Hukum Aku

1176 Words
"Barra...!!!" Cherry bangun dengan teriakan maut ketika melihat dirinya berada dipelukan pria menyebalkan yang akan menjadi suami kontraknya. Bagaimana ceritanya ia bisa memeluk Barra dengan semurahan ini? Barra yang masih mengantuk tidak menghiraukan. Sebaliknya, Barra malah semakin mengeratkan dekapannya dan menganggap Cherry sebagai guling. "Bersisik sekali!" Desis Barra pelan. "Kamu sedang melecehkanku sekarang! Kau tau?" "Melecehkan apa?" "Jangan peluk aku! Lepaskan tangan kotormu!" Cherry terus memberontak sambil memukulinya. Barra tersenyum sinis ketika mendengar perkataan wanita rese itu. Tangan kotor katanya? Bahkan tangan kotor itu yang menjaga dan merawatnya disepanjang ia mabuk semalam. Karena kesal, Barra lantas bangkit dan mengerjai Cherry dengan ide yang mendadak muncul dikepalanya. "Kamu tidak ingat apa yang terjadi semalam?" "Semalam?" Cherry mencoba untuk mengingat, namun sepertinya sangat sulit. Yang ia ingat hanya pertengkarannya bersama Keysha saat di pesta. "Aku bertengkar dengan Keysha di pesta." "Lalu?" "Lalu apa?" "Lalu kamu mabuk." Barra tiba-tiba menindihnya. "Kamu menindihku seperti ini." Melihat Cherry membulatkan mata dengan raut wajah shock, Barra semakin semangat untuk mengerjainya. "Kamu terus merengek dan meminta di cium." Bisiknya sambil mendekatkan bibir mereka. "Tidak mungkinnn...!!!" Teriaknya histeris. "Kamu tidak ingat?" Barra menahan pergerakan Cherry, dan menempelkan bibir mereka tanpa bergerak lebih. Barra tidak mengerti kenapa ia suka sekali mencari kesempatan kepada lintah darat itu. Sangat seru saat melihat wajah polosnya yang sedang ketakutan. Cherry membeku ditempat. Jantungnya berdegub kencang tanpa bisa di kontrol. Barra terlalu mendebarkan! Keintiman posisi mereka saat ini membuat Cherry sesak nafas. "Barra.... " "Lalu kamu melumatnya." Bisik Barra seraya melumat bibir itu dengan lembut. Cherry benar-benar tak berdaya dibuatnya. Barra membuat suhu tubuhnya berubah-ubah dari panas ke dingin. Entah sudah berapa kali Barra melecehkannya seperti ini. Tapi sayangnya Cherry tidak mampu menolak. Ia tiba-tiba menjadi patung ketika Barra menyentuhnya. "Mana mungkin aku seperti ini?" "Mau tau, apalagi yang kamu lakukan?" "Nggak! Cepat bangkit!" "Kamu pikir aku mau berlama-lama?" "Ya kalau begitu cepat bangkit!" Cherry mencoba mendorong tubuh kekar yang bahkan tidak bereaksi dengan tenaga kecilnya. "Sebelum itu aku mau bilang, lain kali jangan terlalu kasar ke Keysha." "Suruh pacarmu untuk tidak berbuat kasar terlebih dulu!" Bentak Cherry tak mau kalah. "Kamu bekerja untukku, dan kamu harus menuruti perintahku!" "Kamu juga butuh aku Barra. Tidak ada satupun orang yang bisa menginjak harga diriku. Ingat itu!" "Kamu sangat sombong!" "Ayo batalkan saja pernikahan kita, jika kamu masih membela perempuan lalat itu!" Teriak Cherry semakin kesal. Ia mendorong dan menendang Barra dengan kakinya, lalu beranjak bangkit menuju kamar mandi. Cherry butuh menetralkan emosi, kegugupan, serta hawa panas dan dingin yang menyerangnya secara tiba-tiba. Sepertinya Barra itu virus penyakit. Sehingga hanya dengan satu ciumannya saja, demam langsung melanda tubuhnya. Cherry juga tidak percaya ia berbuat semesum itu meski sedang mabuk! Cherry bahkan tidak punya pengalaman berciuman. Mana mungkin ia bertingkah agresif terhadap Barra? "Barra, apa yang terjadi semalam? Mana menantuku?! Para ibu-ibu ramai mengirimiku berita heboh ini!" Suara wanita paruh baya yang sangat Cherry kenal, terdengar dari arah luar. Cherry dapat bernafas lega setelah mendengar suara calon mertuanya datang. "Ma, Cherry baik-baik saja!" "Mana menantuku!" Tegas Wika sambil mengetuk pintu kamar mandi. Ia menghiraukan Barra yang terus berusaha menjelaskan bahwa semua baik-baik saja. Wika tentu tidak percaya hal itu. Mana mungkin Cherry baik-baik saja setelah di gampar oleh mantan kekasih dari calon suaminya? "Sayang keluar, kamu kenapa? Barra menyakitimu? Maaf semalam mama masih berada di Singapura, jadi nggak bisa hibur kamu tepat waktu!" Jelas Wika sambil memegangi dadanya karena tak tega dengan apa yang calon menantunya alami semalam. "Iya Ma!" Sahut Cherry dengan suara lemas. Jadi selain mengerjainya tentang ciuman, Barra juga membela wanita lalat itu? Lihat saja, Cherry akan membalasnya dengan berlipat-lipat. Cherry pun keluar dari kamar mandi, menuju ibu mertuanya yang sejak tadi memanggilnya dari luar pintu. Cherry menangis tersedu sambil memeluknya. "Tante, Barra sangat jahat! Cherry mau membatalkan saja pernikahannya!" Isaknya sambil melirik Barra dengan tatapan meledek. "Sayang... " Wika langsung mendadak lemas karena perkataannya. "Barra bahkan lebih membelanya. Dia memintaku diam ketika aku ditampar dan dihina di hadapan semua orang. Aku tau aku tidak pantas disamping Barra. Aku hanya wanita miskin. Aku akan kembalikan semua barang-barang lamaran Barra sore ini juga." "Sayang... " "Barra masih menyayanginya. Aku bukan apa-apa tante." Cherry melirik Barra yang sedang mengeraskan rahang. "Barra, kamu keterlaluan!" Wika menamparnya dengan keras. Cherry sangat bahagia melihatnya. Barra memang pantas untuk ditampar karena kelakuannya pagi ini. "Mama pulang saja, aku ingin bicara dengannya dan menyelesaikan masalah ini." Barra memegangi pipinya sambil menunduk. "Tidak, aku yang akan keluar." Cherry perlahan melepas pelukan Wika, lalu berusaha untuk kabur dari kemarahan Barra. Namun sayang sebelum wanita itu berhasil pergi, Barra lebih dulu membalas aktingnya beberapa saat lalu. Barra memeluknya erat sambil meneteskan airmata buayanya. "Sayang jangan tinggalkan aku. Jangan batalkan pernikahan kita." Barra mengecup keningnya lama sekali. Wika sampai ikut meneteskan airmata melihat aksi adu akting mereka. Keduanya begitu jago bersilat lidah dan melakukan sandiwara. "Barra lepas!" "Aku mau bicara!" Barra masih bertahan dengan akting sedih dan merasa bersalah. "Aku mau pulang!" "Sayang bicarakan baik-baik dengan Barra dulu, ya?" Wika mengusap wajah cantik Cherry yang berair. "Mama tinggal pulang. Kalian selesaikan masalah ini dengan baik, jangan batalkan pernikahan." "Tapi... " "Selesaikan dengan baik dulu." Wika mengecup pipi calon menantunya dengan penuh kasih sayang. Wanita paruh baya itu memilih pergi, agar keduanya dapat berbicara dengan lebih intim untuk menyelesaikan masalah hubungan mereka. Dan ketika barusaja wanita paruh baya itu keluar, Barra dengan spontan menarik tubuh Cherry kembali ke atas ranjang. "Beraninya kamu berbuat seperti itu!" "Barra, kepalaku pusing." Cherry kembali berakting karena takut. Dilihat dari matanya yang memerah, sepertinya Barra benar-benar dalam kemarahan besar. "Jangan bohong! Kamu pikir aku akan kasihan?" "Kepalaku sungguh sakit! Bagaimana kalau aku mati? Kamu mau tanggung jawab? Bagaimana kalau...." Cup! Barra yang tau kebohongannya langsung melahap bibir Cherry dengan ganas. Ia mengecap dan menghisap bibir tipis itu dengan sangat rakus. Barra tak memberi ruang sedikitpun sampai nafas Cherry habis, dan sulit untuk di hirup. Cherry yang tidak berpengalaman sangat kwalahan meladeninya. Belum juga puas menarik nafas, pria itu beralih ke lehernya. Barra menghisapnya dan meninggalkan beberapa tanda disana. "Barra..... " Cherry mendesis seraya meremat rambut sang pria ketika ciumannya beralih pada dadanya. Ia menyusu dan meremas d**a itu dengan penuh nafsu. Barra kehilangan akal sepertinya. Ia bahkan menyingkap gaun milik Cherry, serta memainkan lubang hangat dan basah itu dengan jemarinya. "Barra!" Dengan susah payah Cherry berteriak. Ia mendorong Barra sekuatnya, lalu menjauh dan terisak sambil memeluk lutut. Barra merutuki dirinya sendiri ketika menyadari perbuatan bejatnya. "Maaf." "Kamu sangat keterlaluan kali ini." Cherry terisak pilu. "Cherry... " Barra menarik Cherry kembali kepelukannya ketika ia akan berlari pergi. "Maaf... aku tidak bermakud seperti itu." "Aku memang akan istri bayaran, tapi jangan sekali-kali kamu merendahkan harga diriku!" "Maaf... " Barra masih memeluknya dengan rasa bersalah. "Maaf ya? Jangan marah." Barra mengecup keningnya dengan mesra. "Biarkan aku pergi, aku ingin sendiri. Aku akan mencicil uang yang sudah kamu beri, kita batalkan saja perjanjian itu." Desis Cherry dengan nada suara bergetar. "Aku bersalah. Kamu boleh hukum aku, tapi jangan marah dan batalkan perjanjian kita." "Hukum?" Tanya Cherry memperjelas ucapannya. "Ya, hukum saja aku. Tapi maafkan aku, dan tetap pada rencana kita." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD