Perang Batin

1229 Words
Menyadari ada yang aneh dengan dirinya, Adis segera memalingkan pandangannya dan menghadap ke bawah. No, no, no. Dia tidak boleh membiarkan ada rasa yang tidak wajar di dalam hatinya tumbuh dengan subur. Dia harus ingat apa kata Santi. Kurang apa Beno? Kurang baik apa Beno sama Adis? Meskipun dia pelit dia tidak pernah mendua, matanya tidak pernah jelalatan, dan dia tidak pernah membiarkan Adis keluar uang sedikitpun. Dia selalu ada untuk adis dalam keadaan apapun. Lalu, pantaskah jika Adis membiarkan ada rasa yang tumbuh di hatinya untuk orang lain? "Em … ya udah. Lo Anter gue pulang sekarang. Habis itu kita lanjutkan lagi." "Apanya yang dilanjutkan? Ngobrolnya?" "Pura-pura nggak kenalnya. Gue nggak mau bikin Beno kecewa sama gue." "Terus lo gimana? Perasaan lo? Rasa rindu Lo sama gue?" "Ini cuma masalah waktu aja, Dan. Mungkin karena terlalu mendadak, jadi gue nggak bisa kontrol perasaan gue. Kita kan udah 1 tahunan bersahabat. Sering melakukan banyak hal bareng-bareng. Jadi, ketika hubungan persahabatan kita langsung diputus, rasanya memang berat. Tapi gue yakin ini nggak akan lama kok. Lama-lama gue bakal terbiasa. Ya, pasti gitu." Adis berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri, meskipun sebenarnya saat ini dia tidak bisa yakin sedikitpun. "Bagaimana kalau semakin lama Lo semakin rindu sama gue?" Jordan menunduk. Dalam hatinya ada sedikit Harapan. Dia berharap bahwa Adis memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Ya, dari rasa rindu yang diungkapkan oleh Adis, dia berharap bahwa itu bukan rindu atas nama persahabatan, tetapi rindu karena di hati Adis mulai muncul perasaan yang belum ada sebelumnya. "Nggak mungkin. Itu Lo kali, bukan gue. Lo kan nyebelin. Kalau ketemu aja suka ngeledekin gue. Mana mungkin makin hari makin rindu," ucap Adis diiringi oleh tawa kecil. Tawa yang sebenarnya untuk menutupi keraguan dari apa yang diucapkan. "Dis, kalau memang ini menyiksa, lo bisa melakukan hal yang buat Lo nyaman. Bukannya ini yang selalu lo lakukan. Lo selalu melakukan apa yang lo mau bukan apa yang orang lain mau." Adis memain-mainkan tali tasnya. Dia kembali tersenyum getir. 'Kali ini beda, Dan. Gue harus jaga perasaan orang yang udah verified sebagai orang yang sayang sama gue. Rasa sayangnya udah nggak bisa gue raguin lagi. Gue nggak mau nyakitin hati dia.' "Kenapa lo diam?" Adis terlihat menghela Nafas panjang. "Sekarang gue baru sadar, Dan. Bahwa kadang-kadang kita tidak bisa melakukan apa yang kita mau. Kita bahkan harus menjalankan sesuatu meskipun kita tidak suka untuk menjaga hati orang lain. Gue nggak mau jadi orang jahat yang menghancurkan hati orang lain demi untuk membahagiakan diri gue sendiri." "CK ck CK … beberapa hari enggak ngobrol sama lo, tampak waras aja Lo sekarang." Jordan menatap kedepan. Lalu, Dia kembali tertawa kecil. "Enak aja. Huft … anterin gue pulang sekarang ya? Gue Nggak mau kalau ada yang sampai melihat dan ngadu sama Beno." "O.K. Gue antar pulang sekarang." Jordan kembali melajukan mobilnya perlahan menuju ke kost Adis. Selama perjalanan mereka lebih banyak diam. Karena Mereka sibuk mengontrol hati mereka masing-masing. Adis, gadis itu mulai menyadari kalau mulai ada desir halus di dalam hatinya, dan dia tahu bahwa itu hal yang tak biasa dan harus segera dihilangkan. Karena dia juga tak yakin, bahwa Jordan adalah makhluk perfect yang ia cari. "Gue pulang dulu ya? Jaga diri baik-baik. Lain kali kalau mau keluar jangan lupa bawa power bank. Supaya Lo bisa hubungi Beno ketika dalam keadaan genting seperti tadi." Adis mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba Jordan mengulurkan tangannya, mengacak lembut rambut Adis. Sontak, d**a Adis berdesir. Jantungnya kembali berdetak dengan begitu kencang. Ah, Kenapa harus seperti ini? "Tetaplah jadi Adis yang apa adanya, sampai kapan pun." Aish, yang di acak-acak rambutnya, Kenapa yang berantakan hatinya. Adis buru-buru menepis tangan Jordan, takut keadaan hatinya semakin semrawut. "Apaan sih Lo. Ngacak-ngacak rambut orang sembarangan." Adis pura-pura merapikan rambutnya sambil cemberut untuk menutupi salah tingkahnya. Pipi Adis memerah. Terlihat sekali Dia sedang salah tingkah dan malu-malu. "Ish, kok pipi Lo merah? Kok salting gitu sih. Lo deg-degan ya? Coba sini gue cek," ucap Jordan yang akan mengulurkan tangannya. "Jangan macem-macem ya Lo," ucap Adis sambil kembali menepis tangan Jordan. Laki-laki itu hanya membalasnya dengan tawa. "Udah, gue mau turun. Ingat, mulai sekarang kita nggak kenal lagi ya? Besok ketika kita ketemu, kita nggak boleh saling sapa. Oh ya, thank you udah anterin gue hari ini." "Siap, kalau nggak kenal lagi, kita bisa kenalan lagi kok. Tenang aja." "Jangan rese ya Bapak Jordan. udah sana lu cepetan pulang. See you." "See you?" "Em … maksud gue good bye." Adis melepaskan sabuk pengamannya. Rasanya berat pergi dari Jordan. Harus diakui kalau sebenarnya dia sangat nyaman. Nyaman berada di mobil mewah? Ya, tidak munafik itu juga menjadi salah satu faktor kenyamanannya. Mengingat biasanya dia hanya dibonceng memakai motor butut yang tiba-tiba sering kehabisan bensin. Namun, ada yang lebih dari itu. Dia merasa nyaman bisa kembali dekat, ngobrol, saling ejek, dan saling melempar candaan. Hal yang jarang dia lakukan sama Beno. Begitu juga dengan Jordan, rasanya dia ingin berlama-lama di mobil itu sama Adis. Ngobrol hal yang sepele saja terasa menyenangkan kalau sama Adis. Adis bersiap untuk turun, tetapi tangan Jordan menahan lengannya. "Tunggu," ucap Jordan dengan d**a yang terus berdebar. "Kenapa?" Tiba-tiba, Jordan mendekatkan tubuhnya pada Adis. Lalu laki-laki itu memeluk Adis erat. Dia tempelkan kepalanya di bahu gadis yang berkulit putih bersih itu. "Boleh nggak, kalau gue bilang sama lo, tolong jangan pergi! Tolong jangan pergi dari gue. Tolong kembalilah menjadi Adis yang seperti dulu. Gue nggak bisa kayak gini terus Dis. Gue nggak bisa pura-pura cuek Saat ketemu lo." Adis terdiam. Sebenarnya dia merasakan hal yang sama. Berat juga baginya untuk pura-pura menjadi orang asing yang tidak saling mengenal padahal sebenarnya hati mereka saling bertaut. "Dan … Gue … " "Gue janji nggak bakal ngasih tahu ini ke siapa pun. Kita bisa ketemu diam-diam tanpa sepengetahuan Beno." "Jordan, tapi …." "Please?" "Lo suka sama gue?" tanya Adis. Sekarang dia mulai yakin dengan ucapan Beno saat itu. Bahwa 2 orang yang sedang bersahabat, tidak mungkin sepenuhnya bersahabat. Kalau Tidak dua-duanya memendam perasaan, pasti ada salah satu yang merasakan hal yang lebih. "O.k, Gue nggak bisa bohong lagi sama Lo. Gue sayang sama lo, Adis adena. Gue sayang sama lo Lebih dari sekedar sahabat. Dari dulu, saat Lo masih awal-awal pacaran sama Beno. Beberapa hari jauh dari lo, membuat gue enggak bisa lagi menunda mengungkapkan ini. Gue nggak peduli Bagaimana perasaan lo sama gue. Gue jadi sahabat aja nggak apa-apa kok. Asalkan lo nggak benci sama gue, dan lo tetap menjadi sahabat gue kayak dulu. Tolong, Dis." Adis membeku. Dalam beberapa detik, dia seperti melayang dari tempatnya saat ini. Sejenak, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ternyata benar apa kata Beno. Ternyata firasat kekasihnya itu sempurna benar. Jordan menyayanginya. Jordan menyayangi lebih dari seorang sahabat. Terbesit sebuah rasa yang tidak diinginkan di dalam hati adis sekarang. Perasaan bahagia yanh membuncah. Namun, Adis mencoba Untuk mengingkari kebahagiaan itu. Tidak, dia tidak boleh bahagia Mendengar hal ini. Ada hati yang harus dia jaga. "Jordan, gue udah punya cowok. Lo nggak bisa sayang sama gue." "Tidak ada 1 orang pun yang berhak melarang orang lain untuk jatuh cinta, Adis. Nggak ada. Gue bebas sayang sama siapapun, termasuk Lo. Lo nggak harus ngelakuin apa-apa. Gue tahu lo pacarnya Beno dan sayang sama Beno. Lo cukup tahu perasaan gue kayak gimana, dan tolong! Jangan pergi dari gue. Tetaplah menjadi sahabatku e seperti dulu. That's more than enough." ucap Jordan. Dia semakin mengeratkan pelukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD