~awalanya ku tak mengerti apa yang kurasakan
Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada.
Sejak kau hadir di setiap malam di tidurku. Aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku~
Lagu Aku Jatuh Cinta yang dipopulerkan oleh roulette mengalun lembut di telinga Adis. Dia memutar lagu itu berulang-ulang, karena beberapa bagian dari lagu itu benar-benar mewakili perasaannya sekarang.
Dia merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Karena sekeras apapun dia mencoba untuk konsentrasi belajar, nyatanya seberapapun banyak yang dia baca tidak ada yang masuk ke otaknya. Yang ada hanyalah bayangan Jordan, Jordan dan Jordan.
Drrrrrtttt …
Adis langsung terkesiap. Dia angkat pergelangan tangan kirinya. Gelang itu berpendar. Adis tersenyum setengah tertawa. Bahagia. Sangat bahagia.
Tak ada ungkapan apa pun, hanya sebuah isyarat kalau yang di sana sudah menangkap sinyal kita, adalah sebuah kebahagiaan untuk Adis.
"Apakah itu artinya, Lo juga rindu sama gue, Dan?"
Adis masih memandangi gelangnya, lalu kembali dia pencet. Dia ingin memberi tanda, bahwa dia belum tidur.
Setelah itu, gelangnya kembali bergetar. Ah, Jordan kembali memencetnya. Dan begitu terus sampai jam 2 dini hari. Hanya sebuah permainan yang mungkin tidak bermutu bagi orang lain, tetapi hal itu cukup membuat hati Adis bahagia. Setelah ia merasa tenang, akhirnya dia mampu memejamkan matanya dan terlelap sambil memeluk pergelangan tangan kirinya.
***
Hari ini Adis tampak tak semangat. Apalagi setelah mengerjakan kuis, semangatnya benar-benar melemah. Bagaimana tidak, dari 20 soal, hanya 5 yang dia yakin akan jawabannya.
Ah, masalah Jordan ini benar-benar menguras tenaga, hati dan fikirannya. Pikirannya penuh akan jordan dan sulit untuk berkonsentrasi. Mungkin karena ini masih awal, Jadi dia butuh waktu.
Adis menunduk sambil menyangga kepalanya dengan kedua telapak tangan. Terlihat sekali bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
"Wih ... Gelang Lo baru ya? itu gelang Bond touch ya? ih, iya nih. ini gelang Bond touch. Lo dapat dari siapa hayoooo ... Coba sini gue lihat." Santi melihat gelang Adis dengan penuh kecurigaan.
"Bond touch apaan sih. Ini gelang dari adek gue, beli di abang-abang. Ngawur aja Lo, lagian gelang apaan bound touch tuh?" Adis mencoba untuk ngeles dan segera menyembunyikan gelang itu dibalik kemeja lengan panjangnya. Dia tidak membiarkan Santi melihat gelang itu, karena dia pasti akan cari tahu Kenapa Adis bisa memakai gelang bound touch yang populer dikenal sebagai gelang LDR.
"Ish, pelit amat sih lo. Gue cuma pengen lihat doang. Ya udah kalau nggak boleh. Eh tapi, Lo mikirin apa sih? Dari tadi kayak nggak semangat gitu."
"Jordan," jawab Adis sepontan.
"Jordan?" tanya Santi. Suaranya lirih namun penuh penekanan. Matanya melotot menatap Adis. Raut mukanya yang tadinya cerah, kini berubah muram.
Menyadari kesalahannya, Adis langsung menepuk jidatnya sendiri. Ah, Santi kan pro banget sama Beno, pasti dia tidak suka kalau mengetahui adis Masih memikirkan Jordan.
"Em … bukan, bukan. Maksud gue kuis. Iya, gue mikirin kuis tadi. Iya, gitu. ngapain juga gue mikirin laki-laki yang tengil, jahil, dan suka godain gue itu. Emang sih dia selalu ngasih gue lollipop coklat kesukaan gue, tapi nggak ada alasan bagi gue untuk Masih memikirkan laki-laki kayak dia. Ya, nggak mungkin gue mikirin dia," ucap Adis yang kelihatan salah tingkah sambil tersenyum kaku. Sangat terlihat Jika dia sedang tidak jujur. Apalagi omongannya yang ngelantur, Santi tahu bahwa itu hanyalah usaha untuk menutupi kebohongan.
"Dis, lo suka ya sama Jordan?" selidik Santi. Semakin Adis berbohong, maka Santi semakin curiga.
"Hah? Nggak lah. Ngaco aja Lo. Lo sendiri kan tahu, kalau gue hanya sahabatan sama Jordan kaya lo sama Beno. Sahabatan doang nggak lebih."
"Tapi gue yakin, barusan Lo emang beneran lagi mikirin Jordan. Apalagi lo salah tingkah gitu Ngaku sama gue, Lo lagi mikirin Jordan, kan?"
"Nggak, Santo. Sok tahu banget sih lo."
"Kudis, Lo mungkin bisa bodohin Beno, tapi lo nggak bisa bohongin gue. Lo masih enggak bisa kan menghindari Jordan? Lo masih kepikiran dia terus kan? Jawab!" Santi mulai meninggikan suaranya dan membulatkan matanya. Tatapannya tajam ke arah Adis seolah dia sedang menuntut jawaban dari Adis.
"Lo kenapa ikut campur urusan gue sih?"
Adis mulai nyolot. Dia mulai kesal karena terus dicecar pertanyaan oleh Santi.
Santi berdiri, lalu dia menatap tajam Adis yang masih duduk di tempatnya.
"Karena Beno sahabat gue. Karena gue nggak rela kalau elu masih memikirkan cowok lain padahal Lo udah punya Beno. Cowok yang sempurna yang tak pernah menuntut lo macem-macem. Kurang apa sih dia sampai lo masih memikirkan orang lain? Kurang beruntung apa Lo?" Kini suara Santi benar-benar meninggi. Hidungnya kembang kempis, wajah dan telinganya memerah karena amarah.
Ya, jika dipikir-pikir, sikap Santi memang sedikit kurang wajar. Dia terlalu berlebihan jika membela seorang sahabat sampai sebegitunya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu, Kenapa dia sampai sesakit hati itu melihat Adis Yang Masih memikirkan laki-laki lain.
"Lo tanya Apa kurangnya dia? Lo masih tanya? Bukannya Lo melihat dengan mata kepala lo sendiri kalau dia, koretnya keterlaluan. Dia nggak pernah ngeistimewain gue. Dia sangat perhitungan bahkan sama gue, pacar dia sendiri. Bahkan gue sering jalan kaki gara-gara dia koret nggak mau cepet-cepet beli bensin. Dan Lu masih tanya, apa kekurangan dia? Mikir dong Lo." Adis ikut meninggikan suaranya.
"Oh … jadi karena itu. Jadi karena itu Lo masih mikirin cowok lain karena lo merasa Beno punya kekurangan yang nggak bisa lu tolerir. Sekarang gue mau tanya sama lo. Sepelit-pelitnya dia, pernah nggak dia minta lo bayarin makanannya? Sepelit pelitnya dia, pernah Enggak dia minta uang bensin sama lo, dan sepelit-pelitnya dia, pernah enggak dia biarin lo kelaparan saat malam-malam Lo belum makan di kosan? Satu lagi, pernah enggak Lo ngeluarin duit buat dia? Hah? Pernah? Pernah nggak?"
Kini suara Santi benar-benar meninggi. Nafasnya sampai tersengal saking kerasnya dia berbicara. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas itu sontak menoleh. Tentu saja mereka kaget, karena mereka adalah sahabat yang sangat dekat. Tak pernah mereka bertengkar hebat seperti ini sebelumnya.
Adis terdiam sejenak, berpikir. Omongan Santi sudah berhasil menyentil dirinya. Ya, Beno memang laki-laki yang sangat pelit. Namun, laki-laki itu memang tidak pernah membiarkan dia kesusahan dan kelaparan. Beno selalu mengusahakan, agar ketika mereka keluar, laki-laki itu bisa membelikan makanan untuk kekasihnya meskipun hanya makanan yang tak mahal. Dia selalu bertanggung jawab akan Adis, Meskipun tidak pernah membelikan dia barang yang mewah. Ya, dan selama ini adis memang tidak pernah keluar uang untuk Beno. Tidak pernah sama sekali.
"Kenapa lo diam? Hah? Lo sadar, kalau Beno memang sepelit itu sama lo, dia tak akan pernah mau membelikan lo apapun. Dia nggak akan pernah mau ikut bayarin biaya rumah sakit lo. Jika dia sepelit itu, dia nggak akan mau antar jemput lo hampir setiap hari. Lo harus mikir, dan satu lagi ya? Enggak usah sok princess. Lo cuma manusia biasa yang juga punya kekurangan. Lu ceroboh, Lo ceplas ceplos, Lo orangnya nggak rapi, tapi dia terima Lo apa adanya tanpa tapi. Lo harus mikir dis, jangan pikirin diri lo sendiri! Lama-lama gue muak sama sikap Lo. Kalo gue jadi Beno, ogah banget punya cewek yang nggak bersyukur memiliki dia. Kalau lo mau nyari cowok yang sempurna, Lo nggak usah pacaran sama manusia."
Santi masih menatap tajam ke arah Adis yang saat itu masih menunduk. Lalu, perempuan itu segera pergi meninggalkan kelasnya. Dia tidak peduli beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Yang dia tahu saat ini, harus pergi meninggalkan Adis sebelum amarahnya kembali memuncak.
'Lo nggak tahu, Dis. Sebenarnya gue pengen berada di posisi lo tapi gue nggak bisa karena Beno sayangnya sama lo. Kenapa lo yang diberi kesempatan untuk dekat sama laki-laki sebaik dia, malah kau sia-siakan? Masih sempat-sempatnya lo mikir kekurangan nya tiada henti?' Santi terus berjalan menuju ke luar gerbang kampus dengan mata yang mulai basah.
Ketika Beno tersakiti, dia ikut sakit hati. Rasanya, ingin dia ungkap saja perasaannya. Ingin dia katakan kepada Beno, bahwa ada orang yang tulus mencintainya tanpa mempedulikan kekurangannya yang satu itu. Namun, dia tidak bisa. Karena Santi tahu hanya Adislah yang ada di dalam hati Beno.
Sementara Adis, dia masih terdiam di tempatnya. Santi telah berlalu, tetapi ucapannya masih terngiang-ngiang di telinga. Ya, itu yang tidak pernah Adis sadari selama ini. Beno Emang pelit, sering membuat Adis jengkel, tetapi laki-laki itu tidak pernah membuat Adis mengeluarkan uangnya saat mereka jalan bersama karena bagi Beno, ketika dia mengajak perempuan keluar bersamanya, maka perempuan itu menjadi tanggung jawabnya.
'Ben, apa selama ini gue sudah keterlaluan? Lo emang cowok yang baik, bahkan sangat baik. Semua diucapkan Santi benar. Sepertinya gue memang nggak tahu diri, dan gue kurang bersyukur. Padahal Tuhan sudah kasih gue laki-laki yang baik kayak lo. Tapi meskipun pelit tidak pernah minta gue ngeluarin uang. Huft … hati gue aneh banget, Ben. Lo sebaik itu, tapi gue masih teringat jordan Dan tiada henti.'
"Dis, hari ini kita ngerjain tugas bareng ya? Besok kita presentasi. Kayaknya bakal sampai malam sih karena kita belum ngerjain apa-apa dari kemarin. Nggak apa-apa kan?"
Soni, salah satu teman Adis yang kebetulan satu kelompok berdiri di hadapan Adis yang saat itu masih menunduk.
Adis langsung mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum.
"O.K. siap."