Bertemu Keysha

1286 Words
"Jadi ini yang bakalan jadi istri sementara kamu?" Keysha menatap gadis manis dan kekanakan yang ada di hadapannya. Lagi-lagi wanita itu bermain di kursi putar yang ada di kantor Barra layaknya anak kecil. Keysha akui Cherry memang cantik. Tapi sayang kampungan dan norak. Cherry juga miskin dan tak selevel dengan dirinya. Lihatlah kelakuannya! "Iya. Kamu setuju kan?" "Terserah kamu aja. Tapi ingat jangan jatuh cinta padanya! Ingat misi kita!" "Aku tau! Nanti setelah mendapatkan anak dan warisan, aku dan Cherry akan bercerai. Dan kita bisa menikah walau mama dan papa tidak merestui. Yang penting aku sudah menjadi pewaris perusahaan keluarga." "Bukankah itu jahat? Mereka ibu dan ayahmu!" Cherry memotong pembicaraan keduanya. "Aku hanya ingin menikah, bukan menyakiti mereka. Aku memaksa mereka untuk merestui dengan cara ini." Sahut Barra tak mau kalah, karena ia memang tidak mempunyai tujuan jahat. Ia hanya mau restu, itu saja. "Kamu itu cuman bawahan, jangan ikut campur! Jangan memotong ucapan boss! Mending kamu ambilin kita minum dan bersihkan sepatuku yang terkena debu." Keysha tersenyum sinis sambil menyodorkan kakinya. Cherry tertawa sombong sambil melipat tangannya. Ia tiba-tiba berdiri sambil menatap rendah wanita yang ada di hadapannya. Jiwa pemberontak Cherry tidak akan bisa dilawan! Ia tidak akan diam jika direndahkan oleh siapapun juga. "Kamu pikir aku pembantumu? Aku di bayar untuk menjadi istri Mas Barra. Bukan pembantu!" "Tapi kamu hanya bawahan!" "Dan di dalam kontrak aku bukan menjadi pembantu, melainkan istri! Kita akan menikah sungguhan, jadi secara tidak langsung sebelum Mas Barra memutuskan kontrak, posisiku jauh lebih tinggi disini." "Cherry!" Barra memperingati. Tapi jangan harap Cherry akan peduli. "Kalian membutuhkan bantuanku. Jangan macam-macam!" Sentak Cherry tak mau dibantah. "Sayang, lihat kelakuannya! Aku tidak setuju! Cari wanita lain!" "Tidak bisa, mama dan papa menyukainya. Sudah kamu juga jangan mancing-mancing! Kita butuh bantuannya, bekerjasama dengan baik dalam hal ini." "Enak aja suruh-suruh, dikira aku mau jadi pembantu apa!" Cherry membatin kesal. "Apa sudah selesai semuanya? Aku boleh pulang kan?" Kini Cherry berujar dengan nada keras dan kasar. "Nanti malam acara lamaran kita. Jangan lupa itu! Persiapkan diri." "Aku tahu! Jangan lupa juga transfer bayaranku! Aku mau belanja! Sekarang...!!! Tidak boleh kurang satu rupiah pun!" "Dasar lintah darat!" "Biarin!" Cherry memanyun. Barra mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit no limit yang Cherry minta. Ia juga langsung mentransfer uang 500 juta sebagai bayaran pertama yang Cherry dapatkan, dari kontrak perjanjian mereka. "Udah, dan ambillah kartu kredit yang aku janjikan!" Barra menyodorkan sebuah kartu yang diterima Cherry dengan senang hati. Cherry juga langsung buru-buru mengecek m-bankingnya, yang ternyata sudah ada uang setengah miliyar di dalamnya. "Udah kan?" Barra memasang wajah sinis. "Makasih Mas Barra sayang! Gemes deh! Bye!" Cherry menjawil pipi kanan Barra sekilas, lalu buru-buru berlari meninggalkan pasangan itu dengan teriakan bahagia. Akhirnyaaa, mimpinya menjadi kaya terwujud! "Kenapa memilih wanita rese seperti itu?!" "Sudahlah sayang, yang penting mulai hari ini tidak ada lagi yang bisa menganggu hubungan kita. Nanti jika saatnya tiba, aku akan ceraikan dia dan membuat seolah dia berselingkuh. Dengan begitu mama dan papa pasti akan menyetujui hubungan kita. Dan yang paling penting aku harus dapatkan harta warisanku dulu." "Janji?" "Yeah... of course!" Barra mengecup pipi kekasihnya dengan mesra. "Kita jalan-jalan yaaa? Aku mau beli tas baru!" "Sayang nanti dulu, kamu tau sendiri nanti malam ada acara lamaran. Bersabarlah sampai tujuan kita terwujud!" "Sebel!" "Aku transfer uang aja ya? Ini demi kita juga!" Bujuk Barra selembut mungkin. "Baiklah." Keysha berujar manja sambil memeluk kekasihnya. Keysha tidak boleh lengah, jangan sampai Barra jatuh cinta sungguhan dengan Cherry. Ia tidak mau kehilangan belahan jiwa, serta atmnya. Barra adalah segala-galanya untuk Keysha. "Jangan bermesraan dengannya!" "Tidak akan!" "Jangan naksir dia!" "Aku tidak akan menyukai wanita gila dan lintah darat itu!" Jawab Barra dengan mantap. ***** "Nak, kok kamu tiba-tiba demam gini?" Fatma mengusap kening Cherry yang tiba-tiba panas. Padahal sore tadi wanita itu semangat sekali berbelanja bahan kue, dan membelikan kedua orangtuanya pakaian baru untuk acara lamarannya malam ini. "Kamu gugup ya sayang?" Hendra tersenyum sambil meraih jemari putrinya. "Itu hal yang biasa, mamamu dulu juga seperti ini." "Cherry tiba-tiba takut kalau suatu hari tinggal jauh dari mama dan papa." Ujar Cherry jujur. Menyadari dirinya akan segera menikah, meski pura-pura, Cherry baru ingat jika ia akan tinggal jauh dari kedua orangtuanya. Hal itu membuatnya sangat gelisah. "Sayang, semua orang memang harus berpisah dengan orangtuanya ketika sudah menikah. Lagipula kamu masih bisa berkunjung setiap hari. Papa senang, akhirnya anak papa akan menikah dengan pria yang baik dan mapan. Suami kamu pasti bisa membuat kamu bahagia." "Cherry takut! Cherry belum pernah jauh dari kalian, dan tidur tanpa mama!" Isaknya. "Yaampun anak mama manja sekali...." Fatma memeluk putrinya dengan kekehan kecil. "Kamu masih bisa mengunjungi mama sayang, jangan resah seperti ini. Lagipula setelah menikah, kamu bisa mendapat pelukan dari Mas Barramu yang ganteng banget itu." Goda ibunnya sambil tertawa. "Mama..!!!" Fatma dan Hendra tertawa melihat kelakuan putrinya yang amat menggemaskan. Walau didepan mereka terlihat baik-baik saja, sejatinya mereka juga berat harus berpisah dengan sang putri tercinta. Tapi hidup memang harus seperti itu kan? Tidak mungkin Cherry akan melajang dan menunggui orangtuanya seumur hidup. Bip...Bippp...!!! Suara klakson mobil membuat kedua orangtua Cherry langsung beranjak keluar. Mereka bersiap menyambut kedatangan besannya yang bisa dikatakan bukan orang biasa. Apalagi lamaran anaknya bisa dibilang dadakan, dan hubungan keduanya yang terbilang begitu singkat. "Selamat datang....." Hendra dan Fatma dibuat melongo dengan barang-barang satu mobil bak penuh, yang isinya barang-barang mewah dan berpuluh-puluh set berlian. Benarkah putrinya diterima menjadi menantu keluarga mereka? Beberapa tetangga sekitar sampai terlihat sinis dan iri ketika melihat betapa mewahnya lamaran anak dari tukang ojek online, yang selalu mereka remehkan selama ini. "Ini sangat berlebihan Pak, Bu, tidak perlu sampai seperti ini." "Ini pernikahan anak sematawayang kami, ini tidak ada apa-apanya." "Terimakasih banyak, ayo silahkan masuk." Fatma tersenyum sopan dan ramah. "Lho Cherry kemana?" Wika bertanya sambil menggandeng putranya yang masih diam sambil celingukan mencari calon istri bayarannya. "Cherry demam, katanya terlalu gugup dan takut berpisah dengan orangtuanya." Hendra tersenyum. "Maklum, dia anak satu-satunya. Cherry tidak pernah menginap atau berpisah dengan kami sampai dia dewasa seperti ini." "Benar-benar anak perempuan yang baik. Anak kami tidak salah memilih kan?" Wika dan suaminya tersenyum hangat dan mengobrol banyak hal. "Barra boleh menjenguk?" Barra memotong pembicaraan itu sebelum berlanjut dan bertambah panjang. "Boleh, kamarnya disamping dapur nak Barra." Fatma menunjuk kamar yang ada diujung. Barra pun mengangguk dan mendatangi kamar Cherry dengan setengah berlari. Khawatir? Bukan! Barra ingin mengomeli lintah darat itu karena tidak menepati janji. Kan Barra sudah bilang untuk menyiapkan lamaran dengan baik! Ini malah sakit! Ketika Barra sudah masuk keruangan itu, terpampanglah wanita yang sedang menangis dengan mata bengkaknya. Wanita itu memeluk foto kedua orangtuanya dengan erat. Sepertinya Cherry benar-benar sayang dan takut berpisah dengan mereka. "Ngapain kesini?" "Ini kan acara kita!" Barra mengecek suhu badannya yang memang terasa hangat. "Sudah minum obat?" Tanyanya perhatian. "Belum." "Mau kedokter?" "Aku tidak perlu minum obat! Nanti juga sembuh!" "Galak banget sih, udah bagus ada yang perhatian." "Hehh... " Ketika Cherry ingin berteriak Barra langsung duduk mendekat sambil membelai pipinya. Ia memberi kode bahwa ternyata sang ibu sedang mengintip dari balik pintu. Wika membuntutinya. "Kamu terlalu gugup?" Barra mencium keningnya berkali-kali seolah sedang menjadi pacar yang perhatian. "Jangan marah dong, maaf aku lagi di jalan tadi, nggak bisa balas chat kamu." Aktingnya. "Aku kangen Mas Barra...!!!" Cherry memeluk Barra mesra sambil mengintip wanita paruh baya yang rambutnya terlihat dari balik pintu. Fix! Mereka hampir saja ketahuan jika sedang berpura-pura. "Mas peluk ya?" Tanya Barra lembut, yang membuat Cherry sebenarnya sangat jijik. Namun Cherry tetap mengangguk manja untuk melanjutkan sandiwaranya. "Iya!" Jawab Cherry sok dimanjakan. Namun sebelum Barra naik ke atas ranjang untuk memeluk sang calon istri dengan lebih erat, Wika langsung datang dengan mata melototnya. "Menikah dulu Barra...!!!" Teriaknya sambil menarik sang putra dengan kasar. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD