia berlari menghampiri Jordan. Dia Layangkan kepalan tangannya ke muka Jordan, tetapi Jordan berhasil menghindar. Dia mulai menggerakkan kakinya, dan menendang perut Jordan dengan kekuatan maximum. Ya, orang yang sedang emosi, biasanya memiliki kekuatan lebih.
"Beno … Udah, Ben. Berhenti!" Adis hanya bisa berteriak. Beberapa anak kos yang terbangun karena suara mereka Langsung keluar dari kamarnya.
Jordan jatuh tersungkur karena tendangan itu terlalu kuat. Jordan terbatuk-batuk sambil memegang perutnya. Namun, tanpa ampun,Beno meraih kerah kemeja Jordan. Dia memaksa Jordan untuk berdiri, lalu dia menghujani Jordan dengan tonjokan dan pukulan.
"Beno, tenang dulu Ben. Kita bisa bicara baik-baik. Tolong tenang dulu dan jangan seperti ini," ucap Jordan yang berusaha untuk melepaskan dirinya.
"b*****t Lo. Gue nggak bakal ngelepasin Lo," ucap Beno.
Adis berlari menghampiri mereka. DIa tidak bisa lagi tinggal diam.
"Cukup Beno, cukup!" Adis berusaha untuk meraih tubuh jangkung Beno dari belakang, lalu dia memeluk Beno dari belakang dengan erat.
"Cukup Beno, tolong berhenti! Gue jelasin semuanya." Adis berkata lirih dengan suara serak.
Saat itu juga, Beno langsung melepaskan cengkraman tangannya dari kerah Jordan. Jordan langsung membenahi bajunya, lalu dia duduk di tanah dengan nafas tersengal.
"Kita harus bicara," ucap Adis lirih. Beno memegang tangan Adis yang melingkar di perutnya, lalu melepaskannya begitu saja. Dia tidak ingin gadis yang sudah menghianati nya itu menyentuh tubuhnya.
Beno dengan gentle berjalan menuju para penghuni kos yang terbangun karena mereka.
"Teman-teman, maaf ya, gue udah bikin keributan. Udah nggak ada apa-apa, kalian bisa masuk lagi," ucap Beno sambil tersenyum. Mereka tidak menyahut, hanya tersenyum canggung, saling bisik satu sama lain, lalu mereka kembali ke kamar mereka masing-masing.
Adis menghampiri Beno, meraih tangannya lalu memandangnya dengan pandangan penuh rasa bersalah.
"Beno, tolong dengerin gue dulu."
Beno mengibaskan tangan Adis. Lalu dia mengambil sesuatu dari sling bagnya, sebuah kotak biru yang berisi dua kunci. Dia membuka kotak itu, mengambil 2 kunci tersebut, lalu dia menunjukkannya dihadapan Adis.
"Lo tahu ini apa? Ini kunci rumah dan kunci mobil yang pada awalnya ingin gue hadiahkan buat Lo. Lo tahu kenapa selama ini gua pelit banget? Gue pelit banget bukan hanya sama Lo, tapi gue juga pelit sama diri gue sendiri. Gue rela Kehilangan masa muda yang harusnya habis buat nongkrong. Gue kerja keras dan nabung sampai tak tahu malu, itu demi ini, demi mobil dan rumah ini. Supaya kita bisa cepat-cepat meresmikan hubungan kita, supaya kita bisa cepat-cepat menikah. Supaya Setelah kita menikah nanti kita nggak lagi ngontrak, supaya Setelah nikah nanti kita ada mobil untuk pergi ke mana-mana. Ini semua buat Lo. Lalu apa yang Lo perbuat sama gue, Dis. Apa?"
Beno berkata dengan penuh emosional. Matanya basah, tetapi dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya di hadapan adis.
Saat itu, lutut Adis serasa merosot ke tanah. Tulang-tulangnya lemas seolah dia tidak bisa lagi menjaga tubuh Adis. Dia merosot perlahan, hingga akhirnya dis terduduk di tanah. Matanya menatap tanah dengan mata nanar.
"Jadi, Jadi selama ini lo menabung buat beli mobil dan rumah untuk rumah tangga kita nanti? Jadi selama ini lo perhitungan sama diri lu sendiri karena ingin bahagiain gue?" Air mata Adis luruh ke pipi. Dia mulai terisak. Seketika, dia benar-benar merasa bersalah sama Beno. Jadi selama ini dia sudah salah sangka. Jadi selama ini dia sudah berburuk sangka.
"Iya, dan ternyata ini sia-sia dalam sekejap." Beno masih berdiri di sana. Menatap Adis dengan tatapan sakit hati.
Sementara Jordan, dia masih di tempatnya. Duduk di tanah sambil meringis. Perutnya masih terasa nyeri. Biar, biarkan Beno dan adis berbicara terlebih dahulu. Nanti ada saatnya Dia berbicara. Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah memantau dari kejauhan.
"Kenapa lo nggak pernah jujur sama gue? Kenapa lo nggak bilang jika memang itu yang terjadi?"
"Apa bedanya? Jika Lo memang sayang sama gue tulus, lo nggak akan berubah Apapun Yang terjadi. Gue sudah bilang kalau memang lo sayang sama orang lain dan udah gak sayang lagi sama gue, Lo bilang! Huft … tapi, mungkin memang ini rencana Tuhan. Dia memberitahukan kepadaku yang sesungguhnya sebelum hubungan kita terlalu jauh. Gue rasa … hubungan kita sampai di sini saja, Adis. Sekarang lo bebas menjalin hubungan sama Jordan. Mulai hari ini kita putus," ucap Beno. Dadanya benar-benar sesak saat mengatakan itu. Ingin rasanya dia mengumpat, tapi dia tahan. Dia tahu posisinya sekarang dia berada di mana.
Adis mendongakkan kepalanya. Kata-kata Beno barusan bagaikan petir yang menyambar. Dadanya seperti ditimpa batu besar. Sesak. Sangat sesak.
Adis segera berdiri meskipun rasanya sulit. Dia raih tangan Beno dengan air mata yang mengalir ke kedua belah pipinya.
"Katakan sama gue, katakan kalau itu nggak bener. Katakan kalau kata-kata lo itu cuma bercandaan doang. Lo Enggak benar-benar ingin putus sama gue kan? Gue tahu lo sayang sama gue. Gue juga tahu, Lo nggak bakal ninggalin gue. Iya kan? Lo nggak bener-bener pengen putus kan Ben? Iya kan?" Adis berteriak disela Isak tangisnya. Dia menggoyang-goyangkan lengan Beno, berharap bisa mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Tidak, dia tidak ingin kehilangan Beno saat dia mulai tahu sebesar apa rasa Cinta Beno terhadap dirinya. Dia tidak mau kehilangan orang yang benar-benar mencintai dia dengan tulus. Dia tidak mau kehilangan orang yang selalu sedia membantu dia dalam keadaan apapun. Beno yang selalu membersamainya, Beno yang selalu memastikan dia baik-baik saja, Beno yang selalu membelikan dia makanan dalam keadaan apapun meskipun makanannya itu itu saja. Dia tidak mau kehilangan orang spesial itu.
Beno melepaskan tangan Adis perlahan, lalu menatap orang yang saat ini sudah menjadi mantan kekasihnya.
"Simpan saja air mata Lo. Seharusnya lo mikir dulu sebelum Lo mau berbagi hati dengan orang lain. Maaf, gue memang sayang sama lo, tapi gue nggak mau jadi orang bodoh yang terus-terusan mengharapkan orang yang gak sayang sama gue. Terimakasih karena selama ini sudah menjadi kekasih terbaik gue. Mulai saat ini antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Gue nggak mau tahu lagi apapun tentang Lo, dan jangan temuin gue lagi mulai saat ini."
Beno melangkahkan kakinya perlahan, masih dengan d**a sesak. Dia tidak pernah membayangkan, kalau seperti inilah akhir dari kisah cintanya dengan gadis yang sudah dia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya. Dia tidak pernah membayangkan, Kalau akhirnya dia harus pergi dari hidup Adis.
Adis segera berlari, meraih tubuh Beno dari belakang. Dia memeluknya erat, menahan laki-laki itu untuk tidak lagi melangkah pergi. Pergi dari tempat itu, maupun pergi dari hatinya.
"Ben, kasih gue kesempatan sekali lagi. Kasih gue kesempatan untuk membuktikan kalau gue sayang sama lo. Gue sama Jordan tidak menjalin hubungan. Meskipun gue tahu gue mulai ada rasa sama dia, tetapi kita tidak menjalin hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan. Tolong, Ben. Kita masih bisa memperbaiki ini semua. Masih bisa balik seperti dulu lagi. Gue bakal terima lo apa adanya seperti dulu. Maafin gue, gue nggak mau Lo pergi."
Kata-kata Adis sedikit tersendat. Dia terisak. Air matanya membanjiri kedua pipinya. Dia benar-benar tidak bisa menahan air matanya sekarang. Dia tidak mau berpisah dengan Beno, benar-benar tidak mau. Karena dia tidak yakin bisa menemukan laki-laki sebaik dia di masa depan nanti.
Jika dia selama ini mencari laki-laki sempurna, maka sekarang dia tahu, Beno lah laki-laki itu. Beno lah laki-laki yang sangat sayang padanya, laki-laki yang setia, dan laki-laki yang sedang mengusahakan kebahagiaan nya di masa depan.
"Masa hubungan kita sudah habis, Dis. Gue memang pergi, tapi lo masih punya Jordan. Kalian saling mencintai kan? Sekarang kalian bisa bersatu tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi. Tolong lepasin gue," ucap Beno. Saat itu air matanya mulai menetes, tetapi dia buru-buru mengusapnya. Tidak, serapuh apapun dia, dia tidak boleh menangis sekarang.
"Selama lo masih sayang sama gue, gue nggak bakal ngelepasin Lo."
Adis semakin mempererat pelukannya. Sementara Jordan, Dia sedang memandang pemandangan yang memilukan di hadapannya. Ternyata sesayang itu Adis pada Beno. Ternyata dia tidak ada apa-apanya di banding Beno. Bahkan, sekarang adis tidak memperdulikannya sama sekali dan terus sibuk meminta maaf pada Beno meskipun sudah berkali-kali ditolak permintaan maafnya. Miris, sangat miris sekali rasanya.
Mungkin beberapa hari ini dia terlalu ke-gr-an, dia menganggap Adis lebih mencintai dia daripada Beno. Namun ternyata, dia benar-benar salah. Sepertinya, dia memang sama sekali tidak berharga di mata Adis.
"Sejak gue lihat Jordan mengecup kening Lo, saat itu juga rasa cinta dan rasa sayang gue sudah luruh. Gue udah nggak sayang sama lo sama sekali. Sekarang, gue benci sama Lo, dan gue harap, lo cukup menjadi masa Lalu gue dan enggak pernah lagi bisa menjadi masa depan."
Beno melepaskan pelukan Adis kasar, lalu Dia segera mempercepat langkahnya menuju ke mobil. Dia ingin segera pergi dari tempat ini. Dia ingin segera pergi dari hadapan perempuan sudah menghancurkan hatinya dan yang sudah menghancurkan harapannya.
"b*****t!" Beno memukulkan kepalanya sendiri ke kemudi dengan penuh emosi.