PDD 01.
Stockholm--Swedia, April 2020.
‘Tok! Tok!’
Palu hakim sudah diketukkan. Rumah tangga sang pangeran yang baru dibina selama kurang dari satu tahun itu akhirnya kandas. Pernikahan yang didasari cinta, dan perjuangan berat membawa seorang perempuan tanpa status masuk ke keluarga kerajaan, berakhir sudah.
Dallen, pria berusia 32 tahun itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan meninggalkan deret kursi pengadilan distrik. Semua kini sudah berakhir.
“Dally.” Seorang perempuan berusaha mengejar Dallen, namun dua orang pria dengan setelan jas warna hitam segera menghalangi langkah kakinya. “Aku ingin bicara dengan suamiku sebentar,” pinta memelas perempuan itu.
“Mantan.”
Wanita itu menelan saliva susah payah. Sepasang matanya basah oleh air mata. Air mata penuh penyesalan. “Tolong biarkan aku bicara dengan mantan suamiku. Sebentar saja,” pinta wanita itu dengan air mata yang kini sudah menetes turun membasahi kedua pipi putih mulusnya.
“Dally, aku mohon.”
Dallen menghentikan ayunan kaki. Pria itu akhirnya menoleh. Dengan wajah datar, pria itu menggerakkan bola mata. Membuat dua orang berjas hitam-hitam yang sedang menghalangi seorang wanita itu mengangguk, kemudian menarik langkah ke samping. Memberikan jalan hingga wanita yang memakai dress warna hitam tersebut akhirnya bisa berjalan menyusul sosok pria tampan gagah yang tidak lain adalah mantan suaminya.
Ruangan itu sepi. Tidak ada orang selain beberapa orang yang bekerja bersama Dallen. Perceraian sang pangeran masih dirahasiakan. Pihak kerajaan masih menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkan perpisahan mereka.
Dallen memperhatikan pergerakan perempuan itu dengan ekspresi wajah datar. Tidak ada riak emosi yang tergambar di wajah tampan pria matang tersebut. Dallen, pria itu sangat pandai menyembunyikan emosinya.
Sebagai seorang pangeran, apapun latar belakangnya–sedari kecil ia terbiasa menyembunyikan emosi. Dia tidak diperbolehkan bersikap semaunya, melakukan apapun yang diinginkan. Semua harus sesuai aturan kerajaan. Semua harus dengan persetujuan raja.
Elsa adalah satu-satunya yang ia perjuangkan dengan seluruh tenaga. Namun, ternyata perjuangannya justru dibalas dengan penghianatan. Elsa berhasil membuatnya tak lagi percaya akan cinta.
“Aku minta maaf. Aku mencintaimu. Aku bersumpah aku mencintaimu.” Elsa menangis terisak. “Aku mohon, maafkan aku.” Sambil menangis Elsa meraih tangan Dallen.
Dallen menurunkan pandangan matanya, menatap tangannya yang dipegang oleh Elsa. Sesaat kemudian pria itu menarik lepas tangan Elsa. Dengan wajah dingin, pria itu berkata.
“Pergilah ke neraka, Elsa.” Lalu setelah menyelesaikan kalimat itu, Dallen melanjutkan ayunan kakinya. Pintu dibuka, Dallen keluar tanpa menoleh ke belakang.
Ayunan kaki pria itu memelan sebelum akhirnya berhenti di depan seorang pria tua. Dallen menunduk. “Morfal,” sapanya pelan. Morfal adalah panggilan informal untuk kakek yang berasal dari sang ibu.
Pria di depan Dallen menatap sang cucu. “Kamu sudah pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan dan hasilnya sangat buruk. Sekarang, kamu harus menuruti perintahku agar kelak kamu bisa bertahta. Aku sudah menyiapkan pendamping yang cocok untukmu.”
“Beri aku waktu dua tahun untuk bebas. Biarkan aku hidup tanpa gelar yang membebaniku.”
“Satu tahun, Dallen. Kakek hanya bisa memberimu waktu satu tahun. Tidak lebih.”
****
Jakarta--Indonesia, Oktober 2020
Sofia tiba di depan pintu apartemen Gavin, pemuda yang sudah tiga tahun menjadi kekasihnya. Tepat hari ini. Ia datang memberi kejutan untuk merayakan tiga tahun masa pacaran mereka.
Dengan membawa roti tart dengan lilin angka tiga yang menyala, Sofia menekan beberapa angka kombinasi hingga suara kuncian pintu yang terbuka terdengar.
Senyum sang gadis merekah. Sambil membawa kue, ayunan kaki gadis itu bergerak masuk, menuju kamar sang kekasih. Dia berusaha untuk tidak membuat suara sedikitpun. Suasana di dalam apartemen tersebut sepi. Sofia melanjutkan langkah kakinya.
“Oh … baby.”
"Yes ...."
Langkah kaki Sofia berhenti seketika. Ia menajamkan pendengarannya. Khawatir salah mendengar. Tangan Sofia bergetar ketika mendengar suara lenguhan panjang penuh kenikmatan.
Sofia menggelengkan kepala. Gadis itu memegang lebih kuat tataan kue di tangannya. Rasanya ia tidak ingin mempercayai pendengarannya, akan tetapi, suara-suara menjijikkan itu terus terdengar. Semakin keras.
Jantungnya berdegup keras membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam kamar tak jauh dari tempatnya berdiri. Sofia memutar tubuh. Berpikir untuk pergi karena ia tidak sanggup mengetahui kenyataannya. Namun, hati kecilnya berkata lain. Dia harus melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang menghianatinya.
Masih membawa kue anniversary dengan lilin menyala, Sofia kembali berbalik lalu berjalan dengan ayunan kaki lebar dan cepat. Ekspresi wajah gadis itu berubah.
Tanpa basa-basi, Sofia mendorong daun pintu kamar dengan keras. Suara yang ditimbulkan ketika daun pintu itu menghantam sisi dinding, membuat dua orang yang sedang bergumul di atas ranjang terkejut setengah mati. Dua orang yang sedang memadu kasih itu menoleh ke arah yang sama. Mata mereka terbelalak begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
“Sof-Sofia.”
"Sofi!"