"Aaaaa sayang..." Cherry dengan jahil menyuapkan sebutir semur jengkol buatannya, yang menjadi makanan favorite orangtua Barra sekarang.
Menu makan malam kali ini berbeda dari sebelumnya. Jika biasanya mereka hanya memakan daging panggang dan masakan barat, kali ini terdapat banyak sekali makanan daerah yang dibuat special oleh calon menantu mereka.
Demi sandiwaranya, Barra terpaksa memakan makanan mengerikan yang Cherry suapkan padanya. Awalnya ia sangat jijik dan ngeri. Tapi ternyata setelah merasakannya, semur jengkol tidak buruk juga. Bahkan terasa sangat enak.
"Kamu pintar sekali masaknya, baunya jadi tidak menyengat. Rasanya seperti daging sapi." Wika memuji Cherry yang kini wajahnya kian memerah.
"Enak Mas?" Tanya Cherry, dan Barra mengangguk setuju. Barra langsung menyuap sendiri makanan-makanan yang ada di meja itu. Termasuk ayam bakar, sayur asem, dan ikan asin, yang ternyata sangat menggoda lidahnya untuk tambah lagi dan lagi.
Cherry sangat kecewa saat Barra tak terlihat tersiksa saat memakan itu semua. Sebaliknya, justru pria itu sangat menikmatinya.
"Benar ya, kata Cherry. Barra lahap sekali makannya." Irwan terlihat sangat bangga melihat sang putra, pertama kalinya mau memakan makanan sederhana seperti ini.
"Benar, Pa. Lagipula masakah Cherry emang enak, bahkan melebihi restaurant mahal. Barra tidak salah pilih calon istri."
"Kapan kamu akan melamarnya Bar?" Ayahnya bertanya lagi sambil tertawa renyah.
"Secepatnya Pa. Barra senang jika kalian senang." Barra mengusap puncak kepala Cherry dengan sangat terpaksa.
Tapi sebenarnya Barra lega karena Cherry berhasil mengelabui orangtuanya. Dengan begini ia tidak perlu repot mencari-cari wanita lain untuk menjadi tamengnya.
"Mama senang kamu tidak jadi menikah dengan Keysha. Wanita itu, apa yang dia bisa? Mama punya feeling yang nggak bagus. Entah kenapa auranya terlihat sangat buruk."
"Yasudah jangan di bahas lagi, Ma." Irwan melerai ucapan istrinya.
"Mama pernah lihat dia jalan sama Vincent. Kamu tau siapa Vincent kan? Dia itu anak dari musuh bebuyutan perusahaan kita. Udah gitu Keysha juga model. Mama tidak suka punya mantu yang hobi pajang tubuhnya di majalah. Amit-amit. Cari istri itu yang baik, biar nggak bikin rejeki kamu seret. Biar cucu mama nanti keturunan juga baik."
"Maa..." Barra menyela perkataan ibunya. Sampai saat ini ia tidak pernah percaya dengan semua yang ibunya katakan. Karena ibunya itu beberapa kali ingin membayar Keysha dengan uang agar wanita itu meninggalkannya. Itu pasti hanya akal-akalan ibunya agar ia membenci Keysha.
Dan apa yang salah dengan model? Ibunya saja yang kolot dan terlalu kuno.
"Menantu itu seperti Cherry ini, apa adanya. Dia jujur dan sederhana, tidak gengsi menceritakan asal-usulnya."
Cherry semakin canggung ketika suasana meja makan menjadi hening. Tampak sekali jika Barra sangat marah karena ucapan ibunya. Tapi pria itu menahannya sebisa mungkin.
"Pokoknya mama nggak mau tahu! Warisan kamu hanya akan cair ketika kamu menikah dengan Cherry, dan kalian memberi mama cucu. Mama tidak mau, kamu menjadikan Cherry sebagai pelarian saja. Kamu tidak mungkin secepat itu melupakan Keysha. Mama ngomong begini didepan Cherry, supaya dia tau apa yang terjadi. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman yang membuat kalian berpisah dan bertengkar suatu hari nanti. Mantan kamu itu kayak parasit, nempel mulu minta uang kamu."
"Papa setuju dengan ucapan Mama. Masalah ini memang harus dibicarakan supaya tidak terjadi kesalahpahaman."
"Om, Tante, Mas Barra sudah cerita semuanya. Dia memang belum lupa begitu saja, tapi pelan-pelan Mas Barra akan belajar move on." Bela Cherry untuk partnernya. Calon suami pura-puranya.
"Tuh kan, pantas saja kalian tidak begitu mesra. Pasangan itu biasanya mesra, ini seperti ada sesuatu. Barra, jangan sampai kamu menjadikan Cherry sebagai pelarian saja." Jerit ibunya gemas.
"Ma, aku mencintainya. Pelan-pelan aku bisa melupakan Keysha. Lagipula kenapa juga kami harus mesra dihadapan kalian?" Tegas Barra, lalu mencium kening Cherry dengan singkat.
"Kami akan segera punya anak yang banyak setelah menikah. Mama dan Papa jangan negative thinking terus! Dan jangan bicarain Keysha lagi, dia hanya masa lalu."
Cherry bersumpah akan meminta bayaran lebih mahal setelah ini. Apa-apaan Barra? Main cium-cium! Dan apa kata dia, mempunyai anak yang banyak? Itu tidak ada didalam kontrak!
"Bagus jika begitu!" Ujar Wika bangga. "Lamar Cherry besok! Sana minta izin orangtuanya!"
"Emang itu rencanaku Ma. Bagus deh, kalau mama udah kasih restu." Sahut Barra santai.
*****
"Arghhhhhh....!!!!" Teriak Cherry disepanjang jalan sambil memukuli Barra yang sedang menyetir. "Apa-apaan kamu cium-cium aku? Dan apa itu punya anak yang banyak?"
"Kita rubah kontraknya. Kamu dengar, warisanku tidak akan cair jika kita tidak punya anak."
"Aku tidak mau...!!!!"
"Aku bayar empat kali lipat! Bayangkan berapa uang yang kamu dapatkan tiap bulan?" Barra meyakinkan. "Kalau kita cerai, anak kita aku yang tanggung. Kamu tidak akan kerepotan mengurus anak."
"Tapi aku juga nggak mungkin pisah sama anak aku nanti!"
"Kita buat dua anak! Satu untukku, satu untukmu!"
"Tapi..."
"Kamu masih bisa bertemu dengannya saat cerai nanti! Kamu bisa berkunjung kan?"
"Aku mau sepuluh kali lipat! Aku sangat dirugikan disini."
"Oke, sepuluh kali lipat!"
"Awas jika kamu bohong! Awas juga jika kamu ngutang sebulan aja!"
"Iya..!!! Lintah Darat!!!" Barra berujar ketus.
Cherry tersentak ketika Barra tiba-tiba menarik dirinya kedalam pelukan pria tersebut. Mengusap puncak kepalanya dengan mesra, dan mencium pipinya hingga membuat jantung Cherry berdebar kencang.
"Apa ini....!!!" Cherry berteriak sambil memukulinya kembali.
"Kita harus membangun chemistry! Mama dan Papa hampir curiga karena kita tidak bersikap mesra. Jangan GR!"
"Tapi tidak usah begini!"
"Biasakan, sudahlah diam saja! Apa susahnya berpura-pura? Nanti setelah menikah kita juga harus bikin anak! Jika tidak mulai dari sekarang membangun kemesraan, kapan lagi? Buat hubungan kita senyata mungkin!"
"Huuh, bilang saja mencari kesempatan."
"Pacar aku aja, jauh lebih cantik. Kamu tidak ada seperempatnya, nggak level!!!"
"Nyatanya ibu kamu lebih menyukaiku!"
"Ibuku matanya buta!"
"Dasar tidak mau mengakui! Ingat, buat juga orangtuaku yakin. Kamu hanya perlu menjadi orang yang sopan di hadapan mereka!"
"Tenang saja, kita saling bekerjasama untuk masalah ini. Rencana ini harus berhasil, aku tidak mau hubunganku bersama Keysha di ganggu."
"Yaaa...!!!" Jawab Cherry ketus.
Cherry jadi penasaran seperti apa rupa si Keysha itu, sampai Barra begitu tergila-gila. Apa Keysha sangat cantik? Bukan urusannya. Yang Cherry mau saat ini hanya uang dan uang.
Setelah menikah, setiap bulannya dia akan mendapat ratusan juga. Ia akan menjadi miliyarder mendadak nantinya! Orangtuanya tidak perlu lagi bekerja serabutan dan kelelahan.
****
Sama seperti Cherry, Barra sangat canggung saat memperkenalkan diri kepada orangtua calon istri pura-puranya.
Barra juga menatap ke sekelilingnya. Rumah Cherry sangatlah kecil, sederhana, dan jauh dari kata mewah. Orangtuanya pun berpakaian lusuh. Sangat berbeda dengan kehidupan mewahnya selama ini. Pantas Cherry mau menjadi istri pura-puranya demi uang.
"Kami bukan dari orang berada, Nak. Apa itu tidak masalah? Kami tidak mau keluarga kamu menjadikan ini sebagai masalah." Hendra memasang wajah yang begitu khawatir dan tak enak. Ia cukup sadar diri dengan keadaan ekonominya.
"Mama dan Papa saya tidak memandang itu. Mereka sudah menyetujui hubungan kami. Status sosial tidaklah penting. Yang paling utama Cherry adalah wanita yang baik dan tulus." Barra tersenyum sopan kepada ayah Cherry.
"Tolong restui kami, saya akan bertanggungjawab dan menjaga Cherry sampai akhir hayat kami." Janji Barra untuk meyakinkan.
"Saya tergantung Cherry saja. Kami hanya ingin dia bahagia." Hendra dan Fatma tersenyum haru melihat calon mantunya mencoba meyakinkan mereka. Keduanya tidak pernah berharap untuk mendapatkan mantu orang kaya seperti Barra. Keduanya hanya mau Cherry bahagia dan mendapat suami yang setia.
"Kami hanya minta, nak Barra jaga Cherry yang ceroboh ini. Jangan tinggalkan dia, dan jangan sakiti dia. Sejatinya hanya itu yang orangtua harapkan untuk putrinya." Ujar Hendra lagi yang membuat Cherry sangat sedih.
"Nanti jika kami tiada, kami jadi bisa pergi dengan tenang jika Cherry mendapat suami yang setia dan penyayang." Hendra menepuk pundak Barra sebagai tanda bahwa ia percaya.
Cherry minta maaf sebesar-besarnya didalam hati, karena sudah berbohong kepada dua orang paruh baya itu demi uang. Tapi ini demi mereka juga kan?
"Saya pasti akan setia." Sekali lagi Barra meyakinkan, lalu mengenggam jemari Cherry yang bergerak-gerak gelisah sejak tadi. "Saya akan menjaga putri anda, dengan segenap usaha yang saya bisa."
******