Pertemuan

1020 Words
Pesawat mendarat di bandara yang membuat Edrea menggenggam sandaran lengan kursi. Jantungnya berdegup kencang, karena akhirnya dia akan menginjak kota New York. Perjalanan keluar dari bandara adalah sebuah petualangan baru baginya. Bunyi klakson yang terus-menerus hingga terdengar kacau di telinganya, orang-orang banyak yang bergerak cepat. Edrea menggenggam erat gagang koper usang beroda dua miliknya, warisan masa kuliah. Dia menyewa sebuah mobil yang membawanya masuk ke Brooklyn. “Yellow Gardens,” katanya pada sopir “Kawasan yang bagus. Mahal,” sahut sang sopir dengan aksen Brooklyn yang kental Edrea hanya mengangguk. Setelah beberapa lama, dia melihat nama jalan di aplikasi peta di ponselnya semakin dekat. Alma telah mengirim pesan teks singkat. “Aku sudah mengatakan pada Oz tentang kedatanganmu. Jangan takut. Kunci ada di pot depan warna biru. Kau bisa membuka pintunya sendiri karena Oz biasanya tidur. Selamat datang di rumah, Sayang.” Jangan takut. Nasihat itu terasa sia-sia sekarang karena dia sudah hampir sampai. Mobil berbelok ke sebuah jalan yang dipenuhi pepohonan. Lalu, dia melihatnya. Nomor 350. Rumah itu tidak tinggi dan megah seperti tetangganya. Itu adalah rumah kayu bergaya vintage berwarna kuning terang, mungkin lebih tua dari bangunan batu di sekitarnya. Cat kuningnya sedikit terkelupas di beberapa tempat. Atapnya terlihat bergelombang. Tangga depan kayunya miring sedikit ke kiri. Taman depan, sebuah petak kecil antara trotoar dan beranda, telah menjadi hutan kecil karena penuh dengan tanaman liar, rumput tinggi, dan semak-semak yang tak berbentuk. “Ini dia,” kata sopir, mengangkat alisnya. “Yakin ini rumahnya?” “Ya,” sahut Edrea, suaranya lirih. Dia membayar sopir dengan uang tunai, lalu menarik kopernya keluar dari bagasi. Mobil pun melaju pergi, meninggalkannya sendirian di trotoar Brooklyn yang sedikit sunyi. Dia berdiri di sana sejenak, menatap rumah itu. Ini benar-benar berbeda dari foto rumah yang dia lihat dari foto-foto di internet. Ini terlihat seperti rumah nenek yang terlantar. Dengan hati ragu, Edrea menarik kopernya melalui tangga kecil yang berderit, berjuang melewati lantai yang tidak rata. Dia menaiki tiga anak tangga beranda. Di depan pintu kayu tua itu, dia berhenti. Dia bisa mendengar suara samar-samar dari dalam, suara musik rock bergema pelan. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian mencari pot biru dan mengambil kunci di bawahnya. Setelah mengambil kunci itu, dia memasukkannya ke dalam lubang kunci. Kuncinya agak macet sebelum akhirnya berputar dengan suara yang keras. Dorongan ke depan membuka pintu dengan deritan panjang yang dramatis. KREEEKK Kehangatan dan bau memenuhi penciumannya, bau debu tua, kayu lapuk, lembab, dan di bawahnya, aroma kopi yang kuat. Lantainya kayu tua yang gelap, aus, tapi tidak reyot. Di sebelah kiri, pintu terbuka menuju ruangan gelap yang tampaknya adalah ruang tengah, diisi dengan tumpukan kotak dan lemari tua yang ditutupi kain putih usang. Di sebelah kanan, ada sebuah ruangan, dari situlah suara musik berasal. Edrea menarik kopernya masuk dan menutup pintu dengan hati-hati. “Haloooo? Anybody homeee??” panggilnya. Tidak ada jawaban. Musik terus terdengar dari arah ruangan itu. Dia meletakkan tasnya, berjalan beberapa langkah ruangan itu. Ternyata itu adalah dapur. Dan pemandangan di dalamnya membuatnya tertegun. Dapur itu ternyata besar, dengan lemari kayu tua yang tinggi dan wastafel besi. Namun, ada peralatan kopi yang rumit, penggiling, alat seduh manual, beberapa cangkir keramik. Ada juga tumpukan piring bersih tapi tidak rapi di rak pengering. Ada buku-buku berserakan di meja makan kecil di sudut. Ada kulkas yang masih terlihat baru. Dan kemudian matanya mengarah ke jendela dapur yang terbuka. Dan di sanalah, berdiri seorang pria yang membelakanginya. Pria itu tak memakai kaos, hanya mengenakan celana pendek kargo hijau tua yang sedikit kusam. Otot-otot di punggungnya bergerak saat dia membungkuk di atas alat kopi, menuangkan air dengan fokus. Rambutnya yang gelap berantakan, tampak seperti belum disentuh sisir selama berhari-hari, tapi dengan sengaja atau tidak, justru terlihat mahal. Dia tinggi, setidaknya 190 cm lebih, dengan postur tubuh yang atletis. Edrea terdiam sejenak di ambang pintu, tidak yakin harus berkata apa. Ini jelas Oz. Dan dia sangat berbeda dari yang dia bayangkan. Dia membayangkan seorang pria yang lesu, mungkin agak lusuh, dengan mata mengantuk. Bukan pria yang tampak seperti model yang terdampar ini, dengan tatapan intens yang tajam. Oz sedang mengangkat cangkir ke bibirnya ketika dia melihat pantulan Edrea di kaca jendela hitam. Pria itu membeku sejenak, lalu berbalik dengan lambat. Dan ketika akhirnya melihat wajahnya, Edrea merasakan sesuatu di dadanya, sebuah desiran yang tidak diinginkan. ‘Oh my god … Dewa Yunani terdampar di sini?’ batinnya. Oz sangat tampan. Dengan penampilan yang kasar, tidak rapi, dan sama sekali tidak sadar diri bahwa dirinya begitu mempesona. Garis rahang yang kuat, hidung mancung yang lurus, matanya yang berwarna abu-abu sekarang menatapnya dengan rasa ingin tahu yang santai. Ada sedikit janggut yang tidak dicukur di dagunya, menambah kesan acak-acakan namun begitu menarik hingga membuat Edrea ingin menyentuhnya. Tapi yang paling mencolok adalah ekspresinya, sebuah senyuman kecil, santai, dan sedikit sinis yang melengkung di satu sudut bibirnya. “Ah,” ujarnya. Akhirnya Edrea bisa mendengar suara seksi itu. “Kau pasti Edrea. Nenek Alma sudah memberitahuku.” Dia mengangkat cangkir kopinya sedikit, seperti memberikan salam. Dia tidak berusaha untuk mengenakan baju atau menjelaskan kekacauan di dapur itu. Edrea berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya atas serangan pesona Oz yang membuat tubuhnya berdesir tak sopan. “Ya. Dan kau pasti Oz.” “Yeah. The one and only,” dia mengangguk, lalu menyesap kopinya. Matanya mengamati dirinya, dari sepatu flatnya yang tak menarik, celana jeans, sweater sederhana, hingga wajahnya yang masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan perjalanan. Hanya mengamati. “Perjalanan yang panjang?” “Hmm … sebuah pengalaman,” jawab Edrea, terdengar kaku. Oz mengangguk lagi, seperti itu jawaban yang bisa dimengerti. “Nah, selamat datang di kehidupan versi murah,” katanya, dengan gerakan tangan yang malas yang menunjuk ke sekeliling dapur. “Kita bisa memperbaikinya bersama,” kata Edrea. Oz menaikkan satu alisnya. “Jika aku sedang mood saja,” sahutnya santai. Senyumannya tetap ada, namun kata-katanya begitu menyebalkan dan santai sehingga membuat Edrea kesal. “Kau sudah makan?” tanya Oz. “Hmm … belum …” “Kalau begitu, masaklah. Aku juga belum makan kebetulan. Aku akan menilai masakanmu nanti,” jawab Oz. Edrea mengernyitkan keningnya. Dia pikir, Oz akan menawarkan makanan padanya, tapi ternyata …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD