Bahagia atau Merasa Bersalah?

1056 Words
Sudah pukul 01.00 dini hari, Adis tak kunjung bisa memejamkan matanya. Dia memilih untuk duduk di luar kamar kosnya, yang biasa disebut sebagai teras. Suasana kos sudah sepi, sepertinya semuanya Sudah terlelap. Hanya Adis yang masih terjaga dengan segala pemikirannya. Ditemani oleh dinginnya malam yang menusuk tulang, Adis duduk sambil menikmati lolipop coklat yang selalu menjadi sahabat terbaik saat dia galau. Ingatannya masih melayang ke beberapa jam yang lalu saat Jordan mengakui perasaannya. "Please! Buka blokiran no wa Ku ya?" ucapnya kala itu sambil memegang pundak Adis dan menatapnya lekat-lekat. Adis ingin menolak saat itu, tetapi gejolak di dalam dirinya membuat Adis mengangguk. Dia tak kuasa menolak permintaan Jordan. Ya, sekarang mereka sudah sama-sama membuka akses yang mereka kunci. Ada rasa bersalah di hati Adis, tetapi sisi manusiawi Adis juga mengharapkan Jordan yang menyayangi dia dan begitu royal padanya. Apakah itu salah? Drrrt … Drrrt … Seperti telepati. Laki-laki yang dari tadi dia pikirkan, fotonya berpendar-pendar di HP nya. Ya, Jordan. Apakah dia juga belum bisa tidur selarut ini? "Halo," ucap Adis lirih. "Eh, Lo belum tidur? Padahal tadi gue cuma iseng aja loh." Suara Jordan terdengar canggung. Padahal dia tahu bahwa adis baru saja online beberapa menit yang lalu dan sengaja menelponnya. Adis membungkus kembali lollipopnya dengan bungkus yang tadi belum dia buang, lalu meletakkannya di atas meja. "Hilih, Alibi. Bilang aja kalau lo pengen dengar suara gue," ucap Adis diiringi senyum. Saat ini hatinya sedang berbunga. Entahlah, rasanya seperti saat pertama kali jatuh cinta sama Beno dulu. Rasanya sama seperti ini. Bahagia meskipun hanya mendengar suaranya. "Iya, sih. Nggak apa-apa kan? Nggak apa-apa dong? Pasti lo juga seneng kan dengar suara gue?" "Hahaha … enggak lah. Nggak seneng sama sekali." "Masa?" "Hmmm … " Adis mengiyakan dengan gumaman diiringi oleh tawa kecil yang manja, membuat Jordan semakin klepek-klepek tak karuan. "Jangan manja-manja gitu suaranya. Makin gemes gue sama lo," ucap Jordan dengan senyum lebar di seberang sana. "Emang gue gemesin dari dulu. Lo aja nggak nyadar." "Gue udah nyadar dari dulu, Lo aja yang nggak ngerti." "Hilih." Krik krik krik. Sepi. Mereka berdua saling diam. Merasa canggung satu sama lain. Seolah bingung mereka mau ngomong apa lagi. "Kok obrolan kita garing ya?" Jordan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal. Adis hanya senyum-senyum sendiri. Dia paham posisinya sekarang. Mereka memang bukan siapa-siapa saat ini, tetapi sejak Jordan mengakui perasaannya, mereka berdua memang rada awkward. Yah, meskipun sebenarnya Adis merasakan hal yang sama, tapi dia belum mengakuinya. Biar semua berjalan apa adanya dulu seperti ini. "Lo salting ya Dan?" tanya Adis, meskipun sebenarnya adalah dirinya yang Tumben-tumbenan kehabisan topik pembicaraan. "Em … enggak biasa aja. ngapain salting sama lo." "hilih, semalam loh udah jujur. bisa-bisanya Sekarang ngeles lagi." Jordan hanya menjawabnya dengan tawa kecil. "Em … Dis, Lo nggak benci kan sama gue?" Ya, Ada ketakutan di hati Jordan. Dia takut gadis itu akan berubah setelah mengetahui semuanya. "Benci lah. Benciiiii … banget. Untuk melunturkan kebencian Lo harus bawain lollipop coklat besok. Yang banyak." "Hahaha … siap Bos. Mau satu kontainer aja gue jabanin Dis." "Dih, sombong." "Oh iya, besok ada eventnya anak musik. Konser kecil-kecilan untuk penggalangan dana yang akan disalurkan ke anak yatim yang ada di panti asuhan dekat kampus. Lo bisa nonton?" "Sejak kapan lu jadi anak musik? by the way, Lo perform?" "Iya." "Hadeeeh … pasti banyak ciwi-ciwi yang teriak-teriak nggak jelas manggilin Lo gitu. Apalagi itu si Elena. Urat malunya pasti bakalan putus besok. Iyuuuh … Norak bet mereka. Asli. Ogah banget nontonin Lo. Pasti Lo bakal kepedean parah diatas panggung. Mana Lo nyanyinya seolah menghayati gitu, biar cewek-cewek makin klepek-klepek. Iya kan? Modus bet." Adis langsung nyerocos panjang lebar. Sebenarnya yang merasakan hal seperti yang diungkapkan tersebut adalah dirinya sendiri. Ketika dia melihat dan mendengar Jordan menyanyi dengan penuh penghayatan, maka hatinya akan luluh lantak. Itulah awal mulanya timbul desiran halus di dalam hatinya. Dia tidak mau rasa itu semakin dalam dan desiran desiran di dalam dadanya itu semakin menjadi. Tidak, dia tidak boleh mengakui bahwa sebenarnya hatinya juga mulai kepincut dengan Jordan. Biar semuanya berjalan seperti ini dulu. Karena dia masih belum siap kehilangan Beno. "Eh … tunggu deh, kok Lo kesel kalau ada ciwi-ciwi teriak-teriak manggil nama gue? Atau jangan-jangan … wah … ini fix. Lo pasti juga suka kan sama gue? Iya kan? Ngaku deh." "Apaan sih Lo Dan. Pede boros banget." "Berati nggak ya? Cuma gue yang kepedean ye?" "Hooh lah." Hanya obrolan yang tak penting, sama sekali tak berbobot. Namun, Entah kenapa obrolan yang tidak penting itu sanggup membuat masing-masing dari mereka senyum-senyum tak jelas di tempat mereka masing-masing. "Nggak apa-apa. Gue nggak peduli Lo sekarang sayang apa nggak sama gue. Yang penting Lo tahu, kalau di sini, ada sesemakhluk yang tampan dan mempesona, yang akan selalu sayang sama lo. Nggak peduli Lo bobrok, nggak peduli Lo jorok, nggak peduli Lo ceroboh, nggak apa-apa. Gue sayang sama lo, Adis." Deg deg deg deg … kembali dadanya berisik. Jantungnya bekerja dengan lebih cepat. Kalau dia ngaca, pasti dia tahu kalau pipinya memerah sekarang. Dia bahagia karena mendapat curahan kasih sayang yang lebih. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi wanita selain merasa dicintai dan diprioritaskan, bukan? Apalagi mendapatkan ungkapan rasa cinta dari makhluk paling populer di kampus, siapa yang nggak meleleh? "Dis, Lo masih hidup?" tanya Jordan setelah beberapa menit tidak terdengar adanya tanda-tanda kehidupan, karena adik masih sibuk dengan dadanya yang begitu ramai. "Iya." "Ya udah, udah malem banget. Lo tidur ya? Besok Lo masuk pagi kan?" "Iya." "Dijemput Beno?" "Iya." "Iya-iya Mulu dari tadi." "Emang semua pertanyaan Lo jawabannya iya, Dodol." "Iya, ya. Ya udah, tidur gih! Love you, Dis." Kata-kata itu kedengarannya memang sederhana. Namun, tak ada yang tahu bahwa ucapan itu diiringi oleh berisiknya detak jantung Jordan. Kata-kata yang sudah lama ingin dia ucapkan, tetapi Baru kali ini dia bisa mengungkapkannya tanpa sungkan. "Hmmm … See you." 'Gue nggak tahu perasaanku ini apa, tetapi Yang jelas gue senang ketika lu mengungkapkan rasa sayang, Dan.' "See you." "Kok belum dimatiin." "Lo yang matiin dong, Dis." "Lo dong, Dan. Kan Lo yang telepon." "Tapi nggak apa-apalah kalau Lo yang matiin duluan." "Nggak mau dong, nggak sopan kalau gue yang matiin duluan. Harus yang telepon yang matiin dulu." "Cie … masih pengen dengar suara gue ya?" Klik. Adis langsung mematikan sambungan teleponnya. "Lhah … katanya nggak sopan," ucap Jordan. Lalu dia tertawa bahagia sambil memandang handphonenya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD