Perpisahan

1079 Words
"Lo minum dulu, biar tenang." Jordan memberikan segelas orange juice pada Adis yang mulai berhenti dari Isak tangisnya. Adis meraih gelas itu, menyeruputnya sedikit biar tenggorokan keringnya sedikit basah. "Makasih, Dan." "Iya. Udah tenang?" Adis mengangguk. "Gue nggak apa-apa, Kok. Asalkan ini memang keputusan yang Lo ambil berdasarkan hati Lo. Gue ikhlas Demi kebahagiaan Lo." 'Kalau memang dengan menjauh dari gue bisa bikin Lo bahagia, gue nggak apa-apa, Dis. Meskipun itu artinya gue harus memendam dalam perasaan gue sama lo. Gue belum sempat mengatakannya, gue belum sempat jujur sama Lo tentang perasaan gue sama lo, tetapi sepertinya ini memang cara Tuhan untuk ngasih tahu gue, kalau Lo memang bukan buat gue.' "Kenapa rasanya seperti mutusin pacar sih. Sedih gue," ucap Adis yang buru-buru menghapus air mata yang kembali mengalir ke pipi mulusnya. "Kenapa?Lo sedih banget ya pisah sama gue. Memang sih, cowok keren kayak gue ini memang susah banget dihindari. Gue ngerti. Kalo lo kangen sama gue,Lo tinggal lewat aja depan kelas gue, cekikikan cari perhatian kayak cewek-cewek adik tingkat itu." Puk. Telapak tangan Adis langsung melayang ke kepala Jordan. "Aduh, bar-bar banget sih Lo," ucap Jordan sambil mengelus-elus kepalanya sendiri. "Makanya jangan rese." Jordan tersenyum, sambil menatap mata Adis yang masih sembab. Jordan mengusap kepala Adis lembut. "Nggak apa-apa, kok. Gue nggak apa-apa. Serius. Kalau gue jadi Beno, Pasti gue juga akan melakukan hal yang sama. Gue nggak akan membiarkan orang yang gue sayang terlalu dekat sama orang lain." Kembali, Jordan memasang wajah serius. Ya, mulutnya memang bisa mengatakan tidak apa-apa, tetapi hatinya tidak bisa dibohongi. Ini menyakitkan baginya. Tetapi dia bisa apa? Kalau memang dia adalah sebuah ancaman bagi keberlangsungan hubungan mereka berdua, Jordan siap untuk pergi. Meskipun ini akan sulit, tetapi Jordan yakin dia bisa. Demi kebahagiaan Adis. "Gue pikir Persahabatan kita akan berlangsung selamanya. Gue pikir lo adalah orang yang selamanya akan bawain gue pizza sama lollipop coklat. Gue pikir lo adalah orang yang selamanya akan menjadi sandaran gue saat gue sedang ada masalah sama Beno. Tapi ternyata persahabatan kita harus sampai disini saja." Adis kembali meneteskan air matanya. "Udah, nggak usah dibahas lagi. Gue yakin Lo udah mikir ini matang-matang kan? Jadi pertahankan apa yang sudah menjadi pilihan Lo. Oh iya, gue ada sesuatu buat Lo." Jordan mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak warna hitam. Dia membukanya. Kotak itu berisi 1 gelang warna hitam. Gelang silikon yang yang bagian tengahnya terdapat letak Bond touch. "Apa itu?" "Lo kalau sedih ya sedih aja, nggak perlu bodoh. Masa nggak tahu ini apa?" "Ish, iya tahu itu gelang. Tapi gelang apaan? kok ada tombolnya gitu." Beno mengambil gelang itu, lalu memasangkannya pada Adis. "Lo katrok banget sih. ini namanya gelang Bond touch. Aku juga punya. orang-orang menyebutnya gelang LDR." Jordan menunjukkan gelang di pergelangan tangannya itu dengan matanya. "Couple? Lo ngapain ngasih gelang beginian? gelang LDR? Kayak orang pacaran aja," tanya Adis. Dia sudah berani berbicara lantang meskipun mata dan pipi masih basah. "Lo diem dulu jangan bawel. Siniin hp Lo." "Hp?" "Iya, cepetan." Adis memberikan handphonenya pada Jordan. Laki-laki itu segera mengutak-atik handphone Adis, beberapa menit kemudian, dia segera menyerahkan kembali kepada si empunya. "Nih, udah beres." "Apaan sih, Dan?" Jordan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ditatapnya kembali wajah sang gadis yang harus dihindari mulai saat ini. Ya, Bahkan dia harus pergi sebelum dia sempat berjuang. "Dis, suatu saat nanti kalau Lo kangen sama gue, Lo tinggal sentuh bagian ini. Maka gelang yang gue pakai bakal bergetar. Dari situ gue bakalan tahu, kalau lo lagi kangen atau lagi mikirin gue. Dari gelang ini, sejauh apapun kita, kita masih bisa terhubung. Mungkin hanya ini caranya agar kita masih bisa terhubung tanpa harus berkomunikasi. lo hanya nggak boleh ngobrol sama gue online maupun offline kan? dengan gelang ini kita nggak pernah ngobrol, tapi kita masih bisa terhubung." Jordan kembali menunjukkan muka murungnya. Dia menunduk. Matanya basah saat mengucapkan itu. Dari tadi dia selalu berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya, tetapi kali ini dia benar-benar tidak bisa menutupinya. Adis menatap gelang itu. Unik, Adis tidak pernah melihat gelang seperti itu sebelumnya. Pasti ini gelang mahal. Ya, itulah Jordan. Dia tidak pernah merasa sayang untuk membelikan apapun untuk Adis. Dia sama sekali tidak perhitungan sedikit pun. "Dan, gimana kalau Beno sampai tahu?" "Ya Meskipun Kadang Lo oon, tapi gue tahu lu nggak bodoh bodoh amat. Pasti bisa kok menutupi ini biar Beno tidak sampai tahu. Lagian dia cuma pengen kita tidak saling ketemu dan tidak komunikasi lagi kan? Udah dikasih tahu dari tadi nggak ngerti-ngerti juga ini bocah. Plis pinteran dikit." Adis hanya bisa nyengir. Lalu dia kembali mengambil ponselnya. "Gue harus blokir nomor Lo, dan semua akun sosial media Lo. Mulai saat ini, kita tidak akan lagi berhubungan dalam dunia nyata maupun dunia maya." Berhasil. Nomor dan semua sosial media Jordan sudah dia block. Ya, semalaman dia sudah membujuk diri sendiri agar mau melakukan ini semua, dan sekarang dia sudah berhasil melawan perasaannya sendiri. Sesak, tentu saja ini terasa menyesakkan bagi Jordan. Rasanya seperti putus sama pacar bahkan sebelum jadian. Dia pikir, dengan menjadi sahabat Adis, itu bisa menjadi tameng untuk dirinya agar bisa berlama-lama bersama Gadis itu dan menghabiskan waktu bersama. Namun, ternyata Beno tidak sebodoh itu. Dia tidak mengizinkan ada orang lain yang hadir terlalu intens dalam hubungan mereka berdua. Karena Beno tahu betul, dua orang lawan jenis yang bersahabat itu tidak ada yang benar-benar bersahabat. "Sebenarnya ini terlalu berlebihan, tapi tidak apa-apa. Gue tahu, Mungkin memang ini yang terbaik buat hubungan lo sama Beno." Sebenarnya Jordan sangat benci sama Beno gara-gara masalah ini, tetapi tidak apa-apa. Dia tetap mencoba untuk menerimanya dengan ikhlas, demi Adis. "Maafin gue ye?" "Nggak apa-apa." "Sekarang blokir nomor gue!" "Ngapain? Lo aja yang blokir udah cukup." "Nggak. Lo harus blokir nomor gue. Supaya kalau suatu saat gue hilaf dan buka blokiran, gue masih tetap nggak bisa hubungin lo. Ayo blokir nomor gue sekarang!" Sulit, sangat sulit menahan air mata. Sungguh, persahabatan mereka yang sudah terlalu dekat dan bahkan mulai melibatkan perasaan, sangat sulit untuk diputuskan begitu saja. Mereka harus menahan sakit. Ya, persis seperti orang yang bersepakatan untuk memutuskan sebuah hubungan asmara. Sakit tapi tak berdarah. "O.K. Jika itu memang mau Lo. Gue bakalan blokir." Jordan mengambil handphonenya dengan ragu-ragu. Dibukanya kunci layar pelan-pelan. Ah, ini benar-benar menyesakkan. Namun dia bisa apa? Kalau memang Adis meminta dia untuk pergi, maka dia akan pergi. Andai saja Adis tau perasaan dia dan meminta dia untuk berjuang, tentu saja Jordan akan berjuang. And … klik. Nomor Adis telah terblokir bersamaan dengan helaan nafas yang berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD