Fitting

1034 Words
Setelah membicarakan masalah pernikahan bersama para orangtua di malam lamaran kemarin, kedua pasangan pura-pura itu kini fitting baju pengantin di sebuah butik langganan orangtua Barra. Butik itu memang seringkali menyiapkan pakaian-pakaian yang akan dikenakan keluarga Barra untuk menghadiri acara perusahaan atau acara formal lainnya. Barra mencoba sebuah tuxedo hitam yang begitu pas, serta membentuk lekuk tubuhnya yang kekar dan tegap. Ia benar-benar terlihat sangat sempurna saat memakainya. Sedangkan Cherry, ia mencoba v-neck dress lengan panjang dengan model slit yang juga membentuk lekuk tubuhnya dengan begitu anggun. Sedangkan Cherry, ia mencoba v-neck dress lengan panjang dengan model slit yang juga membentuk lekuk tubuhnya dengan begitu anggun Barra memandangi wanita di hadapannya dengan raut cuek walau aslinya terkagum. Ternyata si lintah darat itu bisa tampil begitu sexy dan mempesona dalam balutan gaun pengantinnya. "Apa aku sudah terlihat seperti mermaid? Aku tidak mau gaun yang terlalu lebar dan panjang. Pasti sangat ribet saat berjalan, benar kan?" Cerewetnya kepada Barra yang terlihat sangat acuh. Cherry jadi kesal sendiri dengan sikapnya. "Terserah kamu." "Apa aku sudah terlihat cantik?" Cherry tiba-tiba menghampiri Barra, dan mendempetkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan pria tersebut. Ia menopangkan dagunya pada pundak Barra, lalu memberinya tatapan yang sangat sexy. Cherry akan memaksanya mengakui kecantikannya saat ini. "Cukup." "Jawab yang baik Mas Barra sayang! Apakah ini bagus dan terlihat cantik? Aku tidak mau disalahkan lagi jika para tamu undangan mengataiku jelek atau kampungan." Barra menelan ludahnya dengan gelisah. Oh ayolah, apa Cherry tidak sadar jika belahan sexy itu tepat didepan matanya sekarang? Bahkan Barra dapat mencium aroma menggairahkan yang menyerang hidungnya dengan brutal. Astaga Barra, jangan berpikirian jorok! Barra memaki dirinya sendiri. "Kamu cukup cantik memakai gaun itu." Jawab Barra dengan lebih baik daripada sebelumnya. "Benarkah?" "Hmmm." "Baguslah!" Cherry lalu beranjak menjauh dan menghadapkan tubuhnya kepada sebuah kaca besar. "Kamu benar Mas Barra, aku cukup cantik! Ternyata aku berbakat juga menjadi model." Ujarnya sombong. Cherry kini kembali menatap Barra setelah selesai mengagumi dirinya sendiri. Ia menarik pria itu mendekat, dan membenarkan dasi kupu-kupunya yang sedikit miring. Cherry juga menyisir rambut sang pria dengan jari-jari lentik miliknya. Menyusuri d**a dan lengannya, guna merapikan jas dan kemeja milik Barra. "Kamu sangat gagah memakai ini." "Aku memang gagah sedari dulu." "Ihhhh pede sekali!" Cibir Cherry, masih dengan merapikan penampilan calon suaminya dengan seksama. "Mas Barra, kayaknya celana kamu kesempitan deh!" Cherry menatap bagian bawah Barra dengan raut terheran. "Kok kayaknya kekecilan? Kamu nyaman? Jangan sampai pas acara robek loh!" Kini jemari Cherry menyentuh paha dan pinggang sang pria. Barra langsung menutup matanya frustasi dengan kelakuan calon istri bayarannya yang terlalu polos itu. Apa Cherry tahu, jika itu terjadi karena dirinya meraba setiap jengkal tubuh Barra sejak tadi? Memamerkan belahan indahnya, di hadapan pria normal seperti Barra? "Biar aku meminta celana dengan ukuran yang lebih besar!" Cherry yang masih tak paham itu hampir memanggil pelayan butik yang melayani mereka. Tapi niat itu terurung karena Barra tiba-tiba mendekap pinggangnya, dan membawanya masuk ke dalam salah satu bilik ruangan fitting. "Kamu---kamu mau apa?" Tanya Cherry gugup ketika mereka berdua sudah berada di dalam satu ruangan kecil dengan pintu tertutup. "Ada anak buah mama disini. Dia menyamar jadi salah satu pelayan butik ini." Ujar Barra terbata dan nafas yang tercekat. "Benarkah? Mama masih mengawasi kita? Mama kamu masih juga belum percaya juga?" Cherry berkata dengan pelan. "Ayo buat dia percaya sekali lagi, setidaknya sampai orang-orang itu mendapatkan foto kemesraan kita." Barra mendorong Cherry hingga menghimpit dinding. Ia memeluk pinggang ramping itu mesra, lalu menyerang bibirnya dengan ciuman yang sangat panas. Melumat benda kenyal dan manis itu dengan sangat rakus dan sepihak. Tampaknya Cherry sama sekali tidak pernah berciuman. Wanita itu hanya pasrah dengan tubuh gemetarnya. Terutama saat benda yang begitu keras mengenai perutnya. "Sudah?" Cherry mendesis kaku ketika ciuman itu terjeda. "Belum... kita yakinkan dia sekali lagi. Kenapa kamu begitu kaku? Mama akan curiga jika seperti ini." Barra kembali berkata omong kosong. Dia akui jika dirinya sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan. "Lalu?" "Ikuti arahanku." Bisiknya seraya menelusuri leher Cherry dengan hidung mancung miliknya. Barra mencium dan mengigit kecil telinga yang menjadi titik paling sensitif Cherry. Pelan-pelan Barra mengarahkan kedua tangan Cherry untuk memeluk lehernya. Ia kembali memeluk pinggang rampingnya dengan lebih intim, lalu menyatukan bibir mereka secara perlahan. "Buka mulutmu." Bisik Barra, sebelum akhirnya kembali menguasai bibir Cherry dengan sangat puas. Mengabsen deretan gigi rapinya, dan menghisap salivanya kuat-kuat. Ia benar-benar tidak tahan. Sumpah, ini pertamakalinya Barra bersikap b******k dengan mencium wanita secara sepihak. Cherry menjadi wanita pertama yang ia cium hingga bibirnya membengkak. Klekk.... Suara pintu yang terbuka membuat pasangan muda itu menoleh secara bersamaan sambil melepas pagutan. "Kalian sudah mencoba ......." Wika dan suaminya langsung berbalik badan setelah melihat posisi anak dan calon menantunya didalam ruangan itu. Tadinya mereka hanya berniat untuk mampir dan melihat gaun apa yang akan menantunya kenakan nanti. Tapi malah hal-hal lain yang mereka saksikan. "Sepertinya mereka berdua sangat tidak sabar untuk membuat cucu." Wika meremas lengan suaminya. "Mama benar." "Barra benar-benar minta di sambit! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu di tempat umum!" Wika menyeret suaminya menjauh dari ruangan itu dengan perasaan gemas. "Sepertinya mereka benar-benar lagi mabuk cinta Ma, sudahlah biarkan saja. Lagipula mereka mau menikah." "Papa benar, tapi apa harus ditempat seperti ini? Butik?" Wika masih mengomel sambil menunggu pasangan itu keluar dan memberikan penjelasan. Sedangkan didalam sana... "Benar kan kataku? Mama selalu mengawasi kita." "Iya, kamu benar. Kita harus sangat hati-hati." Cherry mengangguk percaya dengan polosnya. Ia terus mengalihkan pandangan dan tak mau menatap Barra sama sekali setelah ciumannya. "Kenapa menghindariku?" Barra meraih dagu Cherry untuk kembali menatapnya. "Aku malu bodoh!" Sentaknya sambil menampar wajah calon sauminya itu. "Beraninya kamu mengambil first kiss ku!" "Jangan over percaya diri! Kita berdua sama-sama tau jika ini hanyalah bagian dari sandiwara!" "Tapi kamuuuuu...." "Kita akan membuat anak saat menikah. Dua kali! Lalu apa yang salah?" Bisik Barra menggoda Cherry dengan satu remasan kecil pada pantatnya. "Benar begitu kan, calon istriku sayang?" Goda Barra yang membuat pipi Cherry memerah padam. "Oh satu lagi, kamu penasaran kenapa celanaku kesempitan?" "Nggak..." "Kamu bisa meraskan sendiri betapa kerasnya bukan?" Barra menggesekan pusakanya yang sudah sangat mengeras pada perut rata Cherry dengan seringaian m***m. Jadi.... Barra... berdiri? Sejak tadi? Barra meremas pantatnya? Jadi pria itu sedang melecehkannya? "BARAAAA......!!!!!" Teriak Cherry kencang. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD