Kendaraan Spesial

1674 Words
Malam selalu menjadi waktu yang paling tepat untuk merenung, untuk melamun, dan untuk membayangkan hal-hal yang mungkin saja tak akan pernah terjadi. Hening, senyap, dan sendiri. Itulah Kenapa adis sering terjaga sampai larut malam. Seperti malam itu, Adis masih terbaring di atas tempat tidurnya sambil memandang jari manisnya yang sekarang sudah terisi sebuah cincin. Dia masih tidak percaya, bawa sudah ada jari manis yang melingkar di jarinya. Bukankah seharusnya dia bahagia? Tetapi kenapa tidak ada sedikit pun rasa bahagia di hati Adis. Hanya ada ketakutan-ketakutan yang membayang di otaknya. Bayangan akan kesulitan hidup, bayangan akan sengsaranya kehidupan mereka setelah menikah, dan bayangan akan percekcokan mereka dalam kehidupan pernikahan. Hanya itu yang terbayang dalam benak Adis. Lalu bagaimana dengan laki-laki yang saat ini juga sedang mendekati dirinya dan bahkan sudah menyatakan cinta padanya? Apakah dia berdosa karena seolah Dia memberi harapan kepada 2 orang? Mata Adis beralih ke sebuah tas yang ada di meja sampingnya. Dia tersenyum. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. Adis segera bangun. Mengambil ponsel yang ada di atas meja. Dia dari tadi berniat untuk mengecek harga tas yang diberikan oleh Jordan. Tetapi terus tertunda-tunda. Adis segera menarikan jarinya di atas ponsel, dan setelah menemukan yang dia cari, Adis langsung menghentikan jarinya saat menemukan apa yang dia cari. Matanya melotot, memastikan sekali lagi apakah memang benar apa yang dilihat. Dia sudah membuka matanya lebar-lebar, dan tulisannya tetap sama. 7.080 US dollar. Adis langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan. Dia tahu angka itu hampir menyentuh 100 juta. Adis masih belum puas. Dia segera browsing, ingin tahu berapa tepatnya. Matanya langsung terbelalak saat melihat hasil yang ditemukan di handphonenya. 100.429.800. Saat itu, rasanya adis mau pingsan. 100 juta? Hanya untuk sebuah tas. Perkiraannya hanya sekitar 50 juta. Ternyata dua kali lipatnya. Nafas Adis terasa tersengal, dia benar-benar tidak percaya dan merasa harga tas itu tidak masuk akal. Kenapa Jordan mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah tas untuk Adis? Dia tahu kalau Jordan memang orang berada, putra tunggal dari seorang konglomerat. Namun, tidak semudah itu juga kan dia mengeluarkan banyak uang untuk sesuatu yang tidak terlalu bermanfaat untuk dirinya sendiri? Adis segera mencari kontak Jordan di handphone, lalu segera menghubunginya. Tidak peduli bahwa ini sudah lewat dari tengah malam. Dia harus segera menghubungi Jordan. "Dan, Lo sinting ya? Gue baru tahu berapa harga tas yang udah lo kasih ke gue. Dan, beneran. Gue nggak bisa menerima tas itu. Harganya benar-benar enggak manusiawi buat gue. Gue juga tidak mau dicap sebagai cewek matre yang suka morotin cowok lain padahal gue sendiri udah punya pacar. Dan, Besok pagi kita harus ketemu, gue Mau balikin tas ini ke Lo." Jordan belum sempat menjawab, tetapi Adis sudah lebih dulu nyerocos ketika telepon telah tersambung. Dia benar-benar shock dan merasa harus mengembalikan barang itu secepatnya. "Dis, lo kerasukan apa sih lewat tengah malam gini telepon gue. Besok aja kita ngobrol. Sekarang Gue udah ngantuk banget. Bye! Jangan ganggu gue." Klik. Jordan segera mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Begitulah Jordan. Dia tidak suka kalau tidurnya terganggu oleh siapapun, termasuk oleh seorang perempuan yang saat ini sangat dia sayang. Itulah bedanya Jordan dan Beno. "Oe, nggak ada akhlak banget sih ini bocah. Main matiin telepon seenaknya." Adis ngomel sendirian ke handphonenya. Lalu, dia kembali membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menggosok rambutnya kasar. Hatinya semakin terasa tak karuan saat ini. Pokoknya dia harus mengembalikan tas itu. Harus. Meskipun tentu saja adis merasa senang dan merasa berharga, tetapi jika harganya jauh di luar ekspektasinya, membuat dia merinding juga. "Beno aja, cuma ngasih cincin yang mungkin harganya tidak sampai 2 juta untuk mengikat, tetapi lo yang belum tentu bisa hidup sama gue, yang belum tahu gue sayang sama lo atau nggak, berani memberi hadiah yang harganya 100 juta. Ini nggak masuk di akal gue, Dan." Adis terus berbicara dengan jantung yang berdegup dengan begitu kencang. Karena dia masih shock dengan harga tas itu. *** [Kalau Lo balikin tasnya, gue bakalan buang tas itu ke Danau, dan gue bakalan benci sama Lo seumur hidup gue.] Adis sudah bersiap, masukkan tas hadiah dari Jordan ke dalam box dan sudah dia masukkan ke dalam paper bag. Namun, dia berhenti ketika mendapatkan pesan seperti itu. Huft … Kenapa Jordan begitu keras kepala? Tidak tahukah dia kalau Adis merasa tidak nyaman mendapatkan hadiah yang terlalu mewah seperti itu? [Jangan keras kepala. Pokoknya gue balikin.] Adis membalasnya cepat, berharap bisa mendapatkan jawaban yang mampu membuatnya tersenyum. [Izinin gue untuk sayang sama lo, dan menunjukkan sikap sayang ini ke Lo. Gue cuma ngasih itu doang. Kalo kali ini Lo nolak, gue bakal kirim hadiah mahal tiap hari. Udah, jangan protes. Nanti malam ada pesta ulang tahun Dewi. Lo pasti Dateng kan? Jangan lupa di pakai ya.] Ya, memang itu tujuan Jordan Sebenarnya. Dia ingin Elena dan yang lain tahu, kalau Adis tidak serendah yang dia fikirkan. Dia tidak ingin lagi Adis dipandang sebelah mata. Dia ingin melihat artis datang ke pesta ulang tahun Dewi dengan tas mewah itu. Supaya dia bisa membungkam mulut orang-orang yang sering nyinyirin Adis. Adis hanya bisa membuang nafas kasar, lalu melemparkan tas selempang seratus ribuannya ke atas kasur. Mau tidak mau, dia harus terima tas itu. Dia yakin Jordan tidak akan main-main dengan ucapannya. Ya, nanti malam dia memang akan menghadiri pesta ulang tahun Dewi, dan udangannya sepasang, dia dan Beno. Jadi mau tak mau dia memang harus datang sama Beno. Datang sama Beno, pakai motor butut, dan dia … harus pake tas 100 jutanya? Ah, biarlah. Pasti semua orang menyangka bahwa itu palsu. Ah ... tapi bukankah Beno bilang kalau dia mau membawa kendaraan Spesial? Adis tersenyum, sudah terbayang di pelupuk matanya kendaraan spesial itu. Akhirnya dia lega, bisa bergaya dengan tas pemberian Jordan. Malam harinya, Adis berdandan lebih dari biasanya. Sebenarnya dia ingin agar tidak terlihat jomplang dengan tasnya. Malam itu, dia memakai dress polos warna pink lengan panjang dan panjang ke bawahnya sebawah lutut. Dress itu ketat bagian atas dan lebar bagian roknya. Dia tampak bagitu anggun. Itu baju termahal di toko baju Mamanya. Harganya cuma satu jutaan doang. Itu baju termahal Adis. Namun, dia sudah begitu PD mengenakannya. Dia merias dirinya tipis-tipis. Membuat adis tampak lebih cantik, anggun dan lebih elegan. Tak lupa high heels 10 cm nya. Beno bilang, kalau malam ini dia mau naik kendaraan yang spesial ke ulang tahun Dewi. Itu berarti mereka tidak akan naik motor butut milik Beno lagi. Enggak apa-apa dong Kalau Adis dandan pol-polan hari ini. Lagi pula Nanti dia juga akan bertemu sama Jordan di sana. Eh, Beno menelfon, dia sudah berada di depan. Adis bergegas ke depan, dan tak lupa membawa tas 100 jutanya. Ya, meskipun dia sempat mencoba untuk mengembalikan, tetapi sebenarnya dia sangat bahagia bisa mendapatkan tas itu. Adis melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke depan pagar. Namun, Adis langsung membelalakkan matanya dengan Shock saat dia melihat Beno sedang berada di atas sepeda tua miliknya. Sepeda itu memang masih bagus, terlihat kokoh dan gagah. Namun, tetap saja itu sepeda. Harapan Adis seketika runtuh. Dia sudah dandan habis-habisan hari ini Dan menganggap bahwa dia akan dibawa oleh Beno naik taksi, tetapi ternyata itu hanya khayalan dia belaka. Seharusnya dia tahu bahwa kekasihnya yang koret itu tidak akan pernah mau mengeluarkan duit lebih hanya untuk membawa dia ke pesta ulang tahun temannya. "Tara … ini kendaraan spesial yang akan kita bawa ke ulang tahun Dewi." Beno berdiri di samping sepeda tua miliknya. Wajahnya sangat ceria seakan sepeda itu benar-benar sebuah kendaraan yang spesial. Tentu saja, muka adis langsung merah padam. Dia berjalan dengan cepat, mendekat ke arah Beno dengan d**a yang sesak. "Jadi, sepeda ini yang lo bilang kendaraan spesial? Kita akan ke acara ulang tahun dengan mengendarai sepeda butut ini?" Adis berteriak dengan kesal. Adis tahu apa yang ada di otak kekasihnya. Pasti dia tidak mau keluar uang untuk membeli bensin atau membayar taksi. Kali ini Beno benar-benar sudah keterlaluan. "Iya, bagus kan? Lagi pula jarak kost kamu sama rumah Dewi kan nggak jauh 4 km doang. Kita bakalan jadi pasangan paling fenomenal tahun ini. Lagi pula, naik sepeda malam-malam bukannya romantis, seperti sinetron yang tiap hari Lo tonton. Iya kan? Ayo naik! Tenang aja, gue udah jago naik sepeda ini." Beno berkata sambil terus tersenyum, seolah Dia sedang menawarkan sesuatu yang menyenangkan untuk Adis. Sementara Adis, rasanya dia ingin lari saja. Apa nanti kata orang, apa nanti kata Elina dan teman-teman yang lain kalau dia berdandan seperti ini tetapi dia malah naik sepeda? Mau ditaruh Di mana muka Adis? "Beno Lo bisa nggak sih, nggak keterlaluan kayak gini. Lo lihat dong penampilan gue! Gue pakai dress, pakai high heels, Terus lo mau bonceng gue naik sepeda? Bisa nggak sih sekali-kali aja lo nyenengin gue? Bisa nggak lo jangan perhitungan sama gue sekali aja. Lo bener-bener keterlaluan, Ben. Gue nggak mau naik sepeda sama lo, mending gue jalan sendiri naik taksi. Gue masih sanggup bayar taksi," ucap Adis dengan muka merah padam. Hidungnya kembang kempis saking kesalnya. Nafasnya tersengal karena emosi. Beno hanya menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia tahu kalau akan seperti ini jadinya. Namun, Dia sudah terbiasa menghadapi Adis yang mencak-mencak seperti itu. Dia tersenyum berusaha untuk tetap tenang. Diraihnya tangan sang gadis yang sedang naik pitam itu, lalu digenggamnya erat. Beno menatap Adis dengan tatapan yang teduh. "Sayang, Apa bedanya sih naik taksi sama naik sepeda? Lo sama-sama duduk, dan sama-sama sampai di tempat. Yang membedakan itu semua hanyalah gengsi. Kalau lo mau menikmati, maka lo akan merasa ini romantis. Lebih baik kita selalu menikmati apa yang ada, daripada mengeluh yang tak berkesudahan. Ayo, gue bonceng naik sepeda. Dijamin Lo bakalan suka. Sesuatu yang berbeda dari yang lain, itu spesial, bukan?" Adis mengibaskan tangannya, lalu dia kembali masuk ke dalam kamar kosnya dengan air mata yang menetes ke pipinya. Dia Terlalu banyak berharap pada Beno. Seharusnya dia tahu, bahwa laki-laki itu tidak mungkin mengeluarkan uang lebih hanya untuk dirinya. Rasanya dia ingin teriak sekencang-kencangnya. Kalau dia tidak punya hati, pasti dia segera telepon Jordan dan ingin dijemput olehnya. Namun, sebenci apapun dia pada Beno, dihatinya masih ada rasa cinta dan masih ada rasa simpati dan empati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD