Usai pertemuan yang membosankan, Davina menghampiri Archanne yang berjalan menuju balkon. Ia tak seperti biasanya, menunduk dan membuat aura dengan radius lima puluh meter pun bisa kedinginan. Davina kembali menggelengkan kepalanya. Setidaknya ia harus menahan emosinya yang ekstrim itu.
"Archanne, berhenti menunduk." Davina memiringkan dan agak membungkukkan badannya agar ia bisa melihat wajah sang putri yang sedari tadi menunduk.
"Kau bisa tinggalkan aku?" Archanne berhenti tepat di depan tembok pengaman. Ia memukul-mukul tembok itu. Oke, ini aneh. Hanya dia yang mampu membuat sebuah tembok pengaman seperti ini. Ia menoleh ke arah Davina yang menjulurkan tangannya ke arah Archanne. Dia yang membuat tembok itu.
"Kau harus ikut aku sebentar Archanne. Ini sangat penting."
"Sepenting apa? Kalau saja sama pentingnya ketika Jeff mati, aku lebih baik jatuh terpeleset muntahan bayi." Archanne semakin memukul tembok tak terlihat itu dengan keras. Davina meringis. Karena halnya tembok itu terhubung batin dengannya.
Tembok pengaman adalah tembok yang digunakan para pengendali berelemen es untuk menangkap dan memenjarakan musuh agar tidak bisa lari, tembok ini agak susah dikuasai para penduduk biasa. Pada umumnya, tembok pengaman memiliki hubungan erat dengan tubuh siapapun yang menciptakannya karena itu mereka harus menggunakan kalung untuk meredam sakit apabila ada benda yang memukul atau mencoba menghancurkan tembok ini. Kali ini, Davina lupa menggunakannya.
"Ayo. Ini bukan informasi seperti itu, tenang saja." Davina melepaskan mantra dan meraih tangan Archanne.
***
Mereka sampai di sebuah ruangan. Ruangan tempat dimana Davina tinggal untuk sementara. Tepatnya ruang tamu khusus milik Davina. Archanne berdecak kagum dengan apa yang dilakukan Davina terhadap salah satu ruang milik istananya. Keseluruhan ruangan dilapisi es dengan ukiran-ukiran yang indah.
"Oke. Archanne. Ini, tentang sebuah legenda." Davina mempersilahkan Archanne duduk dan berjalan ke arah dapur kecil miliknya, ingin membuat teh.
"Legenda macam apa? Kalau saja kau ingin menceritakan legenda 'Frostbite' atau 'the Frozen Necklace' lagi aku tak ingin mendengarnya."
"Bukan itu. Tapi legenda Zeralda." Archanne nampak bingung dengan judulnya. Ia memperbaiki posisi duduknya agar bisa lebih nyaman untuk mendengar legenda yang belum pernah ia baca atau dengarkan sama sekali.
"Dulu, ketika Elliens masih di umur yang sangat muda, hidup seorang penyihir yang diasingkan dari Agosa Mountain. Mengingat dia adalah penyihir yang bisa mengendalikan kekuatan es dia menjadi seorang pahlawan di Tritanian. Ia diasingkan ke Tritanian ketika umurnya masih muda. Ialah yang menjadi orang yang pertama sekaligus nenek moyang kita yang dapat mengendalikan dan mengembalikan elemen es ketempat dimana ia berada seharusnya. Dalam bahasa kita Elliens artinya Berada dimana ia berada. Nama penyihir itu Zeralda." Davina menghentikan ceritanya dan berjalan kearah meja yang berhadapan dengan Archanne dan meletakkan nampan berisi teh dan satu potong kue dengan krim warna biru.
"La.. Lalu, apa yang terjadi?" Archanne nampak bersungguh-sungguh menginginkan Davina untuk melanjutkan.
"Ia membangun kerajaan ini dan menamainya lalu meciptakan pelindung yang membuat elemen agar tidak menjadi sesuatu yang berbahaya. Ia mengalirkan air yang segar ke seluruh penjuru negeri, udara bersih dan mantra agar negeri tentram. Kau tahu jika seorang penyihir sudah selesai melakukan tugas pertama ia akan mencari tugas yang lain untuk dikerjakan. Pekerjaan kedua yang akan dilakukannya adalah menciptakan Blafen. Negeri asalku. Sebelum ia pergi ke negeri seberang ia berhenti untuk melihat sebuah kerajaan yang menurutnya adalah kerajaan yang masih berkembang, bukan kerajaan yang besar. Zeralda menaruh hati kepada sang pangeran muda Vierith kala itu. Dengan matanya yang tajam, ia terkesiap menatap seorang yang nampaknya masih seumuran dengannya duduk di sebelah raja.
Zeralda terpana melihat sang pangeran Vierith, Steven. Tanpa sadar ia bergerak kearah tempat dimana Steven duduk. Mencoba untuk menggapainya, dan sedikit lebih mengenalinya.
Steven disisi lain ikut terpana dengan kecantikan Zeralda yang mutlak, ia selama ini sudah dsering mendengarkan cerita tentang paras indah penyihir-penyihir wanita dari Pegunungan Agosa. Tetapi karena lokasi persembunyian mereka yang tidak diketahui siapapun berhasil membuat mereka menjadi kecantikan yang misterius, Steven tidak pernah melihat penyihir Agosa, sampai Zeralda datang ke hadapannya.
"Jangan kau berani mendekati putraku, Penyihir!" langkah Zeralda terhenti. Ia menoleh kearah raja. Ia bingung. Siapa yang membencinya? Seorang raja? Pikirnya. Ia memiringkan wajahnya, memicingkan matanya, dan kembali ke langkahnya menuju Steven. Raja terpaku dengan apa yang barusan terjadi. Penyihir ini sangat aneh lagaknya. Seakan ia tidak mengenali sang raja.
Dan benar saja, Zeralda memang tidak mengenali sang raja. Ia adalah penyihir yang lahir dengan kekuatan murni, ia tidak belajar di akademi seperti teman-temannya, ia tinggal di pengasingan bersama ibunya dan tidak pernah belajar sedikit pun tentang kerajaan maupun siapa yang harus ditakutinya. Yang ia tahu ia adalah penyihir berdarah murni terakhir dari kaumnya yang dimusnahkan oleh para tetua besar Agosa.
Setelah sampai di depan Steven, ia membungkuk, memberi hormat. Semua orang di dalam ruangan terpukau dengan adegan itu. Sang raja terduduk di singgasananya sedangkan ratunya mencoba untuk menenangkannya. "Steven Ulf Zachary." Katanya menatap bola mata cokelat Steven.
"Katakan padaku, penyihir. Apa yang akan terjadi pada kerajaan kami?" Tanya Steven yang terbius oleh paras Zeralda. Sedangkan sang raja masih terguncang di singgasananya.
Zeralda berjalan ke depan singgasana raja, membungkuk lalu mundur beberap langkah. Dari tangannya keluar asap biru yang membuat gambaran kerajaan Vierith. Terlihat bahwa kerajaan Vierith masih kecil dan berkembang pesat.
"Arthur, kerajaanmu adalah kerajaan yang makmur. Peperangan akan terjadi, hanya sekali dalam seluruh penglihatanku. Pangeranmu akan mematahkan segala rahang, tapi kau akan tahu siapa pengkhianat." setelah kata-kata itu, Zeralda tersenyum pada Steven lalu pergi dari ruangan. Sebelum sepenuhnya keluar, ia menatap Steven yang melihatnya dengan penuh keterkejutan.
Zeralda mengurungkan niatnya untuk menciptakan Blafen dan menetap sementara di kerajaannya, Elliens. Zeralda tahu apa yang akan terjadi setelah itu, dan ia menunggunya datang. Suatu hari seseorang berhasil menyusup ke dalam kerajaannya, Steven. Sesampainya ia di dalam ruang singgasana tempat dimana Zeralda berada, ia berjalan kearahnya. Zeralda menciptakan pagar es yang tajam dan hampir melukai pangeran itu.
"Apa maumu?" Zeralda menatap Steven dengan mata hazel miliknya. Dingin tapi ada seberkas belas kasihan yang tersirat.
Steven menatap Zeralda mantap, "Aku tertarik padamu." Zeralda terdiam sejenak, ia terkejut. "Kamu datang disaat aku bertanya-tanya tentang kehadiran seorang penyihir Agosa. Aku rasa ini takdir." Ini kali pertama ia mendengarkan kata 'tertarik'. Apalagi ditujukan khusus untuknya. Sejak saat itu mereka semakin dekat, Steven yang masih belum paham dengan es, menetap dan merasakan hawa dingin menusuknya setiap kali ia mencoba untuk tidur.
Zeralda selalu datang tiap malah ke kamar pria itu dan memadu kasih dengannya. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan penuh nafsu yang membara.
Sampai suatu hari Steven mati karena terkena hipotermia. Zeralda bersedih terlalu lama tanpa tahu, angin yang ia hembuskan menyanyikan nyanyian pedih sampai ke telinga raja Vierith. Mendengar putra mahkota telah meninggal, sang raja murka dan melakukan perlawanan pada kerajaan Elliens.
Mendengar perlawanan yang akan dilakukan kerajaan Vierith, Zeralda membangun beribu-ribu pasukan es. Pertarungan sengit terjadi antara Elliens dan Vierith. Sang raja meminta bantuan kepada tetua Agosa untuk memberkatinya untuk melawan Zeralda.
Para tetua pun menyutujui dan memberikannya dan alisansinya kekuatan yang bisa membantu untuk memusnahkan Zeralda dan kekuatannya. Namun Zeralda memang lebih dari kuat daripada dugaan mereka. Es yang ia ciptakan dapat membunuh siapa saja dengan mudah, ia menciptakan kehidupan dari tangannya dan melindungi dirinya dengan baik.
Pada akhirnya, Zeralda berhasil membunuh sang raja, meninggalkan sang ratu dan putri bungsunya. Sebelum ia memusnahkan Vierith, para penduduk bersama ratu memohonkan agar Zeralda membiarkan mereka hidup dan berkembang, tercetuslah perjanjian 3 Elemen. Dimana 3 kerajaan harus hidup tentram setelah itu. Zeralda sendiri meninggal setelah menciptakan Blafen dan dikuburkan di makan tanpa batu nisan."
"Oh wow, Ini kisah romantis dimana sang pangeran sangat bodoh dan sang penyihir acuh tidak acuh." Archanne tersenyum lalu tertawa.
"Hebat, Archanne. Hebat." Davina menepukkan tangannya. Ia punya rasa lega dalam dirinya karena Archanne bisa kembali tersenyum semenjak berita yang begitu menyayat hatinya sampai ke telinganya
Archanne menarik dan menghembuskan nafas lega, "Aku sangat bersyukur, Davina. Kau berada disini dan mampu menghiburku. Terima kasih." Archanne tersenyum. Senyumannya mencairkan segala es dalam ruangan. Ia terkejut, begitu pula dengan Davina.
"A.. Apa yang barusan terjadi?" Mereka berdua terbelalak. Kalung di leher Davina merubah warnanya menjadi warna ungu. Sedangkan mutiara di kalung Archanne merubah warnanya menjadi merah lembut.
"A.. Archanne?" Bayangan putih itu kembali berdiri di sebelah Archanne duduk, dan Davina melihatnya lagi. Bayangan putih yang sama yang sebelumnya muncul di belakang Archanne.