Prolog

1348 Words
"Aku mau gaji 50 juta perbulan, kartu kredit no limit, mobil paling mahal, rumah tanah, tabungan dan investasi, kontrakan 50 pintu, dan pembantu khusus untuk melayaniku." Cherry, wanita muda yang baru saja lulus kuliah dan sudah hampir menyerah untuk mencari pekerjaan itu, sedang bernegosiasi dengan Barra Prawira. Seorang CEO sekaligus Billionaire yang tampan, dan menjadi incaran para wanita di luaran sana. Jika kalian kira mereka sedang bergosiasi tentang pekerjaan, kalian salah. Cherry dan Barra sedang bernegosiasi tentang sebuah pernikahan kontrak yang akan menjadikan Cherry sebagai istri bayaran sampai waktu yang Barra tentukan. Bukannya Barra tidak laku atau tidak suka dengan pernikahan, tapi karena ibunya tidak mau merestui hubungannya dengan sang kekasih yang bernama Keysha untuk ke jenjang pernikahan. Alasannya, sang ibu tidak ingin memiliki menantu yang bekerja sebagai model atau artis. Ibunya lebih suka wanita biasa dan sederhana. Wanita yang mau menjadi ibu rumah tangga saja. Ibunya ingin kebiasaan anaknya yang selalu bermewah-mewah berubah. Tidak apa jika bukan dari kalangan orang kaya, yang penting bisa menjadi pendamping setia untuk putranya. Selalu ada waktu untuk support putranya, yang selama ini harus mengurus perusahaan besar. Bukan menantu yang bisanya hanya belanja, bersolek, berpose dengan pakaian dalam seperti Keysha. Pekerjaan model dimata Wika sangat buruk. Dan meski mereka kaya serta bisa menyewa banyak sekali maid, Wika tetap ingin menantu yang bisa segalanya. Khususnya memasak. Itu tidak dapat dibantah! Karena Wika pun menyiapkan sendiri makanan untuk anak dan suaminya. Selama Barra berpacaran dengan Keysha, ibunya telah menjodohkannya berkali-kali hingga membuat Barra sangat muak. Maka dari itu dirinya mencari tameng agar tidak lagi di jodohkan. Agar hubungannya dengan Keysha dapat berjalan lancar tanpa ada gangguan. Keysha pun setuju dengan ide ini. "Baiklah! Apapun yang kau minta. Tapi aku memegang kendali atas dirimu setelah menikah. Jangan juga berharap banyak, karena kita hanya menikah kontrak yang kapanpun bisa bercerai. Jangan menggunakan perasaan." "Its okey Tuan Barra Prawira yang terhormat! Menjadi janda kaya raya tidak buruk juga." Ujar Cherry santai sambil bermain diatas kursi putarnya. Wanita muda itu tampak setuju dan santai dengan perjanjian yang Barra tentukan. Cherry memiliki alasan tersendiri kenapa menerima apapun persyaratannya. Ia bukan dari kalangan orang kaya, ibunya hanya seorang penjual kue. Ayahnya seorang driver ojek online yang selama ini banting tulang untuk membantu biaya kuliahnya. Setidaknya dengan menjadi istri pura-pura Barra, ia bisa mengangkat derajat mereka dan membuat mereka bahagia. Lagipula setelah mereka bercerai, Cherry yakin uangnya sudah berlimpah-limpah. Ia bisa mencari pria baru dan mengejar cinta yang sebenarnya. Cherry berharap semua akan berjalan lancar. "Baca dan tanda tangani kontraknya. Jagalah image kamu untuk menjadi lebih anggun, jangan norak seperti ini. Kamu akan menjadi istri CEO!" Sentak Barra memperingati. "Tidak usah berteriak! Dasar kasar sekali! Pantas mencari istri bayaran, siapa yang mau menikah dengan pria galak sepertimu?" "Diamlah bocah! Kamu tidak tau apa-apa." Barra mengarahkan telunjuknya kepada Cherry dengan penuh ancaman. "Kita hanya berbeda 7 tahun! Jangan lebay!" "Aku malas berdebat! Jangan lupa jika nanti malam kamu akan bertemu orangtuaku, jaga sikapmu. Buat mereka yakin padamu. Mengerti?" ****** Setelah menandatangani kontrak yang Barra berikan dan keduanya telah sepakat, kini Cherry menepati janjinya untuk menemui orangtua Barra. Nyali Cherry seketika menciut setelah menginjak rumah besar bak istana itu. Bahkan daripada rumah, tempat itu lebih pantas di katakan sebagai kastil. Cherry tidak pernah bermimpi jika ia akan menikah dengan pria sekaya ini. Meski itu hanya pura-pura. Ohhh dan lihatlah lampu-lampu serta hiasan-hiasan yang glamour dan indah itu. Jika dibandingkan dengan pajangan di rumahnya, ini sangat jauh berbanding terbalik. Mungkin kecoak juga akan minder untuk masuk ke dalam kastil ini. "Kenapa tidak bilang jika kamu sekaya ini?" Protes Cherry. "Kamu minta gaji 50 juta sebulan, dan aku sanggupi. Lalu aku harus menceritakan seberapa kaya aku?" Sombongnya sambil menarik lengan Cherry untuk di gandengnya. "Jangan sombong!" "Aku bicara fakta!" "Ya sudahlah terserah, yang penting gajiku lancar. Tidak boleh ngutang sebulan pun!" Peringat Cherry tajam. "Ngutang... berarti bayar dua kali lipat!" "Dasar lintah darat!" "Biarin! Kamu pikir jadi istri pura-pura gampang?" "Sekarang bisa diam? Kamu mau orangtuaku mendengarnya?" Setelah keduanya sampai di sebuah ruang tamu, para pelayan langsung menyambutnya dengan senyuman hangat. Membawakan barang-barang mereka, dan mengatakan dimana kedua orangtua Barra berada saat ini. "Tuan besar dan Nyonya sudah menunggu kedatangan anda, Tuan muda." "Thanks." Jawab Barra cuek, lalu segera membawa Cherry yang masih kebingungan ke sebuah ruangan. Barra pun menyapa orangtuanya dengan senyuman hangat, lalu membiarkan Cherry bersalaman dengan sopan. Wika dan Irwan sampai menatap tak percaya kepada perempuan yang Barra bawa. Benarkan anaknya yang sangat keras kepala, menuruti keinginan orangtuanya untuk mencari istri yang lebih sederhana? "Selamat malam Om, Tante, saya Cherry." Ujar Cherry gelagapan. "Halo sayang, cantik sekali. Jadi ini pacar baru Barra?" Wika memeluk Cherry dengan hangat dan ramah. Sangat berbeda jauh dengan sambutannya kepada Keysha, jika wanita itu yang datang. Barra semakin tidak mengerti dengan pikiran orangtuanya. Selera mereka begitu rendah tentang menantu. "Iya Ma, ini pacar baru Barra. Kami kenalan disebuah seminar, saat Barra menjadi pembicara di kampusnya." Ujar Barra asal. Padahal Cherry adalah orang rekrutan anak buahnya, untuk menjadi istri bayarannya. "Saya baru lulus kuliah tante. Tapi saya punya usaha toko kue kecil-kecillan yang saya kelola sama mama." Cherry berujar dengan kaku. Oh God.... apa ia akan diusir karena miskin? Mana mau mereka mempunyai mantu sepertinya? "Jago bikin kue dong?" Wika bertanya dengan ramah. "Saya bisa bikin kue apa aja." Jawab Cherry enteng. Tentu saja ia jujur, karena sedari kecil ia sudah terbiasa membantu ibunya. Membuat kue dan memasak sudah menjadi bagian dari kehidupan Cherry selama ini. "Kalau masak?" "Cherry juga bisa masak." Jawabnya lagi dengan yakin. "Mau masak makan malam bareng? Cherry bantuin tante ya?" "Baiklah, ayo tante! Tante sukanya makanan apa? Sama kayak Barra, ya?" Ujar Cherry sok akrab. Padahal ia sama sekali tidak tau apa makanan kesukaan pria angkuh itu. "Emang Barra suka apa?" Tanya Wika penasaran. Sudah sejauh apa Cherry tau tentang putra sematawayangnya. "Ayam bakar dan sayur asem." Jawab Cherry asal sambil menoleh kepada sang pria yang geleng-geleng frustasi. "Hah...?" Wika ikut menoleh ke arah putranya. Setahu Wika anaknya paling suka steak dan makanan barat lainnya. Barra tidak akan mau menyentuh makanan seperti itu. "Barra beberapa kali main ke rumah Cherry, dan mencoba masakan Cherry. Katanya dia sangat suka makanan itu. Aku memaksanya makan sayuran. Aku juga memaksanya untuk berhenti merokok dan mengomel. Barra sangat patuh padaku." Cherry tertawa canggung saat menyadari ucapannya sudah mulai aneh dan tak masuk akal. Cherry pikir Wika akan curiga padanya. tapi sedetik kemudian... "Wah bagus itu! Dia itu suka sekali makan makanan yang nggak sehat! Suka sekali merokok! Suka mengomel! Bagus jika kamu berhasil menangani kebiasaan buruknya." Mata Wika berbinar. "Terutama mengomel, hati-hati stroke! Punya anak satu cerewetnya minta ampun!" Cerocos ibunya lagi sambil menatap Barra. "Yasudah ayo masak makanan baru kesukaan Barra." Wika kembali berfokus kepada Cherry dengan penuh semangat. "Oh iya tante, Barra juga mulai suka sambal terasi dan ikan asin!" Ujar Cherry lagi sambil meledek Barra yang sepertinya marah padanya. Siapa takut? Cherry akan mengerjainya dengan puas hari ini. "Waduhhh, itu kesukaan om Irwan. Benar kan sayang? Sudah lama kamu nggak makan itu!" "Iya Mah, udah lama banget Papa nggak makan itu! Kalau Barra udah mulai suka, sering-sering aja masak masakan Jawa. Kalau bisa opor dan nasi uduk!" Barra mengepalkan tangannya marah. Mana suka ia makanan seperti itu? Berlemak! Dirinya yang dulu kuliah dan tinggal di luar negri tidak pernah menyentuhnya. "Sama satu lagi Ma, ini paling menjadi makanan favorite Barra saat main ke rumah Cherry." "Apa?" Tanya Wika dan Irwan penasaran. "Semur Jengkol." "Apa...????" Wika dan Irwan tersenyum bangga kepada anaknya. Padahal selama ini jika kedua orangtuanya memesan makanan itu dari sebuah restaurant, anaknya itu akan marah besar karena tak suka aromanya. Bagaimana bisa putranya banyak berubah seperti itu? "Kata Barra, semur jengkol buatan Cherry paling nikmat! Iya kan sayang? Oh ya ampun aku lupa, kamu kan suruh aku manggil Mas Barra. Iya kan Mas Barra sayang? Kamu suka semur jengkol sekarang?" "Iya sayang." Barra tersenyum kaku dan menyimpan sejuta dendam kepada Cherry. Awas saja wanita itu, beraninya dia berkata sembarangan. "Kalian lucu sekali! Benar kata mama kan, istri yang sederhana akan mengubah kesombonganmu! Cherry benar-benar menantu idamanku!" Wika berkata-kata dengan tatapan kagum. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD