Bab 2

1085 Words
"Kenapa supnya terasa berbeda? Ini tidak enak!." Bryan menghempas sendok begitu saja saat menyeruput sup yang dihidangkan oleh asisten rumah tangganya. "Maaf tuan muda, sup yang biasanya anda makan adalah buatan nyonya. Tapi Nyonya telah pergi, dan dia sama sekali tidak menuliskan resep sup kesukaan anda itu." Bryan tertegun, Dia pikir Clara hanya menggertak saja tadi malam. Dan mengira kalau istrinya itu tidur di kamar lain. "Jadi dia benar-benar pergi! Berani sekali dia!." Bryan bergerak bangkit dan berjalan menuju lantai atas. Dia memasuki sebuah kamar yang terletak di samping kamar utama, kamar itu biasanya dihuni oleh Clara jika sedang mengambek. "Dia benar-benar tidak ada! Kurang ajar sekali! Rupanya dia sudah berani memancing amarahku." Bryan terlihat mengepalkan tangan, dia terburu mandi kemudian memakai pakaian. Dia akan mencari istrinya itu di rumah sakit, di mana ibunya dirawat. "Bryan! Ternyata kau datang pagi sekali! Alena sudah terlihat baik, begitu banyak dokter yang kau datangkan. Tante benar-benar berterima kasih. Kau sungguh perhatian pada Alena." Kedatangan Bryan langsung disambut oleh ibu Alena. Namun Bryan tidak menanggapi berlebihan. Di otaknya hanyalah mencari keberadaan Clara. "Ibu sudah kenyang!." Rupanya Clara memang berada di rumah sakit itu, Dia sedang merawat ibunya. Penampilan wanita itu pagi ini tampak sangat cantik dan juga segar. Clara memang wanita yang sangat cantik. Kulitnya bersih dan juga terawat. Benar-benar mempesona. "Mungkin mulai sekarang, Clara tidak bisa sering-sering mengunjungi mama karena Clara akan bekerja." Wanita paruh baya yang sedang sakit Itu tampak menatap putrinya. "Maafkan Mama karena merepotkanmu!." Wanita tua itu segera memegang tangan putrinya. "Siapa bilang mama merepotkan Clara? Selama ini, Clara lah yang kerap kali merepotkan mama." Jawab wanita itu dengan sendu, ada kegetiran di setiap kata-katanya. Mulai sekarang dia akan hidup mandiri, berdiri di atas kaki sendiri. Tidak lagi bergantung pada nafkah pemberian Bryan yang tidak seberapa. "Apa kau benar-benar memutuskan untuk berpisah dari Bryan?." Clara hanya menanggapi dengan senyuman, dia ingat perkataan dokter, Kalau pikiran dari mamanya itu tidak boleh terbebani. "Mama istirahat saja! Tidak perlu memikirkan apapun! Clara keluar dulu!." Wanita itu segera berjalan keluar, namun ketika sampai diambang pintu, seseorang tiba-tiba menariknya. "Bryan!!." Serunya segera saat melihat suaminya itu yang ternyata sudah ada di sana. "Berani beraninya kamu pergi!." Pekik Bryan dengan kencang, Clara begitu khawatir kalau suara pria itu akan didengar oleh sang mama. Dia pun bergerak menarik tangan Bryan untuk menjauh. "Bukankah aku sudah bilang tadi malam. Aku ingin bercerai." Jawab Clara akhirnya dengan tegas. "Dalam mimpimu Clara! Ingat, pernikahan ini terjadi karena penjebakan dirimu kepadaku! Kamu menjebakku untuk tidur bersama, menjebakku dalam pernikahan ini. Jadi jika bukan aku yang menginginkan perceraian, maka semua itu tidak akan terjadi." Clara benar-benar geram menatap wajah Bryan. "Aku sudah bilang berulang kali! Aku tidak pernah melakukan penjebakan itu!." Seru Clara dengan kencang. Sementara Bryan menatap sinis kepadanya. "Jelas-jelas malam itu kamu yang berpura-pura tersesat dan masuk ke dalam kamarku. Kamu naik ke atas ranjangku. Aku yang saat itu sedang terpengaruh alkohol. Tentu saja tidak sadar. Kau memanfaatkan tubuhmu ini untuk mendapatkanku." Clara mengepalkan tangannya, Dia hanya bisa menelan ludah. Sekeras apapun dia berusaha menjelaskan tentang kejadian malam itu, Bryan tetap tidak percaya. Dia selalu beranggapan kalau dirinyalah yang sudah menjebak pria itu hingga mereka bisa menikah. "Apa kau tidak kasihan dengan ibumu? Dia masih memerlukan perawatan, karena dia masih sakit. Dia membutuhkan uang banyak." Clara menatap tajam wajah Bryan. "Peduli apa kamu sama mamaku? Selama ini kamu tidak pernah memperdulikan dia, kamu hanya memperdulikan Alena!." Bryan segera manggut-manggut dengan seringai di bibirnya. "Oh ternyata begitu! Kamu cemburu pada Alena? Oke!! Jika kamu menginginkan aku tidak lagi menemuinya, maka kamu harus segera kembali ke rumah." Bryan terdengar memberikan penawaran. Clara menatap tak percaya Wajah pria di hadapannya. Karena selama ini, Bryan tak pernah bisa jauh dari sosok mantan pacarnya itu. Dia bahkan kerap kali keluar malam hanya untuk menemui Alena. "Kamu yakin tidak ingin menemuinya lagi?." Clara bertanya dengan nada tak percaya. "Tentu saja! Jika kamu mau pulang bersamaku! Maka aku tidak akan pernah menemui lagi!." Jawab Bryan dengan yakin. Clara pun terlihat menimbang ajakan dari pria yang sebenarnya ingin dia gugat cerai. "Bagaimana? Jika kamu bersedia untuk pulang, dan tidak lagi mengungkit soal perceraian. Maka aku akan memberikan perawatan istimewa kepada mamamu. Aku akan meminta dokter-dokter terbaik untuk merawatnya." Clara kembali gamang, dia tergiur dengan penawaran Bryan, apalagi menyangkut soal perawatan mamanya. "Aku menunggumu di rumah! Jika kau sudah pulang, maka aku anggap kalau perjanjian kita tadi sudah sah." Bryan melenggang pergi, dia mengukir senyum tipis di bibirnya. Karena merasa bisa mengendalikan seorang Clara yang begitu sempurna sebagai seorang wanita. "Apa aku benar-benar harus kembali?." Gumam wanita itu kembali menimbang keputusannya. Namun tanpa disadarinya, tampak seorang wanita dengan memakai kursi roda bersama dengan wanita paruh baya. Mereka sejak tadi memperhatikan dan mendengar obrolan sepasang suami istri itu. "Bryan hanya milikku. Dia tidak boleh kembali kepada wanita itu." Wanita yang duduk di atas kursi roda tampak begitu geram dengan tangan yang terkepal. "Jangan khawatir! Bryan lambat laun pasti akan menikah denganmu. Tapi kita harus menyingkirkan wanita itu dulu." Wanita paruh baya yang berdiri di belakang kursi roda segera berbisik. "Kau benar Mama! Takkan ku biarkan mereka bahagia di atas penderitaanku!." Wanita itu yang adalah Alena tampak menatap tajam kepada Clara yang masih berdiri dengan pikirannya di sana. *. "Apakah aku harus benar-benar kembali ke rumah ini?." Clara ini sudah berada di depan rumah yang ditempatinya selama ini bersama dengan Bryan. Dia menarik nafas panjangnya, Dia terpaksa mengikuti ajakan Bryan untuk kembali demi biaya perawatan mamanya. "Akhirnya kau kembali juga!." Wajah Bryan muncul menyambut kedatangannya. Clara Hanya bisa menarik nafas panjang. "Asal kau kembali menjadi istriku yang penurut seperti dulu! Apapun akan aku berikan!." Bisik Bryan meraih Clara dalam pelukan. Terasa begitu hangat dan nyaman. "Aku akan segera memerintahkan dokter spesialis di rumah sakit itu untuk merawat ibu." Bryan kembali berbicara sambil menatap wajah cantik Clara yang tampak pucat. "Terima kasih!." Hanya itu yang sempat keluar dari bibir Clara. Dan Bryan pun menggiringnya masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba dia merasa begitu hidup ketika istrinya kembali. Padahal dia selalu beranggapan tak pernah mencintai wanita itu. "Mulai sekarang! Kembalilah menjadi istriku, seperti dulu." Bryan mengecup kening Clara. "Malam ini aku ingin! Jadi kamu harus minum ini dulu." Lagi-lagi pil kontrasepsi yang diberikan oleh Bryan, sama seperti malam-malam dulu. Clara hanya bisa berpasrah. Bryan memang tidak pernah menginginkan anak darinya. Dddrrttt! Bryan menggeram saat dirinya sudah larut mencumbui Clara, karena tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Bryan! Tolong! Alena kembali drop!!." "Aku akan segera ke sana!." "Hhhm! Lagi-lagi kamu ingkar janji! Sepertinya keputusanku memang sudah tepat untuk segera mengakhiri pernikahan ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD