Hari ini Adis lebih bersemangat dari biasanya. Dia bangun lebih pagi dan segera menyiapkan semua modul hari ini.
Pukul 06.30 dia sudah siap dengan rok warna coklat sepanjang lutut, atasan tanktop hitam ketat dan dipadu dengan kemeja kotak-kotak oversize serta sepatu kets Hitam putih. Aneh sih stylenya, tetapi adis tampak cantik. Apalagi kebahagiaan yang terpancar dari dalam dirinya, membuat gadis Itu tampak lebih mempesona.
Hari ini Beno nggak ada kelas, jadi Dia memutuskan untuk langsung kerja ke bengkel. Rencananya dia ingin mengantarkan Adis ke kampus terlebih dulu, tetapi Adis menolaknya.
Alhasil, kesempatan bagi Jordan untuk menjemput Adis.
"Gue nggak diantar Beno hari ini. Dia langsung kerja." Ya, tadi pagi Adis cuma kirim pesan begitu.
"O.K. Gue Jemput."
Ya, hanya sekelumit kode dari Adis. Meskipun Gadis itu tidak mengatakan bahwa dia juga mencintai Jordan, tetapi sikapnya kali ini ini seolah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan yang sama Meskipun tidak diutarakan.
Huft … adis juga heran kepada dirinya sendiri kenapa dia begitu centil mengirimkan pesan seperti itu. Namun, seperti orang yang layaknya baru saja jatuh cinta, dia ingin bertemu lagi dan lagi dengan Jordan.
Adis duduk di depan kaca, mengamati penampilannya hari ini. Dia tersenyum.
"I am ready for today."
Dia mengambil lolipop coklat yang berada di meja riasnya. Dibuka bungkusnya, dan segera dia masukkan ke mulut. Lalu Gadis itu segera melesat ke depan. Adis kembali tersenyum ketika di depan kosnya sudah nangkring Ferrari California warna kuning yang sudah tidak asing lagi bagi Adis.
"Ready?" tanya makhluk paling ganteng di kampus Adis. Dia masih nangkring di depan kemudi lengkap dengan kaca mata hitamnya. Itu ciri khas Jordan. Ketika ada Jordan, pasti ada kacamata hitam. Tak boleh tidak.
"Em … " gumam Adis sambil mengangguk manja persis seperti seorang perempuan yang sedang menjawab pertanyaan kekasihnya. Mulutnya masih menghisap lolipop favoritnya.
Entah kenapa, Adis tampak lebih menggemaskan di mata Jordan Setelah dia mengungkapkan perasaan. Jordan merasa bahwa Adis memiliki perasaan yang sama tetapi tidak mau mengungkapkan.
"Ya udah masuk!"
Adis memecah Lollipop itu dengan giginya, lalu dia kunyah cepat-cepat.
"Terus Ngapain lo masih duduk di situ? Bukain kek," ucap Adis dengan mulut yang masih berisi Lollipop yang mungkin sudah hancur karena dikunyah.
"Ogah, Lo punya tangan lengkap. Buka sendiri," ucap Jordan santai.
"Ish, dasar berat tangan," ucap Adis sambil menjulurkan lidahnya.
"Nggak usah protes. Cepetan!"
"Iya, iya."
Adis segera melangkahkan kakinya menuju pintu mobil yang sebelahnya. Lalu, Jordan segera melajukan mobilnya menuju ke kampus.
"Dulu aja pas PDKT nggak pernah mau ngebiarin gue buka pintu sendiri, sekarang ketika udah dapet jadi cuek, dasar cowok!" gerutu Adis yang pura-pura cemberut. Dia berbicara dengan suara lirih, tetapi tentu saja Jordan masih dapat mendengarnya dengan begitu jelas.
Jordan mengerutkan keningnya. Ada sedikit gurat senyum di wajahnya, lalu menoleh sejenak ke arah Adis.
"Udah ngedapetin? Maksudnya? Jadi sekarang lo udah gue dapetin?" tanya Jordan dengan seringai lebar.
Adis langsung kicep. Dia tutup mulutnya lebar-lebar dan membulatkan matanya. Ya Allah, dia ngomong apa tadi? Dia memejamkan matanya sejenak menahan malu.
"Hahaha … Kenapa ekspresi lo begitu sih. Biasa aja kali. Kayak orang yang ketahuan maling gorengan Lo."
Adis diam. Dia tak mampu untuk menjawab. Pernyataan dia yang tidak sengaja tadi, secara langsung mengatakan bahwa dirinya juga memiliki perasaan yang sama dengan Jordan. Adis benar-benar malu.
"Oe … nggak usah sok-sokan malu deh. Lo biasanya malu-maluin. Nih, gue bawain sarapan kesukaan Lo, sama lollipop coklat 5 kantong."
Jordan menyodorkan pizza yang dari tadi sengaja diletakkan di samping kanannya. Juga lollipop coklat yang dia beli tadi pagi.
"Em … pizza? Lo tau aja kalau gue laper. Siniin!"
Adis segera menyerobot pizza itu, membukanya, mengambil sepotong dan menggigitnya dengan penuh perasaan.
"Emmm … enak bangeeet … Kok bisa sih pagi-pagi gini ada pizza? Lo sengaja ya pesen buat gue dan minta ownernya buka paksa pagi-pagi buta hanya demi pengen beliin pizza spesial buat gue," ucap Adis dengan mulut yang penuh dengan pizza.
"PD boros banget sih Lo. Sudah berapa lama sih lo tinggal di Jakarta? Lo Nggak tahu kalau ada Resto yang buka 24 jam?"
Hap. Gigitan besar yang kedua sudah masuk mulut Adis. Pizza memang makanan favoritnya.
"Oooh … Ada. Kirain. Uhuk uhuk uhuk."
Saking tidak beraturannya cara makan Adis, membuatnya tersedak.
"Astaghfirullah Adzim. Kebiasaan banget sih Lo makan terburu-buru gitu," ucap Jordan sambil meminggirkan mobilnya. Dia ambil air minum yang ada di samping kemudi, lalu meminumkannya pada Adis yang masih terbatuk-batuk.
"Ini minum dulu," ucap Jordan. Dia memegangi botol air mineral itu dan meminumkannya ke Adis dengan penuh perhatian.
"Huft … thank you, Dan," ucap Adis sambil menghela nafas panjang.
Jordan mengambil tissue, lalu mengelap sisa saus yang ada di ujung bibir Adis sebelah kanan.
Jordan mengelapnya lembut. Namun, matanya malah sibuk menatap mata Adis saat itu tengah membeku sambil menatapnya juga.
Deg deg deg deg …
Jantung mereka berdua sama-sama berdetak dengan begitu kencang. Mata mereka saling beradu, dan masing-masing seolah memancarkan cinta.
"Lo cantik," ucap Jordan reflex.
Menyadari detak jantungnya yang mulai tak terkontrol, ada segera memalingkan mukanya, merebut tisu dari tangan Jordan membersihkan mulutnya sendiri. Takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Saat berduaan di dalam mobil dengan kondisi d**a yang terus berdebar, tentu saja Adis takut khilaf.
"Siniin. Lo cari cari kesempatan banget sih. Gue emang udah cantik dari lahir kali. Udah ayo berangkat."
Adis mengelap sendiri mulutnya sambil menunduk. Dia berusaha keras untuk bersikap biasa saja.
"Lo kalau Salah tingkah begini lucu tahu. Gemesin banget. Boleh nggak sih lo gue kresek in aja."
"Lo pikir gue gorengan?"
"Sama sih sama gorengan yang baru diangkat dari wajan."
"Hah? Lo nyamain gue sama weci, tahu isi? pisang goreng?" Adis membulatkan matanya dan mengerutkan keningnya.
"Sama-sama hangat. Hahaha," ucap Jordan diiringi oleh gelak tawa, lalu Dia segera meluncurkan mobilnya menuju ke kampus yang tidak terlalu jauh dari kosan Adis.
"Ish garing banget sih Lo. Jijay."
Jordan masih tertawa dan Adis hanya bisa cemberut karena dirinya disamakan dengan gorengan. Namun, dalam hati Sebenarnya dia bahagia bisa tertawa, dijemput oleh laki-laki paling populer di kampus, naik mobil mewahnya, dan sarapan pizza lagi. Hal yang dia impikan sewaktu kecil.
Saat dia duduk di bangku SMP, Adis sering berkhayal bisa naik Ferrari bersama dengan kekasihnya sambil makan pizza. Rasanya keren parah, seperti apa yang dilihat di sebuah sinetron waktu dia kecil. Sekarang semuanya terwujud. Meskipun, Adis tidak bisa menyebut laki-laki itu adalah kekasihnya.
Tak lama kemudian dia sampai di kampus. Sebelum dia keluar dari mobil Jordan, adis celingak-celinguk terlebih dahulu. Dia takut ada seseorang yang kenal sama Beno melihat dia keluar dari mobil Jordan. Dia harus pastikan bahwa tak ada orang yang melihatnya.
"Lo ngapain kayak burung kutilang gitu?"
"Emang burung kutilang itu cantik mempesona kayak gue?" tanya Adis asal. Dia masih tolah toleh.
"Idih, parah banget tingkat ke GRan Lo. Bukan parasnya, tapi tolah tolehnya."
"Oh ... emang burung kutilang suka tolah toleh?" tanya Adis yang masih mengamati keadaan sekitar.
"Nggak tau juga sih. Hahaha … tapi Aman kok, nggak ada yang liat."
Jordan tersenyum, tetapi terlihat bahwa itu bukan sebuah senyuman yang tulus tetapi senyuman yang dipaksakan. Ya, Siapa yang tidak sedih ketika dia berhasil jalan sama orang yang dia sayang, tetapi harus sembunyi-sembunyi. Tentu saja sebagai laki-laki normal, dia ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa dia sudah berhasil menyatakan cinta dan jalan berdua dengan perempuan yang selama ini dia impikan. Ya, meskipun perempuan itu adalah kekasih orang lain.
"Beneran? Ya udah, gue turun dulu ya? Thank you buat hari ini. Oh ya,
pizzanya Mau aku bawa. Nanti aku makan lagi."
Adis memasukkan kembali kardus pizza ke dalam kantong kresek.
"Ngapain sih. Udah tinggal aja di sini. Pasti udah nggak enak. Nanti siang gue beliin lagi."
"Nggak usah, ini aja masih enak kok. Ya udah, gue duluan ya? Thanks."
"Gue yang makasih, karena lo mau temenin gue hari ini."
Tatapan dalam dan senyuman manis Jordan adalah paket sempurna. Entah kenapa kali ini adis baru menyadari kalau senyuman itu benar-benar menusuk ke dalam hatinya. Kemana saja dia selama ini?
"Hmmm … nggak gratis ya tuan Takur," ucap Adis diselingi tawa kecil, lalu dia segera turun dari mobil mewah yang sebenarnya menjadi pusat perhatian para mahasiswi.
Ya, sebagian besar mahasiswi tahu bahwa mobil itu adalah punya Jordan, karena yang membawa Ferrari ke kampus bisa dihitung jari. Tentu saja mereka menatap Adis dengan tatapan tak suka, lebih tepatnya tatapan penuh rasa iri.
"Itu siapa sih yang keluar dari mobil Kak Jordan. Nggak mungkin pacarnya kan? Soalnya wajahnya B aja gitu."
"Nggak tahu juga siapa. Nggak pernah lihat. Tapi cantik kak Elena ke mana-mana. Masa kak Elena yang cantik paripurna tidak diterima tapi malah jalan sama cewek yang B aja begitu. Nggak jelek sih, tapi nggak cantik banget juga. Standar."
"Iyuuuh … mendingan gue ke mana-mana. Kak Jordan baru kepentok apa sih bisa jalan sama cewek kayak gitu. Beruntung banget sih dia bisa naik Ferrari kak Jordan."
"Eh gue tahu dia. Dia kak Adis, pacarnya kak Beno. Tapi kok naik mobilnya kak Jordan ya? Apa mungkin dia selingkuh? Ommo … "
Adis berjalan dengan pelan, sengaja ingin mendengarkan celoteh celoteh dari para mahasiswi yang sebenarnya menyakitkan. Itulah manusia. Seringkali dia kepo meskipun hasil dari kekepoannya itu adalah sakit hati.
Namun, dia lebih memilih untuk diam dan tidak meladeninya. Karena buntutnya akan semakin panjang jika dia meladeni omongan yang sebenernya nggak penting itu.
"Lo dijemput Jordan?"
Suara sengak yang terdengar dari belakang langsung menghentikan langkah Adis. Dia hafal betul suara itu.
Seseorang melangkah kedepan Adis, dan berdiri dihadapannya dengan raut muka sinis. Elena, Ya. Tak lain dan tak bukan adalah seseorang yang selalu mengharapkan cinta Jordan tetapi tidak pernah kesampaian.
"Jawab! Lo dijemput sama Jordan?" Elena mulai meninggikan suaranya dan membulatkan matanya yang sebenarnya sudah bulat.
Adis menatap gadis cantik dan modis di hadapannya dengan tatapan berani.
"Iya. Kenapa? Lo iri ya? Lo iri sama gue karena lo nggak pernah bisa masuk mobilnya Jordan. Oh my God, cewek popular kaya Lo iri sama cewek kayak gue? Merasa tersanjung sekali saya," ucap Adis dengan senyum yang dibuat-buat dengan tujuan untuk meledek gadis yang ada di hadapannya. Dia masih kesal karena dikerjain kemarin.
Elena mengepalkan tangannya. Darahnya mendidih mendengar ledekan Elena.
"Lo ya? Bisa-bisanya Lo ngeledek gue?"
"Kenapa? Lo malu kan kalah saing sama cewek yang lo bilang cupu ini? Harusnya lo sadar, bawa Jordan lebih suka cewek yang good attitude daripada yang good looking tapi have no akhlak kayak Lo," ucap Adis sambil menepis pundak Elena dengan tangan kanannya. Adis menyeringai, lalu meninggalkan Elena yang masih membuka mulutnya lebar-lebar karena tidak percaya, Adis berani berbicara seperti itu pada dirinya.
"Awas ya Lo Dis, gue nggak akan biarin lo hidup tenang," ucap Elena lirih sambil mengepalkan kedua tangannya.
***
"Lo di jemput Jordan?"
Santi mengerjakan tugas yang di berikan oleh Bu Ratna. Tangannya sibuk menulis, tetapi mulutnya tetap berbicara tanpa menoleh sedikitpun ke arah Adis. Dia masih kesal dengan adis karena kejadian beberapa hari yang lalu, dan tambah lagi hari ini dia mendengar bahwa adis dijemput oleh Jordan. Semakin kesal dan marah dia dibuatnya.
Adis menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia bingung harus menjawab apa sekarang. Huft … kalau Santi sudah tahu, kemungkinan besar Beno akan tahu juga. Adis tahu, sedekat apa santi dengan Beno.
"Dia kebetulan lewat, lalu gue bareng sama dia," jawab Adis sekenanya.
"Waaaw … kebetulan sekali ya? Padahal tempat kamu jauh di Utara kampus, dan rumah Jordan jauuuuuuuh di selatan kampus. Sungguh kebetulan yang luar biasa."
Santi menyeringai kesal. Bisa-bisanya makhluk itu berbohong hal yang tak logis begitu.
"Jangan sampai ke telinga Beno!" ucap Adis datar. Dia tidak bisa basa basi lagi dengan Santi.
"Kenapa? Takut Lo? Lebih baik Lo putusin aja Beno. Dari pada Lo masih sama dia tapi diam-diam jalan sama orang lain."
"Gue nggak ada apa-apa sama Jordan."
"Cuma orang bodoh yang percaya sama ucapan Lo."
Mereka berdua masih berkomunikasi dengan suara lirih sambil terus mengerjakan tugas masing-masing. Tangannya terus bergerak, matanya fokus ke buku, tetapi mereka tetap ngobrol seolah obrolan santai. Padahal mereka sedang berdebat.
"Terserah lo mau percaya apa nggak."
"Sebenarnya ini nggak penting buat gue, tapi satu yang harus lalu. Kalau sampai lo main - main di belakang, gue yakin Lo bakal nyesel seumur hidup lo. Gue berani jamin. Karena ada hal dari Beno yang lo nggak tahu. Terusin aja kayak gini Dis. Lo cari sampai ke Turki pun lo nggak akan nemuin laki-laki perfect seperti impian Lo."
Santi meletakkan pulpen, sedikit dibanting ke meja, lalu dia membawa kertas yang baru saja dia kerjakan dan menyerahkannya pada Dosen.
Dia adalah orang pertama yang menyerahkan tugas. Yang lain masih berkutat dengan dengan kertas dan pulpennya. Santi sengaja cepet-cepet ngerjainnya, karena dia sudah muak berada di samping Adis. Sakit sekali hatinya. Ada terbersit rasa iri di dalam hatinya. Perempuan yang tidak tulus sayang sama Beno, malah mendapatkan cinta yang besar dari sahabatnya itu. Sedangkan dia, yang menyayangi Beno apa adanya, tidak dilirik sedikitpun.
Santi segera mengemasi barang-barangnya yang ada di atas meja dan berniat untuk pergi dengan segera.
"Lo mau ke mana?"
"Bukan urusan Lo," ucap Santi sinis. Lalu dia segera pergi meninggalkan kelas dan pergi meninggalkan adis dengan ribuan pertanyaan di kepalanya. Ada hal dari Beno yang adis tidak tahu? Apa?