Tepat pukul 12 malam, Adis dan Jordan duduk di halaman kostannya. Jordan sengaja bikin kejutan untuk adis. Dia membuat suasana romantis di sana.
Ada satu meja dan dua kursi. Mejanya di set ala-ala candle light dinner. Dibuatkan dekorasi dengan 4 pillar kayu membentuk segi 4, dan dihiasi dengan kain putih seperti yang ada di pantai-pantai. Ditambah dengan lampu-lampu yang menghiasi dekorasi itu. Di meja itu, sudah terhidang pizza, spagetty, puding, buket lollipop coklat dan 2 gelas cappucino hangat. Semua favorit Adis.
"Dan, kapan Lo nyiapin ini semua? Perasaan tadi jam 9 belum ada kayak ginian deh," ucap Adis. Dia mengamati sekitar dengan tatapan yang takjub. Dia tidak menyangka kalau akan di berikan kejutan seperti ini.
Dia benar-benar merasa treated like a princess. Jordan, dia benar-benar memanjakan Adis, membuat adis merasa berharga dan merasa istimewa. Sedangkan Beno, kekasihnya sendiri, yang mengharapkan memiliki masa depan bersamanya, malah pergi dan Adis tahu alasan utamanya apa. Karena dia tidak mau memberikan sesuatu untuk Adis.
Bagi Jordan ini masalah kecil. Dia bisa membuat ini dengan mudah. Cukup sediakan uang, call orang yang ahli di bidangnya, beres.
"Namanya juga kejutan, jadi ngerjainnya sembunyi-sembunyi lah. Suka?"
Adis yang saat itu sedang memakai baju tidur motif hello Kitty mengangguk senang. Sungguh penampilan Adis saat ini sangat kontras dengan suasananya. Piyama yang celananya pendek dan bajunya juga berlengan pendek, rambut awut-awutan belum di sisir, dan dilengkapi oleh sandal jepit kesayangannya.
Jordan menatap Adis, dia tampak begitu bahagia. Padahal menurut Jordan, ini hanya sebuah kejutan sederhana. Karena dia tahu Adis. Adis adalah seorang perempuan yang tidak munafik bahwa jika membutuhkan kemewahan, tetapi jika diberi secara bertubi-tubi, perempuan itu akan merasa tidak nyaman. Itulah mengapa Jordan mengadakan kejutan hanya di depan rumah kost seperti ini. Tenang, dia sudah minta izin ibu kos, jadi aman.
"Adis, Selamat ulang tahun ya? Semoga panjang umur, selalu diberi kesehatan, selalu diberi kebahagiaan, dan selalu bisa menjadi pengaruh baik untuk orang-orang di sekitar Lo. Semoga lo bertumbuh menjadi wanita yang hebat, sukses, dan berpengaruh di masa depan nanti. Sorry ya, nggak ada kue. Nggak apa-apa kan ulang tahun nggak ada kue?" tanya Jordan. Dia menatap Adis yang saat itu juga sedang menatapnya dalam. Seperti biasa, d**a Adis berisik. Berdesir, jantung berdebar hebat, hati teriak-teriak begitu berisiknya.
Tatapan Jordan, benar-benar bisa menembus ke jantungnya.
"Apa-apalah. Apaan ulang tahun nggak dikasih kue," ucap Adis. Dia menunduk. Terharu. Seumur hidupnya, dia tidak pernah merasakan kejutan ulang tahun seniat ini. Jadi, dia merasa ini begitu istimewa.
"Tapi gue ada hadiah kok buat Lo."
Jordan mengambil sesuatu dari Sling bagnya. Sebuah kotak merah seperti apa yang dibawa oleh Beno kala itu.
Mata Adis seketika terbelalak. Jantungnya semakin berpacu dengan cepat. Apa yang akan dilakukan oleh Jordan? Apakah dia juga akan melamar Adis seperti apa yang dilakukan oleh Beno?
"Apaan? Awas ya Dan, Lo jangan aneh-aneh," ucap Adis. Dia masih menatap kotak merah itu.
"Aneh-aneh apaan sih, Oooh … Lo pikir gue mau ngelamar lo? PD boros banget sih Lo," ucap Jordan diiringi oleh gelak tawa.
Suasana yang tadi romantis, kini berubah kocak.
"Hmmm … jadi nggak?" Adis menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal karena malu.
"Ya enggak lah. Kepedean banget lo. Buka dulu, nih," ucap Jordan sambil menyodorkan benda yang berlapis bludru warna merah itu.
"Apaan sih?"
"Buka! Nggak usah bawel."
Adis segera meraih kotak itu, dan dia membukanya. Sebuah kalung linea moncheri warna silver tergeletak di sana. Cantik, sangat cantik.
Adis terdiam, dia tidak begitu kaget kalau itu adalah barang mewah. Karena dia tahu karakter Jordan, dia akan memberikan sesuatu yang berharga untuk orang yang dia sayang tanpa mempedulikan harganya.
"Dan, gue udah bilang Jangan kasih gue hadiah yang bagus bagus kayak gini lagi." dia tidak seperti orang-orang lain yang langsung bahagia ketika mendapatkan hadiah mewah. Justru dia merasa tidak enak karena status mereka sekarang. Andai saja mereka adalah sepasang kekasih, tentu tidak begitu canggung menerimanya. Nah ini, mereka tidak ada hubungan apa-apa.
"Apaan sih, dari tadi lo ke gr-an mulu. Ini cuma kalung titanium 200.000-an. Gue tahu lo enggak bakal nerima kalau gue beliin barang mahal. Jadi gua beliin kalung titanium aja buat lo. Ini kotaknya, kotak bekas perhiasan nyokap gue."
Ya, Jordan sengaja berbohong supaya adis mau menerimanya. Dia sudah terbiasa berbohong 1 tahun terakhir. Berbohong tentang perasaannya, dan sekarang dia harus banyak berbohong lagi untuk membahagiakan Adis. Jordan tahu, kebahagiaan memang tidak bisa diukur dari materi, tetapi dia juga tahu bahwa materi bisa menambah kebahagiaan seseorang. Kalau orang lain tidak bisa membahagiakan, maka dia yang akan turun tangan.
Adis mengambil kalung itu, lalu diamatinya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Cantik ya, tapi masa sih ini kalung titanium 200 ribuan?" Adis mengamati kalung itu dengan seksama.
"Hilih, kayak Lo tau aja. Sini, biar gue pakein ya?"
"Nggak usah, gue pake sendiri."
"Gue pakein, biar romantis kayak di tipi-tipi." Jordan bangkit dari duduknya, lalu dia berjalan perlahan menghampiri Adis. Dia berdiri di belakang Adis, meraih kalung itu, lalu dia melingkarkannya di leher wanita pujaannya. Adis mengangkat rambutnya, sehingga terlihat leher Adis yang begitu mulus.
Dengan penuh kasih sayang, Jordan mengaitkan pengait kalung itu.
'Dis, semoga lu bisa pakai kalung ini terus. Kalau suatu saat nanti gue udah nggak bisa menemani lo, gue harap masih ada barang-barang dari gue yang masih mengingatkan Lo, bahwa ada seseorang yang pernah sangat sayang sama lo meskipun enggak bisa memiliki lo,' ucap Jordan dalam hati.
Adis berdiri, berbalik. Dia menatap Jordan, lalu menatap kalungnya. Adis menarik Jordan agar sedikit lebih jauh dari meja mereka, supaya lebih leluasa berbicara.
"Gue nggak tahu, gue harus bilang apa lagi sama lu. Yang jelas, terima kasih banyak atas apa yang lo usahakan buat gue. Sampai detik ini, kita belum ada hubungan apa-apa, tapi Lo udah melakukan banyak hal yang spesial buat gue. Jujur gue merasa istimewa, Gue merasa berharga. Gue nggak tahu kenapa makhluk kayak Lo, seleranya makhluk ceroboh yang biasa-biasa aja kayak gue. Gue nggak tahu, Kenapa Lo rela melakukan hal-hal yang ribet kayak gini hanya buat gue. Dan, terimakasih ya? Lo udah sayang sama gue tanpa menanyakan apakah gue sayang balik sama lo atau enggak," ucap Adis. Matanya berkaca-kaca. Wanita mana yang tidak terharu diperlakukan sedemikian spesialnya. Pacarnya sendiri saja tidak memperlakukan dia seperti ini.
Jordan tersenyum, dia menyentuh pipi Adis dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa gue nggak tanya perasaan Lo? Karena gue nggak mau patah hati. Biarkan seperti ini. Biarkan gue menjadi sahabat lo yang cinta sama lo, supaya Lo nggak ada beban. Gue sayang sama lo, terlepas dari Lo sayang sama gue atau nggak. I love you, Adis. Jordan menatap Adis, lalu dia mendekatkan bibirnya ke kening Adis. Dia mengecupnya lembut sambil memejamkan mata. Adis hanya terdiam, membeku. Diam-diam, dia menikmati kecupan hangat Jordan di keningnya.
"Braaaaakkkkk!"
Tiba-tiba terdengar suara meja digeprak dengan begitu keras. Sontak, Jordan melepaskan kecupannya, dan mereka berdua menoleh ke arah sumber suara. Jantung mereka seakan melompat ketika tahu siapa yang datang.