Misi Rahasia

1228 Words
"Aku mau kamu mencuri design bikini mereka, yang akan diikutsertakan dalam lomba fashion terbesar Asia bulan depan." Vincent tersenyum smirk seraya memeluk wanita yang tak memakai sehelai benang pun di pelukannya. Vincent mencium bibirnya berkali-kali setelah ucapannya tersebut. "Kamu tahu jika bulan depan adalah lomba antar perusahaan, untuk mengeluarkan bikini musim panas terbaik di Asia bukan? Aku akan menghancurkan perusahaan Barra dengan menuduhnya menjadi plagiat." "Setelah itu kita bisa menikah?" "Tentu saja, setelah dia hancur tak bersisa." Vincent melumat bibirnya sekilas. “Bukankah kamu telah memilih untuk berpihak padaku? Untuk apa kamu berpihak pada pria yang hanya memberimu harapan palsu? Keluarganya yang selalu menghinamu?” Ujar Vincent lagi untuk mengomporinya. "Aku akan mengambil design itu lagi, untukmu. Tapi aku mau ini yang terakhir. Aku sudah lelah dengan sandiwara ini. Aku mau kepastian darimu." "Kamu tidak percaya? Aku telah memberimu segalanya bukan? Ayo kita hancurkan Barra dan kekasih pura-puranya yang sombong itu!" Vincent mengeraskan rahang. Kali ini Barra akan benar-benar hancur. Selain menuduh plagiat, Vincent akan menghancurkan citra perusahaannya di acara lomba nanti. Dia akan membuat semua orang berpikir bahwa selama ini Barra lah yang telah plagiat brand perusahaannya. Barra akan segera tamat dan bangkrut. "Kamu kenapa begitu benci dengannya?" Keysha bertanya sambil mengusap d**a tegap pria tersebut. "Karena ayahnya telah membuat ayahku meninggal. Ayahku terkena serangan jantung karena perusahaan kami bangkrut beberapa tahun lalu. Dan kebangkrutan itu terjadi karena munculnya perusahaan mereka. Aku tidak akan pernah sudi melihat Barra dan keluarganya bahagia." Keysha mengusap wajah Vincent dengan lembut, lalu memeluknya lagi dengan erat. “Aku juga tidak akan memaafkan mulut-mulut sampah orangtuanya yang selalu menghinaku. Kita hancurkan mereka.” “Keputusanmu tepat, sayang.” Vincent mengecup bibirnya sekilas. "Wajahmu pucat sekali." Keysha mengalihkan pembicaraan mereka. "Aku hanya lelah dan sedikit pusing. Bersama denganmu membuat kepalaku sedikit ringan." "Istirahatlah... " "Janji, segera dapatkan apa yang aku katakan. Kita hancurkan Barra, lalu menikah." "Aku janji Vincent. Itu hal yang mudah. Barra sangat mencintaiku, dan percaya padaku." Tutup Keysha dengan sangat yakin. **** Barra berkutat pada layar laptopnya, memandangi berbagai design bikini yang diusulkan oleh pekerjanya untuk lomba bulan depan. Ia merasa sangat frustasi karena menurutnya tidak ada design yang bagus dan sesuai dengan apa yang ada di kepalanya. Padahal lomba itu sangat penting. Jika ia bisa mengungguli seluruh perusahaan fashion yang ikut serta, penjualan pasti akan meningkat pesat. Belum juga stress yang ia alami berkurang, tiba-tiba terdapat pesan masuk di ponselnya. Ketika melihat nama Keysha terpampang disana, moodnya langsung sedikit membaik. "Aku dengar kamu mau ikut lomba? Bagaimana, apakah semua berjalan lancar?" Tulis Keysha pada pesan tersebut, yang membuat Barra seketika tersenyum. Ia merasa Keysha paling mengertinya. Disaat ia merasa stress karena lomba itu, Keysha langsung menanyakannya. Bukankah itu bukti nyata, bahwa mereka memang cinta sejati? Barra pun memotret design di laptopnya, lalu mengirimnya kepada Keysha. "Apakah bagus? Ini hasil akhirnya, sebelum dibuat sample untuk fashion show." Kali ini Barra yang menulisnya. "Bagus, jadi ini hasil akhirnya?" Keysha membalas. "Aku sudah meminta teamku melakukan yang terbaik. Dan itulah hasilnya, setelah revisi belasan kali. Tidak ada waktu lagi untuk merevisi ulang." "Kamu masih belum puas? Haruskah aku kesana untuk membantumu memilih?" "Jangan sayang, ada papa di kantor. Aku juga akan menikah besok. Semua orang akan curiga jika kamu datang. Sabar ya? Tapi aku pastikan, aku memilih design itu. Karena design itu yang telah aku setujui." Barra meletakkan hpnya ketika Keysha tidak membalas. Barra yakin wanita itu pasti marah. Mereka sudah pacaran bertahun-tahun, tapi ia selalu membuatnya kecewa. Semua terjadi karena restu orangtuanya. Selama ini Keysha yang selalu membuatnya semangat. Tapi mereka tidak mau mengerti. "Mas Barra!" Suara seseorang yang membuat Barra bosan, tiba-tiba terdengar nyaring. Wanita itu membawa kotak makan siang dengan senyumannya yang manis. "Ngapain?" "Jutek banget sih, calon suamiku sayang!" Cherry buru-buru menghampiri Barra, lalu menariknya untuk duduk di sofa bersamanya. Semenjak sadar bahwa ia memiliki sebuah perasaan cinta terhadap Barra, Cherry berusaha memberi perhatian, agar dapat memenangkan hatinya. Meski Cherry tidak tahu kapan Barra akan sadar bahwa ia mencintainya. Dan kapan perasaan cintanya akan mendapat balasan. "Mama suruh aku bawa makan siang. Mama bilang kamu lagi stress karena lomba? Brand bikini?" "Iya." Cherry pun berjalan menuju laptop pria tersebut dan memerhatikan design itu dengan seksama. "Jadi ini designya? Bukankah ini terlalu biasa?" "Itu dia! Kamu lulusan fashion design, kamu pasti paham betapa biasanya bikini itu." "Kenapa tidak revisi?" "Tidak ada waktu lagi. Itu sudah revisi belasan kali. Aku jadi takut jika perusahaanku kalah dengan perusahaan lain. Termasuk Vincent." Cherry jadi teringat akan perkataan Vincent. Apa ini maksudnya, bahwa dia ingin membuat Barra hancur? Dengan menuduhnya menjadi plagiat disaat lomba nanti? Apa sekarang Vincent telah mengetahui design yang Barra miliki? "Lomba ini sangat penting Cherry. Aku tidak boleh gagal. Aku harus memberikan yang terbaik saat tampil. Atau, perusahaanku akan dipandang rendah dan mengalami penurunan. Orang-orang akan berpikir jika kamilah yang meniru." Barra menekuk wajahnya dan terlihat sangat lelah. “Sangat susah untuk membangun perusahaan kami. Banyak yang telah dikorbankan, termasuk anak kedua mama yang harus keguguran karena bekerja terlalu keras saat itu.” Cherry ikut sedih ketika melihat wajah Barra tertunduk lesu seperti demikian. Ia khawatir jika Vincent akan melakukan hal buruk saat lomba nanti, seperti ancaman yang dikatakannya. Tidak, Cherry tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Cherry akan membuatkan Barra design baru secara diam-diam. Ia akan membuat design cadangan, model, dan sample baju untuk fashion show agar saat lomba Barra terhindar dari fitnah pria menyebalkan itu. Uang gaji yang Barra berikan masih cukup untuk melakukan itu semua. Barra terperangah ketika tiba-tiba Cherry memeluknya, dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Barra memang butuh pelukan ini untuk sesaat. Ia sangat lelah dengan pekerjaanya. Mungkin ibunya benar, Barra butuh sosok pasangan yang dapat menemaninya disaat seperti ini. Semua masalah perusahaan membuatnya down. Termasuk masalah design yang selalu hampir sama dengan pihak Vincent, dan membuat penjualan perusahaannya sedikit mengalami penurunan penjualan akhir-akhir ini. "Kamu pasti lelah." "Hmmm sangat lelah." Barra memeluknya dengan erat. "Mungkin aku akan meminjam bahumu seharian." Lanjut Barra yang membuat Cherry tersenyum dengan wajah memerahnya. Sekarang ia mempunyai hobi baru. Yaitu, berdebar dan tersipu disaat Barra mengucapkan hal-hal yang manis terhadapnya. "Mau aku suapi makan?" "Boleh." "Renggangkan pelukanmu, aku akan membuka kotak makannya." Barra menurut seperti anak kecil. Ia merenggangkan pelukannya selagi Cherry mengambil kotak makanan, lalu melanjutkan pelukan eratnya setelah kotak itu berada di tangan wanitanya. "Andai aku bisa seperti ini bersama Keysha." Ujarnya pelan. Cherry sangat sebal mendengar perkataan Barra tentang Keysha. Tapi ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatinya. Cherry telah jatuh cinta kepada suami kontrak, sudah resikonya jika harus merasakan sakit dan cemburu. Cherry tetap yakin Barra adalah takdirnya. "Tapi kenapa tiba-tiba kamu perhatian? Kamu suka sama aku?" Bisik Barra dengan mata melotot. "Dalam mimpimu!" Sahut Cherry sambil menyumpal mulut sang pria dengan sesendok nasi. “Kamu suka sama aku?” “Lalu kenapa kamu memelukku? Dasar m***m! Kamu yang suka sama aku!” Cherry menjambak rambut pria yang kini terus tertawa sambil meledeknya. Dari balik pintu, pria berkemeja hitam itu memotret kemesraan keduanya lalu pergi sambil tersenyum. Tadinya ia ingin bergabung untuk makan siang. Tapi karena melihat betapa mesranya mereka, Irwan tidak jadi masuk. Irwan mengirim foto yang telah ia ambil secara diam-diam kepada istrinya di sebrang sana. Sebagai ayah ia ikut senang putranya ada yang memerhatikan seperti demikian. Cherry adalah sosok yang begitu mirip dengan Wika di masa lalu. Dan Irwan yakin, memang Cherry lah pendamping yang tepat untuk putranya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD