bc

Dijadikan Istri Pajangan Diistimewakan Adik Ipar

book_age18+
4
FOLLOW
1K
READ
family
HE
forced
arranged marriage
arrogant
badboy
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
office/work place
childhood crush
secrets
love at the first sight
like
intro-logo
Blurb

Flora mencintai Vincent Alexander sejak kecil sejak hari ketika ia, dengan tubuh mungilnya, menarik seorang pria asing dari ambang kematian di rumah mewah keluarga Alexander.Cinta polos itu tumbuh diam-diam, menjadi keyakinan yang ia bawa hingga dewasa.Keyakinan itulah yang mendorong Flora memohon kepada orang tuanya untuk menjodohkannya dengan Vincent. Ia percaya, cinta akan menemukan jalannya sendiri setelah pernikahan.Namun kenyataan berkata sebaliknya.Pernikahan yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati justru berubah menjadi neraka sunyi. Vincent tak pernah menganggapnya sebagai istri. Hinaan, penolakan, dan sikap dingin menjadi bagian dari hari-hari Flora hingga ia hanya menjadi istri pajangan di rumah megah milik suaminya sendiri.Saat hati Flora perlahan runtuh, satu-satunya tempatnya bersandar justru datang dari sosok yang seharusnya terlarang. Albert Alexander, adik iparnya.Pria yang selalu hadir, menghibur, dan melindungi ketika Vincent memilih berpaling.Ketika Flora akhirnya menyerah dan memilih mengajukan perceraian, Vincent justru dihadapkan pada ketakutan terbesar dalam hidupnya kehilangan wanita yang selama ini ia abaikan.Namun penyesalan tak selalu datang tepat waktu.Apakah cinta bisa tumbuh dari kehancuran?Ataukah cinta Flora memang tak pernah ditakdirkan untuk Vincent Alexander?

chap-preview
Free preview
Bab-1. Tuduhan
“Aku sudah mengatakan padamu, Flora,” suara Vincent menggema keras di dalam kamar pribadi mereka. Nada suaranya dingin, tajam, dan penuh penolakan. “Aku ingin bercerai darimu. Sampai mati pun, aku tidak akan pernah mencintaimu.” Flora berdiri mematung di hadapannya. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak seolah napasnya terhenti di tenggorokan. Kata-kata Vincent menghantamnya tanpa ampun, menghancurkan sisa harapan yang masih berusaha ia genggam. “Apa selama sebelas bulan kita menikah, kamu sama sekali tidak pernah melihat cintaku, Vincent?” suara Flora bergetar. Ia menggenggam jemarinya sendiri, menahan tubuhnya agar tidak runtuh. “Aku mencintaimu. Aku melakukan segalanya berbakti padamu, menuruti kemauanmu, tunduk sebagai istrimu. Apa tidak bisakah kamu membuka sedikit saja hatimu untukku?” Vincent mendengus sinis. Tatapannya dingin, seolah Flora hanyalah orang asing yang tak berarti apa-apa baginya. “Bukankah kamu tahu sendiri, Flora?” ujarnya tajam. “Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Kamu yang memaksa kedua orang tua kita untuk menikahkannya. Semua itu hanya untuk menutupi satu kenyataan, bukan?” Vincent menatapnya dengan senyum mengejek. “Bahwa kamu sudah tidak perawan lagi.” Kalimat itu menghantam Flora lebih keras dari tamparan mana pun. “Vincent!” sentaknya lirih namun penuh luka. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh. “Aku tidak seburuk itu. Aku tidak serendah yang kamu tuduhkan.” Suaranya bergetar hebat. “Aku menjaga diriku. Aku melindungi kehormatanku. Aku mempertahankannya hanya untuk suamiku untuk pria yang aku cintai.” Namun Vincent justru tertawa kecil, tanpa kehangatan sedikit pun. “Omong kosong,” katanya dingin. “Kamu cantik, Flora. Model internasional. Kamu sering bepergian ke luar negeri tanpa didampingi orang tuamu. Siapa yang tahu apa saja yang kamu lakukan di luar sana?” Ia melangkah mendekat, jaraknya begitu dekat hingga Flora bisa merasakan napasnya. Telunjuk Vincent menyentuh kening Flora dengan kasar. “Sudah, jangan berpura-pura suci di hadapanku.” Flora gemetar, bukan karena takut, tetapi karena hatinya terasa terkoyak. “Aku bukan pria bodoh yang mudah kamu tipu,” lanjut Vincent dengan nada penuh penghinaan, sebelum berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Flora sendirian di kamar itu bersama luka, tuduhan, dan kepahitan yang perlahan membunuh hatinya. Flora berdiri di sana untuk waktu yang lama. Air matanya jatuh tanpa suara. Di dalam dadanya, sesuatu runtuh perlahan bukan hanya harapan, tetapi juga cinta yang selama ini ia pertahankan mati-matian. Vincent sedang berada di ruang kerjanya. Namun entah mengapa, siang itu pikirannya terasa kacau. Berkas-berkas di atas meja tak lagi menarik perhatiannya. Angka-angka di layar laptop seolah berbaur tanpa makna. “Argh! Kenapa aku terus memikirkan Flora?” geram Vincent sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Tangannya bergerak membuka beberapa dokumen, tetapi sia-sia. Wajah sedih Flora kembali muncul di benaknya tatapan mata yang selalu menunduk, senyum yang dipaksakan, dan suara lembut yang kerap ia abaikan. Bahkan namanya terus menggema di kepalanya, berulang-ulang, seolah menuntut untuk diperhatikan. “Ada apa denganku?” gumam Vincent pelan. Tangannya memukul pelipisnya sendiri, frustrasi. “Mengapa aku terus memikirkannya?” Ia menggeleng keras, berusaha menepis perasaan yang mulai terasa asing. “Tidak. Aku tidak mungkin mulai menaruh hati padanya,” katanya tegas pada diri sendiri. “Aku hanya butuh wanita terhormat, bukan w************n seperti dia.” Ucapan itu terdengar meyakinkan, tetapi entah mengapa dadanya justru terasa semakin sesak. Belum sempat pikirannya menemukan ketenangan, pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk. “Beb … aku melihat berlian yang sangat mewah,” suara manja itu menggema. “Aku rasa berlian itu akan sangat cocok kalau aku yang memakainya.” Jessica Glory melangkah masuk dengan senyum menggoda senyum yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati Vincent. Vincent menghela napas panjang. Anehnya, kali ini suara manja Jessica justru terasa mengganggu. “Beb, kenapa kamu diam saja?” tanya Jessica sambil mendekat. “Biasanya kamu selalu menyambut aku. Ada apa denganmu?” Tanpa menunggu jawaban, Jessica langsung duduk di atas pangkuan Vincent. Tangannya melingkar di leher pria itu, tubuhnya menempel manja, berharap mendapatkan perhatian yang biasa ia terima. “Tolong, untuk saat ini jangan menggangguku,” ucap Vincent dingin. “Aku sedang banyak masalah.” Jessica terdiam sejenak. Mungkin siapa pun akan mengira masalah yang dimaksud Vincent adalah urusan perusahaan. Namun tanpa disadari Vincent sendiri, sumber kekacauan di pikirannya bukanlah bisnis melainkan Flora, istri yang selama ini ia perlakukan tak lebih dari pajangan di rumahnya sendiri. Jessica memandang Vincent dengan kesal. Ia mengerucutkan bibir, memasang wajah cemberut senjata yang biasanya selalu ampuh. Namun kali ini, Vincent bahkan tak meliriknya. “Beb …!” panggil Jessica lagi, manja bercampur jengkel. Tanpa berkata apa-apa, Vincent meraih ponselnya. Jarinya mengetik cepat, wajahnya datar. Beberapa detik kemudian ... ting! Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Jessica. Ia segera membukanya. Mata Jessica membelalak saat melihat nominal uang yang baru saja ditransfer. Seketika, wajah kesalnya berubah menjadi senyum lebar penuh kepuasan. “Wah, terima kasih, sayang,” ucapnya ceria. “Aku benar-benar mencintaimu.” Ia mengecup pipi Vincent singkat sebelum berdiri. “Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamat bekerja, sayang.” Jessica pun pergi, meninggalkan Vincent yang kembali memijat kepalanya dengan lelah. Vincent menatap kosong ke arah pintu yang telah tertutup. Dadanya terasa semakin berat. “Apa dugaanku selama ini benar?” batinnya getir. “Apakah dia mendekatiku hanya karena uang, bukan karena mencintaiku?” Pikiran Vincent kembali melayang kali ini pada sosok yang tak pernah menuntut apa pun darinya. “Flora mencintaiku dengan tulus,” gumamnya lirih. “Namun … apakah kabar buruk tentangnya yang selama ini kudengar benar adanya?” Pertanyaan itu menggantung di kepalanya, tak menemukan jawaban. Dan untuk pertama kalinya, Vincent merasa ragu pada keyakinan yang selama ini ia pegang teguh. **"'"""** Albert berdiri di ruang tamu sambil mengulurkan sekotak cokelat ke arah Flora. Seperti biasa, benda kecil itu seolah menjadi pengantar kehadirannya—sederhana, tetapi selalu berhasil menghangatkan suasana hati Flora. “Kau selalu saja membawakanku cokelat,” ujar Flora sambil menerima kotak itu. Senyum tipis terukir di wajahnya. “Aku bisa gendut kalau terus memakannya.” Albert terkekeh pelan. “Itu artinya kau lebih bahagia bersamaku dibandingkan Kakakku.” Ucapan itu meluncur begitu saja, ringan, seolah tanpa makna. Namun bagi Flora, kata-kata itu justru menghantam sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Flora membeku. Ia menoleh perlahan ke arah Albert. Pandangan mereka bertaut—terlalu lama untuk sekadar candaan, terlalu dalam untuk diabaikan. Untuk sesaat, ruang tamu itu terasa sunyi, seakan waktu berhenti berputar. Jantung Flora berdetak lebih cepat, bukan karena kata-kata Albert, melainkan karena perasaan asing yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. “Ahaha … lupakan saja,” ujar Albert cepat-cepat, menyadari perubahan suasana. Ia menggaruk tengkuknya canggung. “Aku hanya bercanda.” Flora tersentak. Ia memalingkan wajahnya, berusaha menenangkan diri. “Iya,” jawabnya sambil tersenyum, memaksakan ketenangan. “Kau memang selalu bercanda.” Namun jauh di dalam hati, Flora tahu ada sesuatu yang berbeda barusan. Sesuatu yang tak seharusnya ada. Albert duduk di sofa, menatap Flora dengan sorot mata yang lebih lembut dari biasanya. “Ngomong-ngomong, kenapa kau memanggilku kemari malam ini?” tanyanya. “Atau aku hanya datang seperti biasa … untuk menghiburmu dan menghilangkan kesedihanmu?” Flora menggenggam kotak cokelat itu erat-erat. Napasnya terasa berat. Ia menunduk, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa. Keputusan ini telah berhari-hari menggerogoti pikirannya, menguras tenaganya, dan malam ini … ia tak bisa lagi menundanya. Ia mengembuskan napas panjang. “Aku …” suaranya tertahan. “Aku ingin bercerai.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
17.7K
bc

TERNODA

read
200.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.9K
bc

Kali kedua

read
218.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
77.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook