Pengikat

2250 Words
"Lo nggak pernah benar-benar jatuh cinta ya? Apa selama ini lo memang enggak benar-benar jatuh cinta sama Beno? Hmmm …? Masa kayak gini aja lo tanyain?" "Maksudnya?" "Kalau lo memang pernah merasakan jatuh cinta, pasti hal kayak gini nggak akan lo tanyain. Kalau lo tanya kenapa, ya karena cinta. Cinta yang membuat gue ikhlas melakukan apapun Asal kan lo bisa bahagia. Bukankah begitu konsep cinta yang sebenarnya? Kita menginginkan kebahagiaan untuk orang yang kita sayangi. Kadang nominal itu tidak kita pedulikan lagi. Asalkan kita bisa melihat senyum Dan tawa dari orang yang kita sayang. Gue sayang sama lo udah lama, Dis. Gue pengen yang terbaik buat lo. Itulah kenapa gue nggak pernah maksain perasaan gue sama lo. Karena gue yakin, suatu saat nanti lo bakalan sadar Siapa yang lebih sayang sama lo dan sadar Siapa yang sebenarnya lo butuhin. Paham kan?" Adis menggeleng dengan polosnya. Dia tahu kalau orang yang jatuh cinta pasti akan mengorbankan banyak hal. Tetapi tidak masuk di akal nya ketika Jordan mau menghabiskan banyak uang hanya untuk membelikan tas untuk dirinya. Dia menaksir tas itu seharga 50 juta. Uang segitu bisa dibelikan tanah di desa. Uang segitu bisa dapat 2 motor, uang begitu pasti bisa jadi modal usaha untuk bikin toko pakaian kecil-kecilan. "Huft … nanti gue beliin cerebrofort biar lebih cerdas dikit. Sekarang lo jangan mikirin harga dari barang ini, pikirkanlah bahwa ini adalah hadiah buat gue yang harus lo pake. Jangan memikirkan hal yang lain." Jordan mengacak-acak rambut Adis. Seperti biasa, rambutnya yang diacak-acak tetapi hati Adis yang berantakan. "Jangan ribet. Gue pengen beli hadiah buat lo karena gue pingin Lo bahagia. That's it. Nggak usah tanya yang lain lagi. Ayo dimakan pizzanya," ucap Jordan. Dia tersenyum, lalu mengambil sendok dan segera menyendok puding yang ada di hadapannya. Dia tahu, Adis masih menatapnya dengan tatapan penuh terima kasih. Namun dia pura-pura tidak tahu dan tetap melanjutkan makannya. 'lo tahu, Gue hanya pengen melihat lo bahagia dan tidak rela jika Lo sampai direndahkan oleh orang lain. Ya, lo nggak perlu tahu kalau sebenarnya gue pengin orang-orang nggak lagi memandang Lo sebelah mata,' batin Jordan sambil terus menikmati puding coklatnya. Ya, itulah alasan Jordan sebenarnya. Dia sayang sama adis, dia tidak mau Adis diremehkan oleh orang lain. Beberapa hari yang lalu dia mendengar Elena yang sedang mengejek tas Adis. "Perasaan, tas Adis itu-itu aja deh nggak pernah ganti. Emang sih tasnya lumayan bagus, tapi paling harganya cuma dibawah satu jutaan. Yang lebih memalukan lagi, dia datang ke pesta pakai tas itu. Tas yang kadang dia bawa kuliah. Malu-maluin banget enggak sih. Untungnya gue nggak temenan baik sama dia." Ya, dia mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Elena yang diiringi dengan gelak tawa mengejek. Elena sedang menggunjing Adis bersama teman-temannya saat berada di kantin. Entahlah kenapa bisa seperti itu, Adis yang digunjing tetapi Jordan yang merasakan sakit. Oleh karena itu dia sengaja membelikan tas mahal untuk Adis, supaya bisa menutup mulut orang-orang yang sudah menghina nya di belakang. Ya, sebesar itu rasa sayang Jordan terhadap Adis, rasa sayang yang sudah disembunyikan selama bertahun-tahun. Sebisa mungkin, dia akan melindungi wanita yang dia sayangi dengan caranya sendiri. *** Malam itu sepulang kerja, Beno buru-buru pulang, mandi dan langsung bergegas ke kos Adis. Pukul 7 malam dia sudah sampai di sana. Tidak bertemu dengan kekasihnya satu hari saja, dia sudah merasa Rindu. Meskipun adis sering cemberut, meskipun adis suka ngambek dan kadang manja di hadapan Beno, dia tetap sayang sama gadis itu. Alasannya satu, karena Gadis itu tidak neko-neko. Zaman sekarang, sulit sekali mencari wanita yang tidak neko-neko tetapi tidak cupu. Dia biasa aja, tapi bisa diajak maju. Itulah perempuan yang diinginkan oleh Beno untuk mendampingi dirinya dan menjadi Ibu dari anak-anaknya. Dia benar-benar yakin dengan gadis itu. Makanya, dia mau berjuang. 15 menit kemudian dia sudah sampai di depan kamar kos Adis. Seperti biasa, dia hanya memakai kaos hitam panjang celana jeans warna biru dongker. Ya, Memang cuma itu-itu aja baju Beno, 5 potong doang untuk gantian, sampai orang-orang hafal baju Beno apa aja. Memang begitu adanya, mau diapain lagi. "Ben, udah dari tadi?" tanya Adis yang baru saja muncul. Adis duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Beno namun terpisahkan oleh meja kecil. "Eh, Ting. Belum lama kok. Barusan. Kangen tahu, seharian nggak ketemu sama lo," ucap Beno sambil memandangi kekasihnya yang menurut dia cantik dalam kesederhanaan. "Hilih, gombal," ucapan adis yang diiringi oleh tawa kecil. "Gimana tadi di kampus? Lancar? Maaf ya hari ini enggak bisa antar jemput. Terus tadi diantar jemput sama ojol?" Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk … Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Adis batuk-batuk seperti orang yang keselek. "Eh, Lo kenapa? Kebiasaan banget sih keselek gitu. Aduh, gue enggak ada air lagi. Di dalam ada air?" tanya Beno panik sambil memijit-mijit tengkuk Adis. Adis mengangguk-angguk masih dalam keadaan terbatuk-batuk. Beno segera lari ke dalam kamar Adis, mencari air mineral. "Ah, itu di atas meja." Beno segera menuju meja yang ada di samping tempat tidur Adis. Namun, matanya membulat saat dia melihat ada paper bag Chanel yang duduk manis di atas meja. "Channel? Ini kan Brand mahal," ucap Beno sambil mengamati paper bag itu. Berbagai macam pertanyaan langsung berkumpul di otaknya. Dia mengulurkan tangannya, ingin memastikan Apakah didalamnya Memang benar-benar barang dari brand tersebut? Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk … Adis masih terdengar terbatuk-batuk di luar. Beno mengurungkan niatnya dan segera menarik tangannya. Ah, dia bisa memastikan itu nanti. Yang lebih penting sekarang adalah Adis. Beno kembali keluar dengan membawa sebotol air mineral. "Minum dulu, Ting." Beno minumkan air mineral itu kepada Adis dengan lembut, sambil memijat memijat tengkuknya. Adis meneguknya beberapa kali tegukan hingga batuk-batuknya mereda. "Huft … lega akhirnya," ucap Adis dengan muka merah karena baru saja keselek tanpa sebab. Begitulah Adis kalau sedang mendengar berita yang mengejutkan, seringkali tersedak tiba-tiba begitu. "Kamu kebiasaan banget sih. Kenapa bisa tiba-tiba tersedak begitu?" "Nggak tahu, kadang suka begitu." "Oh iya, Lo beli tas baru?" tanya Beno sambil menunduk. Sebenarnya hatinya gundah, resah dan juga gelisah. Dia curiga kalau adis mendapatkan hadiah dari seseorang. Secara, tas itu bukan barang yang ecek-ecek. Adis menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Lalu dia membenahi letak duduknya. "Em … itu … itu dari … em .. dari mama. Katanya kado ulang tahun yang dimajukan. Mumpung punya uang katanya." Adis tersenyum menutupi salah tingkahnya. Ah, memang benar apa kata orang. kalau kita sudah berbohong satu kali, maka buntutnya akan panjang, membuat kita berbohong Lagi Dan Lagi. "Mama kamu kasih kado dari brand ternama itu?" Beno mengerutkan keningnya. Dia tahu bahwa Mama adis tidak mungkin membelikan barang semewah itu karena dia tahu keadaan keluarga Adis. "Em … itu cuma prank, Ben. Box sama paper bagnya memang channel, tetapi dalamnya palsu. Mama sengaja minta paper bag punya temennya, katanya mau prank gue. Isinya mah beli di ruko di samping toko baju Mama. Tas 300 ribuan. Dasar mama, lucu sekali dia." Adis cengar-cengir. Mencoba untuk berbicara senatural mungkin. Dia tidak terbiasa berbohong, tetapi kali ini Dia terpaksa harus berbohong, dan dia tidak tahu ... kebohongan apa yang yang akan diciptakan lagi nanti. "Lo pulang? Kapan lo pulang dan ketemu sama mama? Kenapa nggak bilang sih, kan bisa gue anterin. Gue juga kangen sama mama." "Em … nggak, Dan. Gue nggak ke sana." "Dan? Dan siapa?" Adis langsung menepuk dahinya sambil memejamkan matanya. Ah, kacau banget dia hari ini. Begitulah dia kalau sedang panik. Beno langsung memalingkan mukanya. Dia menunduk dengan raut muka kecewa. Bisa-bisanya kekasihnya salah sebut dengan nama orang lain yang sedang dia coba untuk hindarkan dari Adis. "Sorry." "Maaf untuk apa?" "Maaf sudah salah sebut." "Lo laper enggak? Mau keluar dulu cari makan?" Beno sengaja mengalihkan pembicaraan karena dia yakin sedang ada yang ditutupi oleh Adis. Daripada membuat keadaan semakin tidak kondusif, lebih baik dia menunda untuk menanyakan hal yang lebih lanjut. Karena hari ini dia ingin berbicara penting sama adis. "Em … mau makan? Ayo … " Adis tersenyum. Meskipun pembicaraan sudah dialihkan, dia tidak merasa lega. Karena dia tahu Beno hanya menunda mempertanyakan ini aja. "Ambil jaket dulu gih! Nanti dingin," ucap Beno dengan senyum. Terlihat dari raut mukanya dia sedang menahan kekecewaan. Namun, dia masih mencoba untuk diam. Karena dia tahu, dalam sebuah hubungan itu harus ada salah satu yang menahan. Menahan apapun itu. Menahan kekecewaan, menahan amarah dan menahan segala hal yang bisa menyebabkan keretakan hubungan. "Tunggu ya?" Adis berdiri dari tempat duduknya, lalu segera menuju ke kamar. Dengan cepat, dia segera mengeluarkan tas itu dari boxnya. Di dalam box itu ada sertifikat. Beno tidak boleh melihatnya. Adis segera menyembunyikan box itu di lemari. "Maafin gue Ben. Maaf, gue harus bohong sama lo. Maafin gue yang nggak bisa munafik karena gue masih mau menerima tas ini dari cowok lain," ucap Adis memandang tas yang mulai saat ini menjadi tas favoritnya dan tas kesayangannya. Adis menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Disambarnya jaket yang tergantung di samping lemari, dia memakainya dan segera melesat keluar. Mereka berdua segera meluncur menuju ke warung mbok Irah. Ya, warung lesehan favorit mereka. Makanannya memang biasa saja, tapi murahnya luar biasa. Seperti biasa, mereka selalu mengambil tempat duduk yang pojok. Biar enak aja komunikasinya. Beberapa menit setelah mereka memesan, dua porsi tempe penyet dan 2 gelas es teh sudah tiba. Beno tidak menanyakan Adis mau makan apa, tiba-tiba aja memesan tempe penyet. Ya memang seringnya begitu. Adis sudah maklum. "Dis, gue mau ngomong penting sama lo," ucap Beno sambil menatap Adis. Adis yang tadinya bersiap untuk mengambil tempe, kini mengurungkan niatnya. Dia tersenyum dan menatap Beno. "Apa Ben?" Beno terlihat menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia membenahi letak duduknya. Duduk tegak dengan pandangan lurus ke mata Adis. "O.K, Adis Adena, Apakah sampai detik ini, lo masih sayang sama gue?" Deg deg deg … Mulai, jantungnya kumat berdetak tak beraturan. Hanya sebuah pertanyaan sepele, Kenapa berhasil membuat Adis deg-degan seperti ini. Apa lagi, kata-kata dan sikap Beno begitu serius, membuat Adis panas dingin. "Ben, Kenapa lu masih tanya? Perasaanku masih sama dengan yang dulu." "Serius?" Adis terdiam sejenak, lalu dia mengangguk. Dia tidak sepenuhnya berbohong, meskipun dia kadang jalan sama Jordan dan meskipun dia sudah membohongi Beno, tetapi di dalam hati adis masih ada rasa cinta untuk laki-laki yang saat ini menjadi kekasihnya itu. "O.K, kalau begitu, Apakah lo mau menjalani hubungan yang lebih serius dari sekedar berpacaran?" Siiing … krik krik krik … sepi. Diam. Detak jantung Adis pun seakan berhenti beberapa detik. Adis membeku dengan tatapan mata yang tetap mengarah ke Beno. Ini yang Adis takutkan, diajak menjalin hubungan yang lebih serius. Dia tidak bisa berpikir apa-apa. Yang jelas dia benar-benar bingung. Dia harus jawab apa? Kalau dia menolak, lalu alasan apa yang harus di utarakan? "Adis, lo denger gue kan?" Beno mengulangi pertanyaannya. Suaranya begitu lembut, namun tidak berhasil menimbulkan desir di hati Adis. "Ben, gue … " "Lo gak usah takut. Gue cuma pengen kita ada ikatan yang lebih serius, yang menegaskan kalau gue ini nggak main-main." Beno mengambil sesuatu dari saku jaketnya, sebuah kotak cincin warna merah bertengger di sana. Detak jantung Adis semakin berisik. Rasanya Dia mau pingsan saat itu. Apakah Beno benar-benar akan melamarnya saat ini juga? Beno membuka kotak itu, sebuah cincin emas polos bertengger di sana. Adis mengamatinya. Menurut pengamatannya, itu bukan cincin mahal, mungkin cuma 2 gram dan hanya 500 ribuan per gram. Namun, orang yang benar-benar sayang sama pasangannya tidak akan melihat harga cincin tersebut kan? "Adis, lo mau enggak nikah sama gue?" tanya Beno sambil menatap Adis yang saat itu malah sibuk menatap cincin di tangan Beno dengan mata nanar. Iya, ini memang tidak romantis. Melamar pacar di warung lesehan yang nggak mewah, dengan cincin yang biasa pula. Namun, tidak ada yang tahu perjuangan beno untuk meyakinkan dirinya sampai dia memberanikan diri untuk mengungkapkan ini pada Adis. Hatinya sudah yakin pada Adis, dan dia sudah mantap untuk memilih adis sebagai calon istri yang akan menemani dia sampai mereka sama-sama menua. "Ben, Kenapa mendadak sekali?" "Apanya yang mendadak? Gue mikirin ini udah lama banget. Please, jawab pertanyaan gue. Apakah lo mau jadi istri gue?" "Apa Lo yakin? apa lo udah memikirkan matang-matang? lo benar-benar mau menikah sama cewek yang suka ngambek, cewek yang ceroboh dan jorok kayak gue? lo benar-benar yakin?" Adis menanyakan keyakinan Beno, padahal sebenarnya dirinya sendiri yang tidak yakin. "Dis, kalau gue enggak yakin, nggak mungkin gue sampai melakukan hal sejauh ini. Gue sayang sama lo. Ingin jadi suami Lo. Jadi, sekali lagi gue tanya. Apa Lo mau jadi istri gue? Ada yang tercekat di tenggorokan Adis. Dia tidak mungkin berkata tidak, tetapi juga sulit untuk mengatakan iya. Dia memejamkan matanya, menghela nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Dengan berbagai pertimbangan singkat, akhirnya, Adis menganggukkan kepalanya pelan. Ya, akhirnya dia mengangguk dengan air mata yang mulai menetes ke pipinya. Air mata itu bukan air mata bahagia, tetapi air mata ketakutan. "Serius? Lo mau?" Mata Beno berbinar. terlihat sekali, kebahagiaan terpancar dari kedua bola matanya. Sekali lagi Adis mengangguk. Beno tersenyum lega. Dia sangat bahagia luar biasa. Akhirnya dia mengambil cincin dari kotaknya, meraih jari-jari Adis, dan dengan perlahan, Dia memasukkan cincin itu ke jari manis lentik perempuan yang telah ia pilih. "Maaf ya, bukan cincin mahal. Mungkin ini cuma sebagai pengikat aja, pengikat dan pengingat bahwa kita sudah berada di tingkat yang lebih serius dan juga pengingat bahwa Lo bakal jadi milik gue." Beno tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Mata mereka sama-sama basah. Namun, makna dari air mata mereka berbeda. Beno meraih punggung tangan Adis, lalu menciumnya sambil memejamkan mata. 'Semoga Cincin ini benar-benar bisa mengikat hati kamu, dan tidak membuatmu berpaling ke orang lain, Kepiting rebusku,' ucap Beno dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD