"Sakit?" Barra mengompres luka Cherry dengan air dingin secara perlahan. Ia sedikit merasa bersalah karena ulah Keysha malam ini. Semarah apapun, menggunakan kekerasan itu tidak dibenarkan.
Barra juga sudah mengabari orangtua Cherry jika putrinya menginap. Barra tidak mau membuat mereka khawatir dengan keadaan wajah putrinya yang memerah. Belum lagi, wanita itu sedikit mabuk karena sembarangan minum saat di pesta.
"Orang-orang selalu suka menghinaku. Mereka pikir aku akan menangis di pojokan karena mulut sampahnya? Itu tidak akan berlaku padaku! Siapapun yang ingin menginjakku, aku akan mematahkan kakinya lebih dulu!" Ujarnya sambil menangis sesenggukan.
"Iyadeh, iya..." Barra tersenyum karena terlalu gemas dengan tingkahnya. Barra tau hinaan semua orang itu menyakitinya. Dan Cherry berusaha keras menutupi kelemahannya, dengan sikap sok tegarnya.
"Keysha itu sangat menyebalkan Barra! Dia itu seperti lalat yang hinggap di kotoran!" Cherry mengadu sambil memeluk Barra mesra. Persis seperti yang selalu ia lakukan kepada ibunya, jika ingin berkeluh kesah.
"Jangan sebut pacarku seperti itu. Aku memang butuh kamu. Tapi kamu juga harus tahu batasan."Barra mengusap rambut wanita itu dan berbisik tepat ditelinganya.
"Batasan apa yang kau bilang?" Karena mabuk emosi Cherry menjadi tidak terkontrol. "Dia berusaha merendahkanku! Lalu aku tidak boleh membalasnya?"
Belum juga perdebatan itu selesai, seorang wanita lain memasuki apartemen Barra. Ya, mereka sekarang berada di apartemen. Barra juga tidak mau membawa Cherry pulang ke rumah, karena orangtuanya pasti akan bertanya ini dan itu.
"Kamu itu hanya bawahan! Kamu hanya kacung! Beraninya kamu mempermalukan aku malam ini! Dan apa yang kamu lakukan saat ini? Jangan peluk Barra!" Keysha meneriaki Cherry hingga membuat Barra pening.
Sudah Barra duga jika Keysha akan datang. Dan ia yakin jika ibunya juga datang karena kabar pertengkaran Cherry dan Keysha di pesta, dirinya akan pingsan ditempat.
"Kacung katamu? Coba kamu katakan Mas Barra sayang, apa posisiku di kontrak itu? Dan apa pantas orang luar ikut campur di dalam perjanjian kita?" Ujar Cherry sambil memeluk Barra lebih erat dan tertawa cekikikan.
"Aku orang luar?"
"Apa kamu membayarku?!" Cherry masih memasang wajah meledek.
"Dasar miskin tidak tahu diri!"
"Setidaknya aku tidak mengosongkan otakku dan mengandalkan tubuh untuk mencari uang!"
"Jaga bicaramu! Setidaknya aku tidak menjadi istri pura-pura hanya demi uang!"
"Itu lebih bagus karena kita menikah secara sah! Hanya suamiku yang akan melihat tubuhku! Bukan semua orang!"
Saat Keysha tiba-tiba menarik tubuh Cherry dengan kasar dan ingin menamparnya, Barra lebih dulu menangkis tangan itu. Ia kembali menopang dan mendekap tubuh Cherry yang masih sempoyongan.
"Barra kamu membelanya?"
"Dia mabuk, dia tidak sadar dengan apa yang dia katakan."
"Aku sadar betul!" Cherry tertawa sambil menjulurkan lidahnya. "Uhhh Mas Barra harus belain aku! Pokoknya belain aku!"
"Barra!"
"Keysha, mengertilah! Lihat keadaanya, dia mabuk dan wajahnya terluka. Kekerasan itu tidak dibenarkan apapun alasannya. Jika kamu tidak mau diusik jangan usik dia, jangan hina dia sembarangan. Tolong bersabar sampai tujuan kita tercapai."
"Kamu membela dia? Aku menghinanya? Dia juga menghinaku!"
"Keysha cukup, ayo pulanglah sebelum mama datang dan kepalaku bertambah pusing."
"Kamu bahkan memeluknya dihadapanku? Kamu menyukainya?"
"Demi Tuhan Keysha, kita hanya sebatas kontrak. Kamu tahu apa tujuanku dari semua hal bodoh ini! Aku sedang memperjuangkanmu." Barra berujar tajam, yang membuat Keysha langsung terdiam.
"Pulanglah, besok aku akan menemuimu." Barra kini berujar dengan lembut. "Jangan khawatir, aku tidak akan berpaling. Kamu hanya perlu mendukungku untuk sandiwara ini."
Meski sebal, Keysha tetap mengalah. Ia mengangguk pelan, lalu mencium pipi Barra dengan sangat singkat.
"Aku sedang berjuang untuk hubungan kita, jangan kacaukan rencana ini."
"Besok janji temani aku?"
"Ya, jika tidak aku akan transfer uang untuk kamu belanja. Misi pertama aku buat menikah dengan Cherry belum berhasil. Aku harus mendapatkan hak waris itu terlebih dulu. Itu demi kita juga di masa depan kan?" Barra masih berusaha memberi pengertian.
"Baiklah Barra, maafkan aku atas kekacauan yang aku buat."
"Jangan cemburu kepada lindah darat ini, kita hanya sebatas kontrak. Kamu yang paling aku cintai." Barra tersenyum manis.
****
Setelah kepergian Keysha, Barra memijit tengkuk Cherry yang terus muntah karena perutnya tidak terbiasa meminum alkohol. "Kamu mau ke dokter?" Tawar Barra sambil mengikat rambut wanita itu dengan dasinya.
"Tidak."
"Tapi wajah kamu pucat sekali."
Cherry tak menjawab, ia hanya diam lalu beranjak memeluk Barra dengan mesra dan berbicara melantur seperti sebelumnya. Setelah alkohol itu membuatnya marah, sekarang alkohol tersebut membuatnya menangis terisak.
"Aku juga tidak mau menjadi istri pura-pura. Aku juga mau menikah sekali, dan bahagia dengan pernikahan itu. Tapi aku tidak punya pilihan. Bukannya aku mencintai uang dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Tapi saat ini, aku membutuhkannya." Cherry mengeratkan pelukannya.
Barra mengusap puncak kepalanya ketika Cherry terisak sedih. Sepertinya dia sangat memikirkan apa yang Keysha katakan meski awalnya berusaha baik-baik saja.
"Aku melakukannya untuk ibu dan ayahku."
"Lakukan apa yang menurutmu baik. Jangan dengarkan kata orang."
"Aku juga melakukannya untuk anak-anakku."
"Anak-anak...?"
"Mereka sangat lucu! Mereka adalah anak-anak yang tidak beruntung karena ditinggal orangtuanya. Setiap kali melihat senyuman mereka, aku merasa sangat bahagia Barra."
"Jika keputusanmu tepat kenapa kamu bersedih? Sekarang ayo tidurlah." Barra mengangkat tubuhnya ala bridal style dan merebahkannya kembali keranjang.
"Jadi keputusanku benar?" Tanya Cherry manja dan memanyunkan bibirnya.
"Ya, selagi kamu bahagia, itu keputusan yang benar." Jawab Barra singkat lalu mengambil satu kaos miliknya dari lemari. Melihat pakaian wanita itu basah, Barra berinisiatif untuk menggantinya. Barra tak tega membiarkannya tidur dengan keadaan menyedihkan seperti itu.
"Ayo buka bajunya, dan pakai ini." Ujar Barra yang di balas tatapan sinis oleh calon istrinya.
"Kamu mau berbuat m***m lagi? Setelah kemarin meremas pantatku, sekarang kamu mau menelanjangiku?" Ujar Cherry frontal.
"Aku tunggu diluar, kamu pakai sendiri. Otakmu yang m***m!"
"Kamu pasti akan mengintip! Aku tahu akal bulusmu!" Cherry memukuli Barra dengan bantal dan terus berteriak histeris.
Barra yang sudah tak tahan meladeni tingkah absurd wanita mabuk itu langsung menangkap tubuhnya. Ia memeluknya erat, dan menahan segala pergerakan Cherry. Barra juga langsung membawa wanita itu kembali merebah di atas kasur.
"Kalau nggak mau ganti baju, ayo tidur." Bisik Barra seraya memeluknya seperti bayi yang butuh perlindungan.
"Barra...."
"Ssssttttttt jangan bicara lagi. Tutup matamu, aku sudah sangat lelah merawatmu sejak tadi."
Cherry menyipitkan mata ketika Barra mengusap punggungnya. Sepertinya Cherry mulai terbuai dengan perlakuan lembut Barra yang sangat membuatnya nyaman. Terlebih pelukan hangat itu, yang membuatnya merasa dilindungi.
"Jangan pikirkan apapun lagi, tidurlah."
Cherry akhirnya mengangguk dan membalas pelukan Barra dengan sangat erat. Tentu itu karena mabuk dan tidak sepenuhnya sadar. Jika dia dalam keadaan normal, mungkin Cherry akan sangat ogah berada di posisi ini.
"Barra..... " Isaknya tanpa sebab seperti anak kecil yang tengah rewel.
"Astaga kenapa lagi? Aku lelah, tidur! Tutup matamu!" Barra semakin menghimpit tubuh kecil itu sambil memejamkan matanya sendiri. Dan tanpa sadar, keduanya terbawa ke alam mimpi dengan sendirinya.
*****