6. Grieve and Sorrow

1266 Words
Archanne terbangun agak kesiangan dari biasanya. Ia duduk di tempat tidur dan sudah ada lima pelayan berdiri di seberangnya. "Selamat pagi, nona. Sang raja ingin menemui nona segera." Kata seorang kepada Archanne yang masih berusaha untuk mengumpulkan jiwanya yang tadi melayang-layang. Archanne mengangguk lalu menyingkap selimutnya. Seketika hawa hangat ia rasakan ketika kakinya menyentuh lantai. Ia segera terhenyak dan kembali menaikkan kakinya ke atas ranjang. Ia menatap kearah pelayan-pelayan yang masih berdiri di sisi lain ruangan; meminta penjelasan. "Kami tidak bisa melakukan apa-apa, nona. Pangeran dan putri Vierith sedang disini. Mereka membawa kabar." *** Archanne berjalan lebih cepat dari biasanya. Orang-orang yang ia lewati, semuanya bertanya-tanya dengan kecepatannya berjalan. Hal apa yang bisa membuat seorang lady begitu tergesa-gesa? Ia segera mengetuk dan membuka pintu ruang takhta ayahnya. Matanya berwarna abu-abu sekarang. "Bicara." Hanya itulah yang keluar dari mulutnya sambil berjalan melewati seluruh orang yang membungkuk padanya. "Ayah. Bicaralah. Kumohon." Ia kembali berujar tapi dengan nada suara memelas dan agak bergetar. Sang raja menarik nafas dan akhirnya dengan nada yang agak bergetar pula ia menyatakan sesuatu yang sangat penting bagi Archanne. "Jeff. Dia..-" perkataan raja terpotong ketika melihat mata putrinya berubah menjadi warna hijau. Lalu ia kembali melanjutkan. "Jeff. Dia.. gugur." Waktu terhenti, begitupula dengan jantungnya. Ada sesuatu yang runtuh di dalamnya. Gadis itu bisa mendengarkan nafasnya yang bergetar, ia tidak pernah menggigil seumur hidupnya, tapi kali ini rasanya ia ingin segera meringkuk di dalam selimutnya dan menangis. "Apa.. Yang terjadi?" Archanne mencoba untuk menahan nada bicaranya dan menatap kelantai yang sudah beku oleh karenanya dan kembali menatap ayahnya. "Kaum Deneveria berhasil masuk kedalam wilayah Vierith, dan entah bagaimana pula mereka tahan dengan panasnya Vierith. Mereka mulai membantai hampir seluruh penduduk, Archanne. Jeff. Ia mengerahkan seluruh prajuritnya. Tapi mereka kalah jumlah dari ribuan Grinmok milik Deneveria. Jeff ikut bertarung, tapi salah satu Grinmok menusuknya dengan tombak beracun." Archanne mundur, ia membekap mulutnya. Dua hari yang lalu ia baru pergi meninggalkannya dalam kondisi yang baik-baik saja, dan sekarang ia harus menghadiri pemakamannya. Archanne tidak sanggup lagi. Ia berbalik dan berlari keluar ruangan. Setiap langkah yang ia ambil membekukan lantai yang ia lewati. Semua lampu lentera yang ia lewati padam. Semua kristal-kristal es murni yang ia lewati pecah dan kepingannya sangat tajam di setiap sisinya. Ia berlari tak tentu arah sampai ia menabrak seseorang. Davina. Archanne memeluk gadis dihadapannya itu dengan erat. Air matanya yang dingin tidak bisa berhenti keluar. "Aku sudah dengar beritanya. Tak apa-apa." "Tak apa-apa." *** "Archanne. Sudah berapa hari kamu tidak makan. Kamu harus makan." William duduk di sebelah Archanne yang sedari tadi berpaling agar nasi yang William sendokkan tidak masuk ke mulutnya. Davina sedang bersandar ke pilar di tengah kamar Archanne. "Kau tahu, Will. Kau itu bodoh." William menatap Davina yang sedang memutar-mutar belatinya dengan tatapan yang tajam. "Hei! Aku hanya ingin membantu, oke?" William meletakkan piring dan berjalan kearah Davina. "Kamu seorang lady, tapi berandalan sekali!" Gigi taring William keluar dari persembunyiannya. "Aku benci kau, aku benci gigi taringmu. Mereka jelek dan tidak runcing." Davina berjalan ke arah ranjang Archanne. William mengepalkan tangannya, rasa benci merasuk kedalam hatinya. "Kalau saja kau ini seorang pria, lehermu sudah kupatahkan." William keluar dari kamar Archanne dan membanting pintunya. Archanne menatap keluar jendela, pandangannya jauh ke dimensi lain. Ia mencoba mencari dimana Jeff berada. "Jangan repot-repot, Anne. Seberapa lamapun kau mencari, kau tak akan menemukan letak jiwanya lagi." Archanne tertunduk menatap tangannya yang diperban karena ia sengaja menyentuh mata belati milik Davina dengan kedua tangannya. "Aku bingung, Davina. Teori macam apa yang bisa aku jelaskan padamu, mengenai kematian dan kehidupan." "Tak perlu repot-repot. Aku tidak ingin tahu kemana ia pergi. Atau ayahku. Atau ibuku. Atau adikku." Davina menatap jendela kamar Archanne. "Sebenarnya, apa kau benar-benar sedih ketika mendengar kata-kata 'Jeff gugur'?" Davina melanjutkan. "Tidak sepenuhnya. Aku merasa bersyukur ia bisa pergi dari Tritanian ke dimensi lain. Ia terlalu banyak menderita dibawah naungan Vierith. Aku ingin ia tinggal disini dan menjadi sepenuhnya tanggung jawabku. Vierith itu hidup dengan sangat keras. " "Kau terlalu sering untuk tegar sendirian, menopang dirimu sendiri ketika hal buruk menimpamu. Itu tidak akan bagus untuk keadaanmu, Anne." "Maaf, tapi ibuku disana pasti akan sangat kecewa jika anaknya terlalu lemah." "Ia pasti tidak punya masalah jika kamu lemah untuk satu dua kali. Itu adalah hal yang biasa terjadi." "Ya, aku tahu." Archanne menatap jendelanya cukup lama. Kaca-kaca jendela itu seketika beku, Archanne memalingkan pandangannya yang sudah berubah menjadi warna biru muda pucat kembali ke tangannya yang diperban. Peda malam itu pun, Archanne terjaga. Ia semakin serin tidak tidur semalaman. Ia rasa ia bisa menggantikan tugas jaga para prajurit malam setelah ini. Semua orang juga tahu Archanne sangat terpukul akan kepergian Jeff. Pria itu sangat dekat dengannya, dan ia selalu datang ketika Archanne sedang bersedih atau mengalami putaran pikiran ibunya. Kamar Archanne sudah dilingkupi dengan es yang pucat dan dingin. Archanne tidak bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik lagi. Rasa hampa semakin menguasai Archanne. Gadis itu menangis dalam diamnya. Ia menderita, sangat menderita. Temannya, sahabatnya, harus pergi bahkan bukan karena kesalahannya. Jeff telah menderita begitu lama di Vierith, pikir Archanne berulang-ulang, mengajari dirinya untuk kembali pulih dari dukacitanya. Ia memang lebih baik tak disini, pikirnya lagi, sambil menyeka air mata dari pipinya. *** Archanne berjalan agak gontai ke ruang rapat kerajaan. Ia masuk tanpa mengetuk pintu, semua orang yang berada disitu berdiri dan membungkuk kepadanya. Ia berjalan ke tempat duduk di seberang ayahnya. Matanya masih berwarna biru muda pucat dan ini sudah satu bulan semenjak berita itu. Sang raja menunggu putrinya duduk dengan tenang dan melanjutkan bicaranya. "Mengenai penyerangan kaum Deneveria yang sangat mengejutkan ini, kita butuh perlindungan lebih. Master Trift, apakah naga es kita sudah siap tempur? Agar mereka langsung diposisikan di pusat kota." Seorang lelaki yang sepertinya sudah beumur ratusan tahun dan berjenggot putih layaknya penyihir pada umumnya berdiri, "naga-naga kita sudah siap tempur dan mereka sudah benar-benar matang untuk melindungi kerajaan dan putri kita, yang mulia." "Itu sebuah kabar yang bagus. Bagaimana dengan Madam Ploken, prajurit Lithium? Apa mereka siap?" "Mereka sedang dipersiapkan, Yang Mulia. Pakaian tempur mereka sedang dikerjakan." Raja melirik Archanne yang sedang menunduk sambil membolak-balik halaman buku yang berada dihadapannya. "Archanne?" Panggil raja lembut. "Hm? Ya?" Archanne tersentak dan kembali dari lamunannya. "Kami tahu tentang penyerangan ini?" Seketika sekujur tubuh Archanne terasa dingin. Ia merasa kekuatannya sedang memuncak. Baru kali ini kekuatannya begitu menggebu-gebu. "Aku tahu." Mata Archanne penuh dengan amarah sekarang. Ia tahu siapa yang harus disalahkan setelah semua itu usai. Para kaum Deneveria yang tidak punya kasih sayang itu tidak berhak punya takhta di Tritanian ini. "Aku akan ikut melakukan penyergapan, bersama garis terdepan." Semua dewan kerajaan ricuh dengan keputusan konyol putri mahkota mereka. "Nona, ini sangat berbahau untuk Anda dan kami! Anda bisa saja gugur di medan perang dengan garis terdepan!" Archanne menggeleng. Ia merapalkan mantra, menciptakan simbol kerajaan Elliens dari elemen es miliknya, tidak ada di tanah Elliens yang dapat melakukan itu, kecuali darah murni kerajaa. Bahkan sang raja pun tidak cukup kuat untuk menciptakan simbol unik Elliens itu. "Kalian tahu aku sekuat apa, 'kan?" Para dewan segera menyenderkan punggung mereka ke bangku, karena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Archanne memang yang terkuat, jika ia ikut ke medan perang Elliens bisa saja menang telak. *** Wajah Archanne bukan lagi wajah teduh yang sangat disukai para penduduk. Wajahnya, agak janggal. Matanya nampak sunyi dan bibirnya berwarna agak pucat. Tangannya selalu menggenggam satu dengan yang lain. Ia belum ada tersenyum selama satu bulan ini. Davina yang berdiri tak jauh dari Archanne melihat kejanggalan itu dan menggelengkan kepalanya. Betapa menderitanya Archanne dalam dukacitanya, Davina prihatin. Tetapi Davina menemukan hal yang janggal, bayangan putih mengikuti Archanne semenjak ia masuk ke ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD