Keesokan paginya, Edrea masih tertidur lelap di ranjang. Pipinya kemerahan dan napasnya terdengar berat. Oz, yang sudah bangun lebih awal, segera menyadari kondisi Edrea karena wanita itu biasanya bangun pagi dan bersiap kerja. Ia menarik selimut pembatas, tangan kanannya dengan reflek menempel di dahi Edrea. “Panas sekali,” gumannya, wajahnya berkerut tanda khawatir. Ia teringat malam sebelumnya, Edrea kehujanan dan bahkan jatuh di tangga depan. Tanpa pikir panjang, Oz langsung beranjak ke kamar mandi, mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air. Dengan hati-hati dia melipat handuk itu dan meletakkannya di kening Edrea. Edrea bergerak sedikit, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya kabur, butuh beberapa saat untuk fokus pada sosok Oz yang sedang me

