Episode 11

1704 Words
Lavina terus-menerus berlari tanpa arah dan tujuan memasuki hutan belantara, sang rembulan bersinar terang menjadi penerang jalan yang dipijaknya. Selama berlari sesekali menoleh ke arah belakang untuk memastikan mahluk itu masih mengejarnya atau tidak. Sekian lamanya berlari, akhirnya menghentikan langkahnya untuk mengambil napas sejenak, Tubuh sedikit membungkuk seraya tangan kanan memegangi perut, sementara tangan kiri menyapu bibirnya sendiri, pertanda penyesalan atas apa yang terjadi tadi, telah di cium oleh pemuda yang tidak di kenalinya, serta ciuman itu adalah ciuman pertamanya. "Huff-Huff-Huff" Deruan napas pertanda betapa lelahnya ia saat ini. Hembusan angin kencang dari arah depan menerpa tubuhnya tak ayal membuat rambut panjang terurai beterbangan dengan bebasnya. Menegakkan posisi tubuhnya, memandang lurus ke arah depan hingga akhirnya menyadari apa yang terlihat didepannya. "Ufffhh … Sungguh Sejuk sekali udaranya ini. Eh, telaga ini ..." Sebuah telaga berair jernih dan tenang menjadi pusat perhatian yang terletak tak jauh darinya mengingatkan dirinya berawal masuk kesini adalah dari telaga itu. Perlahan memijakkan kaki ke arah depan, mendekati telaga itu. Setelah tubuh berdiri tepat di pinggirnya tidak terpikirkan akan hal lain selain rasa kagum melihat suasana di sekitar telaga itu, tampak indah nan asri serta udaranya sangatlah sejuk. Keheningan suasana disekitar telaga membuatnya lupa tentang mahluk yang ia jumpai sebelumnya, yang ada hanyalah suara percikan air di setiap pinggiran telaga, serta suara burung-burung malam liar dari arah kejauhan serta terdengar bunyi katak yang saling bersahutan. Lantas menengok Air telaga itu pantulan rembulan dari atas langit sangatlah indah, lekas jongkok untuk mengambil air tersebut dengan kedua telapak tangannya. Pertama-tama ia membasuh wajahnya untuk menyegarkan dirinya, kemudian ia pun meneguk air telaga tersebut lantaran rasa dahaga sudah sangat membelenggu tenggorokannya. "Air ini sangat segar sekali" merasakan nikmat kesegaran dari air telaga itu, maka tidak hanya satu saja dia meneguknya. Sesudahnya membasuh serta meminum air telaga, kembali berdiri seraya memandang sejauh matanya memandang ke seluruh penjuru arah. "Tuhan ... sungguh indah ciptaanmu ini, kesejukan udara ini sangat membuat hatiku damai." seraya memejamkan mata nan menghirup kembali segarnya udara. Semasih mata terpejam, lantas terdengar suara yang tidak ia ketahui berasal dari mana. Kring … kring … kring … Lekas membuka kembali matanya, lantaran teringat tentang kehidupan aslinya. "Oh Tidak!" Dia menyadari apa yang dia alami saat ini sangatlah berbalik dari kehidupan dia sebenarnya. Semakin teringat dan semakin ingat membuatnya resah dan gelisah. "Oh Tidak, Papa … Mama … Om … Tante … Kalian dimana? Ma … Papa …" memanggil-manggil nama seluruh anggota keluarganya. Menuntun langkahnya berpijak kesana dan kemari di pinggiran telaga itu. "Ma … Pa … Hiks, hiks, Ma … Pa … Vina ingin pulang, Mama … Papa …" Serunya hingga membuatnya menangis lantaran semakin bingung bahwa saat ini ia sedang di tempat asing dan benar-benar misterius. Lantas kembali berjalan untuk mencari sumber suara yang masih berbunyi hingga saat ini Kring ... Kring ... Kring ... yang ternyata …. suara itu adalah suara jam alarm. Akhirnya tiba-tiba menghilang dari pinggiran telaga itu dan kini telah kembali lagi kedalam dunia aslinya. Yang mana didalam dunia aslinya posisi dia saat ini sedang tertidur didalam Bathtub berisi air penuh. __ Jam alarm yang berasal dari atas kasur masih belum berhenti bunyi hingga membuat kebisingan didalam ruang kamarnya, perlahan dia membuka kedua matanya. "Aarggh, Awwh, Awwh, Leherku aakhh" Merintih kesakitan, akibat tertidur dalam posisi kepala miring ke kanan. tentu membuat lehernya kaku dan terasa sangat sakit. Belum sempurna ia menegakkan kepala, terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya. Tok … Tok … Tok … "Vin, Lavina, apa kamu sudah bangun, Nak?" Panggil sang ibu (Airha) seraya terus mengetuk pintu itu. Tok … Tok … tok "I … iya Ma, Vina udah bangun." Jawab-nya secara kencang menyadari posisi sedang di kamar mandi. "Yasudah, segera berbenah sudah siang ini Nak, nanti kamu bisa telat ke sekolah loh." Lanjut sang Ibu. "Iya, Ma." Pungkasnya sembari memegangi lehernya dengan tangan lantas terngiang akan mimpi panjang yang ia lalui semalam. 'Huffh ... Mimpi yang aneh' Gumam bantinnya seraya melihat area sekeliling. "Astaga!" Menyadari sebagian tubuhnya kini masih terendam air. Bergegas berdiri untuk meraih handuk, kemudian dilanjutkannya hendak membuka pakaiannya. Lagi-lagi suatu keganjilan didapatinya. "What! ini ... ini tidak mungkin!" Yakni, mendapati jubah berbentuk jaket milik lelaki yang ada didalam mimpi itu masih melekat di tubuhnya. Cepat-cepat ia lepaskan jaket itu, kemudian dia lemparkan ke keranjang baju kotor. Ia masih bengong lantaran semua ini tidak masuk akal. Namun, tidak dalam durasi lama dia tertegun terhadap keganjilan ini lantaran waktu sudah semakin siang, akhirnya tidak begitu ia pikirkan lagi. Sebelum ritual rutin (Mandi) dilaksanakan, sudah menjadi kebiasaannya mengikat rambut panjangnya apabila dia sedang tidak mencuci rambut. Lantas semasih kedua tangannya sedang mengikat rambut, tidak disengaja jemarinya menyentuh bagian leher sebelah kanan. "Awh, duh Kok perih begini si?" bertanya-tanya. Awal mula tidak ia hiraukan, namun kedua kalinya leher sebelah kanan tersentuh, ia masih merasakan sakit dan perih yang sama. "Awh, Awh, ini leherku kenapa sih" Gumamnya lagi. Lantas akhirnya ia mendekat ke arah cermin untuk melihatnya. Maka ... "Loh, ini--luka apaan ya? Sejak kapan aku terluka disini?" Terheran karenanya di leher sebelah kanannya terdapat bekas luka seperti sebuah gigitan, seumpama gigitan binatang. Namun ia tidak bisa melihat luka itu dengan jelas lantaran sedikit susah baginya melihat pada bagian itu. Alhasil, tidak begitu hiraukan lantaran dirinya sedang sangat terburu-buru. Beberapa saat kemudian, ia sudah selesai ritual rutinnya (Mandi) dan kini seperti sedia kala sudah rapi memakai seragam sekolah, rambut panjangnya terurai. Waktu saat ini menempati pukul 06:50 Am. Akibat kemarin kelelahan dan ketiduran, membuatnya kini kelabakan nan gugup karenanya buku-buku maupun alat tulis lainnya belum dirapikan sempurna ke dalam tasnya. Selepas berbenah, awal mula dia memijakkan kaki hendak keluar kamar, tapi lagi-lagi teringat suatu hal ganjil selepas dia bangun tidur tadi. Yakni, jaket dari alam mimpi yang terbawa ke dunia nyata itu. Dia pun segera beranjak ke kamar mandi lagi, untuk menengok kain itu di keranjang baju kotor. "Kalau Mama atau papa tau ada jaket cowok di kamarku, bisa repot urusannya." Lantas dia raih jaket itu kemudian meraih jua kantong kresek, dia masukkan ke dalam kantong kresek, kemudian dia sembunyikan ke dalan lemarinya. "Huff ... Aman!" Sesudahnya jaket tersembunyi rapi, bergegas melanjutkan langkahnya keluar kamar hendak menuju ke lantai bawah. __ Seperti hari-hari biasa, meski kini waktu sudah semakin siang, ia tidak tertinggal sarapan, kebetulan pada hari ini sang Ayah belum berangkat ke kantor, dia sedang duduk di meja makan sembari sarapan. "Vin, Kapan kegiatan sekolah yang kamu bilang ke papa kemarin di laksanakan?" Tanya sang ayah. "Hari esok pa." "Wah, hari besok? apa perlu papa suruh sopir mengantarkanmu ke tempat perkemahan?" Lanjut sang Ayah. "Em … Sepertinya tidak usah pa, besok pakai bus sekolah kok" Jawabnya sembari menggigit roti di tangannya. "Ya iya lah Pa, kegiatan sekolah ya pastinya sudah di sediakan fasilitas seperti transportasi dan lain-lainnya, Pa" Imbuh Airha. "Iya Ma, papa juga tau itu. Tapi … yang papa lakukan ini untuk menjamin keselamatan putri kita, Ma" "Iya Pa, Mama juga ngerti. Tapi ya jangan berlebihan juga kali pa, Semuanya kan sudah di jamin oleh pihak sekolah." Jawab Airha lagi. Lavina enggan mendengar percakapan kedua orangtuanya terlebih lagi waktu sudah semakin siang, Akhirnya ia berdiri dari tempat duduknya sembari masih menggigit roti. "Pa, Ma, Vina berangkat sekolah dulu ya …" Pamitnya. "Eh, eh Vina tunggu, kebiasaan sekali kamu makan belum selesai sudah berdiri seperti itu. Ingat, papa sama mama tidak mengajarkanmu begitu ya, selesaikan dulu makanmu itu." Tegas Airha seraya melangkah menuju dapur. Lavina terdiam lantas kembali ke tempat duduknya, sementara Airha sudah kembali dari dapur seraya membawa kotak bekal di tangannya. "Ini bawa bekal kamu, mama sudah siapin. Jangan lupa di makan nanti ya …" memasukkan kotak tersebut kedalam tas milik Lavina. "Lah mama ih, bawain bekal aku terus!" Gerutu Lavina. "Gak usah banyak komentar kamu Vin, daripada kamu jajan sembarangan di sekolah. Kurang terjamin kebersihannya, paham?" Jawab Airha. "Benar yang Mama kamu katakan itu Vin," Imbuh sang Ayah. Membuat Lavina memanyunkan bibirnya lantaran kesal namun akhirnya ia senyum-senyum sendiri lantaran ada sesuatu yang ia ucapkan didalam batinnya. 'Hihihi, Mama papa gak tau kalau selama ini bekal yang mama bawain ke aku selalu ku kasih ke pak satpam di sekolah, hihihi' "Yasudah segera berangkat sana, nanti kamu telat." Ucap Airha, usai memasukkan bekal makanan tersebut kedalam tas milik Lavina. "Iya Ma, Pa, Vina berangkat sekolah dulu ya …" Pungkas Lavina seraya berjabat tangan, tidak lupa jua ia cium punggung tangan kedua orangtuanya lantaran memang sudah menjadi kebiasaannya walau terkadang tidaklah demikian lantaran biasanya kedua orangtuanya sudah pergi sedari petang sebelum dirinya bangun tidur. "Iya, hati-hati di jalan ya sayang. Yang fokus belajarnya ya …" Imbuh Airha seraya melambaikan tangan semasih Lavina melangkah menuju ke arah garasi mobil. __ #Next Selama di perjalanan, terjadi kemacetan cukup parah pada jalan yang di lintasi olehnya tertambah jua Cuaca pagi Itu cukup mendung nan terjadi gerimis tipis membuat Lavina melamun didalam mobil sembari menghadap ke arah jendela kaca. Selama melamun, ia Teringat akan mimpi anehnya semalam, semasih terngiang paras tampan dari pemuda misterius didalam mimpinya itu tiba-tiba ia di kejutkan oleh sesuatu hingga membuat lamunannya tercabik. Blug! Yakni, ada hentakan tangan seorang pengendara roda dua tepat di kaca mobil bagian tengah, sedang menyelip-nyelip diantara mobil-mobil yang sedang jalan merayap di tengah padatnya arus lalu lintas pagi itu. "Astaga!" Lavina reflek lantaran sangat terkejut. "Haduuh … Bocah jaman sekarang bandel-bandelnya minta ampun, masih kecil-kecil sudah pada mengendarai motor." Gumam pak sopir berbicara sendiri. Sementara Lavina sendiri masih diam sembari meletakkan telapak tangan ke d**a pertanda terkejutnya ia saat ini hingga jantung terasa seakan mau copot, memperhatikan pengendara motor itu melalui kaca depan. 'Eh, itu … bukannya si Elga ya?' Batinnya penuh tanya lantaran ia paham terhadap motor itu walau ia tidak tahu seperti apa paras pemuda yang mengendarai motor tersebut. "Pak, kenapa tadi gak lewat jalan alternatif aja pak biar gak kejebak macet begini. Duh, bentar lagi gerbang sekolah mau di tutup pula Nih," Tanyanya kepada sang sopir nan bimbang hingga berkali-kali melihat arloji. "Iya Non, maaf. Tapi kalau lewat jalan alternatif sama aja macetnya, Non. Apalagi kalau berpapasan dengan mobil besar, hadeeh malah lebih parah macetnya dari jalan ini Non." Jelas sang sopir. "Oh … Gitu ya," Jawab Lavina singkat lantaran tidak tau harus berkata apa lagi selain pasrah bila sampai di sekolah gerbang sudah di tutup. 'Hufff … '
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD