"Alena terjatuh dari kursi roda! Cedera di kakinya kembali kambuh."
Wanita paruh baya yang menjadi Ibu Alena tampak memasang wajah sedih di hadapan Bryan.
"Anda jangan kuatir. Saya akan menerjunkan dokter terbaik untuk mengobati Alena."
Jawab Bryan berusaha menenangkan wanita paruh baya itu yang tampak terisak.
"Pasien butuh transfusi darah. Kebetulan persediaan darah di rumah sakit ini habis untuk golongan darah AB."
Dokter datang menjelaskan, Bryan tampak frustasi dan berusaha berpikir keras.
"Saya akan mencari golongan darah itu dokter! Anda jangan khawatir."
Ucapan Bryan itu membuat dokter mengangguk.
"Lebih cepat lebih baik! Karena kita tidak memiliki banyak waktu."
Sahut dokter itu, nyonya Tamara yang menjadi Ibu Alena segera berucap dengan nada tinggi.
"Selamatkan Alena Bryan. Hanya kamu yang mampu menyelamatkannya."
Wajah wanita paruh baya itu terlihat begitu menghibah.
"Tentu saja! Saya akan segera mencari golongan darah itu!."
Seru Bryan bergerak berbalik dan pergi. Namun baru beberapa langkah, Dia segera bertemu dengan asisten wanitanya yang bernama Meta
"Cepat bantu Saya mencari golongan darah AB! Alena membutuhkan transfusi!."
Meta terlihat berpikir mendengar perintah bosnya.
"Golongan darah Nyonya Clara adalah AB! Saya rasa dia pantas mendonorkan darah untuk Nona Alena."
Bryan terlihat tertegun dan mengingat tentang istrinya itu yang ditinggalkannya semalam, ketika mendengar kabar tentang Alena.
"Tapi apakah dia mau?."
Gumam pria itu yang didengar oleh Meta.
"Hanya dengan memberikan sedikit uang! Nyonya pasti mau! Bukankah selama ini dia sangat gila uang?."
Meta berkata dengan penuh ejekan kepada Clara. Bryan pun segera tersenyum mendengarnya. Tepat bertepatan di saat dia melihat bayangan Clara yang rupanya Ada di rumah sakit itu.
"Clara tunggu!."
Bryan bergerak berlari kecil menghampiri istrinya.
"Bryan tolong!! Mama terjatuh dari ranjangnya, kakinya cedera dan harus segera dioperasi. Jika tidak, itu akan berakibat fatal bagi kesehatannya."
Clara langsung menyambut Bryan dengan tangisan. Pria itu terlihat berpikir dan akhirnya mendapatkan ide.
"Tentu saja aku akan menangani ibumu! Dokter terbaik akan merawatnya! Tapi kamu harus memenuhi syarat dariku!."
Clara langsung saja mengangguk, apapun akan dilakukannya untuk keselamatan sang mama. Termasuk mempertaruhkan harga dirinya.
"Tentu saja aku mau! Tolonglah mama!."
Clara memegang erat tangan suaminya.
"Saat ini Alena juga mengalami cedera, dan dia membutuhkan transfusi! Golongan darahnya AB, sama seperti golongan darahmu! Jadi kamu harus mendorongkan darah untuknya."
Clara segera mundur ke belakang, pegangan tangannya pada tangan Bryan terlepas seketika.
"Kenapa? Kau tidak mau? Kamu menolak? Berarti tidak akan ada perawatan maksimal untuk mamamu."
Bryan menyeringa licik di hadapan Clara, pria itu benar-benar tidak memiliki hati. Dan Clara pun menelan ludah dengan getir. Ternyata semua harus ada imbalannya, dan lagi-lagi kepentingan Alena di atas segalanya.
"Tapi saat ini aku sedang terkena animea karena kurang tidur."
Jawab Clara dengan nada rendah. Dia menatap kosong ke arah bawah.
"Kamu bisa minum vitamin dan juga makan makanan bergizi setelah mendonorkan darah! Itu sangat gampang, tapi nyawa Alena harus segera diselamatkan."
Jawab Bryan dengan egois. Clara harus kembali menelan pil pahit kalau dirinya tidak berarti apa-apa bagi pria ini.
"Baiklah! Demi Mama saya akan mendonorkan darah untuknya."
Jawab Clara mati-matian menahan air mata yang hendak tumpah. Salah satu tangannya mengepal kuat, ingin sekali dia menjerit sekerasnya untuk melepaskan beban yang terasa benar-benar menghimpit jiwa ini. Namun sayangnya dia tak bisa melakukannya.
Wanita itu pun melangkah perlahan menuju arah ruangan, di mana dia akan menjalani pemeriksaan sebelum mendonorkan darah.
"Bos!."
Meta segera berbicara.
"Minta dokter bagian ortopedi untuk memeriksa Mama Clara."
Jawab Bryan segera melenggang pergi.
"Apa perlu kita mendatangkan dokter terbaik dari luar negeri?."
Meta segera bertanya.
"Tidak perlu! Dokter di rumah sakit ini sudah cukup!."
Sahut Bryan melangkah pergi.
"Baik bos!!."
Jawab Meta cuek, Karena sejujurnya dia juga sangat membenci Clara. Dia memendam perasaan kepada Bryan sejak lama. Namun tak berani untuk mengungkapkannya karena ada Clara di sisi pria itu.
**.
Ssshhh!!
Clara berjalan keluar dari ruangan dengan tubuh oleng. Dia benar-benar merasa pusing setelah mendonorkan darah yang begitu banyak untuk keselamatan Alena.
"Pusing sekali!."
Gumamnya bersandar pada tembok, dia merasa nyawanya hampir lepas dari badan. Dia benar-benar lemah, pandangannya buram. Dia hampir tak bisa melangkahkan kakinya.
"Kasihan sekali! Seharusnya kamu mundur sejak lama. Karena kamu sama sekali tidak berarti bagi Bryan. Di hatinya, hanya ada nama Alena. Kau hanya dijadikan selingan sebagai pemuas nafsu karena Alena sedang sakit. Posisimu tidak lebih dari itu."
Meta muncul dengan perkataan yang begitu menusuk serta menyakitkan di hati Clara. Namun apalah daya, semua itu memang benar adanya.
Clara berjalan perlahan dengan berpegangan pada dinding, dia merasa benar-benar tidak kuat. Namun dia juga ingin melihat kondisi sang mama.
"Obat ini tinggal satu botol! Entah ini akan diberikan untuk mertua Anda atau nona Alena?."
Meta terdengar berbicara di hadapan Bryan sambil memperlihatkan sebuah botol obat.
"Untuk apa memberikan obat ini untuk wanita tua itu? Dia sudah tua dan sakit-sakitan, paling juga sebentar lagi dia akan mati. Berikan obat terbaik ini untuk Alena. Nanti wanita tua itu berikan saja pengobatan kelas dua."
Bagaikan tersambar petir rasanya di atas kepala Clara mendengar ucapan Bryan yang benar-benar tega.
"Bryan!! Kau benar-benar keterlaluan!."
Gumam Clara, rasa pusingnya semakin menjadi saja karena mendengar kabar buruk tadi. Dan akhirnya dia pun kehilangan kesadaran dan pingsan di sana.
**.
"Clara! Kau sudah sadar rupanya?."
Clara secara perlahan membuka matanya, samar-samar dia melihat seorang pria berpakaian dokter yang tengah menatapnya intens.
"Tidak perlu bangkit dulu. Kamu baru saja sadar. Kondisimu belum pulih benar."
Dokter itu bergerak membantu Clara untuk duduk.
"Saya harus melihat Mama saya!."
Clara bergerak hendak turun karena mengingat tentang mamanya.
"Kamu tidak perlu khawatir! Mamamu baik-baik saja! Yang harus kau perhatikan sekarang adalah kondisimu, kamu harus segera sehat kembali."
Dokter pria itu terlihat sangat perhatian, Clara menatapnya dalam. Dia berusaha menggali ingatan karena merasa kalau wajah dokter itu sedikit familiar.
"Mungkin kau lupa padaku!."
Seru dokter itu sambil tersenyum tipis.
"Kau siapa?."
Dokter pria itu kembali tersenyum.
"Aku aku Aditya Wardhana! Teman sekolahmu dulu."
Mata Clara membulat seketika.
"Kamu dokter di rumah sakit ini?."
Tanya Clara dengan nada tak percaya.
"Saya baru seminggu bekerja di sini!."
Jawab Aditya.
"Dan kebetulan juga saya yang sudah mengoperasi ibumu! Dia adalah pasien Saya!."
Lanjut Aditya kembali berucap. Dia bisa melihat perubahan wajah Clara yang berubah sendu.
"Soal mamamu tidak perlu khawatir. Saya akan merawatnya dengan baik. Percayalah!!."
Aditya berusaha meyakinkan Clara, dan menatap wajah cantik wanita itu.
***.
"Rupanya kamu baru pulang!."
Seru Bryan ketika melihat Clara yang berjalan memasuki rumah. Wanita itu terlihat segar dengan gaun berwarna merah muda yang begitu mencolok di kulit putihnya yang bersih.
"Iya!! Dan saya datang kemari untuk memberikan ini."
Clara menjawab tanpa ada ekspresi di wajahnya. Dia langsung memberikan sebuah map kepada Bryan.
"Apa ini?."
Pria itu membuka map, dan dia langsung membulatkan mata melihat isinya.
"Surat cerai?."
Gigi Bryan gemerutuk seketika.
"Iya! Saya ingin bercerai, tanda tangannya saja segera. Dan kita berdua segera berakhir."
"Tidak!!!."
***...***