Bicara Empat Mata

1132 Words
Selesai makan, Beno mengambil tissue yang tersedia di atas meja, lalu mengelap mulutnya yang sebenarnya sudah bersih. Hening, Tak ada suara dari keduanya. Adis masih diam menunggu Beno. Dia belum menyentuh makanan yang tersedia di atas meja sedikit pun, sama sekali tidak berselera. laki-laki yang saat itu memakai kaos hitam polos itu menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kali ini diarahkan pandangannya pada sosok gadis yang selama 1 tahun ini menjadi kekasihnya yang baik. Dia mengatur posisi duduknya, lalu berdehem beberapa kali sebelum berbicara. "Dis," ucap Beno memulai pembicaraan. Dari gelagatnya, terlihat bahwa Sebenarnya dia sulit untuk mengatakan ini. Dis, ya. Jika Beno memanggil nama, itu berarti hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Beberapa hari belakangan ini, Adis memang jarang mendengar Beno memanggilnya dengan panggilan kesayangan, kepiting rebus. Padahal, Adis merindukan itu. Adis yang tadinya masih mengetuk-ngetuk meja, mendongakkan kepalanya. Menatap Beno yang saat itu juga sedang menatapnya. "Hmmm?" "O.K. gue mau ngomong sekarang," ucap Beno. Dua pasang mata itu saling bertatap. Menimbulkan desir di hati mereka masing-masing. Ya, kali ini rasanya berbeda entah kenapa. Di dalam d**a Adis, seperti ada disko sejak tadi. Jedag jedug tak karuan. "Gue boleh jujur?" Adis mengangguk manja. Yang membuat Beno merasa gemas. Ah, tapi kali ini dia harus menahan untuk tidak menguyel-uyel kepala kekasihnya dan mengacak-acak rambutnya Adis kembali mengangguk. Hatinya sudah gaduh tak karuan. "Hubungan kita akhir-akhir ini sudah tidak sehat. Lo pasti sadar kan?" Beno memelankan suaranya, tetapi penuh penekanan. Tatapannya dalam, membuat Adis seolah terhipnotis dan tak mau berpindah dari tatapan itu. Adis mengangguk, lagi dan lagi. "Dis, kita tidak bisa seperti ini terus. Sebuah hubungan itu harus dilandasi oleh rasa kepercayaan, penerimaan, dan keterbukaan. Kita tidak memiliki itu akhir-akhir ini." Beno menjeda kalimatnya. Dia menunduk, lalu diraihnya tangan Adis yang yang saat itu sedang memegang segelas es teh yang dari tadi sama sekali belum dia cicipi. "Gue mau tanya satu hal sama lo. Tolong Lo jawab sejujurnya tanpa ada yang lo tutupi. Sampai detik ini, Apakah masih ada rasa sayang dihati lo buat gue?" "Lo ngomong apa sih, Ben? Bisa-bisanya lo menanyakan sesuatu hal yang pasti. Kalau gue udah nggak sayang sama lo, gue pasti udah pergi." Mendengar pertanyaan itu, Adis langsung Nyamber, padahal beberapa menit yang lalu dia hanya bisa diam. "Jangan ngegas. Jawab aja pertanyaannya," ucap Beno masih dengan suara lembut. "Iya, Lo harusnya nggak perlu tanya. Gue masih sayang sama lo." "Lo yakin?" "Apa yang membuat Lo ragu sama gue?" Adis balik bertanya. "Gue cemburu melihat kedekatan Lo sama Jordan." Beno langsung berbicara ke intinya, tak mau lagi berbelit-belit. Glek. Adis menelan salivanya. Dia tidak menyangka kalau Beno akan seterus terang itu. Adis langsung menunduk, tak tahu harus menanggapi apa. "Apa hati Lo mulai terbuka buat dia?" Hati Beno bergemuruh saat menanyakan ini. Dia tidak siap dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh Adis. Meskipun begitu, dia harus menerima apapun yang akan dikatakan oleh Adis nanti. Lebih baik dia sakit sekarang, daripada nanti hanya menunda rasa sakit. 'Tidak Ben, 1 tahun kebelakang tidak, tetapi entah kenapa kemarin hatiku berdesir saat mendengar Jordan menyanyi dari hati baut gue? gue tak tahu itu perasaan apa, tapi yang jelas mulai ada rasa rindu di hati gue buat dia.' Adis memalingkan pandangannya dari Beno, dia menunduk. Menatap meja yang menjadi saksi pergulatan batin mereka berdua. Beno melepaskan tangan Adis. Dia tersenyum sambil memiringkan bibirnya. "Gue tahu jawabannya," ucap Beno menyimpulkan sendiri. "Lo nggak tahu apa-apa, Ben." "Kenapa sulit menjawab pertanyaan semudah itu?" "Gue sayang sama lo. Dulu sampai sekarang tidak berubah. Kalau gue ngambek, kalau gue kesel karena tingkah laku lo, ya maafin gue. Gue manusia biasa, Ben. Yang terkadang ada titik jenuhnya. Tetapi bukan berarti rasa sayang gue sama lo hilang. Gue tetep Adis, kepiting rebus lo." "Bukan. Lo beda. Lo bukan kepiting rebus gue yang dulu." Adis membenahi letak duduknya, dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ben, nggak ada yang berubah. Gue tetap Adis yang dulu," ucap Adis. Ya, mungkin ucapannya ini bisa berhasil membohongi Beno, tetapi tidak bisa membohongi dirinya sendiri. "O.K. Kalau begitu gue butuh bukti dari ucapan lo." "Apa?" "Hindari Jordan! Jangan lagi bertemu sama dia, jangan lagi keluar sama dia, dan jangan lagi menghabiskan waktu sama dia meskipun hanya sekedar jalan-jalan." Adis menarik tubuhnya ke belakang, lalu tampak membuang nafas kasar. "Kenapa lo posesif begini sih sekarang? Bukannya dari dulu memang begini. Bukannya dari dulu Gue memang udah temenan sama Jordan? Kenapa sekarang begini? Gue pure berteman sama dia, Ben." "Lo tahu pepatah Jawa? Tresno jalaran Soko kulino, yang artinya cinta bisa datang karena terbiasa. Bisa jadi sekarang enggak ada rasa apa-apa, tapi kalau lo sering bareng sama dia, sering jalan-jalan dan menghabis kan waktu sama dia, Siapa yang bisa menjamin kalau rasa dalam hati Lo itu tidak berubah? Lo sendiri bisa jamin? Bisa?" Beno bertanya dengan emosional. Matanya membulat, rahangnya mengeras, nafasnya terengah-engah. Dia merasa kalau Adis memang tidak ada niat untuk menuruti keinginannya. Lagi-lagi Adis terdiam. Tentu saja dia tidak bisa menjamin, Karena sekarang saja benih-benih itu sepertinya mulai tumbuh. "Lo diam kan? Artinya lo tahu kalau kebersamaan yang panjang dari 2 orang yang berlawanan jenis itu bisa menimbulkan perasaan lebih, yang awalnya halus tapi lama-lama menguat. Bukankah itu yang terjadi pada kita dulu?" "Apa Lo nggak percaya sama gue?" Akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari mulut Adis. Supaya apa yang sedang dia rasakan sebenarnya tidak tertangkap oleh Beno. "Gue akan percaya sama lo kalau lo mau berusaha untuk menjaga hubungan kita. Gue akan percaya sama lo, kalau lo nggak lagi ada hubungan sama Jordan. Entah apa kalian menamakannya, yang jelas di mata gue, hubungan kalian berdua itu terlalu berlebihan jika dikatakan hanya sebuah pertemanan. Lo tahu, gue sakit saat tahu lo bolos kuliah dan ternyata lo pergi ke danau berdua sama Jordan. Gue cemburu. Harusnya lo tahu itu. Kalo lo masih sayang sama gue dan lo nggak ada rasa yang spesial sama Jordan, seharusnya Lo nggak akan ngelakuin ini. Seharusnya lo jaga hati gue." "Ben, gue …." "Gue cuma minta itu sama lo. Apa Lo mau menghindar dari Jordan demi gue, lebih tepatnya demi hubungan kita. Dis, ini cuma permintaan. Misalkan lo memang nggak mau, nggak apa-apa. Lo ngomong aja jujur sama gue. Gue nggak bisa maksain perasaan lo lagi. Sesuatu jika dipaksain, hasilnya tidak akan pernah baik, kan?" Suara Beno memang terdengar lembut. Laki-laki itu tidak meninggikan suaranya sama sekali. Lembut, tetapi berhasil menusuk. Adis terdiam. Dia bingung dengan perasaannya sendiri sekarang. Mungkin dia memang kesal sama Beno, tetapi dia tidak bisa memungkiri bahwa dia masih menyayangi Beno dan masih membutuhkan laki-laki sebaik Beno. Seperti apa yang selalu dikatakan oleh Santi, Beno itu cowok langka. Jika terjadi apa-apa sama hubungan mereka, Adis tidak akan menemukan laki-laki sebaik Beno lagi. "Gue akan coba, tapi pelan-pelan ya Ben," ucap Adis. Dia menatap Beno. Dia menatap adanya harapan di mata yang biasanya selalu berbinar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD