Edrea bisa merasakan lagi gerakan otot-ototnya di bawahnya. “Oz, jangan gerakkan tubuhmu!”
“Itu bagian yang paling mengganggumu?”
"Itu ... bagian dari masalah." Edrea merasa wajahnya memanas. "Kita harus tahu batas-batas."
"Batas-batas," ulang Oz, seperti mencicipi kata itu. "Kau sangat suka batas, ya? Membagi lemari, membagi waktu, membagi ranjang."
"Batas memberikan keteraturan. Keteraturan memberikan ketenangan dalam kehidupan kita ke depan."
"Dan apakah kau sudah merasa tenang sekarang?" tanya Oz dengan lembut yang dibuat-buat.
Tidak, pikir Edrea. Dia merasa seperti jantungnya akan meledak, tubuh mereka saling bersentuhan, jarak antara wajah mereka semakin dekat.
"Tidak," dia mengakui dengan suara berbisik.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Marah. Karena kau melanggar peraturan."
"Dan?"
"Dan ... kesal."
"Kesal karena aku membuatmu berdebar?” kata Oz dengan wajah tengilnya.
“Oz, please, aku tak suka situasi seperti ini. Aku hanya ingin hidup tenang. Bekerja samalah,” mohon Edrea.
Oz tak menjawab apa pun. Namun kemudian, dia melepaskan tangannya dai punggung Edrea.
Edrea segera beranjak dan kemudian mengambil bantal lalu memukuli wajah pria itu. “Ini pembalasanku!” geramnya.
Bantal itu mendarat tepat di sisi kepala Oz, mengenai telinga dan bahunya.
"Hei!" Oz membalik dengan cepat, wajahnya masih santai meskipun sedikit terkejut.
"Jangan macam-macam denganku, Oz! Aku serius!" teriak Edrea, masih menggenggam bantal itu erat dan memukulkannya bertubi-tubi.
Oz justru tertawa. "Jadi lebih suka bermain seperti ini?"
Edrea mengayunkan bantal itu lagi, dan masih bertujuan ke wajahnya yang menyebalkan itu.
Namun, Oz lebih cepat. Tangannya yang besar menangkap pergelangan tangan Edrea tepat sebelum bantal itu mengenainya lagi.
Cengkeramannya kuat, tapi tidak kasar. Hanya untuk menghentikan gerakannya.
Dengan tangan satunya, Edrea mencoba menyerang dengan bantal yang lain, namun Oz dengan mudah menghindar dengan menarik tubuhnya ke samping.
Gerakan itu justru menyebabkan keseimbangan mereka goyah. Oz, yang masih menggenggam pergelangan tangan Edrea, terjatuh ke kasur, dan Edrea kembali terseret bersamanya.
Dalam sekejap, mereka terlibat dalam sebuah pergulatan aneh di atas ranjang yang hangat itu. Bukan pergulatan bercinta, bukan pula perkelahian penuh kebencian, tapi sebuah perebutan wilayah, sebuah pertarungan untuk membuat batas.
Edrea mendorong, Oz membalikkan posisi. Bantal menjadi senjata utama Edrea, menepuk-nepuk bagian mana pun dari Oz yang bisa dijangkau, punggung, lengan, sekali lagi ke sisi kepala.
Oz kebanyakan bertahan, tangannya berusaha melumpuhkan serangan bantal itu, terkadang menahan pinggang Edrea dengan mudah untuk mencegahnya bergerak.
Napas mereka tersengal-sengal, wajah memerah namun saling menahan tawa karena mereka sebenernya menyadari bahwa mereka cukup kekanakan dan membutuhkan hal seperti ini agar hidup mereka tak membosankan lagi.
"Sudah cukup, Rea!" desis Oz di telinganya saat dia berhasil membalikkan posisi mereka, menahan kedua pergelangan tangan Edrea di atas kepalanya.
Edrea berada di bawahnya. Matanya membelalak, melihat wajah Oz yang hanya berjarak beberapa inci darinya.
Di sinilah biasanya, dalam film-film, sesuatu akan berubah. Tapi dalam hati Edrea, hanya ada keinginan untuk menendang Oz.
Oz menatapnya, matanya mengamati setiap detail ekspresi di wajah Edrea. “Sudah puas mainnya?” tanya Oz.
Ketika Edrea akan menjawab, ada suara dering ponsel yang terdengar dari arah meja nakas.
Itu adalah ponsel Oz. Suara itu seperti momen pemutus permainan perebutan batas ranjang mereka.
Mata Oz langsung berubah, fokusnya berpindah sepenuhnya dari Edrea ke ponselnya. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Edrea melunak, lalu terlepas.
Dia langsung beranjak, meninggalkan Edrea yang masih tercengang di atas kasur. Tangan Oz meraih ponsel yang masih bergetar itu, matanya menyipit membaca nama di layar.
Wajahnya tiba-tiba menjadi serius dan fokus, tak seperti yang Edrea lihat sebelumnya.
Dia bahkan tidak menoleh lagi. Dengan ponsel menempel di telinga, dia bergegas keluar dari kamar, meninggalkan pintu terbuka sedikit. "Ya, aku di sini," suaranya yang rendah dan berwibawa, bahkan terdengar begitu profesional, terdengar samar-samar sebelum akhirnya menghilang.
Edrea masih berbarinh tak bergerak, napasnya masih tak beraturan. “Dia bisa serius juga,” gumamnya berbisik.
Akhirnya Edrea merasa lega. Rasanya seperti baru saja lolos dari bahaya. Pergulatan itu berakhir bukan dengan kemenangan atau kekalahan.
Edrea perlahan bangkit, merasakan denyut-denyut kecil di pergelangan tangannya. Dia merapikan kekacauan yang mereka buat.
Bantal-bantal yang menjadi senjata dikembalikan ke posisi semula, seprai yang berantakan segera diperbaiki. Kerjanya cepat dan rapi, seperti biasa.
Lalu, dia melihat selimut tambahan yang terlipat rapi di lemari. Dia mengambil selimut itu, selimut tebal dan panjang dan membentangkannya di tengah-tengah ranjang, tepat di garis pemisah antara sisi miliknya dan sisi milik Oz.
Dia meluruskannya dengan hati-hati, menciptakan sebuah pembatas yang jelas.
Pembatas itu terlihat konyol, seperti sesuatu yang dilakukan anak kecil yang bertengkar dengan saudaranya.
Tapi bagi Edrea, itu sangat penting. Itu adalah pengingat bagi Oz, dan lebih penting lagi, bagi dirinya sendiri, bahwa ada garis yang tidak boleh dilewati.
Setelah itu, Edrea akhirnya berbaring. Dia mematikan lampu di sisinya, menyelimuti tubuhnya dengan erat, dan memejamkan mata.
Suara penghangat yang sebelumnya mengganggu kini terasa seperti suara yang meneduhkan.
Dia kemudian berpikir tentang panggilan telepon itu. Siapa yang menelepon Oz di jam seperti ini?
Rekan kerja? Kekasih? Keluarga? Entahlah. Yang dia tahu, panggilan itu datang tepat pada waktunya, menyelamatkannya dari sebuah situasi yang terasa semakin tidak terkendali.
Oz mungkin akan kembali nanti. Tapi setidaknya, Edrea sudah mendapatkan kendali atas wilayahnya.
Edrea pun terlelap. Tidurnya nyenyak. Dan dia berharap Oz tak mengacaukan tidurnya. Dia hanya ingin tidur nyenyak malam ini.
*
*
Keesokan paginya, mata Edrea terbuka perlahan. Dia meregangkan tubuhnya, merasakan otot-ototnya yang agak kaku, bekas pergulatan absurd semalam. Lalu, kesadarannya kembali muncul.
Sisi seberang ranjang kosong. Seprai di sisi Oz tak berkerut sama sekali. Bantalnya masih di posisi yang sama.
Edrea mengulurkan tangan, menyentuh area di sebelah batas selimutnya. Kain itu terasa dinbin, tak berbekas kehangatan tubuh. Oz jelas tidak tidur di sini semalaman.
Sebuah desahan lega yang panjang keluar dari bibirnya. Dia benar-benar sendirian semalam. Malam pertama yang dia takutkan telah berlalu, dan dia berhasil melewatinya tanpa insiden lebih lanjut dengan pria tengil itu.
Tapi di balik kelegaan itu, dia juga merasakan penasaran. “Ke mana dia pergi? Menelepon sepanjang malam? Atau …”
Edrea mengusir pikiran itu. Bukan urusannya. Yang penting, dia bisa tidur nyenyak malam tadi dan kini tubuhnya begitu segar.
*
*
Edrea kemudian mandi. Saat keluar dari kamar mandi, matanya mengedar di seluruh ruangan. Masih kosong. Tak ada tanda-tanda Oz di sana.
“Bukan urusanku,” gumamnya. “Baguslah jika dia tak ada.”
Edrea mengedikkan bahunya, berusaha menunjukkan ketidakpedulian.
*
*
Hari, itu diisi kegiatan bersih-bersih rumah agar lebih nyaman ditempati. Edrea sedikit mengomel karena Oz tak membantunya sama sekali.
Bahkan pria itu tak muncul sama sekali sampai keesokan harinya. Di malam kedua, Edrea memandangi langit-langit kamar.
“Apakah dia buronan? Dan kemarin itu telepon dari seseorang yang memperingatkannya untuk lari?” Lalu Edrea menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak mungkin. Salah satu anak Nenek Alma seorang polisi, jadi tak mungkin mengizinkan Oz jika pria itu berbahaya atau seorang penjahat.”
“Aaaah … sudahlah. Baguslah kalau dia pergi. Jadi, aku bisa tinggal sendirian di sini,” gumamnya lagi. Lalu Edrea membalik tubuhnya dan melihat ke arah jendela.
Dia melihat ransel Oz masih di sana beserta barang-barangnya. “Tak mungkin dia tak kembali. Semua barangnya masih di sini. Tapi … semoga dia masih lama kembalinya agar tak membuat rumah ini kacau lagi. Dan tak membuat dadaku berdebar terus.”
Kemudian Edrea memejamkan matanya. “Besok aku harus bangun pagi dan berangkat lebih awal di hari pertama kerjaku di kantor pusat,” gumamnya dengan mata sudah terpejam.
*
*