“Aku pikir kau berpihak padaku.” Suara Albert bergetar, namun tajam getaran yang bukan lahir dari ragu, melainkan dari kekecewaan yang menghantam terlalu keras. Flora menelan ludah dengan susah payah. Rasa takut merambat cepat, menyesaki d**a. Tubuhnya gemetar tanpa bisa dikendalikan, jemarinya mencengkeram ponsel Albert seakan benda itu satu-satunya penyangga yang tersisa. “A-Albert … a-aku—” “Kenapa, hm?” potong Albert. Suaranya kian berat, langkahnya perlahan mendekat. “Kenapa kau terlihat begitu ketakutan?” Flora terus mundur hingga punggungnya hampir menempel dinding. Detak jantungnya kacau, lidahnya kelu. Kata-kata seolah tersangkut di tenggorokan. “Albert …” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. Sret! Dalam satu gerakan cepat, Albert merampas ponsel itu dari tangan Flora. T

