Tok tok tok…
"Adis … "
Disela Isak tangisnya, Adis mendengar suara ketukan pintu dan mendengar seseorang memanggil namanya. Namun, Sepertinya dia tidak asing dengan suara itu. Itu bukan suara Beno, karena adis yakin Beno sudah pulang.
"Adis, Lo di dalem kan? Lo baik-baik aja kan? Jawab gue Dis."
Suara itu kembali terdengar. Adis bangkit dari tengkurapnya, dihapusnya air mata yang membasahi pipi mulus itu, lalu dia mulai mengatur nafas agar tidak terlihat kalau dia baru saja menangis. Adis berjalan perlahan menuju ke pintu. Dia sengaja menempelkan telinga ke pintu, ingin memastikan itu suara siapa.
"Adis … please bukain pintu dong. Lo ada di dalam kan?"
Jordan. Fix itu suara Jordan, padahal 10 menit yang lalu dia masih telepon Jordan, dan Jordan masih berada di acara Dewi. Masa sekarang sudah ada di depan pintu aja?
Adis menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Itu adalah cara ampuh untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ah … dia sudah kebanyakan nangis di hadapan Jordan. Dia tidak ingin menangis lagi hari ini. Setelah dia merasa tenang, Adis membuka pintu kamarnya, dan dilihatnya Jordan sedang berdiri di sana dengan raut muka khawatir.
"Lo nggak apa-apa? Nggak ada yang sakit kan? Nggak ada yang menyakiti Lo kan?" tanya Jordan begitu pintu dibuka.
Dia menyentuh pipi Adis, dan menepuk-nepuknya dengan raut muka yang menunjukkan kekhawatiran.
"Em … nggak apa-apa. Gue baik-baik aja kok. Lihat nih, sehat walafiat kan? Lagi pula modus banget sih sentuh-sentuh pipi gue, lepasin! "
Jordan segera melepaskan tangannya.
"Lo nggan nyuruh gue duduk?" tanyanya kemudian.
"Oh iya, duduk!"
Jordan berniat untuk masuk ke kamar Adis, tetapi Adis dengan sigap menahan d**a laki-laki itu.
"Eits, enak aja masuk kamar. Duduk di luar, Jordan! Emang lo mau digerebek malam-malam gini masuk kamar gue."
"Eh, kirain suruh duduk dalam kamar," ucap Jordan diikuti oleh gelak tawa.
"Enak aja Lo."
Laki-laki itu segera berjalan menuju ke kursi dan duduk di sana diikuti oleh Adis.
Beberapa menit pertama, mereka saling diam. Pandangan mereka sama-sama lurus ke depan. Ingin mengawali pembicaraan tetapi tidak tahu dimulai dari mana.
"Lo kenapa ke sini?" tanya Adis akhirnya, untuk memecah keheningan.
"Ya, Lo tadi nangis. Gue kan Khawatir jadinya sama lo. Lo kenapa? Kalau lo mau, curhat aja sama gue. Tapi kalau lo memang merasa nggak nyaman unek-unek lo didengar sama gue, lo nggak perlu ngomong apa-apa. Cukup lakukan sesuatu yang bisa mengeluarkan sesuatu yang masih menggodok di dalam hati Lo."
Adis menunduk, masih dengan kostum yang akan dia pakai ke pesta tadi. Memang sih, dadanya masih terasa sangat sesak. Belum bisa plong meskipun dia sudah menangis selama beberapa menit.
"Ikut gue yuk?" ucap Jordan tiba-tiba, karena jika hanya di sini saja pasti Adis akan banyak diam dan tetap tidak mau cerita.
Adis mendongakkan kepalanya.
"Ke mana?"
"Udah ikut aja. Dijamin lo bakalan seneng di sana. Ayok!"
Jordan bangkit dari duduknya, lalu menggenggam pergelangan tangan Adis. Dia membawa gadis itu ke mobilnya setengah berlari. Biar apa? Biar dramatis kayak di film-film.
Adis hanya bisa menurut saja. Biarlah. Biar Jordan membawanya kemana pun dia mau. Biar beban di dalam hatinya sedikit berkurang. Biar apa yang complicated di dalam otaknya sedikit terurai.
Adis dan Jordan masuk ke mobilnya, lalu laki-laki itu meluncurkan mobilnya menuju ke suatu tempat. 20 menit kemudian, mereka sampai di sebuah tempat.
Bisakah kalian tebak Mereka pergi ke mana? Ya, Mereka pergi ke pasar malam. Jordan sengaja mengajak Adis ke tempat yang tak biasa. Supaya mereka bisa bersenang-senang tanpa takut bertemu dengan orang yang mereka kenal.
"Jordan, serius lo ngajak gue ke pasar malam? Gue yakin seumur-umur nggak pernah ke sini kan?"
"Siapa bilang, gue pernah main ke sini waktu gue masih SD sama Oma gue?"
"Masih SD?" Adis tertawa.
"Iya, udah lama banget. Oh ya, Yuk turun!"
"Eh, tapi pakaian gue kayak gini. gue juga bawa tas mahal yang Lo kasih. Sayang banget kalau dibawa ke pasar malam."
"Nggak apa-apa. Kalau risih pakai pakaian begini di pasar malam, nanti kita beli baju di sana. Ayok!"
Adis menatap ke bawah. Dia memakai high heels. Mana mungkin dia pergi jalan-jalan ke pasar malam pakai high heels begini.
"Ayo?" ajak Jordan sekali lagi.
"O.K."
Adis melepas high heels-nya, Meletakkan tas brandednya di kursi mobil, dan sengaja turun tanpa alas kaki. Dia tersenyum, begitu bahagia melihat keramaian di pasar malam. Ya, Kebahagiaan kali ini tidak boleh ternodai oleh adanya alas kaki yang akan meribetkan dan tas yang membuat dia was-was takut dijambret. kalau saja penjambret tahu berapa harga tasnya, pasti mereka tidak akan tinggal diam.
Melihat Adis yang melepaskan alas kakinya, Jordan tersenyum. Dia pun melakukan hal yang sama. Dia segera mencopot sepatunya, dan segera menyusul Adis yang sudah terlebih dahulu keluar dari mobil. Adis berlari kecil sambil merentangkan tangannya tanpa malu mendekati tempat di mana pasar malam diselenggarakan.
"Oe, tunggu! Main tinggal-tinggal aja," ucap Jordan sambil mengejar Adis.
Adis menghentikan larinya, lalu menoleh ke arah Jordan yang masih mengejarnya. Namun, mata Adis terbelalak saat dia melihat Jordan yang mengejarnya tanpa alas kaki.
"Lo ngapain copot sepatu? Tar telapak kaki lo bentol-bentol di makan nyamuk." Adis asal nyeletuk. Meskipun dia sudah kembali ceria, tetapi kalau ingat kejadian beberapa menit yang lalu, masih terasa sesak di dadanya.
"Biar sama kayak lo lah. Lo pikir nyamuknya muncul dari dalam tanah?"
"Hahaha bisa jadi sih." Adis tergelak.
"Bentar deh, kok lobisa tiba-tiba berubah bahagia gini sih lihat pasar malam? kirain air doang yang bisa bikin lo happy."
"Udah lama nggak ke sini gue. Kayaknya asik aja bisa main-main kayak anak kecil. Ayo ke sana!" Adis meraih pergelangan tangan Jordan dan mengajaknya berlari ke arah wahana yang ada di pasar malam.
Namun, gadis itu tiba-tiba berhenti tepat di depan penjual permen kapas.
"Bang, mau 2 ya?" ucap Adis pada abang-abang penjual permen kapas.
"Jordan, bayarin! Gue nggak bawa uang."
Adis menengadahkan tangannya tanpa dosa. Jordan hanya bisa tertawa kecil, lalu mengambil dompet dalam saku celananya dan memberikan uang rp100.000 untuk Adis.
"Ini bang, kembaliannya ambil aja," ucap Adis sambil memberikan uang 100.000 dan mengambil 2 permen kapas itu dengan bahagia.
"Waaaah … beneran kembaliannya buat saya, neng?"
"Iya, dia lagi sedekah," ucap Adis sambil menunjuk Jordan, dan yang ditunjuk hanya tertawa saja. Adis kembali menarik tangan laki-laki yang sudah berhasil membuatnya tertawa kembali. Adis berhenti di bawah pohon, lalu duduk di sana, beralaskan koran yang kebetulan ada di sekitar situ.
"Serius duduk di sini?" tanya Jordan sambil mengernyitkan dahi.
"Serius. Ayo duduk!"
Akhirnya, Jordan pun ikut duduk beralaskan koran di samping Adis. Gadis itu meletakkan permen kapas yang terbungkus plastik di sampingnya. Dia duduk sambil memeluk lutut, lalu pandangannya menghadap ke atas, memandang bintang-bintang yang terhampar di langit. Jordan pun melakukan hal yang sama. Entah kenapa, meskipun berada di keramaian, mereka sangat merasa tenang dan damai. Bahagia saja rasanya bisa duduk di alam terbuka seperti ini.
"Asik ya bisa duduk di alam terbuka begini?" Jordan memulai pembicaraan. Matanya masih menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit sana.
"Iya. Asik banget."
Adis menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Diambilnya permen kapas yang ada di sampingnya. Dia membuka plastik pembungkus dan memberikannya pada Jordan.
"Pegang!"
Jordan menoleh, mengerutkan kening.
"Buat gue?"
"Iyalah."
"Ogah, kayak bocah aja gue makan gituan."
Adis segera mengambil sedikit permen kapas itu dengan tangan kanannya, lalu menempelkannya ke mulut Jordan.
"Buka mulut."
Jordan menggelengkan kepalanya sambil menutup bibirnya rapat-rapat. Jujur, dia sama sekali belum pernah makan permen kapas sebelumnya. Karena baginya, jajanan itu jajanan anak kecil yang tidak pantas dimakan oleh orang dewasa sepertinya.
"Mau gue paksa? Ayo buka mulut!"
Jordan tetap menggeleng.
"Ya udah gue pulang kalau nggak mau buka mulut."
Sontak, Jordan langsung membuka mulutnya saat itu juga. Pluk. Permen kapas itu langsung mendarat ke mulutnya. Beno merasakannya, lalu bola matanya memutar, mengarah ke Adis.
"Enak kan?"
"Siniin!" Jordan merebut permen kapas yang masih ada di tangan Adis. Gadis itu langsung tertawa. Ternyata Jordan menyukainya.
"Makanya jangan sok-sokan nggak mau makan makanan yang ada di pasar malam begini. Enak kan?"
Adis mengambil permen kapas satunya, dan membukanya untuk dirinya sendiri.
"Ada sensasinya aja. Kayak krenyes-krenyes gitu di mulut. Enak."
Jordan mengambil sendiri, dan memakannya seperti anak TK yang baru tahu makanan itu.
'Kok ada ya manusia yang belum pernah makan permen kapas ini sama sekali? Seenak apa sih hidup lo sampai permen kapas aja Lo nggak kenal?'
"Kenapa bengong sih. Sini suapin lagi?"
"Cari-cari kesempatan banget sih lo," ucap Adis. Dia tersenyum malu-malu.
"Ya mumpung masih ada kesempatan."
Adis tersenyum, lalu menyuapkan permen kapas ke mulut Jordan. Namun, tiba-tiba Jordan melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis yang saat itu berada di tangan kanan. Jordan tidak bisa menelannya. Dia meraih tangan Adis cepat-cepat dengan jantung yang berdetak dengan begitu cepat.
"Cincin? Lo pake cincin?" tanya Jordan. Tangannya gemetar. Dadanya terasa sesak.
Adis berdehem, lalu segera menarik tangannya cepat cepat.
"Itu … itu cincin dari Beno?" tanya Jordan dengan bibir bergetar.
Adis mengangguk. Dia menunduk, dengan raut muka yang tiba-tiba berubah muram.
"Itu cincin apa?" tanyanya sambil menatap adis yang sedang menunduk dalam-dalam.
"Dia mau mengajak aku untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang serius," ucap Adis lirih.
Saat itu, jantung Jordan rasanya seperti dihantam ombak yang besar, lalu terpelanting ke batu karang. Sakit. Rasanya sangat sakit. Saat itu wajahnya memerah. Dadanya sesak, jantungnya berdetak dengan begitu cepat.
"Lo setuju melanjutkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius?" tanya Jordan. Matanya berkaca-kaca.
Dia menjatuhkan sebungkus permen kapas yang ada di tangannya. Matanya masih tetap memandang Adis, berharap ada jawaban yang dapat menyejukkan hatinya.
"Gue nggak bisa apa-apa, Dan. Gue nggak bisa menolak ajakan Beno. Dia sayang sama gue, dan didalam hati gue masih ada rasa sayang untuknya. Meskipun sebenarnya sampai saat ini gue masih merasa belum siap untuk menjalani hubungan yang lebih serius."
"Kalau gitu lo ngomong sama dia, ngomong kalo emang belum siap. Tolong Dis, ngomong sama Beno. Lo jangan tinggalin gue sekarang. Gue belum siap untuk berpisah sama lo."
Tatapannya masih tajam mengarah ke Adis. Laki-laki itu pernah bilang, bahwa dia hanya mencintai dan tidak menuntut. Namun, mendengar bahwa hubungan Adis dan Beno akan dibawa ke arah yang lebih serius, rasanya Dia belum siap untuk menerima itu. Dia belum siap untuk kembali jauh-jauhan dengan orang yang sangat dia sayangi. Dia mulai merasakan kenyamanan, dia mulai merasakan kebahagiaan, dia mulai bisa tertawa lebar karena berhasil membuat adis bahagia. Haruskah dia kehilangan gadis ceroboh itu sebelum dia berhasil memilikinya?
Adis menoleh, menatap Jordan. Kali ini mata mereka saling bertatap.
"Masalahnya tidak sesederhana itu, Dan. Tidak mudah untuk bilang tidak. Dia baik banget sama gue. Meskipun dalam hati gue takut. Gue takut kehidupan gue nanti setelah menikah akan seperti apa. Gue nggak mau munafik kalau gue menginginkan kehidupan yang bahagia setelah menikah nanti. Gue pengen bisa hidup normal kayak orang lain. Jalan-jalan setiap akhir pekan, beli pakaian pakaian yang bagus, makan di resto resto mewah. Gue pengen kayak gitu nantinya. Kalau gue sama Beno, gue nggak akan pernah bisa ngerasain itu, Dan. Gue takut."
Jordan memegang tangan Adis, lalu menggenggamnya erat.
"Kalau lu takut hidup sama Beno, tinggalin dia! Hidup sama gue! Gue janji bakal bikin lu bahagia. Gue janji bakal bikin lo merasa menjadi wanita yang paling istimewa. Tolong Dis, tinggalin dia kalau memang lo takut. Ini hidup Lo. Lo berhak memilih jalan hidup Lo sendiri."
Jordan. Adis tahu, Jordan sangat menyayanginya. Bahkan dia rela mengeluarkan uang hingga 100 juta hanya untuk membuat gadis ceroboh itu bahagia. Laki-laki itu berhasil membuat adis merasa istimewa. Namun, tidak dapat dipungkiri, bahwa di dalam hatinya masih ada nama Beno.
Dia tidak menyangka, bahwa saat ini di dalam hatinya ada dua nama. Beno dan Jordan. Meskipun dia sendiri belum yakin, rasa yang dia rasakan kepada Jordan adalah perasaan sayang atau kah hanya perasaan sesaat saja karena dia merasa diistimewakan?
"Adis. Tolong! Pikirkan dulu baik-baik. Sebelum memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius, lo harus memikirkannya matang-matang. Kehidupan pernikahan enggak hanya 1 bulan 2 bulan, Adis. Gue nggak akan rela kalau sampai lo disia-siakan sama Beno."
"Dan, gue bisa apa? Gue nggak mau menjadi wanita penghianat." Adis menunduk. Air matanya kembali menetes ke pipinya. Tuhan Maha baik. Dia dicintai oleh 2 laki-laki yang sangat baik. Beno, laki-laki yang sangat peduli dan yang sangat sayang padanya meskipun dia sangat pelit. Jordan, laki-laki yang sangat royal yang selalu berhasil membuat dia merasa istimewa, tetapi terkadang dia membiarkan adis sendiri saat dia butuh bantuan. Namun, mereka sama-sama baik. Sama-sama mencintai adis dengan tulus.
Dia benar-benar tidak tahu, harus bersikap Bagaimana sekarang.
"Adis, kalau saja lu bahagia sama Beno, gue nggak apa-apa. Gue akan ikhlas. Tapi kalau lu tersiksa sama dia setelah pernikahan, gue nggak akan ikhlas, Adis. Sekarang lo tenang dulu ya, kita akan cari jalan keluar yang terbaik untuk lo sama-sama." Jordan masih menggenggam erat tangan Adis. Dia masih berharap, Adis mau membatalkan rencananya untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Beno. Patah hati yang dalam bagi Jordan adalah ketika kita harus putus bahkan sebelum kita sempat memilikinya.