Sudah tiga hari setelah Melody menyatakan permintaan maafnya pada Fiona. Ia pun juga mulai sedikit menunjukan perubahan akan sikapnya walaupun tidak terlalu kentara. Seperti tersenyum pada Carol maupun Fiona saat beberapa kali berpapasan, contohnya. Kemarin, ia juga mencoba meminta maaf pada kedua orang tuanya, meskipun itu sangat sulit dan butuh hampir seminggu untuk memikirkannya, dan meminta agar mereka turut memperlakukannya seperti memperlakukan Oliv.
Dan Melody senang karena permintaan maafnya disambut hangat oleh mereka. Ayah dan Ibunya juga memberikan alasan mengapa sikap mereka selama ini lebih tertuju pada Oliv, itu semua dikarenakan karena kakak angkatnya itu memiliki penyakit kelainan yang cukup parah, membuat ia harus selalu dalam pengawasan dan selalu dalam keadaan perasaan baik. Melody yang awalnya tak percaya karena merasa tak masuk akal ditambah mereka yang tidak memberitahukan nama penyakitnya, berusaha mencoba untuk memahami. Ia merasa Oliv juga membutuhkan privasi.
Namun, siapa sangka, kakak angkatnya itulah yang mengatakan sendiri bahwa ia mengidap Bipolar. Suatu penyakit kelainan yang pernah Melody dengar beberapa kali. Dan saat menanyakan pada Ayah dan Ibunya, mereka mengatakan benar dan Oliv sekarang berad di tahap yang cukup parah.
Yang ia tahu Bipolar itu adalah penyakit yang membuat seseorang mengalami perubahaan mood atau perasaan secara drastic. Terkadang pengidap akan merasakan perasaan senang atau pun semangat luar biasa dalam menjalani sesuatu. Tetapi juga kadang ia akan merasa tak berguna, putus asa, dan bahkan ingin mengabisi nyawanya sendiri, berpikir kalau kematian adalah satu-satunya jalan keluar. Memikirkan itu membuat Melody merinding sendiri, tidak pernah ia sangka orang terdekatnya akan mengalami penyakit sepert itu. Ia berharap Oliv cepat membaik.
Kini, Melody sedang duduk di depan meja rias sembari mengamati pantulan dirinya di cermin dengan wajah yang masih polos tanpa sedikitpun polesan. Ia lantas menunduk dan memandangi semua alat make up yang tergelatak di atas meja rias. Dan setelah memakai sedikit bedak, ia memutuskan untuk hanya memoleskan minyak bibir di bibirnya.
Lagi, ia kembali menatap dirinya di cermin dan tersenyum kecil. 'Kayak gini lebih cantik, ternyata.' Batinnya. Ia pun lantas bangkit dari duduknya, tak lupa memakai tas lalu meraih ponsel di atas tempat tidur dan berniat ke bawah untuk pamit pada Ayah dan Ibunya.
Fiona menyusuri koridor menuju kelas dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya. Efek surat kemarin—yang ia yakin pemberinya adalah Richard—ternyata sangat besar. Ia menyapa hampir semua murid yang berdiri ataupun duduk di sepanjang koridor. Semalam ia membayangkan hal baik apa saja yang akan terjadi hari ini. Dan ia berharap hal itu memang benar-benar terjadi.
Carol yang tak jauh berada di belakang Fiona, mempercepat langkahnya dan langsung merangkul pundak gadis itu begitu sampai di sampingnya.
"Pagi," sapa Carol.
Fiona menoleh dan membalas sapaan Carol dengan senyuman manisnya.
"Lo kenapa?" Carol berhenti dan dibalas tatapan bingung Fiona.
"Kenapa, apanya?"
"Nggak, nggak papa." Carol menggeleng kemudian melanjutkan, "ayo, masuk!"
Saat keduanya sudah duduk di bangku masing-masing, Fiona melipat tangannya dan berdehem membuat Carol menoleh sekilas.
"Apa?"
"Gue mau cerita."
"Apa?" tanya Carol tanpa menoleh dan sibuk dengan ponselnya.
"Gue seneng banget, sumpah. Ini tentang Richard."
"Apa?"
"Ih, Car, apa mulu!. Noleh, dong. Gue mau cerita." Fiona mengambil ponsel Carol dan menyembunyikan di belakangnya. Carol berdecak kesal, namun akhirnya berbalik juga.
"Kemarin, gue nemuin ini di loker!" kata Fiona seraya menunjukan kertas kecil yang kemarin ia dapat di lokernya.
Carol mengambil kertas itu dan membacanya sekilas. “Loker siapa?”
“Loker gue, lah!” Fiona mengibaskan rambutnya dengan bangga. "Dan, lo tau siapa yang naruh surat ini?"
Carol hanya menaikkan alisnya sebagai tanda ia ingin tahu jawaban dari pertanyaan Fiona barusan.
"Richard!" bisik Fiona tertahan. Pipinya menghasilkan semburat merah, mengingat kejadian kemarin saat berdua di kelas bersama Richard.
Carol meraih kertas itu lagi yang kali ini sudah digenggam sahabatnya itu dan membaca ulang kalimat yang ada di sana. "Lo yakin, ini beneran Richard yang ngasih?"
Fiona mengangguk mantap. "Ya …, mau siapa lagi coba? Jelas-jelas kemarin cuma dia yang bareng gue sampe kelas kosong. Pasti dia sengaja biar bisa mastiin gue baca surat itu," jawab Fiona dengan tingkat kepercayan diri yang sangat tinggi, setelah terlebih dahulu merebut kertas kecilnya di tangan Carol.
"Serah lo, dah. Intinya gue turut seneng karna lo seneng," ujar Carol sambil tersenyum dan mencubit pelan kedua pipi Fiona.
"Sekarang, giliran lo yang cerita!" perintah Fiona disambut Carol yang memandangnya dengan bingung. "Terakhir kali, itu sekitar 3 bulan yang lalu, lo ceritain tentang Do’i lo. Dan sekarang, siapa Do’i lo di kelas ini?"
"Kok, pertanyaan lo gaje?"
"Ish, udah jawab aja."
"Di kelas ini? Maaf aja ya, gua gak demen sama anak kelas ini, semuanya pada absurd. Gak ada yang masuk dalam kriteria cowok idaman gue," ujar Carol lantas tersenyum meremehkan.
"Eh, inget kata Bu Sinta, kita semua di kelas ini itu Saudara, Sau-da-ra! Jadi, lo nggak boleh ngehina-hina mereka," tukas Fiona.
"Iya, Na, karna gue tau kita Sau-da-ra. Makanya gue nggak mau suka sama mereka yang lebih dari Sau-da-ra, sebab itu dilarang hukumnya, mah." Balas Carol.
"Ah, alesan aja! Trus, Ben gimana?"
"Ben? Ben siapa?"
"Astaga, Carol! Kok bisa-bisanya lo lupa sama orang yang hampir tiap hari selalu ada di sekitar lo, sih?!" heboh Fiona. "Benedicth H, yang duduknya di depan kita, noh," Ia mengarahkan dagunya pada bangku di depan mereka yang masih kosong.
"Lo gila, apa gimana? Dengan sikapnya yang kayak gitu, ya kali gue suka sama dia. Yang ada nih ya, gue naik darah mulu tiap di deket dia," kesal Carol.
"Jadi, kalo sikapnya baik, lo mau gitu sama dia?"
"Apasih, gak jelas banget lo! Udah, ah! Ngapain, coba, bahas si kutil kuda."
"Eh, tapi dia manis, loh, baik juga. Yakin lo sama sekali gak ada perasaan buat dia?” Carol menggeleng. “Sedikitpun?"
Carol hendak membalas ucapan Fiona, namun tak jadi karena suara seorang gadis yang menginterupsi percakapan keduanya.
"Hai, Na, Car. Ehm, gue boleh minta tolong jelasin soal tugas IPA nomer 3, nggak? Sumpah, ini susah banget. Mau, ya?" pinta Melody yang sudah membalikkan kursi Ben menghadap ke meja Fiona dan Carol. Ia terlihat canggung dan juga agak malu karena mengajak berbicara duluan padahal biasanya sangat gengsi, membuat kedua gadis di depannya sedikit menahan tawa.
Carol menyikut pelan lengan Fiona dan saat gadis itu menoleh, ia mengirimkan pesan isyarat yang meminta bagaimana pendapatnya. Fiona mengedikkan bahu lalu menampilkan wajah seperti 'gue-harus-gimana?' Carol menggeleng tak tahu dan kemudian Fiona menarik napas dalam sebelum berbicara.
"Oh, boleh. Bentar."
Fiona mengeluarkan buku tugasnya. Carol melakukan hal yang sama dan kemudian mereka berdua sama-sama memberi penjelasan cara kerja soal IPA pada Melody.
Carol beberapa kali mengutarakan bercandaan receh agar tak ada kecanggungan di antara mereka. Dan, ajaib! Melody bahkan sempat tertawa kecil karena tingkah absurd kedua gadis di depannya. Membuat banyak pasang mata di sekitar mereka terus menatap mereka bertiga dengan penuh tanya.
Menatap barisan angka di ponsel sembari berpikir sejenak, Fiona lantas membalik badan menjadi menghadap ke arah pintu kamar mandi. Nomor yang tadi ia dapat dari Alvita—teman sekelasnya—merupakan nomor Tristan. Fiona memang terlalu malas menyimpan nomor teman yang tidak terlalu akrab dengannya, sekalipun itu merupakan teman sekelasnya.
Ia membuka aplikasi berwarna hijau bernama Line dan berniat untuk mengirim pesan, tapi sempat ragu, takut kalau-kalau cowok itu sudah tidur. Tetapi sejurus kemudian Fiona menggeleng. Di jam segini, seorang badboy seperti Tristan pasti belum tidur. Pikirnya.
Fiona.A : oy
Fiona.A : woy
Fiona.A : dibales kek
Tristan : apa
Fiona.A : singkat bet dah
Fiona.A : eh gue mau nanya dong
Fiona.A : boleh nggak?
Tristan : apasih ribut bat elah. siapa lo!
Fiona.A : gadis cantik sejagad raya :)
Tristan : taik
Fiona.A : gue Fiona Anastasia, gadis cantik, baik, ceria, manis, murah hati, rajin, berbakti pada ortu, dll yang baik-baik :)
Tristan : -_-
Tristan : mau apa lo
Fiona.A : mau ngasih tau sesuatu
Tristan : tadi katanya mau nanya, sekarang mau ngasih tau. yang bener mana?
Fiona.A : gue mau dua-duanya
Fiona.A : lo kenal bryan kan? anak kelas Ipa 1. dia itu kepedean bet anjir, trus sombong, belagu, sok-sokan, udah gitu dengan seenak jidatnya ngejek kelas kita dan of course gue gak suka itu
Fiona.A : jadi untuk buat dia berhenti ngejek kelas kita, gue pen ngerubah lo
Fiona.A : mau nggak?
Tristan : jadi apa? power ranges?
Fiona.A : maksud gue sikap lo nyet
Tristan : jan ngatain gue, k*****t !
Fiona.A : iya iya map -_-
Fiona.A : kasar bat sih
Tristan : suka suka gue
Fiona.A : berubah yaa? pliss demi gue ;(
Tristan : ngapain gue cape-cape berubah cuma demi lo! lo siapa emangnya?
Fiona.A : gadis cantik sejagad raya :)
Tristan : -_-
Tristan : anak ayam gue masih cantikkan daripada lo
Fiona.A : lo punya anak ayam? yang warna-warni itu kan? ih lucu! sekali-kali bawa dong ke sekolah, gue pen ngasih makan mereka
Fiona.A : eh sori wkwk :v
Fiona.A : ok back to the topic! Intinya gue udah ngasih tau maksud dan tujuan gue, dan kalo lo mau pliss bantun gue dengan cara lo harus ada niat untuk berubah biar gue semakin mudah untuk ngerubah lo. Okey? ❤❤❤
Fiona.A : sengaja ngasih emot ini '❤', siapa tahu lo luluh dan senyum-senyum sendiri atas kemanisan gue.
Fiona.A : iya, tau kok kalo gue manis :)
Tristan : cot
Fiona.A : biarin ❤
Fiona : tau kok kalo gue manis
Tristan : kok dia lucu ye?
***
Semoga part kali ini lebih baik yaaa :)
Jangan lupa tap love-nya teman-teman sebagau bentuk dukuangan san apresiasi kalian sama cerita ini.
Mohon tetap dukung kami dengan cinta! <3