"Ini buat Lo." Jordan menyodorkan paper bag warna putih dengan tulisan "CHANNEL" warna hitam.
Adis membeku. Dia tidak tahu isi dari paper bag itu apa. Namun, apapun isinya, Adis yakin bahwa isinya tidak mungkin barang yang murahan. Dia tahu betul brand itu, bukan brand yang ecek-ecek.
"Buat gue?"
"Iya lah, di hadapan gue cuma ada satu makhluk. Lo doang. Jadi udah jelas buat lo. tolong terima ya?"
Adis meletakkan sisa pizza yang baru saja dia gigit. Dia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu menatap Jordan dan belum juga mengulurkan tangannya untuk mengambil baper bag itu.
"Dan, gue nggak ngerti paper bag ini isinya apa. Tapi gue ngerti bahwa ini brand mahal. Gue nggak bisa terima ini. Sampai detik ini kita bukan apa-apa, Dan. Nggak seharusnya lu ngeluarin banyak budget buat gue."
"Gue enggak ada maksud apa-apa. Tujuan gue cuma Satu, gue pengen lihat lo bahagia aja. Tolong terima ya Dis. Gue nggak pernah kan beliin lo sesuatu yang berharga seperti ini. Biasanya gue cuma beliin Lo lollipop sama pizza doang. Izinin gue, ngasih sesuatu yang sedikit berharga buat Lo. Karena gue nggak tahu, kita masih bisa seperti ini terus selamanya atau tidak. Gue tahu saat ini lo masih milik orang lain, tapi nggak apa-apa kan kalau gue juga berharap bisa bikin lo bahagia?" Kali ini muka Jordan tampak begitu serius. Tak ada ledekan seperti biasanya.
Adis tidak munafik bahwa Sebenarnya dia juga menginginkan barang itu. Siapa yang tidak mau dibelikan barang mahal serta mewah. Namun, dia merasa tidak pantas saja karena dia bukan siapa-siapa Jordan dan dia juga merasa bersalah sama Beno. Memang, mereka tidak ada ikatan apa-apa, tapi tingkah laku mereka di belakang Jordan sudah termasuk dalam kategori penghianatan, bukan? Meskipun mereka berdua sama-sama tidak mengakui itu.
"Lo nggak usah mikir yang macam-macam. Tolong, terima. Kumohon!" Jordan menatap Adis dengan tatapan yang dalam. Dia tahu kalau Adis memang sedang bimbang. Tapi, dia tetap ingin, gadis yang disayanginya itu paling tidak memiliki satu tas mewah.
Adis memang tidak berasal dari keluarga yang sangat kaya. Ayahnya memang orang kaya, tetapi adis tidak mau diberi apapun oleh sang ayah karena dia terlanjur sakit hati karena ibunya yang sudah dikhianati oleh sang ayah. Jadi, dia setiap bulan hanya mendapatkan kiriman dari ibunya yang memiliki toko baju. Dari situlah dia dan orang tuanya hidup. Jadi, Adis memang tidak bisa membeli barang-barang mewah sendiri.
Sebenarnya Adis bisa saja kuliah sambil kerja, tetapi sang Ibu tidak mengizinkan. Dia ingin Adis kuliah dengan serius di jurusan yang dia sukai supaya nanti adis bisa mendapatkan pekerjaan yang membuat dia nyaman dan bahagia. Karena Ibu Adis tahu, kenyamanan dalam sebuah pekerjaan itu sangatlah penting.
"Ya udah kalau lo emang nggak mau terima, gue buang aja Ini tasnya. Nggak mungkin gue jual lagi juga kan?"
Jordan bersiap untuk berdiri pura-pura akan membuang paper bag itu ke tong sampah, tetapi Adis menahan lengan sang kekasih.
"Jangan! Jangan dibuang ih. Otak Lo di dengkul ya? Orang mau beli beginian harus banting tulang dulu, masa lo malah membuang begitu saja. Siniin!"
Adis menengadahkan tangannya.
Jordan tersenyum, lalu memberikan paper bag itu pada Adis.
"Nih, gitu dong. Nggak usah harus drama dulu baru mau terima."
Adis menatap paper bag itu. Jujur, dia deg-degan. Seumur-umur Baru kali ini dia menyentuh brand itu. Kata Jordan sih isinya tas.
"Buka aja. Lo pasti suka."
Ya iyalah. Apapun itu kalau dari merek ini, tak ada wanita normal yang tak suka.
Adis mengulurkan tangannya, mencoba mengeluarkan box yang ada di dalam paper bag itu. Di dalam box, barang yang masih misterius itu masih terbungkus. Adis segera membuka bungkus itu dan matanya terbelalak saat dia melihat tas Chanel warna hitam menunjukkan pesonanya.
"Dan, lo becanda ya?" Adis menyentuh tas itu dengan tangan bergetar. Matanya menatap hadiah dari Jordan itu dengan tatapan tak percaya. Meskipun dia tidak tahu pasti berapa harganya, tetapi dia yakin harganya puluhan juta. Pikirnya sih sekitar 50 jutaan. Apakah dia memang sangat berharga dan sespesial itu sampai dia berhak menerima hadiah yang lebih dari mewah seperti ini?
"Udah, nggak usah lebay. Masukkan lagi ke dalam kotaknya, atau mau Lo pakai langsung?"
"Dan, ini serius buat gue?"
"Kalo lo banyak tanya, beneran gue buang nih tasnya."
"Iya deh iya aku masukin lagi."
Adis kembali memasukkan tas itu kedalam boxnya dan dia kembalikan ke dalam paper bag. Dia masih gemetaran karena tidak menyangka sama sekali bahwa dia akan mendapatkan barang mewah itu tanpa usaha sedikitpun.
"lo suka?"
"Otak lo bener-bener udah di dengkul deh kayaknya. Mana ada wanita yang nggak suka barang mewah kayak gitu. Gue nggak munafik kalau gue suka, tapi gue nggak enak karena terlalu mahal."
"Pertanyaan gue tuh mudah dan simpel banget, Kenapa lo jawabnya sepanjang kereta? Gue ulangi dan dijawab dengan jelas dan padat! Lo suka?" tanya Jordan yang awalnya memasang muka kesel tetapi tiba-tiba memasang muka manis di pertanyaan yang terakhir.
"Ya karena gue wanita normal, ya suka banget lah."
"Lo bahagia?"
"Siapa yang nggak bahagia dikasih tas beginian?"
"Dijawab dengan jawaban yang lugas."
"Iya, Bapak Jordan. Bahagia. Puas!"
"Puas. Puas banget. Itu tujuan gue, bikin lu bahagia. Meskipun buat lo Bahagia itu simple, cuma dengan Lollipop doang, tetapi terkadang gue pengen melakukan sesuatu yang nggak biasanya, gue seneng kalo lo senang."
Adis meletakkan paper bag itu di atas meja, lalu dia melipat tangannya dan menatap mata Jordan. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang. Yang jelas campur aduk. Kepedean dan ke gr-an itu sudah pasti. Dia merasa, Apakah memang dia sesepesial itu hingga dia pantas mendapatkan hadiah yang menurut dia lebih dari mewah?
"Dan, jujur gue seneng banget dapat hadiah ini dari lo. Sejenak Gue merasa kecantikan aja. Gue yakin gue satu-satunya cewek yang pernah lo kasih hadiah semewah ini. Iya iya, gue ke GR an. Cuman, ini nggak wajar aja Dan. Apa yang istimewa dan apa yang spesial dari gue sehingga lo mau dengan ikhlas dan sukarela melepaskan uang sebanyak itu hanya untuk membuat gue bahagia. Beno aja yang jelas-jelas cowok gue, mustahil banget beliin barang ini buat gue. Sedangkan lo, masa depan hubungan kita itu tidak jelas dan malah mungkin tidak terlihat. Kenapa lo mau melepaskan uang sebesar itu buat gue? Tolong jangan bercanda karena gue serius."
Adis masih menatap Jordan. Dia ingin mencari kebenaran dalam sorot mata itu. Kenapa laki-laki itu begitu ikhlas mengeluarkan banyak uang hanya untuk dirinya?