Lagu Untukmu

2328 Words
Kelas sudah lumayan sepi. Hanya ada Adis dan beberapa mahasiswa yang masih sibuk membahas tugas yang baru saja mereka kerjakan. Ya, mereka tipe-tipe mahasiswa yang rajin yang masih penasaran benar atau salahkah tugas yang baru saja mereka kerjakan dan membanding-bandingkan dengan jawaban temannya. Sedangkan Adis, dia sudah tidak peduli dengan jawabannya tadi. Dia adalah tipe yang mengerjakan dengan serius sebisa mungkin, dan setelah itu Adis sudah tidak peduli lagi. Yang penting dia sudah melakukan yang terbaik yang dia bisa. "Drrrt … Drrt …" Handphonenya bergetar. Jordan, photo Jordan berkedip-kedip di layar handphonenya. "Halo?" ucap Adis dengan nada suara lembut.8uv "Hai, Lo udah kelar kelas?" "Udah." "Gue mau perform. Cepet ke sini?" "Ngapain ke situ? males banget. Ogah. gue mau pulang," ucap Adis pura-pura tak peduli. "Dis, ke sini nggak!" ucap Jordan dengan nada mengancam. "nggak mau, Jordan. gue mau pulang aja. bye!" "Lo ke sini atau gue ngomong di atas panggung kalau gue sayang sama mahasiswi yang ngeselin bernama Adis Adena. Mau?" "Idih, pake ngancem segala." "Gue hitung sampai 3 kalau lo nggak kesini juga, gue bakalan ngomong pake mikrofon nih." "Iya, Iya. cowok kok bawel banget sih. Iya, gue kesana. tunggu!" "O.K. gitu dong. Gue tunggu." "Iya." Adis mematikan handphonenya, tersenyum. Memang ini yang dia mau, datang ke acara itu dengan sedikit paksaan. Supaya tidak terlihat kalau sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin melihat penampilan Jordan. Adis segera mengemas barang barangnya dan pergi ke tempat di mana mini konser diadakan. Mereka mengadakan kegiatan di lapangan belakang kampus. Sudah begitu ramai. Ada beberapa sponsor yang memamerkan dagangannya di kanan dan kiri panggung. Namun, mata Adis tertuju pada seorang laki-laki yang sedang berdiri di panggung yang masih sibuk dengan gitarnya. Celana hitam bermotif huruf F, sweater Crew neck warna avocado, kaca mata hitam dan sepatu warna putih. Benar-benar cocok dengan Jordan. Apalagi ketika dia memegang gitar, aura ketampanan nya benar-benar terpancar. Beberapa mahasiswi berada di bawah panggung dan meneriakkan nama Jordan. Apalagi para mahasiswi tingkat pertama, mereka begitu histeris memandang Jordan yang memang orangnya benar-benar awur-awuran pada siang hari itu. Dia berdiri agak jauh dari panggung, malas banget kalau harus berdesakan sama ciwi-ciwi penggemar Jordan itu. Jordan tersenyum ke arah penonton, lalu dia mengambil mikrofon yang berada di stand mic. Dia maju beberapa langkah, lalu menyapu rambutnya dengan jari-jari. Tentu saja itu membuat para mahasiswi yang berada di bawah teriak histeris. "Ommo ... Damagenya ... Jleb banget di hati gue." eseorang yang tidak jauh dari panggung berteriak sambil memandang Jordan dengan pandangan penuh kekaguman. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang semuanya. Hari ini gue mau menyanyikan sebuah lagu yang spesial buat orang yang spesial," ucap Jordan sambil memandang Adis yang berada beberapa meter darinya tetapi masih tetap bisa terlihat jelas. Saat itu adis juga sedang menatapnya. Tentu saja jantungnya berdetak dengan begitu kencang. Ah, benerkah ini? Benarkah ada seseorang yang menyanyi di panggung untuknya? rasanya benar-benar seperti mimpi. Banyak kejadian yang terjadi di kehidupan nyatanya yang dulu hanya sebagai angan. Saking bahagianya, rasanya dia ingin jingkrak-jingkrak seperti anak TK. Ya, Ternyata seperti ini rasanya dispesialkan. Adis menunduk malu malu dengan pipi yang memerah. Sontak, saat itu orang-orang memandang ke belakang, mencari siapakah orang yang beruntung dinyanyikan oleh Jordan. Untungnya dia sudah menunduk sehingga mereka tidak mengira bahwa perempuan yang mereka anggap beruntung itu adalah Adis. "Siapa sih yang dimaksud kak Jordan? Emangnya dia punya cewek ya?" "Kayaknya punya deh." Mereka kembali mulai ribut. Sedangkan Adis lebih memilih untuk diam di tempatnya dan menikmati penampilan Jordan dari jauh. "Lagu ini, juga buat kalian semuanya yang sedang jatuh cinta. Semoga menghibur." "Jordan …." "Kak Jordan!" "Ya Ampun Kak Jordan ganteng banget sih." "Oh my God, dia ganteng banget. Meleleh gue … " Mereka kembali heboh saat Jordan mengambil gitar. Teriak teriak memanggil namanya. Namun, mereka Langsung diam saat Jordan mulai menyanyikan sebuah lagu. ~Kurasa ku sedang jatuh cinta Karena rasanya ini berbeda Oh, apakah ini memang cinta? Selalu berbeda saat menatapnya ~Mengapa aku begini? Hilang berani dekat denganmu Ingin ku memilikimu Tapi aku tak tahu Bagaimana caranya? ~Tolong katakan pada dirinya Lagu ini kutuliskan untuknya Namanya selalu kusebut dalam doa Sampai aku mampu Ucap maukah denganku Jordan menyanyikan lagu 'Tolong' yang dipopulerkan oleh Budi Doremi. Suaranya yang merdu, penghayatannya yang bagus, wajahnya yang tampan, benar-benar membuat dia tampak memukau siang itu. Semua terpana mendengar suaranya dan melihat gayanya. Tak terkecuali Adis. Untuk yang kedua kalinya, dia melihat Jordan menyanyi benar-benar dari hati. Hatinya berdebar, benar-benar tak bisa dia kendalikan. Jordan menyanyikan lagu itu sampai habis, dan Adis memandangnya tanpa kedip. Sejenak, dia merasa sangat beruntung disayangi oleh laki-laki seperti Jordan. Laki-laki yang royal, laki-laki yang tak perhitungan, kaya, jago nyanyi, romantis dan populer. Entahlah, entah itu suara setan atau apa. Namun ada bisikan di dalam diri Adis untuk lebih memilih Jordan dan mengikhlaskan Beno. "Terimakasih, untuk seseorang yang ada dalam hati gue, lo selalu ada dalam doa gue." Jordan tersenyum, lalu meletakkan kembali microphone di stand mic. Dia membungkukkan badan dan segera turun panggung. "Bahagia karena dinyanyikan sama orang yang lo sayang?" Santi tiba-tiba muncul di samping Adis. Raut mukanya keruh, menandakan Dia sedang jengkel dengan sahabatnya. Adis yang tadinya senyum-senyum sendiri Langsung memasang muka datar. "Apaan sih Lo." Adis berusaha untuk ngeles dan bersikap sewajar mungkin. "Gue tahu, lagu itu dinyanyikan Jordan buat lo. Iya kan? Sekarang lo jujur sama gue, ada apa antara lo sama Jordan?" Nada suara Santi terdengar tegas dan tanpa basa-basi. Adis menoleh, dan menatap Santi yang saat itu masih menatap lurus kedepan. "Bisa nggak sih lo nggak berburuk sangka begini sama gue. Lo kan sahabat gue. Kenapa lo malah nyerang gue dari kemarin. Lo selalu memojokkan Gue dari kemarin. Sikap lo ini aneh San. Sampai segitunya ngebelain Beno sampai Lo bersikap yang nggak wajar begini sama gue. Jangan-jangan Emang lu suka ya sama Beno?" "Ini kayak maling teriak maling enggak sih?" Santi mencoba untuk mencari pembelaan. "Hai, Dis. Ayo_ Eh, Santi?" Jordan menghampiri Adis. Dia berniat untuk kembali pulang bareng sama Adis, tetapi langsung menghentikan niatnya ketika melihat Santi yang ada di samping Adis. "Udah kuduga, kalian mau pulang bareng kan?" Santi memiringkan bibirnya. "Em … gue cuma_" Jordan berusaha untuk menjelaskan, tetapi langsung distop oleh Adis. "Apa salahnya kalau gue pulang bareng sama Jordan? Kita cuma pulang bareng doang Kok nggak ngapa-ngapain." Adis langsung nyeletuk dan memotong pembicaraan Jordan. "Apa salahnya? Lo tanya sama diri lo sendiri apa salahnya kalau lo diantar jemput sama cowok lain. Gue yakin otak lo masih ada kok buat mikir. Gue yakin Lo ngerti kok sama apa yang gue maksud. Nggak usah pura-pura bodoh." Drrrt … Drrttt … handphone Adis berbunyi. Adis mengambil handphonenya dari dalam tas. Ada foto Adis dan Beno berpendar sana. Ya, Beno yang menelepon. Santi menengok ke handphone Adis, dan dia tahu siapa yang sedang menelpon. "Kenapa? Lu nggak berani angkat telepon dari Beno? Pengecut!" Adis terlihat menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia tidak mempedulikan ucapan Santi, lalu menoleh kearah Jordan. Jordan tersenyum sambil mengangguk. "Hai, Beno. Lagi istirahat?" tanya Adis dengan suara yang sangat manis. "Hai, kepiting rebusku. Iya, lagi istirahat, habis ini mau sholat. Udah selesai kelasnya?" "Udah kok, ini mau pulang." "Apa mau aku jemput aja? Gue masih ada waktu kok." "Eh, nggak usah. Gue bisa pulang sendiri kok, nggak apa-apa, Ben. Nggak usah dijemput." "Ya iyalah nggak mau dijemput. Orang ada yang mau nganterin." Santi sengaja berbicara keras keras supaya terdengar oleh Beno. Dia menatap Adis dan Jordan sinis secara bergantian, lalu dia segera pergi meninggalkan mereka berdua sebelum hati Santi semakin dongkol. Adis langsung menelan ludah, sedangkan Jordan hanya bisa menggaruk tengkuknya meskipun tak gatal sama sekali. "Eh, itu suara Santi?" "Iya." Adis tetap berusaha untuk bersikap santai. Semoga Beno tidak terpengaruh dengan kata kata santi. "Memangnya kamu mau diantar sama siapa?" "Sama kang Ojol lah, sama siapa lagi. Santi kan memang suka bercanda, Sayang." "Oh, kirain. Ya udah kalau begitu lo pulang dulu ya? Hati-hati. Nanti gue pulang kerja langsung ke kos lo. Hati-hati ya, Kepiting Sayang. Jaga hati Lo buat gue, i love you." "Mm … Iya." Adis garuk-garuk tengkuknya sambil melirik Jordan yang saat itu masih berdiri disampingnya sambil terus mengamatinya. Dia tersenyum dan mengangguk mengartikan bahwa dia tidak apa-apa. Adis bingung harus menjawab apa. Sungkan juga mengungkapkan cinta di samping Jordan. "Iya? Iya doang jawaban Lo?" Adis menggigit bibir, lalu dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Em … Iya. I love you too, Beno. Semangat ya kerjanya." Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut Adis, karena dia tidak mau Beno curiga. "Nah gitu dong. See you." "See you." Adis mematikan sambungan teleponnya dan segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Udah?" tanya Jordan. Dia memasukkan tangan kanannya ke dalam celana. Sebenarnya dia cemburu, tetapi dia berusaha untuk bersikap senormal mungkin. Karena saat ini, meskipun dia sudah mengungkapkan perasaannya, hubungan mereka masih sebatas hubungan persahabatan dan tidak lebih karena Adis belum mengungkapkan apapun dan belum mengakui apapun. Jadi, dia tidak punya hak untuk cemburu. "Udah." "Kita makan dulu ya? Mumpung Ada kesempatan. Besok pasti kita nggak ada kesempatan lagi untuk kayak gini karena Beno udah masuk kuliah lagi." "Kalau diajak makan gue enggak pernah nolak, nggak boleh nolak rejeki. Ye kan? Yuk buruan!" Adis menarik kaos crewneck Jordan dan mengajaknya menuju ke parkiran. "Oe, cewek gila! Ini manusia, Kenapa lo tarik-tarik bikin sih?" "Berarti lo juga gila dong Karena lu suka sama orang gila hahaha … " Adis terus menarik pakaian Jordan sambil tertawa lebar, sedangkan Jordan, dia bingung sama dirinya sendiri, bisa-bisanya dia begitu nurut dengan Adis. *** Adis dan Jordan sampai di sebuah resto mewah yang ada di kota mereka. Ternyata Jordan sudah booking tempat sebelumnya. Makanan sudah tersaji di atas meja. Masih hangat semuanya. Kira-kira sudah siap sedia 5 menit sebelum mereka sampai di parkiran resto. "Ini bangku kita?" Tanya adis sambil mendekati meja mereka. Dia mengamati mejanya yang sudah penuh akan makanan. "Iya, duduk!" "Lo nggak pengen narikin kursi buat gue gitu?" Adis masih berdiri di samping kursi, berharap diperlakukan seperti princess. "Ogah, tangan Lo harus dimaksimalkan fungsinya. Narik sendiri." Adis mengerucutkan bibirnya. Kalau sama Beno, pasti akan ditarikin kursinya. Eh, Adis dan Jordan menarik kursinya bersamaan. Lalu mereka duduk berhadapan. Suasananya begitu syahdu. Tenang, tidak terlalu berisik. Ada seloyang besar pizza mozzarella kesukaan Adis, aneka sea food, puding, dan banyak yang lainnya. "Dan, Lo ngajak orang sekampung buat makan? Banyak banget," ucap Adis yang masih menatap makanan di atas meja. "Lo pikir lo tuh kayak cewek-cewek di luaran sana yang makannya dikit? Lo makannya bar-bar biarkan badan lu kecil begini. Lihat aja, nggak ada 1 jam makanan ini juga ludes sama Lo." Adis tertawa lebar. Iya sih, dia sering jalan sama Jordan Dan menganggap bahwa makanan yang mereka pesan terlalu banyak, tetapi akhirnya Adis bisa menghabiskan begitu saja. Jordan tahu, pizza adalah makanan yang paling spesial untuk Adis. Jadi, Apapun momennya akan kurang spesial jika tidak ada pizza di antara mereka. Adis segera beraksi, mengambil sepotong pizza dan segera memasukkannya ke dalam mulut. "Sumpah, ini pizzanya enak banget," ucap Adis. Kebiasaan banget, dia suka makan sambil berbicara sehingga makanannya belepotan kemana-mana. "Lo tuh jadi cewek lebih rapi dikit kenapa sih. Belepotan kemana-mana tuh makanan Lo." "Nggak papa, udah biasa." Hap. Masuk lagi gigitan besar yang kedua. Ada saus dan keju yang nempel di sudut bibirnya. Jordan tertawa. Bahkan, setelah jordan mengungkapkan perasaannya, Adis tetaplah Adis yang tidak pernah jaim. Dia tetap makan barbar seperti biasanya, nggak ada rasa malu ataupun rasa sungkan. Justru, hal seperti inilah yang disukai dari Adis, apa adanya tanpa ada yang ditutupi dan tanpa ada yang dibuat-buat. Dia sudah jengah dengan sikap cewek-cewek yang mengejarnya yang selalu berusaha untuk bersikap sempurna di hadapannya. Karena dia tahu, sikap sempurna mereka hanya bertujuan untuk menarik hati. Ketika hati Sudah mereka dapat, maka dia akan menampakan wujud aslinya. Tidak, Jordan tidak mau tertipu casing. Itulah kenapa hatinya benar-benar yakin dengan sosok wanita yang ada dihadapannya saat ini. Jordan belum menyentuh makanannya. Baginya, melihat Adis makan dengan penuh semangat seperti itu sudah cukup membahagiakan. Jordan mengambil tissue untuk membersihkan cemong cemong yang ada di kedua sudut bibir Adis. Laki-laki itu membungkukkan tubuhnya, dan mulai menempelkan tisu ke sudut bibir mungil wanita yang sangat Ia sayang setelah ibunya. Seketika, Adis menghentikan aktivitas mulutnya. Dia berhenti mengunyah untuk beberapa saat. Jantungnya berdetak dengan begitu kencang, Lagi Dan Lagi. Selalu rusuh dan berisik ketika Jordan melakukan hal ini. Ya, ini persis ketika Adis dan Beno baru saja jadian. Ya, beginilah rasanya. Jantung selalu disko tiada henti. "Hati-hati makannya. Dinikmati, jangan buru-buru," ucap Jordan sambil mengelap sudut bibir Adis dengan lembut. Bukan hanya adis yang dadanya berdesir, Jordan pun juga. Ah, deg-degan macam ini lah deg-degan yang menyenangkan. Rasanya bahagia bisa sedekat Itu. Dia bisa merasakan hembusan nafas Adis yang terasa hangat. "Ih, kebiasaan banget sih Lo, kayak gue anak kecil aja. Sini gue bisa bersihin sendiri," ucap Adis. Dia buru-buru merebut tisu Itu dari tangan Jordan. Ini benar-benar bahaya. Semakin lama dia bersama Jordan, hatinya semakin tidak bisa dikontrol. Apalagi jika mereka terlalu dekat seperti ini. Jordan kembali menarik tubuhnya dan kembali duduk. "Lo memang bukan anak kecil, tapi kalau cemong-cemong gitu persis sama ponakan gue yang masih umur 2 tahun," ucap Jordan diiringi dengan gelak tawa. "Ih, apaan sih. Masa gue dibandingin sama anak umur 2 tahun." "Udah, makan lagi! Biar gue yang temenin lo dan jagain lo yang sedang khusu' menikmati makanan." Jordan melipat kedua tangannya di atas meja, dan menatap Adis yang sedang sibuk dengan makanannya. "Lo nggak makan?" "Udah kenyang lihat cara makan Lo." "Permisi, dengan mbak Adis sama mas Jordan." Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang, Seseorang menghampiri mereka sambil menenteng paper bag bertuliskan "Channel." "Oh iya Mas, ini saya. Mau antar barang?" tanya Jordan Yang sepertinya memang tahu bahwa barang itu untuknya. "Iya, Mas. Ini barang yang Mas pesan. tolong dicek dulu apa benar?" Mas-mas itu menyerahkan paper bag yang selalu berhasil bikin mata wanita ijo itu kepada Jordan. "Oh iya, Benar. Ini pesanan saya. Terimakasih ya, Mas." "Sama-sama, saya permisi dulu. Mari!" Jordan tersenyum sambil mengangguk. Sedangkan Adis, dia melirik paper bag itu, dan dia kembali deg-degan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD