Chapter 9

1180 Words
Melody termenung di rooftop. Ia mengingat kejadian kemarin, pertengkaran dengan kedua orang tuanya juga pembicaraannya dengan Fiona. "Bodoh banget, sih, gue! Bisa-bisanya curhat dan nangis sama dia," rutuk Melody. "Kalo dia beberin gimana, dong?" Ia merasa khawatir lantas mengusap-ngusap wajahnya. Tadi pagi, ia bersyukur karena saat terbangun, Fiona masih terlelap dan membuatnya semakin mudah untuk pergi tanpa pamit pada gadis itu. Juga, semalam ia tak tahu harus kemana dan satu-satunya yang ia pikirankan adalah Fiona, yang akhir-akhir ini selalu mengusik pikirannya. Jujur, selama ini Melody ingin sekali ada orang yang dengan tulus mengajaknya berteman. Namun, sampai sekarang tak ada, hingga saat Fiona menghampirinya waktu itu. Ia senang karena ternyata ada juga orang yang mau berteman dengannya. Tetapi, mengapa Fiona baru menghampirinya sekarang, walaupun sudah 2 tahun lebih mereka sekelas? Pikirnya. Dan itulah yang membuat ia berkesimpulan kalau gadis itu punya motif tersendiri melakukan ini. Ia kembali mengingat Fiona yang semalam menenangkannya dan mulai berpikir, mungkin alasan gadis itu baik untuk mengajaknya berteman. Setelah beberapa saat berpikir, Melody menarik napas panjang. Lalu memutuskan untuk meminta maaf pada Fiona. Ia sudah lelah dengan semua ini dan ingin membuka lembaran baru yang diharapnya bisa lebih baik dari saat ini. Melody mengeluarkan ponsel dan mendapati wajah kedua orang tuanya begitu ia menyalakan ponsel tersebut. Lagi, ia kembali mengingat perlakuan mereka yang sangat berbeda padanya dan pada Oliv. Rasanya ia ingin menangis lagi. Tetapi, kemudian ia menggelengkan kepala dengan kasar dan hendak berjalan, namun terhenti karena Fiona yang entah dari mana sekarang tengah melangkah ke arahnya. "Nggak tau malu banget, sih. Udah untung gue izinin nginep di kamar gue, eh ini malah nggak tau diri. Langsung pergi aja, nggak ngucap apaan, kek," cerocos Fiona begitu ia berhenti di depan Melody. "Eh, gue udah bilang makasih ya, sama Mama lo. Lo aja yang kebo, jam 6 masih molor." Bela Melody "Eh, lu ngatain gue? Daripada lo, cabe gak jelas!"  "Lo, kebo!" "Cabe gak jelas, dasar! Udah, ah, males liat muka lo," dan dengan begitu, Fiona berbalik dan berjalan pergi. Padahal awalnya, ia hanya ingin mencari udara segar dari atas sini, tapi begitu Melody mengatainya 'kebo', moodnya seketika memburuk. Mungkin berlebihan, namun Fiona sangat tidak suka orang mengatainya kebo. Ya, meskipun dia menyadari kalau dirinya memang kebo. "Fiona," panggil Melody ragu. Langkah Fiona terhenti, ia pun berbalik, "eh, lo denger, nggak? Kayak ada suara-suara yang manggil nama gue, deh." "Gue serius, Fiona," kata Melody setelah memutar matanya. "Lho, siapa bilang lo nggak serius?" Fiona pura-pura memasang wajah polos, berniat membuat gadis yang mulai kesal di hadapannya, semakin bertambah kesal. Melody memantapkan hati untuk menyuarakan isi pikirannya. Dan dengan menarik napas terlebih dahulu, ia membuka suara. "Gue minta maaf," Ia berkata dengan ragu sembari menggigit bibir. Fiona hanya menampilkan wajah cengonya untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia heboh sendiri. "Lo beneran minta maaf? Sumpah? Demi apa? Astaga, lo nggak sakit, kan? Atau jangan-jangan gara-gara kehujanan kemarin? Apa perlu gue bawa ke dokter? Mimpi apa lo semalem? Kok tiba-tiba minta maaf gini? Oh iya, pasti gue yang lagi mimpi. Iya bener, gue lagi mimpi," Fiona mencubit kedua pipinya, "anjirr, kok sakit? Berarti ini nyata, dong? Lho, kok bisa?" Melody malah terkekeh pelan atas respon Fiona terhadap pernyataan maafnya. Dan lagi-lagi, Fiona dibuat cengo, ia heran sendiri, apa yang di depannya adalah Melody atau bukan.  Krik... Krik... Krik... "Ehm, yang tadi lo bilang, itu beneran?" tanya Fiona memastikan. Ia takut telinganya salah mendengar. Melody mengangguk mantap.  Fionapun ikut mengangguk. "Oh, eh, iya gue juga minta maaf. Yaudah, kalo gitu gue ke kelas dulu," pamit Fiona dengan kikuk dan berjalan pergi. "Itu anak kenapa, sih? Bukannya bagus ya, kalo gue minta maaf?" tanya Melody heran pada dirinya sendiri kemudian kembali terkekeh. "Carol!" teriak Fiona heboh ketika memasuki kelas, membuat para murid melihatnya dan memutar mata bosan, pasalnya ia sering sekali seperti itu. Carol hanya menanti Fiona sampai pada tempatnya sembari memandang malas gadis itu. Kali ini apa? Apa tentang Richard lagi? Pikirnya. "Richard kenapa lagi?" tanya Carol langsung. "Bukan Richard, ini tentang Melody," tukas Fiona membuat Carol menautkan alisnya. "Ini langka, banget, tau nggak!" Carol yang sempat terhenti acara menulisnya akibat teriakan Fiona tadi, kembali menulis. "Apa? Dia minta maaf sama lo?" tebak Carol tanpa menoleh. Fiona terdiam, "kok lo tahu?" Carol mendongak, kemudian menoleh dengan cepat dengan mata membulat. "Kok bisa?" Kini, gantian Carol yang teriak. "Ya, gue juga nggak tau. Aduh, gimana dong, Car? Gue bingung, ini." Fiona bergerak dengan gelisah. Carol menatap sahabatnya heran, kadang dia sendiri bingung dengan sikap Fiona. "Bukannya, lo harus seneng, Na? Kan, dia udah minta maaf, secara nggak langsung dia udah mau dengerin apa kata lo kemaren, dan berarti misi lo berhasil. Kok, lo malah panik gini, sih?"  Fiona terdiam sebentar dan mencoba mencerna ucapan Carol. Setelah beberapa saat, ia tersenyum cerah. "Iya, juga ya, bener. Berarti salah satu misi gue berhasil, dong? Yeayy!" Ia memeluk Carol erat sampai gadis itu rasanya sulit untuk bernapas. "Udah, Na, udah, gue tau lo seneng," Carol melepaskan pelukan Fiona dengan senyum yang dipaksakan. Sesaat setelahnya, mata kedua gadis itu tertuju pada pintu kelas, dimana seorang gadis lain berjalan masuk dengan gaya angkuh andalannya. Melody. Melody berhenti sejenak di depan kelas dengan tangan yang dilipat di depan d**a, menatap dengan sinis dan merendahkan, pada murid-murid yang memang sedaritadi sedang membicarakan namanya. Lantas, ia melangkah dan duduk di bangkunya, menulikan telinga dari ucapan murid di sekitarnya. "Kok, dia kayak gitu?" tanya Carol setelah pandangannya dialihkan pada Fiona. Fiona mengedikkan bahu, "intinya dia udah minta maaf dan gue seneng." “Lo yakin, Na, yang lo bilang tadi minta maaf sama lo itu Melody?” Carol menatap Fiona lekat. Fiona menggigit bibirnya. “Sebenarnya gue juga nggak yakin, sih.” Fiona sengaja membereskan barang-barangnya sedikit lebih lama dan itu mengakibatkan tersisa dirinya dan Richard di kelas. Fiona melangkah menuju lokernya. Pun, Richard yang melakukan hal yang sama, berjalan menuju lokernya dengan tas yang disampirkan di bahu kanan. Fiona membuka lokernya dan sedetik kemudian matanya membulat. Di dinding loker, tertempel kertas kecil yang ia duga robekan dari buku tulis. Ia mencabut kertas itu dan menggenggam dengan kedua tangannya. 'Ehm, Sorry ? For everything -_-' Refleks, Fiona menoleh ke arah kiri, di mana Richard yang berdiri di depan lokernya. Merasa diperhatikan, cowok itu menoleh. "Apa?" ucapnya datar. Fiona menggeleng cepat dan kembali menunduk, memandang kertas kecil itu. Ia berusaha menahan kegirangannya. Beberapa saat kemudian, Richard menutup lokernya dan berjalan keluar. Fiona berbalik badan dan memastikan Richard memang benar-benar sudah keluar. Sejurus kemudian, ia melompat-lompat kegirangan, tak lupa dengan teriakan hebohnya. Percayalah, orang yang melewati kelasnya akan mengira dia orang gila. "Oh My God! Oh My God! Oh My God! Dia bales pesan gue! Astaga! Ini pasti beneran Richard yang naruh! Dan dia sengaja keluar paling terakhir biar mastiin kalo gue baca kertas ini. Anjirr, gue nggak mimpi, kan? Sumpah, seneng banget rasanya. Ahh, akhirnya dia bales surat gue. Semoga nanti dia bakalan bilang gue cantik. Amin," ucap Fiona percaya diri. Ia pun memakai tas dan keluar kelas. Senyum cerah tak luput dari wajahnya. Kertas kecil tadi juga masih ia genggam dan sesekali membaca ulang pesan yang tertulis di sana. Tak peduli dengan murid-murid di sekitar yang menganggap dirinya aneh karen terus saja tersenyum dengan pandangan menerawang, bahkan gadis itu hampir saja menabrak pintu kaca di lobi gedung. *** Halo semua!  Gimana part kali ini? Semoga lebih baik yaaa Jangan lupa tulis pendapat kalian soal part kali ini juga tap love-nya mantemannn! Dan mohon tetap dukung kami dengan cinta! <3
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD