“Aku ingin bercerai.”
Kalimat itu meluncur pelan, tetapi terasa begitu berat. Seolah seluruh luka, air mata, dan kekecewaan selama satu tahun terakhir tumpah bersama kata-kata itu.
Albert terdiam. Senyum di wajahnya lenyap seketika. Ia menatap Flora, mencoba memastikan bahwa apa yang baru saja ia dengar bukanlah kesalahpahaman.
Flora mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tetapi sorotnya tegas.
“Aku sudah terlalu lelah, Albert,” lanjutnya lirih. “Aku sudah tidak sanggup lagi bertahan.”
“Kau yakin, Flora?”
Albert menatap kakak iparnya dengan sorot mata penuh kehati-hatian. Flora mengangguk pelan, meski air mata terus meluncur di pipinya tanpa bisa ia tahan.
“Iya …” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
“Tapi bukankah kau sangat mencintai Kakakku?” lanjut Albert hati-hati, seolah takut pertanyaannya justru akan melukai Flora lebih dalam.
Flora mengusap pipinya, berusaha menghentikan air mata yang terus jatuh, meski dadanya terasa sesak.
“Aku memang sangat mencintainya,” ucapnya jujur. “Bahkan sampai sekarang.” Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan suara bergetar, “Tapi Vincent sama sekali tidak pernah merasakan ketulusanku.”
Flora menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat di pangkuannya.
“Dia jijik padaku, Albert. Selalu menganggapku wanita murahan.” Suaranya pecah. “Aku tidak tahu dari mana dia mendengar tuduhan itu. Aku tidak pernah melakukan hal yang ia tuduhkan. Tapi setiap kata itu … terlalu menyakitkan untukku.”
Albert terdiam. Ruangan seolah ikut membeku bersama keheningan yang tercipta. Hanya suara napas Flora yang tersengal pelan.
“Apa kau sudah menyampaikan semua ini padanya?” tanya Albert akhirnya.
Flora menggeleng perlahan.
“Belum.” Ia mengangkat wajahnya, matanya sembab. “Rencananya malam ini, jika dia pulang, aku akan mengatakannya. Aku akan mengabulkan keinginannya selama ini.”
Albert menatap Flora cukup lama, seolah ingin memastikan keputusan itu benar-benar datang dari hatinya, bukan hanya dari luka yang terlalu dalam.
Ia kemudian mengangguk pelan.
“Jika dia setuju,” katanya tenang, “proses perceraian kalian tidak akan berlangsung lama.”
Flora tersenyum tipis senyum yang lebih mirip kepasrahan daripada kebahagiaan.
Bukan karena ia berhenti mencintai Vincent, tetapi karena hatinya telah terlalu lelah untuk terus berharap.
**"""**"""**
Malam semakin larut ketika Vincent akhirnya tiba di rumah, tepat pukul dua belas malam.
Begitu membuka pintu rumah mewah itu, langkahnya tertahan. Ada sesuatu yang terasa janggal. Biasanya, Flora selalu menunggunya entah duduk di sofa ruang tamu atau tertidur dengan tubuh meringkuk karena kelelahan. Meski kehadirannya hampir selalu ia abaikan, malam ini rumah itu terasa terlalu sunyi. Kosong. Hening. Dan entah mengapa, sunyi itu terasa pahit.
“Huh …”
Vincent mengembuskan napas panjang.
“Mungkin dia sudah tidur,” gumamnya pelan, seolah mencoba menenangkan diri sendiri.
Ia melangkah menaiki anak tangga. Setiap pijakan terasa berat, seakan ada beban tak kasatmata yang menekan dadanya. Pandangannya terus tertuju pada pintu kamar mereka tertutup rapat, tanpa cahaya yang menyelinap keluar.
Vincent membuka pintu kamar dengan hati-hati.
Langkahnya terhenti. Tubuhnya mematung.
Flora tertidur pulas di atas sofa kecil di sudut kamar, tubuhnya terbungkus selimut tipis. Vincent mengernyit pelan.
“Kenapa dia tidur di situ?” batinnya.
Biasanya, Flora selalu tidur di atas ranjang. Bahkan ketika Vincent dengan dingin memintanya tidur di kamar lain atau di sofa, Flora tetap memaksa untuk berada di sisinya. Namun malam ini … semuanya berbeda.
Vincent melangkah masuk, kali ini dengan langkah yang jauh lebih lembut. Ia mendekat, menatap wajah istrinya dari jarak dekat. Dadanya terasa mengencang ketika ia melihat jejak air mata yang masih membekas di pipi Flora.
“Dia menangis …”
Hatinya berdesir.
“Apa aku sudah sejauh ini menyakitinya?”
Tanpa sadar, tangan Vincent terangkat, menyibakkan helai rambut yang menutupi sebagian wajah Flora. Sentuhan itu terlalu nyata dan cukup untuk mengusik tidurnya.
Flora menggeliat pelan, merapatkan selimut ke tubuhnya yang tampak kedinginan. Gerakan kecil itu entah mengapa menusuk perasaan Vincent. Ada sesuatu yang asing, sesuatu yang lembut, yang perlahan menyentuh sisi hatinya yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Ia melepaskan jasnya, meletakkan tas, ponsel, dan jam tangannya di atas meja. Sesaat, Vincent benar-benar berniat mengangkat tubuh Flora dan membaringkannya di atas ranjang.
Namun langkahnya terhenti.
“Kenapa aku harus peduli?” batinnya keras.
“Bukankah ini yang kuinginkan selama ini?”
Ia kembali berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapannya masih tertambat pada wajah Flora yang tertidur, rapuh, tanpa pertahanan.
“Mungkin dia hanya bersandiwara,” pikirnya lagi, berusaha membangun tembok di hatinya.
“Ingin menarik perhatianku. Ingin membuatku terlihat bersalah.”
Namun, untuk pertama kalinya, keyakinan itu tak sepenuhnya meyakinkannya sendiri.
Setelah membersihkan diri, Vincent melangkah ke arah tempat tidur. Ia duduk bersandar pada sandaran ranjang, menarik selimut hingga menutupi setengah tubuhnya. Namun matanya tak bisa lepas dari sosok Flora yang tertidur pulas di atas sofa.
Kenapa dia bisa setenang itu? batinnya.
Apa dia benar-benar tidur?
Ada harapan kecil yang bahkan enggan ia akui agar Flora terbangun, merajuk, lalu meminta tidur bersamanya seperti malam-malam sebelumnya. Namun setengah jam berlalu. Yang terdengar hanya dengkuran halus dari bibir Flora, teratur dan tenang.
Vincent menggeleng pelan, seolah menertawakan dirinya sendiri.
"Untuk apa aku memikirkannya?"
"Seharusnya aku merasa nyaman. Wanita itu tidur di sofa dan tidak menggangguku seperti biasanya."
Ia berbaring, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, memejamkan mata dengan perasaan yang entah mengapa terasa ganjil.
Pagi hari.
Vincent terbangun dan refleks menoleh ke arah sofa. Kosong. Flora sudah tidak ada di sana.
Entah mengapa, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Namun ia segera menepis perasaan itu. Tanpa banyak berpikir, ia bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, Vincent keluar dan mendapati Flora sudah duduk di depan meja rias. Punggungnya tegak, rambutnya tergerai rapi. Tak ada amarah, tak ada rengekan, tak ada tatapan memohon.
Sunyi.
Biasanya, pagi seperti ini akan diwarnai suara manja Flora entah mengeluh, entah merajuk. Namun kini, tak ada apa pun. Hanya keheningan yang terasa dingin.
Tak ingin memusingkan suasana itu, Vincent meraih setelan jas yang telah disiapkan Flora. Ia mengenakannya satu per satu, lalu menoleh. Flora masih diam di tempatnya, seolah kehadirannya tak lagi berarti.
Vincent mendengus pelan.
“Kau bersikap dingin agar aku memperhatikanmu?” ujarnya sinis.
Flora akhirnya bergerak. Ia menoleh perlahan, menatap Vincent tanpa emosi yang biasa terpancar dari matanya.
“Katakan saja apa yang kau inginkan,” lanjut Vincent dengan nada menekan.
“Tapi satu hal yang harus kau ingat selamanya aku tidak akan pernah mencintaimu.”
Flora tetap diam. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki.
Kemudian, dengan suara yang tenang namun tegas, ia berkata,
“Mari bercerai.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, sederhana, tanpa tangis, tanpa gemetar.
Tubuh Vincent membeku. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Untuk pertama kalinya, kata-kata yang selama ini ia lontarkan dengan mudah justru terasa seperti pisau yang berbalik menusuk dirinya sendiri.