Kenalan Ulang

1182 Words
Pukul 10.00 malam, Adis celingak celinguk mencari taksi atau tukang ojek. Namun, belum ada satu pun yang lewat. Ya, karena hari ini banyak yang harus dikerjakan bersama dengan kelompoknya, jadi dia pulang larut malam. Tadi dia bilang sama Beno, kalau dia tidak perlu jemput karena adis mau pulang sendiri. Ah, Siapa yang tahu kalau akan selarut ini. Adis memandang ke arah handphonenya. Mati. Tidak bisa pesan ojek online atau taksi online. Perempuan yang saat itu memakai celana jeans panjang dan kemeja kotak-kotak lengan panjang itu mondar-mandir ke kanan dan ke kiri sambil menggigit jari tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya sibuk memegang beberapa modul. "Huft … Gimana gue pulangnya ini? Masa iya gue harus jalan kaki," ucap Adis dengan muka muram. Kampus sudah sepi. Meskipun jalanan masih ramai, Tapi itu sama sekali tidak bisa membantu. Tak lama kemudian, sebuah Ferrari California kuning berhenti tepat dihadapan Adis. Adis mendongakkan kepalanya saat mendengar suara deru mobil berhenti. "Jordan?" ucapnya lirih saat sang pengemudi menurunkan kaca mobilnya. Jordan tersenyum, lalu dia membuka pintu mobilnya, dan turun menghampiri seorang perempuan yang beberapa hari ini benar-benar memenuhi kepalanya. Ya, jauh dari Adis dan pura-pura tidak kenal dengan perempuan itu benar-benar menyiksanya. Namun, dia laki-laki. Sebisa mungkin dia berusaha untuk menyembunyikan rasa sakitnya. "Hai, kenalin! Gue Jordan. Lo siapa?" Jordan menyodorkan tangan kanannya sambil melengkungkan sebuah senyuman. Senyumannya beberapa hari ini benar-benar adis rindukan. Adis mengerutkan keningnya, tak tahu apa maksudnya. " Apaan sih Dan, nggak lucu!" Adis menoleh ke samping, pura-pura tak mau melihat wajah Jordan. Padahal sebenarnya dia sangat rindu dan ingin menatap wajahnya lama-lama. "Mbak, Gue memang nggak sedang melucu. Kita nggak saling kenal kan? Ayo kita kenalan. Gue Jordan. Nama mbak siapa?" Adis masih diam. Ah, makhluk satu ini memang ada aja. Adis tahu itu cara Jordan agar bisa kembali berkomunikasi dengannya. "Mbak sombong banget sih. Ayo dong kenalan. Ya udah gue ulangi, gue Jordan. Mbak siapa?" Dengan jantung yang berdetak dengan begitu hebat, Akhirnya Adis mengulurkan tangannya dan mencoba untuk tersenyum. "Adis." "Perfect. Sekarang kita sudah kenal lagi. Berarti kita sudah jadi teman lagi, jadi Enggak apa-apa dong Kalau gue mau anterin Lo pulang?" Jordan tersenyum penuh kemenangan. Adis tertawa. Ternyata benar apa yang dia pikirkan. Pintar sekali laki-laki itu bermain trik. "Nah gitu dong mbak, ketawa. Cantik." Adis menghentikan tawanya, lalu tersenyum malu-malu. "Bagaimana lo bisa tahu kalau gue masih di sini?" tanyanya kemudian. "Kita kan baru kenal, mbak Adis. Jangan sok kenal gitu deh. Ayo masuk mobil, gue anterin lo pulang. Ini udah malam. Kemungkinan taksi dan ojek lewat sangat kecil di jam-jam segini." Ada rasa campur aduk di dalam hati adis sekarang. Ada rasa bahagia karena bisa kembali bertemu dengan Jordan dan sempat ngobrol, ada rasa lega karena dia bertemu dengan orang yang mungkin bisa mengantar dia pulang, tetapi ada rasa bersalah Kalau dia sampai memenuhi permintaan Jordan. Dia akan merasa bersalah sama Beno. Dia sudah berjanji untuk menjauhi Jordan. Namun, jika keadaannya seperti ini dia bisa apa? "Gue nunggu aja dulu." "Lo nungguin apa? Kunti ... ini hampir tengah malam. Nggak akan ada jin yang bawa karpet terbang yang bisa ntar lo pulang juga. Nggak bakalan ada, Dis. Gue anterin! Lagian, kalau malam-malam daerah sini banyak orang-orang gak jelas yang suka malakin orang. Iya kalau lo cuma dipalak, gimana kalau lo sampai diculik? Ini udah malam. Nggak usah keras kepala." "Nggak bakalan ada yang bisa nyulik gue. Udah Lo pulang aja." "Huft … enggak usah sok cantik deh lo. Ikut gue," ucap Jordan sambil terpaksa menggendong Adis dan membawanya ke mobil. "Jordan, Lo gila ya? Turunin gue. Turunin nggak!" Adis teriak-teriak, tetapi Jordan sama sekali tidak menggubris. Biarkan saja Gadis itu teriak-teriak sekarang, Yang penting dia akan aman dan selamat sampai rumah. Jordan tidak akan bisa tidur nyenyak kalau sampai meninggalkan Adis di situ sendirian. "Lo yang gila. Udah tahu malam-malam malah keras kepala." Jordan menurunkan Adis di bangku mobil yang ada di samping kemudi. Jreet! Ditutupnya pintu mobil mewah itu, lalu Jordan segera berlari kearah pintu mobil dan segera melajukan mobilnya menuju tempat kost Adis. "Gue enggak ngelanggar janji kan? Lo bilang anggap aja kita nggak pernah kenal. Gue udah ngelakuin itu, Dis. Gue nggak pernah menyapa lo kan waktu di kampus karena kita memang enggak kenal. Tapi sekarang kan kita udah kenalan lagi. Gue nggak melanggar janji kan?" Adis terdiam. Jauh di dalam lubuk hatinya, Sebenarnya dia sangat bahagia. Dia bahagia karena bisa kembali dalam satu mobil dengan jordan. Dia bahagia karena rasa rindunya sekarang terobati. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dia juga bahwa rasa bersalah pada bino terus menghantui. Rasanya Dia seperti menghianati perjanjian yang sudah mereka sepakati. "Semalam elo rindu sama gue?" Jordan menyelidik. "Ngomong aja kalau memang Rindu. Nggak usah gengsi." Adis masih dia meskipun Jordan terus nerocos. Tiba-tiba, Adis meneteskan air matanya. Dia tidak sanggup berkata-kata. Hanya air mata itu yang bisa menjawab pertanyaan Jordan. Jordan menoleh. Seketika, dia panik melihat gadis yang mengeluarkan air mata. "Eh Lo kenapa? Lo nggak apa-apa kan?" Jordan meminggirkan mobilnya dan menghentikannya di pinggir jalan. Dia menatap Adis yang saat itu menunduk sambil meneteskan air matanya. "Lo kenapa? Maafin gue kalo udah maksain lo. Gue ngelakuin ini karena gue nggak tega lihat lo sendirian di pinggir jalan, Dis. Gue tahu kalau nggak seharusnya kita berada dalam satu mobil begini. Gue ngerti. Tapi sekarang keadaannya beda. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa sama lo? Siapa yang bertanggung jawab kalau sampai digodain sama orang-orang nggak bener yang selalu berkeliaran. Cuma itu maksud gue. Nggak ada yang lain." Kini Adis terisak. Ditutupnya wajah Ayu itu dengan kedua telapak tangan. Adis sesenggukan di sana. Jordan salah. Adis menangis bukan karena dipaksa untuk masuk mobilnya. Adis menangis karena dia berada dalam kebimbangan antara mengakui rasa rindunya dan rasa bersalahnya sama Beno. Dia benar-benar berada dalam keadaan yang sulit. "Gue … gue kangen sama Lo," ucap Adis di sela Isak tangisnya. Ya, akhirnya Adis mengucapkan itu. Dia tidak bisa menahannya lagi. Karena semakin ditahan, maka hatinya akan semakin merasakan sesak. Adis memang belum sepenuhnya mengakui bahwa rasa rindunya itu bukan hanya sekedar rasa rindu dengan sahabatnya, tetapi lebih dari itu. Lebay memang, tetapi ketika kalian tiba-tiba dijauhkan dengan sahabat yang sangat kalian sayangi, baru kalian akan tahu bagaimana rasanya. Tentu saja jordan tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Memang terdengar seperti sebuah tawa mengejek. Namun, Hanya Tuhan dan Jordan yang tahu bahwa itu adalah sebuah tawa bahagia. Adis merindukannya? Kata-kata itu benar-benar seperti sebuah air yang mengalir pada kerongkongan yang kering. Segar, dan juga menyejukkan. "Lo kenapa ketawa sih. Gue serius, oon," ucap Adis di sela Isak tangisnya. Jordan menghentikan tawanya, lalu dia tersenyum. Tangannya mengulur rambut hitam panjang Adis yang lurus. Dielusnya lembut perempuan yang dia cintai itu. "Gue juga rindu sama lo kali. Karena selama kita pura-pura nggak kenal, nggak ada lagi orang cuek dan selalu berisik di telinga gue. Nggak ada orang rese yang selalu teriak-teriak, enggak ada gadis jorok dan ceroboh yang selalu bertingkah seenaknya sendiri." Adis mendongakkan kepalanya. Kali ini dia menatap Jordan yang saat itu juga tengah menatapnya dengan tatapan yang dalam. Ya, saat ini mereka sedang bertatap satu sama lain yang menimbulkan debaran yang tak beraturan di d**a mereka masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD