Pergilah Sejenak

1108 Words
"Ting, kepiting rebus, buka dong pintunya. Ayo kita bicara baik-baik. Jangan kekanak-kanakan gini dong. Ayo kita ngobrol dulu." Beno berdiri di depan pintu kamar Adis. Mencoba membujuk kasihnya untuk keluar. Namun, tak ada sahutan dari dalam. "Ngobrol? Nggak akan pernah ada titik temu selama lo masih koret." Adis cuma ngedumel lirih. Dia duduk diatas tempat tidurnya dengan rasa kesal yang memuncak. Dia merasa sia-sia sudah berdandan sedemikian rupa. Lebih baik dia tidur di rumah saja daripada harus datang ke pesta tetapi naik sepeda. Apakah Beno sama sekali tidak berpikir, kalau sampai mereka benar-benar naik sepeda ke pesta, mereka akan menjadi trending topic di kampus keesokan harinya. Apalagi kalau Elena sampai tahu, pasti akan semakin heboh lagi. Mau ditaruh di mana muka Adis? Apakah Beno tidak tahu bahwa itu bisa membuat Adis malu? "Oke, oke. Lo nggak akan naik sepeda. Gue bakal pesenin lo ojol, nanti gue sendiri yang bakal naik sepeda. Oke kan? Ayo dong, nanti pestanya keburu selesai. Lumayan kan kalau kita datang, Dis. Bisa menghemat makan malam." Darah Adis kembali mendidih. Kenapa setiap kata-kata yang keluar dari mulut Beno selalu membuat Adis naik darah. bisa-bisanya dia memikirkan makan gratis. Bener-bener malu-maluin. Lagi pula, Solusi apaan yang ditawarkan itu. Kalau dia naik ojol dan Beno naik sepeda, tetap saja dia akan tetap dibully oleh teman-temannya. "Pulang aja Lo! Gue nggak mau berangkat. Pulang sekarang, Beno! Gue nggak mau lagi datang ke pesta." "Ayo dong, Adis. Jangan kayak gini. Sia-sia dong persiapan lo kalau enggak jadi pergi." "Selama Lo masih kayak gini, gue nggak bakalan pergi." Adis menempelkan kepalanya di pintu. Supaya dia tidak perlu berteriak, karena takut mengganggu penghuni kost yang lain. Beno tampak membuang nafas kasar. Dia mengambil dompet dari saku celananya, dia mengecek isinya, lalu tersenyum tipis. "Oke, kita akan pergi ke naik taksi. Gue book taxi online dulu ya? Tapi nanti pulangnya gimana?" Adis tidak tahu bagaimana harus menghadapi Beno. Semakin dia berucap, maka Adis semakin emosi. Dia masih bertanya pulangnya bagaimana? Sungguh, Adis tidak habis pikir dengan pola pikir Beno. Dengan penuh emosi, dia membuka pintu kamar kostnya, lalu menatap Beno penuh amarah. "Ben, gue nggak pernah minta lo yang macem-macem. Gue juga jarang kan protes ini itu kalau memang enggak keterlaluan. Kalau gue udah protes, itu berarti sudah keterlaluan, Beno. Kalau lu memang nggak mau mengeluarkan uang sepeserpun, lo bilang sama gue. Gue masih punya uang untuk sekedar bayar taksi. Lo nggak pernah ngebolehin gue ngeluarin uang, tetapi kenapa Yang ada malah lo bikin kesel gue terus. Beno, gue masih manusia biasa yang ada rasa gengsi dan malu ketika harus datang ke pesta dengan pakaian seperti ini tapi naik sepeda? Wajar kan kalau gue malu. Lo boleh hemat, tapi harus lihat lihat kondisi dan situasi, Ben." Adis berbicara panjang lebar dengan mata membulat. Nada suaranya tidak begitu tinggi tetapi penuh dengan penekanan. Matanya basah. Ingin dia teriak-teriak, tetapi dia tidak mau membuat kegaduhan. "Maafin gue, karena belum bisa menjadi laki-laki yang lo harapkan." "Lo selalu bilang kayak gitu sama gue, tetapi tidak pernah ada perubahan. Udah, sekarang kita nggak usah pergi. Kita tenangkan diri kita masing-masing. Sepertinya kita harus banyak berpikir, tentang bagaimana seharusnya hubungan kita kedepannya nanti. Gue masuk dulu." "Ting, gue_" "Lo pulang, besok kita akan bicara. Kalau kita paksa ngobrol sekarang, yang ada kita akan cek Cok terus. Gue masuk dulu," ucap Adis dengan nada pelan. Dia seperti sudah kehilangan energi karena terlalu banyak marah-marah hari ini. Dia kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintunya perlahan, Meninggalkan Beno yang hanya bisa tertunduk lemah di di depan pintu. 'Andai saja Lo tahu Kenapa gue bisa bersikap seperti ini, Dis.' "Ya udah, Gue pulang dulu sekarang. Besok kita ngobrol ya? Maafin gue karena sudah merusak acara lo. Maafin gue, karena kebodohan gue, Lo nggak jadi berangkat padahal udah rapi. Selamat tidur, kepiting rebus." Beno menelan ludahnya, lalu dengan langkah gontai ia berjalan menuju ke sepedanya. Dia pulang dengan perasaan tak karuan. Di sepanjang perjalanan pulang dia terus bertanya kepada dirinya sendiri, Apakah selama ini dia sudah keterlaluan? Apakah salah jika dia bersikap seperti ini? Toh, Beno melakukan semua ini juga karena ada alasannya. Bukankah yang penting dalam sebuah hubungan itu adalah rasa kasih sayang? Apakah selama ini kasih sayang yang diberikan oleh Beno masih kurang? Adis adalah perempuan yang dipilih olehnya, perempuan yang sudah memenuhi ruang hatinya. Meskipun kadang dia memang suka marah-marah, tetapi entah kenapa Beno tetap yakin bahwa perempuan itulah tulang rusuknya. Beno mengayuh sepeda dari kos Adis ke kosannya. Jarak kost mereka tidak jauh, hanya sekitar 3 km saja, Meskipun begitu, peluh tetap menetes ke pelipis Beno. 'Semoga perjuanganku selama ini nggak sia-sia, Adis,' ucap Beno dalam hati sambil terus mengayuh sepedanya. *** Di acara pesta Dewi, Jordan celingak-celinguk, mencari keberadaan perempuan yang dia sayang. Acara sudah mulai sejak beberapa menit yang lalu, tetapi batang hidung Adis sama sekali belum terlihat. Ingin rasanya Dia menghubungi Adis, tetapi itu tidak mungkin dilakukan. Karena Jordan yakin, Adis sedang bersama dengan Beno sekarang. Dia mengangkat pergelangan tangannya. Dia amati gelang Bond touch miliknya. Dia gerakan jarinya perlahan, lalu dia tekan bagian touch nya. Jordan masih menatapnya, berharap ada reaksi. Beberapa menit kemudian, handphone Jordan berdering. Adis, pucuk dicinta ulam pun tiba. "Hai," sapa Jordan segera. "Hai," ucap Adis dengan suara lirih dan terdengar tidak semangat sama sekali. "Kok suara lo lemes gitu." "Lagi nggak semangat aja." "Kenapa? Oh iya, kok lo nggak ada di pesta ulang tahun Dewi? Lo hadir kan?" "Nggak, Dan. Gue nggak dateng," ucap Adis. Suaranya mulai terdengar serak. Air mata menetes ke pipinya. Dia tahu mungkin ini lebay, tetapi pernahkah kalian membayangkan Bagaimana rasanya, ketika kita sudah bersemangat berdandan maksimal untuk datang ke suatu tempat, tetapi akhirnya gagal gara-gara sesuatu yang menjengkelkan? Sedih pasti, kecewa tentu saja. Namun, kadang kita tidak perlu memaksakan keinginan kita. "Kenapa? Beno nggak bisa jemput? Gue jemput ya?" "Nggak, nggak. Nggak usah. Mungkin malam ini gue mau menikmati bintang-bintang aja lewat jendela kamar gue," jawab Adis. Lalu, dia mulai terisak. Sebenarnya dia mencoba untuk menahan, tetapi mendengar suara Jordan, membuat dia tidak bisa menahannya lagi. "Adis, lo kenapa? Lo nangis?" Klik. Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Adis. Dia tidak mau Jordan terus kepikiran karena mendengar suara tangis Adis. Adis melempar handphonenya di atas tempat tidur, lalu dia tengkurap di sana, masih dengan dress dan high hells yang terpasang di kakinya. "Ya Allah, masihkah Aku sanggup menjalankan hubungan ini? Tunjukkan jalan terbaik-Mu? Aku sudah merasa tidak sanggup lagi hidup dengan orang yang tidak bisa memprioritaskan diriku sama sekali?" ucap Adis di sela Isak tangisnya. Rasanya masih sakit ketika dia lihat Beno naik sepeda Hanya gara-gara dia tidak ingin mengeluarkan uang untuk membeli bensin. Rasanya sangat sakit, seolah uang lebih berharga daripada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD