Keputusan Terberat

1185 Words
Beno tersenyum. Dia lega, akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Adis. "Lo yakin?" Beno masih tersenyum. Matanya kembali berbinar. Adis mengangguk sambil menerbitkan senyum. Senyum terpaksa lebih tepatnya. Kepalanya memang mengangguk, tetapi hatinya menggeleng. Dia belum siap menghindari Jordan. "Kalau begitu, Lo blokir nomor Jordan sekarang, di depan mata gue?" Adis langsung membulatkan matanya, dan membuka mulutnya lebar-lebar. Dia tidak menyangka kalau Beno akan seposesif ini terhadap dirinya. Sepertinya, momen Adis dan Jordan di danau kemarin benar-benar menyakitkan bagi Beno. Entahlah, dia tahu info itu dari mana. "Kenapa? Nggak sanggup?" tanyanya lagi. "Bukan begitu, Ben. Gue nggak bisa tiba-tiba begini. Pelan-pelan, Ben. Kenapa harus terburu-buru begini. Gue butuh waktu." "Cepat atau pelan, lo akan menghindarinya, bukan? Bukankah lebih cepat lebih baik." "O.K. tapi kasih gue waktu untuk ngobrol sama dia nanti. Gue janji ini untuk yang terakhir kalinya. Paling tidak gue harus pamitan sama dia. Gue nggak bisa pergi begitu saja tanpa kabar, Ben. Hubungan persahabatan gue sama dia dibangun dengan baik-baik, harus diakhiri dengan baik-baik juga kan?" "Baiklah, janji untuk yang terakhir kalinya?" Adis mengangguk. "Lo ikhlas melakukan ini semua? Karena gue nggak mau kalau lo melakukan ini hanya setengah hati. Kalau Lo hanya terpaksa dan setengah hati melakukan ini, maka tak akan ada gunanya. Kalau lo hanya terpaksa, pasti suatu saat nanti lo bakal sembunyi-sembunyi untuk menemui dia tanpa sepengetahuan gue. Gue nggak mau itu terjadi." "Insya Allah gue ikhlas melakukan ini dan nggak terpaksa. Demi hubungan kita Ben," ucap Adis untuk meyakinkan Beno. Ya, ada pergolakan hebat di dalam hatinya saat ini. Tentu saja dia tidak ikhlas dan hanya setengah hati melakukan ini, tetapi dia tidak bisa menolak permintaan laki-laki yang sudah sangat baik terhadap dirinya. Apa yang ditakutkan Beno, menjadi ketakutan juga baginya. Dia takut kalau dia tidak bisa menahan dirinya untuk bertemu sama Jordan. *** "Dan, gue mau ketemu Lo. Di kafe Mandala. Gue tunggu di sana jam 3 sore ya?" Adis menempelkan handphonenya di pipi dan telinga kirinya. Wajahnya muram. Tak tampak adanya kebahagiaan sedikitpun di raut wajahnya. Setelah mendapatkan jawaban dari orang yang dihubungi, Adis segera mematikan sambungan teleponnya. Lalu, Dia membanting tubuhnya di atas tempat tidur dengan kasar. "Gue harus bagaimana?" ucapnya lirih pada dirinya sendiri. Adis menggosok kasar mukanya dengan tangan kanan. saking dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar semuanya baik-baik saja. 2 jam kemudian, Adis dan Jordan sudah duduk manis di kafe mandala. Wajah Jordan tampak berseri-seri. Dia tampak lebih tampan ketika bahagia seperti ini. Kontras sekali dengan wajah Adis yang tampak murung dan lesu. Entahlah, berat sekali keputusan ini. Namun dia memang harus mengambil tindakan demi hubungannya dengan Beno. Bagaimana pun juga laki-laki itu sudah melakukan banyak hal untuk dirinya. "Oe, tumben banget lo ngajak makan, Lo mau ngomong apa?" ucap Jordan, lalu dia menyeruput moccacino latte di cangkirnya. Adis tersenyum. Sebuah senyuman getir. Menyesakkan sekali mengingat hari ini adalah hari terakhir mereka berduaan seperti ini. Dia harus menjauh saat hati Adis merasakan sesuatu yang tak biasa. "Idih, sok kalem banget Lo senyum-senyum doang. Lo kenapa sih, biasanya Lo udah lahap habis itu pizza. Kenapa sekarang dianggurin?" tanya Jordan sambil menunjuk pizza di hadapan Adis dengan dagunya. Adis tertawa kecil. Memang sih, kalem itu bukan dia banget. Tapi perasaannya hari ini benar-benar sedang kacau. Jordan menyadari ada yang beda. Tawa Adis, terlihat dan terdengar seperti tawa kepedihan, tawa dipaksakan dan tidak tulus. Perlahan, laki-laki itu meletakkan kopinya diatas meja oval yang ada dihadapannya. Dicondongkannya tubuh Jordan ke arah Adis yang ada diseberang meja. "Ada sesuatu?" tanya Jordan serius. Dia tahu kalau ada sesuatu yang sedang tidak beres. Adis membenahi letak duduknya. Dia berdehem-dehem beberapa kali sebelum berucap pada Jordan. Dia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Siap tidak siap dan suka tidak suka dia harus mengatakan ini pada Jordan. Dia tidak mau menjadi perempuan yang egois. Ya, dia harus meninggalkan Jordan dan rela memutuskan persahabatan mereka sampai disini saja. Demi hubungan dia sama Beno. "Dan, gue mau ngomong sesuatu yang sangat penting sama Lo." Adis menatap mata Jordan dengan tatapan yang dalam. "Silahkan." "Dan, Beno nggak suka sama kedekatan kita," ucap Adis masih sambil menatap mata Jordan. Saat itu, ada yang berdesir di hati Adis. Adis tak tahu itu perasaan apa, yang jelas ada desiran halus di sana, yang membuat Dia sangat berat untuk mengatakan tentang perpisahan ini. Ibaratnya, tunas yang mulai tumbuh, ditumbuk hingga hancur begitu saja. Jordan tersenyum getir, Sepertinya dia mulai tahu kemana arah pembicaraan Adis. "Terus?" "Dia nggak nyaman melihat kita sering jalan berdua." Sampai sini, suaranya mulai bergetar. "Lalu?" Jordan seolah tak sabar dengan kalimat Adis yang terkesan berbelit-belit. Saat itu jantungnya berdetak dengan begitu kencang. Beribu ketakutan memenuhi kepalanya. Ya, dia benar-benar takut Adis akan mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi dirinya. "Dia pengen gue jauhin Lo," ucap Adis akhirnya. Jordan tersenyum sambil memiringkan bibirnya. Dia menarik tubuhnya, dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Diarahkan pandangannya ke bawah dengan wajah muram. Ya, tiba-tiba saja raut mukanya berubah. Dari awal pembicaraan Adis, dia tahu arahnya akan ke sini. "Dan Lo mau mengikuti permintaan Beno?" tanya Jordan Masih pada posisinya semula. Raut mukanya benar-benar keruh. Matanya memerah, begitu juga dengan wajahnya. "Bagaimanapun juga dia pacar gue, Dan. Meskipun dia sangat pelit, tetapi dia selalu peduli sama gue dan selalu mengusahakan kebahagiaan gue. Mau nggak mau, gue harus mengikuti permintaan dia." Mata Adis memerah. Air mata sudah berada di ujung netranya. Dadanya benar-benar terasa sesak. Sungguh, rasanya seperti sedang memutuskan pacar yang masih dia cintai. "Terus? Apa gue sebagai sahabat lu nggak ada artinya apa-apa lagi buat Lo? Mau lo sekarang bagaimana?" "Dan, ini … ini … " Adis tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Dia terisak, dengan d**a yang masih terasa sesak. Ternyata, mengucapkan selamat tinggal tidak semudah yang ia bayangkan. Selamat tinggal itu menyesakkan. Kalimat pendek yang sangat dia benci. Namun, sekarang dia harus mengatakannya. Dia harus mengucapkan selamat tinggal pada orang yang tidak ingin ia tinggalkan. 'Kenapa rasanya sesakit ini? Hanya mengucapkan selamat tinggal sama sahabat kenapa rasanya sepedih ini?' Jordan membuang nafas kasar. awalnya dia ingin marah sama adis karena dia mau-maunya menuruti permintaan pacarnya yang nggak lazim itu, tetapi dia sadar bahwa itu adalah pilihan Adis. Sekarang, Dia tahu perasaan Adis. Mungkin seperti perasaannya sekarang. Dia bangun dari duduknya, membawa kursinya mendekat ke arah adis. Lalu laki-laki itu menepuk pundak adis seolah dia sedang memberi penguatan, padahal hatinya sendiri sedang rapuh. "It's O.K. Jika itu untuk kebahagiaan Lo sama Beno, gue nggak apa-apa." Adis masih terisak dengan posisi semula. "Dis, gue tahu akhirnya bakalan seperti ini. Huft ... Lo nggak usah sedih. Lo masih tetap sahabat gue meskipun kita tidak bisa lagi menghabiskan waktu sama-sama seperti sebelumnya. Gue yakin Lo sudah memikirkan ini matang-matang. Gue harap ini memang keputusan lo terbaik. Nggak apa-apa, nggak perlu ditangisi. Lo percaya takdir kan? Kalau Tuhan menakdirkan kita untuk bersahabat, pasti akan ada aja jalannya buat kita. Percaya sama gue," ucap Jordan yang sebenarnya sedang menasehati dirinya sendiri. Ya, mungkin Beno bisa menghancurkan persahabatan Adis dan Jordan, tetapi Jordan yakin, suatu saat pasti ada jalan bagi mereka. Ah, benar. Rasanya seperti dipaksa untuk putus padahal mereka sedang sayang-sayangnya. Menyesakkan, tetapi Jordan menghargai keputusan Adis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD