Hari ketiga. Hari dimana dia akan kembali bekerja, tapi kali ini di kantor pusat. Dan hari ini harus benar-benar dimulai dengan sempurna.
Edrea terbangun lebih awal, alarm ponselnya bahkan belum berbunyi. Semangat hari pertama kerja sudah mengalir sejak semalam. Ini hari penting. Dia harus sempurna.
Edrea membuka mata, masih dalam kondisi setengah mengantuk, dan berbalik perlahan untuk mematikan alarm yang akan segera berbunyi.
Lalu, dia merasakan sesuatu yang janggal pada tubuhnya. Dan di sanalah dia. Bukan di sisi ranjang yang kosong. Tapi tepat di sebelahnya.
Oz.
Tidur nyenyak, wajahnya terlihat polos, lelah, dan, Edrea enggan mengakuinya, sangat tampan. Rambutnya yang gelap berantakan di atas bantal.
Tapi itu bukan yang membuat Edrea membeku, darahnya seolah berhenti mengalir.
Batas selimut yang dia bentangkan di tengah ranjang itu hilang. Jatuh entah ke mana. Dan satu lengan Oz, lengan yang kuat dan berotot itu, memeluk pinggangnya dengan santai.
Telapak tangannya yang besar terbuka ada di perut Edrea, hampir berada di perut bagian bawahnya.
Pelukan itu memang menghangatkan. Kehangatannya terasa akrab. Kepala Oz bahkan tak terlalu jauh, seolah dalam tidurnya, tubuhnya mencari kehangatan terdekat, yaitu dirinya.
Edrea tersentak dan kaget tentu saja. Dia bukan orang yang mudah berteriak, tetapi sebuah suara tercekik keluar dari tenggorokannya.
“O—Oooozz?!”
Kedua tangannya langsung menempel di d**a Oz dan mendorongnya kuat.
Oz terbangun dan terlempar ke belakang oleh dorongan itu. Matanya kemudian terbuka, bingung, masih mengantuk.
Dia melihat ke sekeliling dengan pandangan tak fokus sebelum akhirnya tertuju pada Edrea, yang kini sudah duduk tegak di kasur, wajahnya kesal dan bingung.
“Hei … Apa yang—” Oz mengerutkan kening, suaranya serak dan berat karena baru bangun.
Dia mengusap wajahnya dengan tangan.
“Kau melewati batas yang sudah kubuat! Dan kau … kau memelukku saat tidur? Berani-beraninya kau!!”
Tapi sebelum Oz menjawab, mata Edrea menoleh pada jam digital di meja samping. Pukul 06.28.
Pertemuan pentingnya dengan salah satu direktur di perusahaan dimulai pukul 08:00 tepat. Perjalanan ke kantor membutuhkan waktu minimal 45 menit dengan lalu lintas pagi.
Edrea harus mandi, berdandan dengan sangat sempurna.
‘Tidak. Tidak sekarang. Nanti saja berdebatnya,’ batinnya.
Kekesalan itu akhirnya ditahan sementara. Ini adalah hari pertamanya yang sesungguhnya. Dia tidak bisa membiarkan Oz, pria yang sama sekali tak punya batas ini, merusaknya.
“Kau …” Edrea akhirnya bersuara. “Kau tidak punya rasa hormat sama sekali, ya? Kita akan bicarakan ini nanti!”
Oz hanya menatapnya, ekspresi bingungnya perlahan menghilang dan kepalanya kembali direbahkan ke bantal.
Dia menarik selimut ke arahnya. “Kau mengganggu tidurku saja,” gumamnya berbisik dan memejamkan matanya lagi.
Tak ada permintaan maaf. Dan itu membuat Edrea semakin geram. Dia membuatnya merasa seperti gangguan, seperti benda yang tidak sengaja dia peluk dalam tidurnya.
“Kau melebihi batasmu, Oz,” kata Edrea, berusaha keras menahan kemarahannya.
Oz hanya mengangkat bahu dengan cuek, hampir tak peduli. Lalu, tanpa kata-kata lagi, dia membalikkan tubuhnya, membelakangi Edrea, dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
Dalam hitungan detik, napasnya kembali teratur, seolah dia bisa tertidur kembali dengan mudah di tengah ketegangan ini.
Edrea duduk di sana, dan kemarahannya tak tersalurkan. Pria itu bisa muncul dan menghilang sesuka hati, melanggar wilayahnya, lalu tidur lagi dengan tenang seolah tidak ada masalah.
Dengan gerakan gemas, Edrea melompat turun dari ranjang, hampir tersandung selimut yang berantakan.
Dia bergegas ke kamar mandi, mengunci pintunya dengan keras. Di bawah guyuran air hangat yang deras, dia berusaha menenangkan dirinya.
Dia harus memikirkan hari besarnya. Pagi yang seharusnya sempurna, ternoda oleh kehadiran dan sikap Oz yang tidak bisa ditebak.
*
*
Edrea bersiap dengan cepat. Setelan jas hari ini adalah warna abu-abu mutiara, dengan potongan yang sempurna karena setelan itu masih baru.
Saat dia keluar, sudah wangi dan rapi, Oz masih dalam posisi yang sama, tidur nyenyak. “Awas kau nanti!” geramnya lagi.
Edrea berdiri di depan pintu, menatap sosok di balik selimut itu. Ingin rasanya melemparkan sesuatu, atau meneriakkan semua kekesalannya.
Tapi dia tidak melakukannya. Dia menarik napas dalam-dalam, mengangkat dagunya.
Hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Hari Edrea, si profesional yang baru dipromosikan. Oz hanyalah sebuah gangguan sementara.
Dan dia tidak akan membiarkan pengacau itu mengacaukan hari besarnya. Lalu, Edrea membuka pintu dan melangkah keluar.
Dia meninggalkan kamar yang ranjangnya berantakan, dan pria yang cuek di dalamnya.
Pintu tertutup dengan sedikit keras. Di dalam, Oz membuka satu matanya, mendengar bunyi itu. Dia tidak bergerak, tapi ekspresi wajahnya lelah dan berkerut sejenak, sebelum akhirnya kembali tenggelam dalam tidurnya.
*
*
Pintu kaca geser otomatis di lobi utama Verious Corp membuka dengan suara halus, dan Edrea melangkah masuk ke dalamnya.
Sebuah lobi dengan langit-langit setinggi langit, dinding-dinding kaca besar membuat dirinya begitu kecil dan rapuh.
Samar-samar, dia mendengar ketikan keyboard yang terburu-buru, bunyi ting elevator, dan langkah-langkah cepat sepatu hak yang berdetak di gedung megah itu.
Tak ada tawa atau pun obrolan ringan antar pegawai. Hanya bisikan sesekali dan pandangan-pandangan yang melihatnya dengan cepat, menilai, sebelum kembali ke layar laptop atau komputer masing-masing.
Di kantor cabang, meski penuh tekanan, suasananya masih familiar. Ada obrolan pagi dengan di pantry, gurauan receh dengan Linda, bahkan tegur sapa ramah dari security.
Di sini, Edrea masuk seperti orang asing yang masuk ke dalam sebuah mesin yang berjalan dengan cepat, dan tak seorang pun yang punya waktu atau keinginan untuk bersantai atau berbasa basi.
Donna, asisten HRD yang akan membawanya berkeliling, sudah menunggu di lobi dengan senyum profesional. "Selamat pagi, Edrea. Hari ini kau akan mulai bergabung dengan tim di lantai 42. Langsung saja kita ke atas.”
“Ya, baik.” Edrea tersenyum tipis dan mengikuti langkah Donna menuju lift.
Suasana di lift yang penuh sesak adalah pelajaran pertama baginya. Orang-orang berdiri menghadap pintu, menatap angka yang bertambah, menghindari kontak mata.
Seorang wanita dengan setelan merah menyala sedang berbicara cepat dalam bahasa Mandarin melalui headset-nya.
Pria di sebelah Edrea mengusap-usap pelipisnya, matanya berkantung dan terlihat tegang, mungkin pekerjaannya sangat menguras pikiran.
TING
Pintu lift akhirnya terbuka di lantai 42. Situasinya begitu … tegang, di mata Edrea. Di dalamnya, kepala kepala tertunduk, wajah menatap fokus ke arah monitor.
Beberapa orang sedang presentasi cepat di ruang meeting kaca kecil, gerak tangan mereka tajam dan cepat.
Tak ada yang terlihat ramah. Mereka terlihat efisien, tajam, dan ambisius.
"Tim Strategic Development dipimpin oleh Tuan Andrew," kata Donna sambil berjalan cepat, hak sepatunya nyaris tak bersuara di karpet abu-abu tebal.
"Dia mengharapkan mau langsung mengikuti jadwal tim. Projek pertama sudah menunggu."
“Tunggu, bukankah aku bukan di bagian itu? Aku seharusnya di bagian—“
“Kau lebih dibutuhkan di tim strategi. Kau tak keberatan, kan?” potong Donna.
Edrea hanya bisa mengangguk, sedikit ragu. Dia tak bisa menolak apa pun yang terjadi. Dia berharap bisa melakukan tugasnya dengan sempurna.
*
*
Andrew Black ternyata adalah pria berusia sekitar 50 tahun dengan rambut perak yang disisir rapi dan kacamata berlensa tipis, hampir mirip dengan Tuan Greg.
Dia tidak tersenyum saat Edrea masuk ke ruang kerjanya. Hanya mengangguk singkat, matanya mengamati Edrea dari ujung kepala sampai kaki.
"Edrea. Dari cabang Indiana. Laporan track record-nya bagus," ujarnya, suaranya datar seperti membacakan laporan. "Di sini, bagus itu standar. Luar biasa itu baru diperhitungkan. Kau ambil alih proyek dari Angela. Dia pindah divisi kemarin."
Kemarin. Itu artinya proyek dioper begitu saja, tanpa ada pemberitahuan pada Edrea sebelumnya. Andrew memberikan sebuah tablet ke arahnya. "Semua data ada di sini. Deadline presentasi ke direksi adalah hari Jumat depan. Tim mu cukup baik, tapi butuh arahan yang jelas dan ketat. Pertanyaan?"
Edrea, yang masih berusaha mencerna semuanya, hanya bisa menggeleng. "Tidak, Tuan. Saya akan segera mempelajarinya."
"Bagus. Meeting tim jam 11 di ruang 3. Aku mau update." Andrew sudah menunduk kembali ke layar komputernya, percakapan dianggap selesai.
*
*
Hari itu berubah menjadi tugas yang melelahkan. Mempelajari proyek baru yang kompleks, dan Edrea harus bersosialisasi dan berurusan dengan tim-nya yang baru.
Dua analis, Helen dan Lucius, adalah produk sempurna dari Verious Corp. Cerdas, cepat, tapi juga sangat individualis dan minusnya terlalu cemas.
Saat meeting pertama, mereka memaparkan data dengan cepat, menggunakan penjelasan yang membuat kepala Edrea lumayan pusing.
*
*
Makan siang adalah pengalaman yang lebih menyendiri lagi. Kantin di lantai 40 luas dan menyajikan makanan sehat yang lezat, namun suasananya seperti perpustakaan.
Orang-orang duduk sendiri atau berdua, menyantap makanan sambil menatap laptop atau ponsel.
Percakapan yang terdengar hanyalah tentang pekerjaan, data-data, dan proyek. Edrea duduk di meja kecil di dekat jendela, memandang gedung-gedung pencakar langit lainnya, dan tiba-tiba merasa sangat kesepian.
Di kantor cabang, makan siang adalah saat melepas lelah dan berbagi cerita. Di sini, itu hanyalah ajang untuk mengisi bahan bakar tubuh saja.
Sore hari, kelelahan mulai menghantamnya. Bukan hanya fisik, tapi mental. Tekanan untuk langsung menghasilkan pekerjaan yang sempurna, suasana kompetitif, dan isolasi sosial membuatnya lelah.
Puncaknya terjadi di ujung hari. Edrea, yang masih berusaha memahami sebuah data yang rumit, mendatangi seorang rekan kerjanya di sebelah mejanya, seorang wanita bernama May.
"Permisi, May. Boleh bertanya? Aku agak bingung dengan data di dokumen Angela."
May mengangkat pandangan dari layarnya. Senyumnya tipis, hampir tak ada. Matanya cepat-cepat melihat sekeliling sebelum menatap Edrea. "Oh, itu. Coba lihat di folder Angela's Notes. Semua harusnya ada di sana."
Lalu, sebelum Edrea sempat berkata lain, dia sudah kembali menatap layarnya, tubuhnya berbalik sedikit, memberikan sinyal yang jelas, ‘jangan ganggu lagi’.
Bukan kata-katanya yang menyakitkan. Tapi sikapnya. Ketidakpedulian. Di kantor cabang, pertanyaan seperti itu bisa memicu diskusi panjang sambil minum kopi.
Di sini, itu dianggap sebagai gangguan yang menguras waktu berharga. Edrea kembali ke mejanya, rasa frustasi mulai membuncah.
Dia memandangi pantulan dirinya yang samar-samar di kaca jendela. Wajahnya terlihat lelah, dan sedikit kekhawatiran.
‘Apa aku bisa bertahan di sini?’
Pikirannya melayang ke Oz, yang entah mengapa muncul di kepalanya. Pria itu menjengkelkan, tidak tahu batas, tapi setidakny- dia memberikan reaksi.
Amarah, ketegangan, bahkan pergulatan di atas ranjang, itu semua adalah interaksi manusia yang nyata dan hidup. Berbanding terbalik dengan dinginnya robot-robot ambisius yang mengelilinginya di kantor ini.
*
Jam sudah menunjukkan pukul 18.45. Sebagian besar karyawan masih duduk di meja mereka. Tidak ada yang terburu-buru pulang.
Edrea menarik napas dalam-dalam. Kelelahan dan kerinduan akan kehangatan manusiawi bergulat dengan ambisinya sendiri. ‘Ini pekerjaan yang kuimpikan, kenapa aku tidak semangat? Tidak boleh! Aku harus tetap semangat!’
Dia ingat tatapan dingin Andrew, sikap acuh May, dan wajah-wajah lelah sekaligus ambisius lainnya. Dan dia harus mulai terbiasa dengan itu agar semua list hidupnya sedikit demi sedikit tercapai.
*
*
*
Edrea melangkah keluar dari lobi gedung Verious Corp. Itu memberi sedikit kelegaan. Tubuhnya lelah bukan main.
Bukan hanya fisik, tapi lelah jiwa. Pikiran yang dipaksa berputar cepat sejak pagi, tekanan untuk segera menunjukkan performa terbaik, dan kesendirian di tengah keramaian, dan itu semua membuat kepalanya berdenyut-denyut.
Saat Edrea akhirnya pulang, dia membuka pintu rumah kecil bercat kuning itu, suara pertama yang menyambutnya adalah dentuman efek suara dari game yang keras, diselingi teriakan dari speaker.
Suara Oz, penuh semangat, menggema di ruang tengah. Edrea kemudian masuk ke ruang tengah, berdiri di sekat ruanhan, tas kerjanya masih tergantung di pundak. Matanya mengedar di ruangan.
‘Dia membeli televisi besar itu?’ batin Edrea ketika melihat Oz bermain game dengan peralatan cukup lengkap.
Edrea melihat pring-piring kotor tertumpuk di wastafel dapur. Bungkusan-bungkusan makanan berserakan di meja makan kecil.
Pakaian, terutama kaos dan celana pendek milik Oz, ada di atas sofa. Dan di tengah-tengah semua ini, di depan TV layar datar baru dengan game bertema perang, duduk Oz.
Dia bersila di lantai, controller di tangan, wajahnya penuh konsentrasi dengan sedikit kerutan di pelipis.
Edrea menarik napas dalam-dalam. Dia meletakkan tasnya dengan suara agak keras di rak sepatu.
Oz melirik sebentar. "Oh, kau sudah pulang. Ada makanan di meja, kalau mau."
Lalu matanya kembali ke layar.
Itu jelas memantik bensin di dalam diri Edrea. Api yang sudah menumpuk seharian di kantor yang kompetitif itu menemukan bahan bakarnya.
"Oz," suaranya datar.
"Ya?" Oz masih fokus, jempolnya menari-nari di tombol controller.
"Kau mau membereskan ini semua?"
"Belum mood, nanti saja. Aku sedang dalam misi penting."
"Belum mood?" kata Edrea, nadanya mulai meninggi. "Lihat tempat ini! Berantakan! Aku baru pulang kerja, lelah setengah mati, bukan mau pulang ke tempat pembuangan sampah!"
Oz akhirnya mem-pause game-nya. Dia menoleh, wajahnya menunjukkan ketenangannya yang biasa, terkesan menyebalkan di mata Edrea. "Rileks. Nanti aku yang bereskan. Kau masuklah ke kamar, istirahat. Pekerjaanmu pasti sangat membuatmu frustasi.”
"Aku ingin kau membereskan sekarang! Mataku sakit melihat kekacauan ini!” geram Edrea.
"Kau berlebihan. Cuma beberapa piring dan baju," bantah Oz sambil berdiri, tubuhnya yang tinggi menambah kesan meremehkan. "Santailah sedikit.”
Kalimat itu seperti pisau yang ditusukkan tepat ke titik paling sakit.
“Santai?" Edrea mendekat, matanya menyala-nyala.
“Aku kerja keras seharian di kantor yang orang-orangnya siap menerkam satu sama lain demi naik jabatan! Aku berusaha bertahan! Lalu pulang ke sini, ke tempat yang seharusnya jadi pelarian, justru dapat pemandangan begini dan mendengar ucapan santai dari orang yang seharian main game!"
"Jika kau tak suka bekerja di sana, maka keluarlah. Cari pekerjaan yang santai saja," balas Oz, suaranya masih tetap santai dan membuat Edrea semakin jengkel.
"Apa??? Kau …” Edrea menjeda dan menghela napasnya yang mulai tersengal-sengal. “Kau benar-benar pengacau! Aku sudah membersihkan rumah ini ketika kau tak ada. Dan sekarang kau membuat kekacauan lagi!"
"Ini bukan kekacauan, ini cuma berantakan sementara! Dan aku bilang kan, nanti aku akan bereskan!”
Edrea menggeram marah dan akan kembali mengoceh. Tapi, Oz langsung menutup mulutnya dengan tangannya. “Ssssttt … diam. Kau masih saja berisik. Sudah kubilang aku tak suka wanita berisik.”
Lalu, Oz menarik tangan Edrea dan membawanya ke pintu. Pria itu mengambil jaketnya yang tergantung di belakang pintu.
“Apa yang kau lakukan? Kau menyeretku ke mana?” tanya Edrea.
“Sudah, diamlah.” Oz tetap menarik tangan Edrea setelah membuka pintu lalu menguncinya lagi.
Edrea mengikuti langkah Oz yang cepat itu. Dia terlalu lelah untuk berdebat lagi dan diam saja. Mereka kemudian naik taksi dan Oz tak mengatakan apa pun.
“Oz, kau mau membawaku ke mana? Aku masih marah padamu.”
“Sssttt … diam saja,” sahutnya sambil membungkam mulut Edrea lagi dengan tangannya.
*
*
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah bar kecil. Oz menggandengnya masuk ke dalam bar yang ternyata cukup ramai itu.
Lalu Oz langsung membawanya ke tengah dance floor dan merengkuh pinggangnya. Suara penyanyi terdengar dan beberapa pengunjung bar ikut menyanyi termasuk Oz.
Edrea tahu lagu itu, tapi tak terlalu hafal. “Menyanyilah!” teriak Oz.
Edrea menghela napas kemudian ikut menyanyi bersama Oz juga. Lama kelamaan, Edrea menikmati momen itu.
Oz mengajaknya menari juga dan mereka bergerak bersama. Senyum Edrea akhirnya muncul meskipun sedikit dipaksakan. Namun kemudian senyum itu menjadi tawa.
“Kau menyebalkan!” teriak Edrea sambil melompat dan tertawa.
“Yeah … the one and only.” Kemudian Oz mengecup pipi Edrea.