Pak Kadir

1249 Words
'Jangan sok-sokan cari cowok yang sempurna. Kurang beruntung apa Lo dapet Beno. Kayak Lo sempurna aja' Kata-kata Santi itu terus terngiang-ngiang di telinga Adis. Ya, dia memang cewek yang sangat beruntung bisa mengenal Beno. Tapi dia sering mengecewakan laki-laki itu. Namun, Apakah salah jika dia kesal dengan laki-laki yang terlalu perhitungan bahkan hanya untuk membeli bensin saja dia harus menunggu sampai bensin itu benar-benar habis? Bukankah sebagai manusia biasa Adis berhak untuk kecewa? karena sikap Beno itu memang benar-benar keterlaluan. Malam itu begitu dingin. Entahlah, rasanya lebih dingin dari malam-malam biasanya. Adis memilih untuk duduk di teras rumah kosnya dengan lollipop coklat di mulut. Dia duduk sambil mengangkat kakinya ke kursi, dipeluknya kedua kaki itu dengan kedua tangan, untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk. Begitulah kebiasaan Adis ketika dia bosan di kamar. "Permisi," seseorang terlihat mengetuk-ngetuk gerbang. Huft … Adis yang kebetulan ada di depan, mau tak mau dia harus membukakannya meskipun Sebenarnya dia mager parah. "Halo mbak Adis, Ini titipan dari mas Beno, Mbak." Seorang laki-laki yang kira-kira berumur 50 tahun memberikan tas kain yang berisi baju-baju Adis. Dia adalah Pak Kadir. Pak Kadir adalah tukang ojek yang sering dimintai tolong oleh Beno untuk mengantarkan sesuatu atau mengantarkan Adis. Ya, Beno lebih memilih jasa Pak Kadir daripada ojek online. Tahu kan alasannya apa? Tentu saja karena Pak Kadir memberikan tarif yang lebih murah daripada ojek online itu. "Oh, Pak Kadir. Terimakasih banyak ya, Pak. Mampir dulu, Pak." Adis mengambil tas kain itu sambil tersenyum sopan. Saking seringnya, mereka sampai begitu akrab. "Terimakasih mbak Adis, saya harus jemput penumpang dulu. Permisi dulu mbak Adis." "Baik, Pak. Terimakasih." Adis segera masuk ke kamarnya. Dan membuka tas kain itu. Isinya beberapa kemeja Adis dan juga celana. Ya, itulah salah satu kebiasaan Beno yang tak lazim, yaitu menyeterika baju-baju Adis. Katanya, Adis selalu tak rapi nyeterika bajunya. Mau dilaundryin sekalian juga nggak boleh, sayang uangnya. Mungkin orang lain menganggap Beno terlalu bodoh karena mau maunya melakukan hal seperti itu untuk Adis. Namun, Tak Ada Yang bisa menghentikan orang yang sedang melakukan sesuatu karena cinta. Karena dia tidak peduli dengan omongan orang lain. Yang dia tahu, dia berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk orang yang dia sayang. Kalau dia tidak bisa memanjakan adis dengan hartanya, maka dia akan membuat adis merasa beruntung memilikinya dengan menunjukkan rasa kasih sayang yang luar biasa. Adis masih memandang baju-baju itu dengan mata nanar. "Kenapa lo selalu bikin gue bingung, Ben. Kenapa lo sebaik ini?" Adis membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur yang sepreinya mulai lusuh tak beraturan. Dia menempelkan telapak tangannya di kening. Matanya sengaja dia pejamkan. Pikirannya sedang kacau sekarang. Drrrt … drrrt … Handphone Adis bergetar. Sebuah panggilan. Adis menoleh. Ada nama Beno di sana. Adis segera meraih ponsel di sampingnya. "Halo, Ben." "Hai, bajunya sudah sampai?" "Sudah. Terima kasih banyak. Cuma itu yang bisa aku ucapin. Ben, Kenapa lo bisa baik banget sama gue? gue bingung deh sama lo. Gue kan udah ngeselin banget, tapi lu tetap baik banget sama gue." 'Pertanyaan bodoh apa itu? Gue yakin lo tau jawabannya, Dis. Mungkin gue memang bodoh mau melakukan ini itu hanya buat Lo, tapi itu cara gue menyayangi dan mempertahankan Lo.' "Besok pulang kuliah lo mau ke mana?" Beno hanya menjawab pertanyaan Adis dalam hati. Dia masih enggan menjawab pertanyaan yang sudah pasti jawabannya. Adis menelan ludahnya. Kalau Beno udah mengalihkan pembicaraan seperti itu, itu tandanya kekecewaan Beno sudah berada di level 7, mulai mengkhawatirkan. "Nggak kemana-mana kok. Mau ajak jalan?" tanya Adis antusias. "Gue mau ngomong penting sama Lo. Besok gue tunggu di warung lesehan mbok irah ya?" Deg. Ngomong penting? Adis langsung duduk dengan jantung yang berdetak dengan begitu kencang. Dia sibuk menerka-nerka, apa yang akan dikatakan oleh Beno? Apakah dia benar-benar marah dengan kejadian tadi siang? jangan-jangan Beno minta putus karena sudah tidak betah pacaran sama adis yang suka marah-marah dan suka ngambek? Atau malah dia akan berbicara serius tentang hubungan mereka berdua? Itu memang dua hal yang berbeda. Namun bagi adis, dua hal itu sama-sama menakutkan baginya. "Lo mau ngomong apa sih? Bisa ngomong sekarang kan? Ayo ngomong sekarang aja, gue dengerin. Karena kebetulan gue belum ngantuk sama sekali." "Nggak bisa. Kita harus ketemu. Besok gue minta izin 1 jam aja dari bengkel, supaya gue bisa ngomong sama lo. Penting. Jangan sampai nggak datang ya?" "Ben, Lo marah ya sama gue? Kalau memang lo marah dan pengen marah-marahin gue, Sekarang aja nggak perlu besok. Ayo, marahin gue. Jangan bikin gue nggak bisa tidur malam ini." "Adis, Jangan keras kepala. Kita akan bicara besok ketika lo pulang kuliah." "Gue penasaran." Adis merengek. "Tahan, nggak semua yang lo mau itu harus terjadi saat ini juga." Adis terdengar menghela nafas panjang. Dia tekuk wajah lusuhnya. Dia hanya penasaran sekaligus takut. Sekarang otaknya diliputi ketakutan. Antara takut diputusin sama Beno dan takut beno mengajak dia ke arah yang serius. "Lo nggak bakalan ngomong yang bikin gue sakit hati kan?" "Sekarang Lo tidur, biar besok nggak kesiangan. Udah dulu ya. Assalamualaikum." Klik. Beno mematikan sambungan telepon dengan sepihak sebelum Adidas bertanya lebih jauh. Adis hanya menatap layar handphone itu dengan mulut menganga. "Lo beneran marah, Ben?" *** Mereka berdua sudah duduk berhadapan di sebuah warung lesehan sederhana milik mbok Irah. Warung itu jauh dari kesan mewah. Antara bumi dan langit jika dibandingkan dengan Resto yang biasanya dikunjungi oleh Adis dan Jordan. Sebuah warung yang hanya ada 8 meja saja. Setiap 1 meja, disediakan karpet merah berukuran 150 X 200 cm. Mungkin memang tidak mewah, tetapi sudah lebih dari nyaman untuk tempat nongkrong dan ngobrol. Apalagi harganya yang terjangkau, membuat Beno sangat betah di sini. warung sederhana itu seringkali ramai diserbu oleh pasangan muda yang tidak mau keluar banyak budget seperti Beno. makanannya enak, meskipun cuma penyetan dan yang paling penting harganya murah. Putri mbok Irah mengantarkan pesanan mereka. 2 porsi tempe penyet, dan 1 porsi terong penyet. Menu wajib yang tak pernah ganti sejak mereka pertama kali pacaran. "Selamat menikmati Mbak cantik dan mas ganteng," ucap Ayu sambil tersenyum. "Terimakasih ya, Yu." "Sama-sama. Selamat menikmati." Mereka berdua tersenyum, lalu Ayu segera kembali ke depan, membantu ibunya menyiapkan makanan untuk para pelanggan. "Ayo dimakan!" ucap Beno memecah keheningan. "Gue belum mau makan sebelum lo ngomong." "Makan dulu!" Beno mengambil piring bambu yang di atasnya dilapisi kertas minyak. Ekspresinya datar. Tak ada senyum. Tak ada godaan dan candaan Seperti biasanya. Sungguh, keadaan ini benar-benar membuat Adis tak nyaman. Adis menahan piring Beno dengan tangan mulusnya. Kedua mata bulatnya menatap Beno yang sangat itu tengah menatap piring itu tanpa kedip. "Ben, kita harus ngomong dulu. Gue nggak bisa makan kalau Lo belum ngomong." "Gue nggak bisa ngomong kalau belum makan." "Jangan menunda-nunda deh, Ben. Lu udah ngebiarin gue penasaran semalaman sampai nggak bisa tidur, dan sekarang lo mengulur waktu lagi?" Beno melepaskan piringnya. Lalu menatap Adis dengan sorot mata tajam, yang berhasil membuat nyali Adis ciut. "Kenapa lo nggak bisa sabar? Bersabar dalam hal kecil aja Lo nggak bisa, bagaimana dengan hal besar, Adis? Gue cuma perlu waktu buat makan doang. Nanti juga gue bakal bicara kok." Beno tidak berteriak, tetapi kata-katanya tegas dan tatapannya tajam. "Iya deh iya. Jangan gitu dong ngomongnya. Ya udah lo makan dulu," ucap Adis akhirnya. Rahang Beno yang tadinya mengeras, kini mulai mengendur. Tatapan matanya segera beralih pada sepiring nasi tempe penyet. Sebenarnya, Beno juga tidak nafsu makan, tetapi dia harus mengajarkan sedikit kepada Adis tentang arti kesabaran. Dia segera melahap makanan itu meskipun sedikit memaksa. Sedangkan Adis, dia hanya mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD