Wajah Bryan berubah marah. Namun Clara sama sekali tak menampakkan raut ketakutan.
"Aku sudah bilang sebelumnya, di antara kita tidak akan ada perceraian. Sampai kapanpun, kita hanya akan bisa bercerai ketika aku menginginkannya. Kamu tetap akan menjadi istriku selama aku inginkan."
Bryan berucap dengan tegas, dia begitu geram dengan tingkah Clara yang kembali mengumandangkan kata cerai. Bahkan membawa surat cerai untuk ditandatanganinya.
"Bryan! Aku sudah tidak tahan lagi! Aku tidak tahan dengan sikap otoritermu, sikap egoisme. Kamu hanya ingin menang sendiri dan tidak pernah memikirkan Bagaimana perasaanku!!."
Seru Clara dengan kencang, tidak ada lagi air mata di pipinya.
"Hoh!! Kamu tidak suka dengan semua itu? Kamu sendiri yang sudah memasukkan hidupmu dalam kehidupan seperti ini. Kamu yang sudah memaksaku. Jadi jangan pernah menyesalinya. Ingat! Kamu yang sudah menjebakku!!."
Clara ikut geram mendengar ucapan Bryan yang kembali mengungkit masa lalu.
"Sudah ratusan kali aku bilang kalau semua itu hanya kesalahpahaman! Aku tidak pernah menjebakmu!!."
Ciihh!!
Bryan segera berdecih mendengar ucapan Clara yang lagi-lagi membela dirinya.
"Aku tidak percaya, kalau bukan sudah kau rencanakan, mana mungkin malam itu kita berakhir tidur bersama?. Dan kamu menuntutku untuk bertanggung jawab dan menikahimu."
Pekik Bryan tidak mau kalah, dia tetap ngotot dengan pendapatnya.
"Taruhlah memang seperti itu! Dan sebaiknya kamu bebaskan dirimu dari wanita sepertiku. Cepat tanda tangani surat cerai itu."
Sreeekkk!!
Hanya dengan satu kali tarikan, kertas yang ada di tangan Bryan sudah terbelah menjadi dua bagian. Clara pun ternganga melihatnya.
"Aku sudah bilang, tidak akan ada perceraian sebelum aku sendiri yang menginginkannya. Jadi bermimpilah untuk bisa lepas dariku."
Clara sungguh geram, dia mengepalkan tangannya. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bryan terlalu keras kepala.
"Terserah! Tapi mulai hari ini, kita tidak akan pernah tinggal lagi bersama. Aku tidak sudi lagi tinggal di rumah ini denganmu!!."
Seru Clara segera berbalik, dia membawa kemarahan yang tidak bisa ia lepaskan.
"Clara tunggu!! Clara!! Ingatlah kalau nasib kakakmu masih berada di tanganku! Dia akan tetap berada dalam penjara selama yang aku inginkan! Bahkan mungkin dia akan membusuk selamanya di sana!!."
Teriak pria itu dengan suara menggelegar, karena merasa diabaikan oleh Clara yang selama ini selalu menjadi istri yang lembut dan penurut. Walaupun dia kerap kali mengabaikan wanita itu.
Namun Clara mati-matian memperjuangkan cinta dan pernikahan mereka. Walaupun kehadirannya tak dianggap.
"Sialan!! Siapa yang membuat dia berubah? Aku yakin dia telah terpengaruh oleh seseorang!!."
Bryan begitu geram hingga memukul tembok yang ada di sampingnya. Tangannya pun memerah seketika. Namun dia tidak peduli, di otaknya hanyalah bagaimana cara agar Clara kembali ke rumah itu.
"Takkan kubiarkan kau pergi! Selama aku masih ingin menjadikanmu sebuah mainan. Tidak akan ada yang bisa pergi dari tangan Bryan."
Gumam pria itu sambil menyeringai licik.
"Clara!! Apa benar kamu akan bercerai dari Bryan?."
Kedatangan Clara kembali di rumah sakit disambut oleh seorang wanita. Dan wanita itu adalah tantenya, adik satu-satunya dari mamanya. Dialah yang telah membantu Clara merawat mamanya selama ini.
"Saya sudah memutuskannya tante! Akan segera bercerai dari Bryan! Saya sudah tidak sanggup lagi melanjutkan pernikahan ini."
Jawab Clara tegas sembari menarik nafas panjangnya.
"Lalu dari mana biaya pengobatan mamamu? Apa kau punya uang untuk membayar biaya rumah sakitnya? Kau bahkan harus membayar ratusan juta setiap bulan."
Clara menarik nafas panjangnya, dia juga bingung sebenarnya. Di mana akan mendapatkan biaya untuk pengobatan sang mama yang harus selalu mendapatkan perawatan.
"Saya berencana menggadaikan rumah."
Jawab Clara dengan nada rendah.
"Apa? Rumah kedua orang tuamu? Hanya itu satu-satunya harta kalian yang masih tersisa. Jika kau menggadaikannya juga. Lalu bagaimana untuk kedepannya?."
Clara menatap wajah tantenya, sejujurnya Dia sangat tidak ingin melakukan hal seperti itu. Namun dia tidak memiliki pilihan lain. Karena dia juga tidak ingin terus-menerus bergantung pada uang Bryan, apalagi saat mereka sudah bercerai nanti.
"Clara akan mencari pekerjaan! Nanti bisa menebusnya kembali!."
Clara segera memegang tangan tantenya yang tampak terisak.
"Clara! Kenapa hidup ini begitu rumit?."
Wanita itu terisak, dan Clara segera memeluknya.
"Oh Clara!! Kenapa kau di sini? Menangisi siapa? Menangisi nasibmu Yang malang?."
Tiba-tiba terdengar suara seseorang, Clara dan tantenya pun melerai pelukan.
Tampak seorang wanita cantik yang memakai kursi roda tengah menatap penuh ejekan padanya.
Nyonya Tamara yang mendorong kursi roda itu menatap tajam kearah Clara.
"Ayahmu dirawat di dalam sana ya? Kasihan sekali, dia hanya menjalani perawatan kelas dua, sedangkan saya. Berada di ruangan VVIP dengan perawatan kelas atas, di layani begitu banyak dokter dan perawat. Secinta itu Bryan kepadaku."
Wanita itu adalah Alena, dia memang sangat cantik. Hanya saja sedikit kurus karena sedang sakit. Dia adalah orang spesial bagi Bryan.
"Tentu saja! Karena Bryan selalu memprioritaskan dirimu daripada apapun. Tapi tetap saja, statusmu hanyalah mantan pacar, atau selingkuhan. Orang akan tetap mengecap dirimu sebagai pelakor, selama aku berstatus istri darinya."
Wajah Alena tiba-tiba menegang mendengar Clara yang membalikkan ucapannya.
"Tidak tahu malu! Padahal kaulah yang sudah merebut Bryan dariku!! Kau adalah penghalang terbesar hubungan kami!! Kenapa kau tidak menyingkir saja? Padahal Bryan tidak pernah mencintaimu!! Tidak pernah mencintaimu sedikitpun!!."
Alena berteriak dengan kencang seperti orang tantrum. Dia berusaha menjangkau Clara, namun wanita itu mundur.
"Aku juga tahu, kalau dia tidak pernah mencintaiku sedikitpun. Aku sangat sadar hal itu."
Clara membatin mendengar setiap ucapan Alena.
"Apa yang kau lakukan? Dasar pelakor, wanita cacat! Karena kau keponakanku masuk penjara!! Kaulah perusak sebenarnya."
Tiba-tiba Maya, Tante Clara memekik kencang. Lalu langsung menarik tubuh Alena hingga terjatuh dari kursi rodanya.
"Apa yang kau lakukan kepada putriku?."
Mama Alena bergerak cepat membantu putrinya yang sudah berada dilantai.
"Tante jangan!!."
Maya kembali hendak menyerang Alena, kembali namun segera dihalangi oleh Clara.
"Mama! Mereka jahat!!."
Alena menangis sejadi-jadinya dalam pelukan mamanya. Benar-benar akting luar biasa, apalagi beberapa orang berkerumun memperhatikannya.
"Kau benar-benar keterlaluan. Wanita miskin hina, pengemis!!."
Pllaakkkk!!
Nyonya Tamara bangkit dengan cepat dan menampar Clara.
"Apa yang kau lakukan kepada keponakan ku sialan?."
Pekik Maya tidak terima.
"Berhenti!!!."
Maya kembali hendak menyerang Tamara, namun segera terhenti karena suara seseorang yang menggelar.
Bryan berjalan cepat diikuti oleh asistennya, Meta.
"Bryan! Mereka menyerangku. Katanya aku adalah pelakor yang telah merebut mu!."
Alena segera mengadu sambil mengulurkan kedua tangannya seperti anak kecil yang minta digendong oleh ayahnya. Dan Bryan pun menyambutnya segera. Dia menggendong Alena sambil menatap tajam wajah Clara yang juga menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
"Wanita ini menyerang Alena, padahal Alena masih sakit. Dia sungguh tega."
Mama Alena segera menunjuk Maya.
"Tidak perlu khawatir nyonya Tamara. Saya akan menuntutnya dengan kasus penganiayaan. Dia juga akan dipenjara, sama seperti keponakannya."
Clara langsung terbelalak mendengar keputusan Bryan yang tengah menatapnya tajam.
"Clara! Tante tidak mau dipenjara!."
Maya segera berpegangan pada lengan Clara.
"Ini semua salahku, Jangan libatkan Tante Maya."
Bryan segera mengangkat sudut bibirnya, dia menatap penuh kelicikan istrinya itu.
"Asal kau kembali menjadi istri yang lembut serta penurut Clara. Maka aku tidak akan mempersulit hidupmu, dan posisi nyonya Bryan akan tetap berada di tanganmu, kamu akan tetap menjadi istriku yang terhormat."
Gumam Bryan menyeringai sebelum berbalik membawa Alena dalam gendongan. Tiada terasa, air mata Clara menitik seketika. Dia benar-benar merasa terhina.
"Jangan menangis! Hapuslah air matamu."
Seseorang sudah berdiri di belakang sambil mengeluarkan sebuah sapu tangan kepada Clara.